KESABARAN PARA NABI MENGHADAPI CUBAAN

KESABARAN PARA NABI MENGHADAPI CUBAAN
Dari compilation e-Book Silsilah Hadits Shahih Al-Albani Jilid I

١٧. اَنَّ النَّبِىَّ اللهِ اَيُّؤبَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَبِثَ بِهِ بَلاَ ءُؤهُ ثَمَانَ عَشَرَةَ سَنَةً , فَرَفَضَهُ اْلقَرِيْبُ وَاْلبَعِيْدُ اِلاَّرَجُلَيْنِ مِنْ اِخوَانِه كَانَايَغْدوَانِه اِلَيْهِ وَيَرُؤحَانِ ,فَقَالَ اَحَدُهُمَا لِصَاحِبِه ذَاتَ يَؤمٍ : تَعْلَمُ وَاللهِ لَقَدْاَذْنَبَ اَيُّؤبُ ذَنْبًامَااَذْنَبَهُ اَحَدٌ مِنَ اْلعَلَمِسْنَ , فَقَالَ لَهُ صَاحِبُهُ :,, وَمَاذَاكَ ؟ ,, مُنْذُ ثَمَانَ عَشَرَةَ سَنَةً لَمْ يَرْحَمْهُ اللّهُ فَسَكْشِفُ مَابِه ,فَلَمَّارَاحَااِلى اَيُّؤبَ لَمْ يَصْبِرِالرَّجُلُ حَتّى ذَكَرَذَلِكَ لَهُ , فَقَالَ اَيُّؤبُ : لاَ اَدْرِىْ مَاتَقُؤلاَنِ غَيْرَ اَنَّ اللهَ تَعَلى يَعْلَمُ اَنِّى اَمُرُ بِاالرَّجُلَيْنِ يَتَنَاذَعَانِ , فَيَذْكُرَانِ اللهَ فَاَرْجِغُ اِلى بَيْتِى فَاُكَفِّرَ عَنْهُمَا كَرَاهِيَتَ اَنْ يَذْكُرَاللهَ اِلاَّ فِى حَقٍٍّ : قَالَ : وَكَانَ يَخْرُجْ اِلى حَاجَتِه فَاذَاقَض حَاجَتَهُ اَمْسَكَتْهُ اَمَرَاتُهُ بِيَدِه حَتّى يَبْلُغَ , فَلَمَّا كَانَ ذَاتَ يَؤمَ ابْطَأّ عَلَيْهَاوَاَؤحَى اِلى اَيُّؤبَ : -( اركض بِرَجُلِك هٰذَا مُغْتَسَلٌ بَارِدٌ وشَرَابٌ ) فَاسْتَبْطَأتَهُ فَتَلَقْتَهُ تَنْظُرُ وَقَدْ أَقْبَلْ عَلَيْهَا قَدْ أَذْهَبَ اللهُ مَا بِهِ مِنَ الْبَلاَءِ وَهُوَ أَحْسَنُ مَا كَانَ فَلَمَّا رَأَتْهُ قَالَتْ أَيْ بَارَكَ اللهُ فَيكَ هَلْ رَأَيْتَ نَِبيَّ اللهِ هٰذَا الْمُبْتَلِى وَاللهِ عَلٰى ذٰلِكَ مَا رَأَيْتُ أَشْبَهُ مَنْكَ إِذَ كَانَ صَحِيْحَا فَقَالَ فَإِنَّي أَنَا هُوَ وَكَانَ لَهُ أَنْدَرَانِ ( أَيْ بَيْدَرَانِ ) أَنْدَرٌ لِلْقُمْحِ وَأَنْدَرٌ للشَّعِيْر فَبَعَثَ الله سَحَابَتَيْنِ فَلَمَّا كَانَتْ إِحْدَاهُمَا عَلٰى أَنْدَرِ الْقُمْحِ أَفرغت فِيهِ الذَّهَبَ حَتىّٰ فَاضَ وَأفرغَتْ اْلأُخْرَى فَي أَنْدَرِ الشَّعِيْرِ الْوَرَقَ حَتىّٰ فَاضَ .

“Nabi Ayyub ‘Alaihissalam terkena cubaa selama lapan belas tahun. Seluruh keluarga dekatnya maupun yang jauh menjauhinya, kecuali dua orang saudaranya. Keduanya selalu mendatangi dan menghiburnya. Suatu ketika salah seorang di antara mereka berkata kepada kawannya: ”Katakanlah kawan demi Allah sungguh Ayyub telah melakukan dosa yang belum pernah diperbuat oleh seorang pun.“ Lalu kawannya bertanya: ”Dosa apa itu?“ Ia menjawab: ”Selama lapan belas tahun, Allah tidak memberi belas kasihan kepadanya, lalu Allah menghilangkan penderitaannya.“ Tatkala keduanya menghadap Nabi Ayyub, salah seorang di antara mereka tidak sabar, dan menceritakan apa yang dikatakan oleh kawannya. Lalu Nabi Ayyub menjelaskan:”Saya tidak mengerti apa yang kalian berdua katakan, hanya Allah mengetahui bahawa saya telah memerintahkan kepada dua orang yang sedang cekcok untuk berbaikan, lalu keduanya menyebut Allah (Mendengar itu) kemudian saya kembali ke rumah dan membenci keduanya, kerana saya tidak suka mereka menyebut Allah, kecuali dalam perkara yang haq (benar).“ Perawi melanjutkan, suatu ketika Ayyub keluar untuk memenuhi hajatnya. Jika ia ingin memenuhi keperluannya, biasanya ia dipapah oleh isterinya hingga sampai di tempat. Suatu hari ia memenuhi hajatnya agak lama (lambat), ternyata ia diberi wahyu (perintah): (Allah berfirman): ”Hentakkanlah kakimu, inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum. (Shaad : 42). Sedang isterinya itupun tetap (sabar) menantinya. Tatkala isterinya itu menyambutnya ia melihat bahwa Ayyub telah pulih dari penyakitnya. Ayyub terlihat lebih baik keadaannya dari sebelumnya. Ketika itu si isteri segera berkata: ’Wahai suamiku, semoga Allah memberi berkah kepadamu. Saya belum pernah melihat (mengetahui) ada seorang nabi yang diuji seperti ini.’ Kemudian Ayyub berseru: ”seperti inilah aku.“ Sementara Ayyub juga mempunyai dua tempat menumbuk biji, satu untuk biji gandum dan yang satunya lagi untuk terigu. Lalu Allah mengutus dua gerombol awan. Tatkala salah satu awan itu berada tepat diatas tempat menumbuk biji gandum, maka ia mengucurkan emas ke dalamnya hingga meluap, sedang awan lainnya mengucurkan perak pada tempat menumbuk biji terigu.“

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Ya’la di dalam Musnad-nya (176/1-177/1) dan Abu Na’om di dalam Al-Hilayah (3/374-375) dari dua jalur yang berasal dari Sa’id bin Abi Maryam yang diperoleh dari Nafi’ bin Zaid dari Uqail dari Ibnu Syihab dan Anas bin Malik secara marfu’. Selanjutnya Abu Ya’la berkata:

”Hadits ini gharib dari hadits Zuhri. Tidak ada yang meriwayatkan darinya kecuali Uqail. Sedang semua perawi disepakati adil (konsisten di dalam menjauhi larangan-larangan syari’at), hanya Nafi’ yang kurang mendapatkan kesepakatan dalam keadilannya.“

Namun saya tetap berpendapat bahwa Nafi’ adalah tsiqah seperti dikatakan oleh Imam Muslim. Dan Imam Muslim juga menyampaikan haditsnya. Adapun perawi-perawi yang lain adalah perawi-perawi yang dipakai oleh Bukhari dan Muslim. Oleh kerana itu hadits ini adalah shahih. Penilaian yang sama juga diberikan oleh Adh-Dhiya’ Al-Maqdisi, sehingga ia juga menyampaikannya di dalam Al-Mukhtarah (220/2-221/1). Sementara itu Ibnu Hibban juga meriwayatkan di dalam kitab shahih-nya (2091), dari Ibnu Wuhaib yang diberi riwayat oleh Nafi’ bin Zaid.

Hadits ini termasuk hadits yang membatalkan (menggugurkan) hadits yang ada di dalam Al-Jami’ush-Shaghir dengan redaksi:

”Allah menolak menjadikan bala’(cubaan/ujian) sebagai penguasa bagi hambaNya yang mukmin.“

Penjelasan mengenai hal ini akan saya (Al-Albani) sampaikan ketika menjelaskan hadist-hadits dha’if, insya Allah.

20120502-060458.jpg

Advertisements

ETIKA NABI SAAT PERPISAHAN

ETIKA NABI SAAT PERPISAHAN
Dari compilation e-Book Silsilah Hadits Shahih Jilid I

Bab ini memuat tiga hadits, yaitu:

Pertama: Dari Ibnu Umar رَضِى اللهُ عَنْهُ yang mempunyai beberapa sanad, diantaranya:

۱
٤ – . اَرْسَلَنِى ابْنُ عُمَرَ فِى حَاجَةٍ فَقَالَ : تَعَالْ حَتّى اَؤدَعَكَ كَمَاوَدَعَنِى رَسُؤلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاَرْسَلَنِىْ فِى حَاجَةٍ لَهُ فَقَالَ : ,, اَسْتَؤدِعُ اللهَ دِيْنَكَ وَاَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيْمَ عَمَلِك ,,

Dari Quza’ah ia berkata: ”Ibnu Umar رَضِى اللهُ عَنْهُ mengutusku untuk suatu keperluan. Lalu ia berkata: ’Kemarilah aku akan mengucapkan selamat jalan kepadamu, sebagaimana ucapan selamat tinggal Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ kepadaku ketika beliau mengutusku untuk suatu keperluan. Kemudian ia mengucapkan:

”Aku menitipkan agamamu, umatmu, dan segala akhir perbuatanmu kepada Allah.“

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud (no : 2600), Imam Hakim (2/97), Imam Ahmad (juz 2/25, 38 dan 136), dan Imam Abu Asakir (14/290/2 dan 15469/1), diperoleh dari Abdulaziz bin Umar bin Abdulaziz yang mendengarnya dari Quza’ah.

Perawi-perawinya tergolong tsiqah (konsisten terhadap ajaran Islam dan kuat ingatannya) tetapi ada yang diperselisihkan, yaitu Abdulaziz. Sebagian Ulama meriwayatkannya dengan sanad seperti itu, tapi sebagian lain ada pula yang memasukkan satu orang perawi antara Abdulaziz dan Quza’ah. Orang yang dimaksud tersebut adalah Ismail bin Jarir, namun sementara Ulama juga ada yang menyebutnya Yahya bin Ismail bin Jarir.
Sedang Al-Hafizh Ibnu Asakir menyebutkan beberapa riwayat yang berbeza- beza. Adapun Al-Hafizh Ibnu Hajar di dalam kitabnya At-Taqrib mengatakan: ”Yang benar adalah Yahya bin Ismail.“

Saya berpendapat bahwa hadits itu adalah dha’if , tetapi kemudian menjadi kuat karena adanya sanad-sanad lain. Di dalam riwayat Ibnu Asakir terdapat matan sebagai berikut:

Sebagaimana Rasulullah رَضِى اللهُ عَنْهُ mengucapkan selamat tinggal kepadaku, lalu ia menjabat tangan saja. Setelah itu ia mengucapkan: (ia mengucapkan seperti kalimat hadits di atas).

Diriwayatkan dari Salim, bahwa Ibnu Umar selalu mengucapkan kepada orang yang hendak bepergian: ”Izinkan aku mengucapkan selamat jalan kepadamu, sebagaimana Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ mengucapkannya kepadaku, lalu ia berucap (seperti kalimat pada hadits yang pertama).“

Hadits ini ditakhrij oleh Imam Tirmidzi (2/255, cet. Bulaq), Imam Ahmad (2/7), dan Abdul Ghani Al-Maqdisy di dalam juz 63 (41/1), dari Sa’id bin Khutsaim dari Hanzalah yang dikutip dari Salim. Imam Tirmidzi berkomentar: ”Hadits ini statusnya adalah hasan shahih gharib (ada di antara ketiga status tersebut), yang dimaksud adalah yang diriwayatkan oleh Salim.“

Saya berpendapat: ”hadits ini sesuai dengan syarat Muslim, hanya saja sanad yang dari Sa’id masih dipertentangkan. Oleh karena itu Imam Hakim meriwayatkannya (1/442 dan 2/97) dari Ishak bin Sulaiman dan Walid bin Muslim yang dikutip dari Handzalah bin Abu Sofyan diperoleh dari Al-Qasim bin Muhammad yang mengisahkan:

”Saya berada di samping Ibnu Umar. Tiba-tiba datanglah seorang laki-laki dan berkata: ”Saya hendak pergi.” Lalu Ibnu Umar berkata: “Tunggulah, aku akan mengucapkan selamat jalan kepadamu: (Kemudian Al-Qasim bin Muhammad menyebutkan kalimat seperti hadits pertama).”

Imam Hakim berkomentar: “Hadits ini statusnya shahih menurut syarat Bukhari-Muslim.” Penilaian ini disetujui oleh Adz-Dzahabi.

Kemungkinan Imam Tirmidzi menganggap gharib (Hadits yang periwayatannya terdapat perawi yang menyendiri, baik di dalam keberadaan sifat maupun keadannya) hadits yang diriwayatkan melalui jalur Salim ini tsiqah, karena dua orang perawi tsiqah, yaitu Ishak bin Sulaiman dan Al-Walid bin Muslim, yang berbeza dengan Ibnu Khatsaim, sebab Ibnu Khatsaim meriwayatkannya dari Handzalah dari Salim, sedangkan kedua perawi tsiqah tersebut mengatakan dari Handzalah yang diperoleh dari Al-Qasim bin Muhammad, dari Salim. Dan inilah nampaknya yang lebih shahih.

Abu Ya’la mentakhrij hadits ini di dalam musnad-nya (2/270), dari jalur Al-Walid bin Muslim saja.

Dari Mujahid, yang menceritakan:

“Saya dan seorang laki-laki pergi ke Irak. Di tengah perjalanan kami bertemu dengan Abdullah Ibnu Umar. Tatkala akan berpisah ia berkata: ”Aku tidak mempunyai sesuatu yang akan aku nasihatkan kepada kalian. Tetapi aku mendengar Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ bersabda: ”Jika ia (musafir) menitipkan sesuatu kepada Allah, maka mudah-mudahan Allah berkenan menjaganya. Dan saya menitipkan agamamu, amanat dan akibat perbuatan kalian kepada Allah Ta’ala.”

Hadits dengan riwayat ini disampaikan oleh Ibnu Hibban di dalam kitab shahihnya (2376) dengan sanad yang shahih.

Dari Nafi’ dikutip dari Mujahid yang menuturkan:

”Apabila Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ menginggalkan seseorang, maka beliau meraih tangannya. Dan beliau tidak akan melepaskan genggamannya kecuali orang itu sendiri yang melepaskannya, dan beliau berkata (kemudian perawi menyebutkan ucapan selamat tinggal seperti hadits yang pertama).”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi (2/255, cet. Balaq) yang menilainya gharib.

Saya berpendapat, bahwa yang dimaksudkan oleh penilaian Imam Tirmidzi itu adalah dha’if dari segi jalur (sanad) ini. Hal itu bisa demikian karena hadits itu diriwayatkan oleh Ibrahim bin Abdurrahman bin Zaid bin Umayyah dari Nafi’. Padahal Ibrahim ini tidak dikenal (majhul).

Tetapi Ibrahim tidak meriwayatkan hadits ini seorang diri, namun ada perawi lain yang juga meriwayatkannya, yaitu Ibnu Mahah (2/943 nomor 2826), yang diperoleh dari Ibnu Abi Laila dari Nafi’. Akan tetapi Ibnu Abi Laila adalah orang yang kurang baik hafalannya. Nama sebenarnya, Muhammad bin Abdurrahman. Ia tidak menyebutkan cerita tentang berjabat tangan.

Hadits kedua dari Abdullah Al-Khathami yang menceritakan:

۱
-. اَلحَدِيْثُ اْلثَّانِىْ : عَنْ عَبْدِاللهِ اْلخَتِمِىِّ قَالَ : ,, كَانَ النَّبِىَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَ السَلَّمَ اِذَااَرَادَ اَنْ يَسْتَؤدِعَ الْجَيْشَ قَالَ : فَذَكَرَهُ.

“Adalah Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ apabila hendak meninggalkan tentaranya, bersabda: (kemudian rawi menyebutkan kalimat yang diucapkan oleh Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ seperti pada hadits pertama).”

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Sina di dalam Amalul-Yaum wal-Lailah (nomor : 498) dengan sanad yang shahih menurut Muslim.

Hadits ketiga dari Abu Hurairah yang memberitakan:

اَنْ النَّبِىَّ صّلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِذَااَؤدَعَ اَحَدَا قَالَ : فَذَمَرَهُ .

“Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ jika meninggalkan seseorang beliau bersabda: (sebagaimana kalimat pada hadits pertama).”

Hadits dengan sanad ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad (2/358); dari Ibnu Labai’ah yang mengutip dari Al-Hasan bin Tsauban dari masa Ibnu Wirdan yang diperolehnya dari Abu Hurairah.

Saya berpendapat, bahawa seluruh perawinya adalah tsiqah. Hanya saja Ibnu Labai’ah agak buruk hafalannya. Matan yang dipakainya pun berbeda dengan yang dipakai oleh Al-Laits bin Sa’ad dan Sa’id bin Abi Ayyub yang diperolehnya dari Hasan bin Tsauban yang menuturkan:
“Aku akan menitipkan kepada Allah yang tidak pernah menyia-nyiakan barang titipan-Nya.”

1) Hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ini lebih shahih dan sanadnya jayyid (shahih). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad (403/1).

Saya juga melihat, bahwa Ibnu Labai’ah meriwayatkan hadits ini dengan redaksi yang sama dengan riwayat yang ditakhrij oleh Ibnu Sina (nomor : 501) dan Ibnu Majah (2/943, nomor: 2825). Sedang saya sendiri merasa yakin kesalahannya ada pada redaksi yang pertama.

Faedah-faedah Hadits

Dari hadits yang shahih ini dapat diambil beberapa faedah:

1. Disyariatkannya ucapan selamat tinggal dengan kalimat yang telah berlaku, yaitu:

أستودع الله دينك وامانتك وخواتيم عملك

Atau

أستودعكم الله الذى لا تضيع ودانعه

2. Bersalaman dengan satu tangan. Hal ini disebutkan pada banyak hadits. Dan jika ditinjau dari segi etimologi, maka kata al-mushafahah artinya al-akhdzu bi-yudi memegang tangan atau memegangnya. Di dalam Lisanul Arab disebutkan: Kata al-mushafahah berarti menggenggam tangan. Begitu juga dengan kata al-tashafuh. Ar-rajul yushafihur-rajul, artinya seseorang menempelkan telapak tangannya pada telapak tangan orang lain dan keduanya saling menempelkan telapak tangan mereka serta saling berhadapan. Arti yang sama dipakai pada hadits mushafahah (ketika bertemu). Kata ini merupakan tindakan menempelkan telapak tangan seseorang dengan telapak tangan orang lain dengan berhadap-hadapan.

Menurut saya ada beberapa hadits yang senada dengan hadits tersebut, seperti hadits marfu’ yang diriwayatkan oleh Hudzaifah:

اِنَّ الْمءْومِنَ اِذَالَقِىَ الْمُءْو مِنَ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ وًاَخَضّ بِيَدِه فَصَافَحَهَ تَنَاثَرَتْ خَطَايَا هُمَا كَمَا تَنَا ثَرَتْ وَرَقُ الشَّجَرِ

“Jika seorang mukmin bertemu dengan orang mukmin lainnya, lalu mengucapkan salam dan berjabatan tangan, maka semua kesalahan kedua orang itu akan rontok, seperti daun-daun yang berguguran.”

Sementara itu Al-Mundziri (3/270) berkomentar: “Imam Thabrani meriwayatkan hadits ini di dalam ‘Al-Ausath’, dan sepengetahuan saya perawi-perawinya tidak ada yang jahr (cacat).

Saya berpendapat, hadits ini mempunyai beberapa syahid (hadits penguat) yang dapat meningkatkan statusnya menjadi shahih. Di antaranya hadist yang diriwayatkan oleh Anas di dalam kitabnya Al-Mukhtarah (nomor : 240/1-2). Al-Mundziri menaikkannya kepada Imam Ahmad dan Imam lainnya.

Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa yang disunnahkan di dalam berjabat tangan adalah dengan satu tangan. Apa yang dilakukan oleh bebetapa Syaikh, yakni berjabat tangan dengan menggunakan dua tangan adalah menyelisihi sunnah. Hal ini perlu kita ketahui secara detail.

3. Berjabatan tangan juga dianjurkan ketika akan berpisah. Hal ini diperkuat oleh sabda Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ

“Merupakan kesempurnaan penghormatan adalah berjabatan tangan.”

Hadits ini dilihat dari segi sanadnya, bagus sekali. Sebenarnya saya bermaksud menampilkan judul tersendiri tentang pembahasan ini dengan disertai penjelasan mengenai sanad-sanadnya. Akan tetapi setelah saya teliti ternyata sanadnya dha’if dan tidak patut dibuat hujjah. Oleh karena itu saya hanya menyebutkannya di dalam As-Silsiasul-Ukhra (Rangkaian hadits yang lain) (1288).

Adapun mengenai pengambilan dalil pembuktian kebenaran tentang disyariatkannya salam ketika berpisah adalah sabda Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ

“Jika salah seorang di antara kalian memasuki masjid, maka ucapkanlah salam. Dan jika ia keluar, maka juga ucapkanlah salam. Salam yang pertama adalah lebih utama dari salam yang kedua.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, Imam Tirmidzi dan lainnya dengan sanad hasan. Melihat hadits ini maka pendapat sebagian ulama yang mengatakan bahwa berjabatan tangan ketika berpisah adalah bid’ah, sama sekali tidak mempunyai dalil. Memang, orang-orang yang berpendapat mengenai adanya hadits-hadits yang mengenai jabat tangan ketika bertemu adalah lebih banyak dan lebih kuat daripada ketika berpisah, tetapi orang yang tajam pemahamannya akan menyimpulkan bahwa intensitas disyari’atkannya berjabatan tangan ketika bertemu dengan ketika berpisah tidak sama. Misalnya berjabatan yanga pertama adalah sunnah, sedangkan yang kedua adalah anjuran (mustahabbah). Sedang bila jabatan tangan yang kedua dikatakan bid’ah, sama sekali tidak mempunyai dasar.

Adapun berjabatan tangan selepas shalat adalah bid’ah. Hal ini tidak diragukan lagi, kecuali antara dua orang yang tidak pernah bertemu sebelumnya, maka dalam kondisi ini berjabatan tangan memang disunnahkan.1)

****

20120501-062236.jpg

__________________________

1) Hal ini telah ditulis oleh Imam Izzuddin Ibnu Abdissalam. Insya Allah saya akan memaparkan pendapatnya pada risalah saya yang keempat, dari Tanfidul Ishabah.

RAKUS TERHADAP HARTA MENYEBABKAN HINA

RAKUS TERHADAP HARTA MENYEBABKAN HINA
Dari kitab compilation e-Book Silsilah Hadits Shahih Jilid I – Al-Albani

Pada bagian yang lalu saya sudah mengemukakan beberapa hadis yang menjelaskan anjuran Islam agar kita memanfaatkan tanah secara produktif, dan memberikan penegasan bahwa Islam benar-benar menganjurkannya kepada kaum Muslimin, bahkan memberikan semangat dan dorongan untuk itu.

Dan sekarang saya akan menyebutkan beberapa hadits yang oleh sementara orang yang lemah pemahamannya serta ada penyakit di hatinya, serasa bertentangan dengan hadits-hadits di atas / yang terdahulu. Padahal kalau kita pahami secara baik, tanpa mengedepankan hawa nafsu sedikit pun, maka hadits-hadits yang akan saya sebutkan ini ternyata tidak berlawanan sama sekali. Hadits-hadits yang saya maksud adalah:

۱
٠. اَ ْلاَوَّلُ : عَنْ اَبِىً اُمَامَةَ اَلبَاهِلِىِّ قَالَ : وَرَاى سِكَّةً وَسَيْءًامِنْ الَةِالحَرْثِ فَقَالَ : سَمِعْتً رَسُؤلُ اللّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ يَقُؤلُ : ,, لاَيَدْخُلُ هذَا بَيْتَ قَؤمٍ الاَّ اَدْخَلَهُ اللهُ الذُّلَّ,,

Pertama, dari Abu Umamah Al-Bahili, ia melihat sangkal bajak dan alat pertanian lainnya, lalu ia berkata: Saya mendengar َRasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ bersabda: ”Bila benda-benda ini masuk ke dalam sebuah rumah, niscaya Allah juga akan memasukkan kebinasaan.“

Hadis tersebut di-takhrij (dikeluarkan) oleh Imam Bukhari di dalam kitab shahihnya (syarah Fathul-Bari, 4/5). Sedangkan Ath Thabrani juga meriwayatkannya di dalam Al-Kabir dari sanad lain, yakni dari Abu Umamah secara marfu’ dengan matan (redaksi) :

مَامِنْ اَهْلِ بَيْتٍ يَغْدُؤعَلَيْهِمْ فَدَانَ اِلاَّذَلُّؤا.

”Para penghuni rumah yang pagi-pagi keluar dengan sepasang lembu untuk membajak, pasti akan ditimpa kebinasaan.“

Hadits ini disebutkan di dalam Al-Mujma’ (6/120).

Para Ulama’ telah mengintegrasikan hadits ini dengan hadits-hadits yang disebutkan terdahulu dengan cara:

1. Yang dimaksud dengan adz-dzal adalah kewajiban (cukai) bumi yang diminta oleh negara. Orang yang melibatkan diri ke dalamnya, berarti telah menceburkan atau menyodorkan dirinya ke dalam kehinaan. Al-Manawi di dalam kitabnya al-Faidh menandakan: ”Hadits ini tidak mencela pekerjaan bercucuk tanam, sebab pekerjaan itu terpuji, kerana banyak yang memerlukannya. Disamping itu, kehinaan (kerana melibatkan diri dalam urusan cukai) tidak menghalangi pahala sebagian orang (yang bercucuk tanam). Dengan kata lain keduanya tidak ada hubungannya (talazum).

Karenanya Ibnu At-Tin mengatakan: ”Hadis ini merupakan salah satu berita Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ tentang hal-hal yang bersifat abstrak, kerana dalam kenyataannya yang kita saksikan sekarang ini adalah, bahawa majoriti orang yang teraniaya adalah para petani.“

2. Hadits itu dimaksudkan bagi mereka yang terbengkalai urusan ibadahnya kerana terlalu sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan itu, lebih-lebih lagi untuk berperang yang saat itu sangat diperlukan. Nampaknya dengan pendapat inilah Imam Bukhari memberi judul hadits tersebut dengan ”Peringatan Keras Terhadap Akibat yang Ditimbulkan kerana Terlalu Sibuk dengan Alat-alat Pertanian, yang Melebihi Batas yang Telah Ditentukan.“

Dan sebagaimana telah kita maklumi, bahwa terlalu banyak menyibukkan diri dengan urusan pekerjaan dapat membuat seseorang lupa dengan kewajibannya, rakus terhadap dunia, mau terus-menerus bergelut dengan usaha pertanian bahkan enggan untuk berjuang. Seperti terlihat pada orang-orang kaya.

Penggabungan semacam ini diperkuat oleh sabda Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ

۱۱.
اَذَا تَبَايَعْتُمْ بِالعَيَْطنَةِ , وَاَخَذْتُمْ اَذْنَابَ اْلبَقَرِ , وَرَضِيْتُمْ بِا لزَّرْعِ , وَتَرَكْتُمُ اْلجِهَادَ , سَلَطَ اللّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّيَنْزِعُهُ حَتّى تَرْجِعُؤ ااِلى دِيْنِكُمْ ,,

“Jika kalian berjual beli dengan cara “Inah (penjualan secara kredit dengan tambahan harga) dan mengambil ekor sapi, dan merasa lega dengan bertanam, dan meninggalkan jihad, maka Allah akan menurunkan kerendahan bagi kalian. Dan sekali-kali tidak akan melepaskannya kecuali jika kalian kembali kepada agama kalian.”

Status hadits ini adalah shahih, kerana sanad-sanadnya telah disepakati. Saya telah mengumpulkan tiga sanad diantaranya, yang semuanya berasal dari Abdullah Ibnu Umar secara marfu’.

1. Diriwayatkan oleh Ishaq Abu Abdurrahman, bahwa Atha Al-Khurasani memberitahukan kepadanya, bahwa Nafi’ telah meriwayatkan hadits kepadanya, dari Ibnu Umar. Nafi berkata (kemudian ia menyebutkan hadits itu).

Hadits ini ditakhrij oleh Abu Dawud (nomor : 3462), Ad-Daulabi di dalam Al-Kuna (2/265), dan Al-Baihaqi di dalam As-Sunan Al-Kubra (5/361).

Hadits tersebut diperkuat oleh riwayat Fadhal bin Hashin dari Ayyub dari Nafi’.

Sedangkan Ibnu Syahin meriwayatkan di dalam Al-Afrad (1/1), dia mengatakan: “Fadhal sendirian saja (tafarrada) dalam meriwayatkan hadits itu.”

Sementara Al-Baihaqi berkomentar: “Hadits itu diriwayatkan dari dua sanad, yaitu dari Atha’ bin Abi Rabah yang dikutipnya dari Ibnu Umar رَضِى اللهُ عَنْهُ ”

Dengan komentarnya itu Al-Baihaqi ingin memperkuat hadits itu. Saya telah meneliti salah satu di antara dua sanad yang dikatakannya itu, yakni:

2. Diriwayatkan dari Abu Bakar bin ‘Iyasy dari A’masy bin Atha’ bin Abi Rabah dari Ibnu Umar.

Hadis dengan sanad kedua ini ditakhrij oleh Imam Ahmad (nombor : 4825), di dalam Az-Zuhd (20/84/1-2), dan Ath-Thabrani dalam Al-Kabir (3/107/1), serta Abu Umayyah Ath-Tharsusi di dalam Musnad (kumpulan hadits lengkap dengan sanadnya) Ibnu Umar (220/1).

Sanad kedua ini juga ditakhrij oleh ATh-Thabrani di dalam Al-Kabir (3/107.1), dari Laits yang mengutipnya dari Abdul Malik bin Sulaiman dari Atha’. Sedangkan Ibnu Abid-Dun-ya mentakhrijnya di dalam Al-‘Uqubat (2/247) dari sanad lain namun juga dari Laits yang diperolehnya dari Atha’. Sementara itu Ibnu Abu Sulaiman mengugurkan salah satu dari dua sanad tersebut. Kemudian Abu Na’im juga meriwayatkannya di dalam Al-Hilyah (1/313-314).

3. Dari Sahr bin Hausyab, yang dikutip dari Ibnu Umar. Hadits dengan sanad ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad (nomor : 5007).

Saya menemukan syahid-nya dari riwayat Basyir bin Zyad Al-Khurasany, ia berkata: “Kami diberi riwayat dari Ibnu Juraij dari Atha’ dari Jabir yang memberitakan: Saya mendengar Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ bersabda: (Kemudian dia menyebutkan hadits di atas).”

Sedangkan Ibnu Addi di dalam kitabnya Al-Kamil mengenai biografi Basyir juga menyampaikan hadits ini. Ia mengomentarinya: “Basyir adalah orang yang tidak dikenal (ghairu ma’ruf). Dalam matan haditsnya ada bagian yang tidak dikenal. Sementara Adz-Dzahabi berkata: “Bagian (yang tidak dikenal) tersebut perlu diperhatikan (lam yutrak).

Renungkanlah bahwa hadits ini menjelaskan kebaikan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Umamah sebelumnya. Kerendahan yang dimaksudkan di dalam hadits itu tidak semata-mata karena bercucuk tanam, tetapi jika hal itu diiringi dengan kesibukan yang melalaikan perjuangan. Sedang bercucuk tanam yang tidak mengganggu kewajiban, justru merupakan maksud hadits yang menganjurkan bercucuk tanam. Dengan demikian antara kedua hadits tersebut, sebenarnya tidak ada pertentangan sama sekali.5)

Kedua : Sabda Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ:

۱٢. لاَتَتَّخِذُ واالضَّيْعَةَ فَتَرْغَبُؤا فِى الدُّنْيَا

“Janganlah kalian membuat pekarangan, yang kemudian membuat kalian cinta kepada dunia.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi (4/264), Abu Al-Syaikh di dalam Ath-Thabaqat (298), Abu Ya’la di dalam Al-Musnad (1/251), Imam Hakim (4/222), Imam Ahmad (nomor: 2598, 4047), dan Al-Khattib (1/18), dari Syamer bin Atiyyah yang mengutip hadits Ghirah bin Sa’ad bin Al-Akram dari ayahnya yang diterima dari Ibnu Mas’ud secara marfu’ dengan redaksi:

نَهى عَنِ التَّبَقُّرِ فِى اْلاَهْلِ وَ اْلمَالِ .

“Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ melarang berlebih-lebihan dalam hal keluarga dan harta benda.”

Hadits itu diperkuat oleh Abu Hamzah dengan penjelasannya: “Saya mendengar seorang laki-laki dari Thayyi’ yang meriwayatkan hadits dari ayahnya yang diperoleh dari Abdullah secara marfu’.”

Imam Baghawi juga meriwayatkannya di dalam Hadits Ali Ibnu Ja’ad (2/6/20). Di dalam sanadnya ia menambahkan kata dari ayahnya, dan yang ini adalah benar, sebab riwayat dari Syamar juga seperti itu.

Hadits ini mempunyai syahid dari riwayat Laits yang diperoleh dari Nafi’ yang mengutip dari Ibnu Umar secara marfu’ dengan redaksi pertama.

Imam Al-Muhamili menyampaikannya di dalam Al-Amali (2/69). Sedangkan semua sanad-sanadnya adalah hasan.

Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar menyebutkannya dengan redaksi pertama, di dalam syarah penjelasan hadits Anas terdahulu, ia menjelaskan:

“Al Qurthubi berkata: “Hadits itu dikompromikan dengan hadits yang ada di dalam bab “Pekerjaan yang Membuat Lalai dari Ibadah dan Kewajiban Lainnya.” Sedangkan hadits yang menganjurkan untuk bekerja (bertani) ditujukan kepada usaha pertanian yang hasilnya memberikan manfaat pada kaum muslimin.”

Saya berpendapat: “Pengkompromian semacam ini diperkuat oleh redaksi kedua yang berasal dari Ibnu Mas’ud, dimana kata tabaqqur diartikan dengan At-Takatsur (berlebih-lebihan) dan at-tausi (memperluas). Wallahu a’lam.

Perlu kita ketahui, bahwa berlebih-lebihan dalam bekerja yang dapat melalaikan kewajiban seperti jihad, itulah yang dimaksud dalam Al-Qur’an dengan at-tahlukah, yang disebutkan di dalam firman Allah صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ :

وَلاَ تَلْقُؤابِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِ . البقرة : 190

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” QS (Al-Baqarah : 190)

Dalam kondisi seperti itu kebanyakan orang salah menafsirkannya. Bahkan mereka mengatkan bahwa Abu Imran telah masuk Islam!

۱۳.
غَزَؤنَا مِنَ الْمَدِيْنَةِ , نُرِيْدُ الْقُسْطَنْطِيْنِيَّةَ ,- وَعَلَى اَهْلِ مِصْرَ عُقْبَةُ بْنُ عَامِرٍ – وَعَلَى الْجَمَاعَةِ عَبْدُ الرَّحمنِ بْنِ خَالِدِ بْنِ الوَلِيْدِ , وَالرُّؤمُ مُلْصِقُؤ ظُهُؤرِهِمْ بِهَاءطِ اْلمَدِيْنَةِ , فَحَمَلَ رَجُلٌ – مِنَّا – عَلَى اْلعَدُوِّ فَقَاللَ النَّاسُ : مَهْ مَهْ ! لاَاِلهَ اِلاَّ اللهُ ! يُلْقِى بيدَيْهِ اِلَى التَّهْلُكَةِ ! لفَقَالَ اَبُؤاَيُّؤبَ – اْلاَنْصَرِىًِ :,, اِنَّمَاتَاءَقَ لُؤنَ هذِهِ اْلاَيَةَ هكَذَا اَنْ حَمَلَ رَجُلٌ يُقًاتِلُ يَلْتَمِسُ الشَّهَادّةَاَؤيَبْلىِ مِنْ نَفْسهِ ,, اِنَّمَا نَزَلَتْ هذِهِ اْلاَيَةُ فِيْنَا مَعْشَرَاْلاَنْصَارِ لَمَّا نَصَرَ اللهُ نَبِيَّهُ وَاَظْهَرَ اْلاِاسْلاَمَ . قَلْنَا ,, بَيْنَنَ خَفِيًّا مِنْ الرَسثؤلِ اللّهِ صَلَى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ : هَلُمَّ نُقِيْمُ فِى اَمْوَالِنَا وَنُصْلِحُهَا فَاَنْزَ اللهُ تََعَالى : وَاَنْفِقُؤا فِى سَبِيْلِ اللهِ وَلاَ تُلْقُؤابِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِ ,,

“Kami keluar dari Madinah menuju Konstantinopel. (Di antara penduduk Mesir terdapat Uqbah bin Amir). Sedang di antara rombongan itu terdapat Abdurrahman bin Khalid bin Walid. Orang-orang menghadang kedatangan mereka di batas kota. Kemudian ada seseorang di antara kami menghadap ke musuh itu. Maka orang-orang berkata: “Celaka, laa ilaaha illallah, ia menjatuhkan dirinya ke dalam kebinasaan!” Lalu Abu Ayyub Al-Anshari berkata: “Kalian menakwilkan ayat ini seperti itu, yakni seseorang yang ingin mati syahid, atau ingin membinasakan dirinya! Padahal ayat ini turun berkenaan dengan kita kaum Anshar, yaitu tatkala Allah memberikan pertolongan kepada Nabi-Nya dan memunculkan Islam ke permukaan, maka kami berkata (pada waktu itu keislaman di antara kami belum jelas bagi Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ ): “Mari kita benahi dan kita perbaiki harta benda kita.” Lalu Allah SWT menurunkan firman-Nya:

“Dan belanjakanlah harta bendamu di jalan Allah dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” QS (Al-Baqarah : 190)

Yang dimaksud dengan menjatuhkan diri sendiri ke dalam kebinasaan adalah, kita memperjuangkan harta benda kita, tetapi melalaikan urusan jihad kita. Selanjutnya Abu Imran berkata: “Abu Ayyub selalu aktif berjuang di jalan Allah hingga meninggal dan dikebumikan di Konstantinopel.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud (1/393), Ibnu Abi Hatim di dalam tafsirnya (1/10/2), dan Imam Hakim (2/275). Abu Dawud mengatakan bahwa hadits itu shahih dan sesuai dengan criteria ke-shahih -an Bukhari-Muslim. Sementara Adz-Dzahabi juga setuju dengan penilaian Abu Dawud tersebut. Namun keduanya baik Abu Dawud maupun Adz-Dzahabi mengasumsikan bahwa Bukhari-Muslim tidak menyampaikan hadits ini. Dengan demikian lebih tepatnya hadits ini dikategorikan sebagai hadits shahih saja (tanpa melibatkan Bukhari-Muslim).

****
_________________________

5) Yang mendorong saya menulis makalah ini adalah dugaan adanya seorang orientalis berkebangsaan Jerman, bahwa Islam mengajurkan agar kaum Muslimin tidak bercocok tanam. Ia memakai landasan hadits yang ada di dalam kitab Bukhari

20120429-104937.jpg

Hadis – cara salam solat

Dari Abdullah bin Mas’ud -radhiallahu anhu- dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

أَنَّهُ كَانَ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ يَسَارِهِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ

“Bahwasanya beliau mengucapkan salam ke arah kanan dan kiri seraya mengucapkan: “Assalaamu’alaikum warahmatullah, Assalaamu’alaikum warahmatullah (Semoga keselamatan dan rahmat Allah limpahkan kepadamu).” (HR. Abu Daud no. 845, At-Tirmizi no. 295, An-Nasai no. 1303, dan Ibnu Majah no. 906),

didalam riwayat yang lain:

Dari Wail bin Hujr -radhiallahu anhu- dia berkata:
صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ وَعَنْ شِمَالِهِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ
“Aku shalat di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau memberi salam ke arah kanan dengan mengucapkan “Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh (semoga keselamatan, rahmat dan berkah Allah tetap atas kalian), ” dan ke arah kiri dengan mengucapkan “Assalamu ‘alaikum warahmatullah (semoga keselamatan dan rahmat Allah tetap atas kalian).” (HR. Abu Daud no. 997 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Al-Irwa` : 2/31, 32)

20110320-113532.jpg

Hadis : memcontohkan kebaikan dan keburukan

http://almanhaj.or.id/content/3009/slash/0
Kategori Hadits
Jadilah Perintis Kebaikan

Rabu, 16 Maret 2011 22:29:25 WIB

JADILAH PERINTIS KEBAIKAN!

Oleh
Syaikh Raid bin Shabri

عَنْ جَرِيْرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صَدْرِ النَّهَارِ فَجَاءَهُ قَوْمٌ حُفَاةٌ عُرَاةٌ مُجْتَابِي النِّمَارِ أَوْ الْعَبَاءِ مُتَقَلِّدِي السُّيُوفِ عَامَّتُهُمْ مِنْ مُضَرَ بَلْ كُلُّهُمْ مِنْ مُضَرَ فَتَمَعَّرَ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَا رَأَى بِهِمْ مِنْ الْفَاقَةِ فَدَخَلَ ثُمَّ خَرَجَ فَأَمَرَ بِلَالًا فَأَذَّنَ وَأَقَامَ فَصَلَّى ثُمَّ خَطَبَ فَقَالَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ إِلَى آخِرِ الْآيَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا وَالْآيَةَ الَّتِي فِي الْحَشْرِ اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ
تَصَدَّقَ رَجُلٌ مِنْ دِينَارِهِ مِنْ دِرْهَمِهِ مِنْ ثَوْبِهِ مِنْ صَاعِ بُرِّهِ مِنْ صَاعِ تَمْرِهِ حَتَّى قَالَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ قَالَ فَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ بِصُرَّةٍ كَادَتْ كَفُّهُ تَعْجِزُ عَنْهَا بَلْ قَدْ عَجَزَتْ قَالَ ثُمَّ تَتَابَعَ النَّاسُ حَتَّى رَأَيْتُ كَوْمَيْنِ مِنْ طَعَامٍ وَثِيَابٍ حَتَّى رَأَيْتُ وَجْهَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَهَلَّلُ كَأَنَّهُ مُذْهَبَةٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

Dari Jarir bin Abdillah, ia berkata: Kami bersama Rasulullah pada pagi hari. Lalu datanglah satu kaum yang telanjang kaki dan telanjang dada berpakaian kulit domba yang sobek-sobek atau hanya mengenakan pakaian luar dengan menyandang pedang. Kebanyakannya mereka dari kabilah Mudhor atau seluruhnya dari Mudhor, lalu wajah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berubah ketika melihat kefaqiran mereka. Beliau masuk, kemudian keluar dan memerintahkan Bilal untuk adzan, lalu Bilal adzan dan iqamat lalu Beliau shalat. Setelah shalat Beliau berkhutbah seraya membaca ayat:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) namaNya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. [An Nisa:1].

Dan membaca ayat di surat Al Hasyr

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسُُ مَّاقَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيرُُ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. [Al Hasyr:18].

Telah bershadaqah seseorang dari dinarnya, dirhamnya, pakaiannya, takaran sha’ kurmanya, sampai Beliau berkata : “Walaupun separuh kurma”.
Jarir berkata: Lalu seorang dari Anshar datang membawa sebanyak shurrah, hampir-hampir telapak tangannya tidak mampu memegangnya, bahkan tidak mampu.
Jarir berkata: Kemudian berturut-turut orang memberi, sampai aku melihat makanan dan pakaian seperti dua bukit, sampai aku melihat wajah Rasulullah bersinar seperti emas.
Lalu Rasulullah bersabda,”Barangsiapa yang membuat contoh yang baik dalam Islam, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Barangsiapa yang mencontohkan contoh jelek dalam Islam, maka ia mendapat dosanya dan dosa orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka.

TAKHRIJ HADITS
Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam Ash Shahih (7/103-104 bersama Syarah Nawawi) dan (16/225-226); Ahmad dalam Al Musnad (4/357, 359, 361, 362); An Nasa’i dalam Al Mujtaba’ (5/75-76-77); At Tirmidzi dalam Al Jami’ (5/42) no. 2675 dengan lafadz مَنْ سَنَّ سُنَّةَ خَيْرٍ ……… وَمَنْ سَنَّ سُنَّةَ شَرٍّ ً dan Ibnu Majah dalam As Sunan (1/74) no 203.

PEMAHAMAN YANG BENAR TERHADAP HADITS INI
– Perkataan (مُجْتَابِي النِّمَارِ أَوْ الْعَبَاءِ) an nimar dengan dikasrahkan huruf nun, adalah bentuk plural dari namirah dengan difathahkan. Maknanya yaitu baju dari kulit domba yang sobek. Sedangkan الْعَبَاء (al aba’) dengan dimadkan dan difathahkan huruf ‘ain-nya عَبَاءة – عَبَاية . Adapun makna مُجْتَابِي النِّمَارِ yaitu sobek dan terbelah bagian tengahnya.

– Perkataan فَتَمَعَّرَ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , artinya, berubah.

– Perkataan فَصَلَّى ثُمَّ خَطَبَ , berisi anjuran mengumpulkan orang banyak untuk perkara penting, dan menasihati serta memotivasi mereka untuk mencapai kemaslahatan dan memperingatkan mereka dari perkara jelek.

– Tentang firman Allah Azza wa Jalla يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ . Ayat ini dibacakan karena ia lebih menyentuh dalam menganjurkan mereka agar bershadaqah dan (juga) karena berisi penegasan hak mereka sebagai saudara.

– Perkataan رَأَيْتُ كَوْمَيْنِ مِنْ طَعَامٍ وَثِيَابٍ . Kaumain dapat dibaca dengan fathah atau dhammah huruf kaf-nya. Artinya tempat yang tinggi seperti bukit kecil.

– Perkataan حَتَّى رَأَيْتُ وَجْهَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَهَلَّلُ كَأَنَّهُ مُذْهَبَةٌ , maknanya wajah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersinar karena senang dan bahagia.

– Perkataan مُذْهَبَةٌ , para ulama membacanya dengan dua sisi. Pertama, yang sudah masyhur dan dirajihkan Al Qadhi dan jumhur adalah مُذْهَبَةٌ dengan huruf dzal, fathah huruf ha’ dan setelahnya ba’. Kedua مدْ هَنَةٌ dengan dal dan dhamah ha’ dan setelahnya nun.

Al Qadhi menjelaskan dalam Masyariqi Al Anwar (1/172) dua sisi bacaan ini dalam tafsirnya. Pertama, maknanya perak keemasan. Ini lebih cocok untuk (mengungkapkan) keindahan wajah dan keceriaannya. Kedua, menyerupakan keindahan dan keceriannya dengan kulit yang dilapisi emas. Dan bentuk pluralnya adalah madzahib. Al mudzahab ini adalah sesuatu yang digunakan bangsa Arab untuk mencelupkan kulit dan menjadikannya bergaris-garis keemasan, tampak sebagiannya bersambung dengan sebagian lainnya.

Mengenai yang menjadi sebab kebahagiaan Rasulullah, karena bergegasnya kaum muslimin dalam mentaati Allah, mengeluarkan harta mereka karena Allah, melaksanakan perintah Rasulullah, menutupi kebutuhan saudaranya yang membutuhkan, kasih-sayang mereka kepada sesama muslimin dan kerjasama mereka dalam kebaikan dan taqwa. Jika melihat hal seperti ini, sudah sepantasnya seseorang berbahagia dan menampakkan kebahagiannya. Dan penyebab senangnya adalah apa yang telah dijelaskan tadi.

– Perkataan مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا . Yang dimaksud sunnah dalam hadits ini, adalah sunnah secara bahasa, yaitu jalan (contoh) yang diikuti atau dilalui; bukan bermakna sunnah secara terminologi syar’i, sebagaimana dalam terdapat dalam sabda Beliau:

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ dan sabdanya. مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا

Kelaziman hadits menuntut penafsiran seperti ini. Yang saya maksudkan dengan kelaziman hadits adalah dalam sabda Rasulullah :

وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً , karena dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, Beliau mensifatkan sunnah dengan sunnah jelek, padahal dalam Islam tidak ada sunnah yang jelek. Jadi yang dimaksud sunnah disini adalah sunnah dalam makna bahasa (etimologi) bukan dalam makna syar’i.

Kemudian, kepada orang yang menyelisihi, kita sampaikan bahwa orang-orang itu telah memisah-misahkan hal-hal yang sama dan menyamakan hal-hal yang berbeda, mencampur-adukkan yang baik dengan yang buruk, yang berkualitas rendah dengan yang tinggi dan meletakkan tanah dalam adonan roti.

Dalam banyak nash, kata Sunnah bermakna jalan (metode), sebagaimana hal itu terdapat dalam sabda Rasulullah :

مَا منْ نَفْسٍ تُقْتَلٌُ ظُلْمًا إِلَّا كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الْأَوَّلِ كِفْلٌ مِنْ دَمِهَا وَذَلِكَ لِأَنَّهُ أَوَّلُ مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ

Tidak ada satu jiwapun terbunuh secara zhalim, kecuali anak adam pertama (yaitu yang membunuh saudaranya, Red) mendapatkan bagian dari darahnya (dosa pembunuhan), itu karena ia adalah orang pertama yang mencontohkan pembunuhan.

Dan juga sabdanya:

لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ

Seandainya kita mendebat orang-orang yang mencampur-adukkan pemahaman sunnah yang telah diisyaratakan tadi, maka konsekwensinya kita akan mengatakan “Sesungguhnya membunuh itu adalah sunnah, dan meniru orang musyrik adalah sunnah”. Padahal kalimat ini tidak akan diucapkan oleh orang yang berakal.

Kalau begitu, kita tidak mungkin membawa pengertian sabda Beliau مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً kepada (anjuran membuat) amalan baru, karena keterkaitannya dengan baik atau jelek, yang tidak diketahui kecuali dengan syari’at. Karena menilai baik atau buruk merupakan kekhususan syari’at semata. Dalam hal ini, akal tidak memiliki peran. Inilah madzhab Ahlu Sunnah Wal Jama’ah, dan pendapat yang mengatakan -baik dan buruk dinilai dengan akal- merupakan Ahlu Bid’ah.

(Karena yang dimaksud dalam hadits itu adalah sunnah secara bahasa, yang berarti contoh atau panutan, Red), maka sunnah dalam hadits itu adakalanya baik menurut syari’at, atau buruk menurut syari’at. Sehingga (sunnah yang baik, Red) tidak benar (pemakaiannya, Red), kecuali pada shadaqah yang disebutkan dalam hadits (di depan, Red) dan pada contoh-contoh lain yang disyari’atkan. Sedangkan sunnah sai’ah (contoh yang buruk) tetap difahami untuk kemaksiatan yang ditetapkan syari’at sebagai maksiat, seperti membunuh yang dijelaskan dalam hadits Ibnu Adam, ketika Rasulullah bersabda.

لِأَنَّهُ أَوَّلُ مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ ,

dan kepada kebid’ahan, karena sudah ada celaan dan larangannya dalam syari’at. [1]

Al Hafizh berkata dalam Al Fath 13/302, Al Muhallab berkata,”Dalam bab ini (yaitu Bab Dosa Orang yang Mengajak kepada kesesatan Atau Memberikan Contoh Yang Jelek, Red) mengandung makna peringatan dari kesesatan dan (keharusan, Red) menjauhi perbuatan-perbuatan bid’ah dan perkara-perkara baru dalam agama, serta (mengandung, Red) larangan menyelisihi jalan kaum mukminin”.

Sisi peringatannya (wajhu tahdzir), adalah orang yang berbuat kebid’ahan terkadang meremehkannya, karena pada awal mulanya menganggapnya kecil, tidak merasakan kerusakan yang diakibatkan amalan tersebut, yaitu berupa beban dosa yang didapatkan dari dosa orang-orang yang mengamalkan perbuatan bid’ah setelah dia -meskipun seandainya ia tidak mengamalkannya- namun (dia mendapatkan dosa,Red) karena ia sebagai orang yang merintisnya.

Imam Al Nawawi berkata dalam Syarh Muslim (7/104),”Dalam hadits ini terdapat anjuran memulai kebaikan (menjadi perintis kebaikan) dan mencontohkan perbuatan yang baik, serta terdapat peringatan keras dari membuat-buat kebatilan dan hal-hal yang jelek. Ucapan ini (Barangsiapa yang membuat contoh yang baik dalam Islam, Red), beliau sampaikan dalam hadits ini, karena pada awal hadits, Beliau menyatakan.

فَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ بِصُرَّةٍ كَادَتْ كَفُّهُ تَعْجِزُ عَنْهَا بَلْ قَدْ عَجَزَتْ قَالَ ثُمَّ تَتَابَعَ النَّاسُ

(Lalu seorang dari Anshar datang membawa sebanyak shurrah, hampir-hampir telapak tangannya tidak mampu memegangnya, bahkan tidak mampu. Jarir berkata: Kemudian berturut-turut orang memberi). Ini merupakan keutamaan yang besar bagi perintis kebaikan dan orang yang membuka pintu kebaikan tersebut.”

20110317-103854.jpg

PEMAHAMAN YANG SALAH TERHADAP HADITS
Hadits ini difahami secara keliru, yakni banyak orang awam berdalil dengan hadits ini dalam membagi pengertian bid’ah, menjadi bid’ah hasanah (bid’ah yang baik) dan bid’ah sayi’ah (bid’ah tercela). Sebagian ulama juga ikut-ikutan dalam hal ini. Berikut ini akan jelas bagi Anda kekeliruan cara berdalil ini.

Dengan memohon bantuan kepada Allah dan bertawakkal kepadaNya, kami katakan, kebanyakan orang yang berdalil dengan hadits ini dalam membagi bid’ah, bahwasanya orang yang menyampaikan hadits ini kepada Anda dalam keadaan terpotong. Dia menampakkan kepada Anda sebagian saja dan menyembunyikan yang lainnya, agar mendapatkan legalitas dalam pembagian bid’ah tersebut. Lalu mengklaim adanya bid’ah hasanah. Pada saat yang sama, ia tidak menyebutkan keserasian hadits yang menyebabkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan hadits.

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً …

Di atas kami telah menjelaskan, maksud dari sunnah disini adalah sunnah secara bahasa, bukan secara syar’i. Saya minta kepada orang yang menentang kami dalam pendapat ini untuk menjawab pertanyaan,”Apakah dalam sunnah Rasulullah terdapat sunnah yang jelek? Walaupun Beliau sendiri menyatakan dalam hadits ini مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّة سَيِّئَةً .

Jika kalian menjawab “Ya, ada”, maka tidak perlu lagi berdiskusi, karena dengan pernyataan jelek ini, tanpa disadari seorang dapat keluar dari agama. Hal ini sudah menjadi kepastian yang absolut dalam agama ini, yaitu sunnah itu adalah agama.

Jika menjawab “Tidak” maka kita sampaikan kepadanya hadits ini. Di dalamnya termuat pensifatan sunnah dengan sunnah yang jelek, supaya dia mengakui bahwa lafadz sunnah disini adalah sunnah secara bahasa dan bukan istilah syari’at.

Seandainya, meskipun hadits ini tidak mengandung pensifatan sunnah dengan sunnah yang jelek, niscaya sudah cukup dengan lafazh yang menunjukkan pensifatan baik, yaitu مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً , karena pensifatan sunnah dengan sunnah yang jelek adalah pensifatan yang salah dan sangat tidak layak, karena menunjukkan ada sunnah yang tidak baik diantara sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ini adalah dalil kuat yang menunjukkan bahwa lafazh tersebut (yaitu lafazh sunnah dalam hadits, Red) secara bahasa. Karena, sebagaimana sudah dimaklumi bahwa sunnah itu adalah agama. Jika Anda mengatakan “Ini adalah sunnah yang baik”, maka Anda sama dengan orang yang membagi sunnah menjadi dua, dan itu sesat, terhadap apa yang ingin Anda bersihkan.[2]

Penulis berkata: Sungguh salah faham terhadap hadits ini membawa akibat buruk dan kerusakan. Kami telah mendengar banyak orang ketika perbuatan mereka diingkari, saat mereka melakukan perkara bid’ah yang tidak ada dasarnya dalam syari’at, mereka berdalil dengan hadits ini dan menyatakan “Ini adalah perkara baik dan tidak ada dosanya, dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan:

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً “ .

Kepada mereka ini, kami katakan: “Sesungguhnya sahabat mulia (yang disebutkan dalam hadits ini, Red) yang melakukan shadaqah, (ia) tidak melakukan sesuatu yang baru yang tidak ada dalam syari’at. Dalam Al Qur’an, shadaqah disyaria’tkan dan dianjurkan oleh Rabb semesta alam, dan juga ada di dalam Sunnah yang tidak perlu lagi berdalil untuknya.

Dalam khutbahnya tersebut, Rasulullah menganjurkan para sahabatnya untuk bershadaqah. Namun, ketika mereka semua lambat merespon dan tampak kesedihan pada wajah Rasulullah, (maka) seorang Anshar dari mereka bangkit dan menyerahkan kepada Rasulullah satu shurrah shadaqah. Kemudian yang lain berduyun-duyun menyerahkan shadaqahnya. Sehingga perbuatan Anshar ini menjadi perbuatan yang terpuji. Dia tidak berbuat bid’ah dalam shadaqah, karena shadaqah disyari’atkan. Lalu dari mana mereka dapat mengatakan, ada bid’ah hasanah yang bermakna (dengan) istilah syar’i?

Kemudian, seandainya makna hadits sesuai dengan yang telah mereka fahami ini, maka sunnah dalam hal ini kontradiktif. Karena Rasulullah menganggap seluruh bid’ah adalah sesat. Oleh karenanya tidak benar, kecuali sebagaimana yang kami jelaskan, dan itulah yang benar.

Syaikh Masyhur Hasan dalam komentarnya terhadap kitab Al Ba’its ‘Ala Inkar Al Bida’ Wal Hawadits, hlm. 87, mengatakan,”Dengan demikian (maksudnya dengan memahami lafazh sunnah itu secara bahasa, Red), maka keluar dari keumuman sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Setiap bid’ah sesat”. Karena arti bid’ah menurut syar’i, adalah tambahan atau pengurangan dalam agama tanpa izin syari’at, baik berupa perkataan dan perbuatan, terang-terangan atau isyarat. (Sesungguhnya) setiap amalan yang tidak ada dasarnya dalam syari’at adalah bid’ah yang sesat, meskipun dilakukan oleh orang yang dianggap sebagai pemilik keutamaan, atau orang yang terkenal sebagai syaikh. Karena perbuatan ulama dan ahli ibadah bukanlah hujjah, selama tidak sesuai dengan syari’at.”

Kepada orang yang menganggap baik berbagai perbuatan bid’ah dan menjadikannya sebagai ajaran agama secara dusta dan bohong, (maka) kita sampaikan bahwa sabda Nabi. مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً bukan bermakna orang yang mencontohkan cara yang tidak ada dalam agama, yaitu dalam hukum dan furu’ serta ushulnya. Bukan! Ini merupakan kebodohan. Akan tetapi maksudnya adalah orang yang memberikan contoh dalam zaman dan naungan Islam, yaitu pada zaman dan keberadaannya. Karena agama ini datang dan memperingatkan dari kerusakan dan keburukan, serta mengajak berbuat kebaikan dan keshalihan. Sehingga dalam naungan agama yang lurus ini, memberikan contoh kepada kejelekan, menjadi perkara yang besar, baik kejelekan itu yang baru atau kejelekan yang sudah ada contohnya sebelum Islam.[3]

Saya (penulis) berkata: Anggaplah sahabat dari kalangan Anshar tersebut melakukan perbuatan lain, selain shadaqah, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyetujuinya. Maka, perbuatan atau perkataan sahabat ini menjadi sunnah, setelah iqrar (persetujuan) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sunnah itu tidak hanya ditetapkan berdasarkan perkataan atau perbuatan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam saja , namun juga ditetapkan karena persetujuan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana terjadi pada seorang sahabat yang setelah bangun dari ruku’ membaca.

رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ

Ketika selesai shalat, Rasulullah berkata, ”Siapakah yang berbicara tadi?” Sahabat itu menjawab,”Saya, wahai Rasulullah.” Beliau lalu bersabda.

رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلَاثِينَ مَلَكًا يَبْتَدِرُونَهَا أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلا

Aku melihat lebih dari tiga puluh malaikat bersegera menjadi yang pertama menulisnya.[4]

Ini adalah persetujuan dan anjuran dari Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga melakukan perbuatan ini menjadi sunnah dari sisi ini. Dan boleh dikatakan bahwa sahabat itu telah membuat sunnah (contoh) perkataan ini ketika i’tidal setelah ruku’. Dan ini adalah “sunnah hasanah” yang diambil dari persetujuan Nabi. Dan persetujuan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini terputus (tidak akan ada lagi, Red) dengan kematian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kecuali persetujuan yang telah Beliau tunjukkan, sehingga ia tetap merupakan iqrar (persetujuan) Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebagian orang ada yang mencari nash lain untuk melegimitimasi pendapatnya tentang pembagian bid’ah ini. Sebagian diantara mereka bergantung (berpegang) kepada pernyataan Umar tentang shalat tarawih (berjama’ah, Red).

نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ

Sebaik-baiknya bid’ah adalah ini.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata di dalam Iqtidha’ Shirati Al Mustaqim, hlm. 270,”Sebagian orang ada yang berpendapat, bid’ah itu terbagi menjadi dua bagian; hasanah (baik) dan qabihah (buruk) dengan dalil pernyataan Umar tentang shalat tarawih “Sebaik-baik bid’ah adalah ini” dan dengan dalil beberapa perkataan dan perbuatan yang diada-adakan setelah Rasulullah dan tidak dilarang; atau (menganggapnya) hasanah berdasarkan dalil-dalil ijma’ atau qiyas yang menunjukkan hal itu. Terkadang orang yang tidak mantap pemahaman dasar-dasar ilmunya, memasukkan berbagai adat-kebiasaan banyak orang atau yang lainnya ke dalam kategori ini. Lalu menjadikannya sebagai dalil baiknya sebagian bid’ah; entah dengan menjadikannya sebagai kebiasaannya dan kebiasaan orang yang sama dengannya, meskipun tidak mengetahui pendapat seluruh kaum muslimin dalam masalah tersebut, atau enggan meninggalkan kebiasaannya sebagaimana kondisi orang yang (telah) Allah Subhanahu wa Ta’ala terangkan, Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kamu dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. [Al Maidah:104].

Alangkah banyak orang yang dianggap memiliki ilmu atau banyak ibadah berhujjah dengan dalil-dalil yang keluar dari kaidah-kaidah ilmu yang dijadikan pegangan dalam agama. Intinya, bahwa nash-nash yang menunjukkan tercelanya kebid’ahan menentang dalil yang menunjukkan baiknya sebagian kebid’ahan, baik itu dari dalil-dalil syari’at yang shahih, atau dari alasan-alasan sebagian orang yang dijadikan pegangan oleh sebagian orang bodoh, atau orang yang suka mentakwilkan secara umum.

Orang-orang yang menentang ini terbagi dalam dua keadaan.
Pertama : Mereka yang mengatakan “Jika benar bahwa sebagian bid’ah itu baik dan sebagiannya buruk, maka yang buruk adalah bid’ah yang dilarang syari’at. Adapun bid’ah yang tidak didiamkan oleh syari’at, maka (demikian) itu tidak buruk, bahkan baik”. Begitulah yang terkadang disampaikan sebagian mereka.

Kedua : Bid’ah buruk dikatakan “Ini bid’ah hasanah, karena berisi kemaslahatan begini dan begitu”. Mereka menyatakan “Tidak semua bid’ah sesat”.

Tanggapannya: Bukankah terdapat sabda Rasulullah: “Sesungguhnya sejelek-jeleknya perkara adalah yang baru dibuat-buat, dan setiap yang baru dibuat-buat adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan adalah di neraka” dan peringatan keras dari perkara-perkara baru.

Ini semua adalah nash dari Rasulullah, maka seseorang tidak boleh menolak kandungannya, yang berisi celaan terhadap bid’ah. Barangsiapa yang menolaknya, maka ia seorang yang hina.

Mengenai sanggahan mereka, maka dijawab dengan salah satu dari jawaban berikut, dengan mengatakan kepada mereka: “Sesuatu yang sudah ditetapkan baik oleh syari’at, maka ia bukan bid’ah,” sehingga lafazh umum tetap, tidak ada pengkhususan. Atau dengan mengatakan kepada mereka “Sesuatu yang sudah ditetapkan baik oleh syari’at, maka dia pengecualian dari keumuman ini. Sehingga lafazh umum ini tetap, benar!”.

Mungkin juga dikatakan ”Sesuatu yang sudah ditetapkan baik oleh syari’at, maka dia adalah pengecualian dari keumuman tersebut. Lafazh umum yang terkhususkan (ada pengecualiannya, Red) adalah dalil yang bisa dijadikan hujjah atas sesuatu yang tidak masuk dalam kekhususan. Sehingga orang yang meyakini bahwa sebagian bid’ah terkhususkan dari keumuman tersebut, maka ia membutuhkan dalil yang benar untuk takhsis (pengkhususan). Bila tidak ada, maka keumuman lafazh itu tetap menunjukkan larangan”.

Kemudian, yang mengkhususkan haruslah dalil-dalil syari’at berupa Al Qur’an, Sunnah dan Ijma’, baik secara nash atau istimbat (kesimpulan dari nash). Adapun adapt kebiasaan sebagian negeri atau kebanyakan negeri, pendapat banyak ulama atau ahli ibadah atau kebanyakan mereka dan sejenisnya, bukanlah sesuatu yang pantas untuk mengalahkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Barangsiapa yang meyakini bahwa kebanyakan adat yang menyelisihi Sunnah sudah menjadi kesepakatan -karena umat telah menyetujuinya dan tidak mengingkarinya- maka ia salah dalam keyakinannya ini. Karena pada setiap waktu, senantiasa akan ada orang yang melarang kebanyakan adat yang menyelisihi Sunnah, dan tidak boleh mengklaim Ijma’ dengan berdasarkan amalan satu negeri atau beberapa negeri kaum muslimin, apalagi berdasarkan amalan sekelompok mereka.

Jika kebanyakan ulama tidak bersandar kepada perbuatan ulama penduduk Madinah dan Ijma’ mereka pada zaman Imam Malik, namun mereka tetap memandang Sunnah sebagai hujjah atas mereka, sebagaiamana atas selain mereka, padahal para ulama Madinah tersebut telah diberikan ketinggian ilmu dan iman.

Lalu bagaimana seorang mukmin yang berilmu bersandar kepada adat kebiasan kebanyakan orang awam, atau kebiasaan orang yang dianggap pemimpin oleh orang awam, atau kebiasaan satu kaum yang bodoh yang tidak memiliki ketinggian ilmu, tidak termasuk ulul amri, serta mereka tidak layak dijadikan anggota syura (musyawarah), bahkan mungkin iman mereka kepada Allah dan RasulNya belum sempurna. Atau ada satu kaum dari ahli fadhl (yang memiliki kelebihan) bergabung bersama mereka dengan dasar hukum adat, tanpa memandang dengan ilmu, atau karena syubhat bahwa lebih baik keadan mereka, sehinga mereka dianggap sejajar dengan kedudukan mujtahid dari kalangan para imam dan shidiqin?

Berargumen dengan hujjah-hujjah dan bantahannya ini sudah jelas, bahwa ini bukanlah cara Ahlu ilmi berhujjah. Namun karena banyaknya kebodohan, maka banyak orang yang bersandar kepada metode ini, sampai-sampai orang yang dianggap memiliki ilmu dan keshalihan. Dan terkadang, seorang yang memiliki ilmu dan keshalihan itu mendapatkan sandaran (metode) lain, namun bukan diambil dari Allah dan RasulNya, yaitu sandaran-sandaran yang tidak digunakan oleh Ahli Ilmu dan iman. Ia hanya menyampaikan hujjah-hujjah syar’iyah sebagai hujjah atas perkara lain, dan melawan orang yang mendebatnya.

Kesimpulannya : Sebagaimana pernyataan yang disampaikan Ash Shan’ani dalam Tsamarutu An Nadzar (hlm. 11 dengan penomoran saya),”Mereka membagi bid’ah kepada hasanah dan tercela, dan saya yakin, pembagian ini termasuk perbuatan bid’ah.”

Imam Asy Syathibi dalam Al I’tisham, 1/191-192 berkata,”Sungguh, pembagian ini adalah perkara baru yang tidak ada dalil syar’inya. Bahkan hal itu bertolak belakang, karena diantara hakikat bid’ah tidak ditunjukkan oleh dalil syar’i, dan tidak berada di atas kaidah. Seandainya terdapat dalil dari syari’at yang menunjukkan kewajiban atau sunah atau mubahnya, tentu itu bukan bid’ah. Dan pasti, amalan tersebut masuk ke dalam keumuman amalan-amalan yang diperintahkan atau dimubahkan. Tidak bisa dipadukan antara sesuatu itu bid’ah dengan adanya dalil-dalil yang menunjukkan kewajiban atau sunnahnya atau mubahnya, karena pemaduan dua hal ini merupakan pemaduan yang bertentangan.

Akhirnya, saya tutup pernyataan ini dengan pernyataan Umar bin Khathab:

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ

Seluruh bid’ah adalah sesat, meskipun orang melihatnya baik. [6]

(Diterjemahkan dari kitab Tashihul A’tha Wal Auhan Al Waqi’ah Fi Fahmi Ahadits, karya Syaikh Raid Shabri, hlm. 189-200)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun VIII/1425H/2004M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]
_______
Footnote
[1]. Al I’tisham, 1/184.
[2]. Isyraq Asy Syari’at Fil Hukmi ‘Ala Taqsimi Al Bid’ah, hlm. 20, karya Usamah Al Qashash
[3]. Israq Al Asyari’at Fil Hukmu ‘Ala Taqsimi Al Bid’ah, hlm. 29.
[4]. Dikeluarkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih-nya (2/237-238).
[5]. Yaitu hadits “Setiap perkara yang baru adalah bid’ah”. (Pent.).
[6]. Dikeluarkan oleh Al Lalika’i dalam Syarhu Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah, 1/92 dan Muhammad bin Nashr dalam As Sunnah, hlm. 24 dan Al Baihaqi dalam Al Madkhal Ila Sunan Al Kubra, no. 191 dengan sanad shahih.

Hadis Sangat Lemah : Tuntut Ilmu sampai ke Negeri China

Ensiklopedia Hadits Lemah : Tuntutlah Ilmu Sampai ke Negeri Cina
Kamis, 15-Maret-2007, Penulis: Buletin Jum’at Al-Atsariyyah Gowa

Hadits dho’if (lemah), apalagi palsu, tidak boleh dijadikan dalil, dan hujjah dalam menetapkan suatu aqidah, dan hukum syar’i di dalam Islam. Demikian pula, tidak boleh diyakini hadits tersebut sebagai sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-

Diantara hadits-hadits dho’if ‘lemah’, hadits yang masyhur digunakan oleh para khatib, dan da’ii dalam mendorong manusia untuk menuntut ilmu dimana pun tempatnya, sekalipun jauhnya sampai ke negeri Tirai Bambu, Cina. Namun sayangnya para khatib, dan da’i kita kurang kepeduliaannya dalam mengetahui derajat hadits ini. Akhirnya, berdusta atas nama Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-.

Hadits ini diriwayatkan oleh Anas bin Malik -radhiyallahu ‘anhu- dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, beliau bersabda,
اطلبوا العلم ولو بالصين
“Tuntutlah ilmu, walaupun di negeri Cina”. [HR. Ibnu Addi dalam Al-Kamil (207/2), Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashbihan (2/106), Al-Khathib dalam Tarikh Baghdad (9/364), Al-Baihaqiy dalam Al-Madkhol (241/324), Ibnu Abdil Barr dalam Al-Jami’ (1/7-8), dan lainnya, semuanya dari jalur Al-Hasan bin ‘Athiyah, ia berkata, Abu ‘Atikah Thorif bin Sulaiman telah menceritakan kami dari Anas secara marfu’]

Ini adalah hadits dhaif jiddan (lemah sekali), bahkan sebagian ahli hadits menghukuminya sebagai hadits batil, tidak ada asalnya. Ibnul Jauziy –rahimahullah- berkata dalam Al-Maudhu’at (1/215) berkata, ‘’Ibnu Hibban berkata, hadits ini batil, tidak ada asalnya’’. Oleh karena ini, Syaikh Al-Albaniy –rahimahullah- menilai hadits ini sebagai hadits batil dan lemah dalam Adh-Dhaifah (416).

As-Suyuthiy dalam Al-La’ali’ Al-Mashnu’ah (1/193) menyebutkan dua jalur lain bagi hadits ini, barangkali bisa menguatkan hadits di atas. Ternyata, kedua jalur tersebut sama nasibnya dengan hadits di atas, bahkan lebih parah. Jalur yang pertama, terdapat seorang rawi pendusta, yaitu Ya’qub bin Ishaq Al-Asqalaniy. Jalur yang kedua, terdapat rawi yang suka memalsukan hadits, yaitu Al-Juwaibariy. Ringkasnya, hadits ini batil, tidak boleh diamalkan, dijadikan hujjah, dan diyakini sebagai sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 01 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Muhammad Mulyadi. Untuk berlangganan hubungi alamat di atas. (infaq Rp. 200,-/exp)

Hadis Palsu : Tidak boleh melihat kemaluan isteri

Melihat kemaluan istri ketika berhubungan adalah boleh berdasarkan hadits-hadits shahih. Adapun hadits yang berbunyi:

إِذَا جَامَعَ أَحَدُكُمْ زَوْجَتَهُ أَوْ جَاِريَتَهُ فَلَا يَنْظُرْ إِلَى فَرْجِهَا فَإِنَّ ذَلِكَ يُوْرِثُ الْعَمَى

“Apabila seorang diantara kalian berhubungan dengan istrinya atau budaknya, maka janganlah ia melihat kepada kemaluannya, karena hal itu akan mewariskan kebutaan”. [HR. Ibnu Adi dalam Al-Kamil (2/75)].

Maka hadits ini adalah palsu karena dalam sanadnya terdapat Baqiyah ibnul Walid. Dia adalah seorang mudallis yang biasa meriwayatkan dari orang-orang pendusta sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Hibban. Lihat Adh-Dho’ifah (195)

Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 36 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Muhammad Mulyadi. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)

http://almakassari.com/?p=214