KESABARAN PARA NABI MENGHADAPI CUBAAN

KESABARAN PARA NABI MENGHADAPI CUBAAN
Dari compilation e-Book Silsilah Hadits Shahih Al-Albani Jilid I

١٧. اَنَّ النَّبِىَّ اللهِ اَيُّؤبَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَبِثَ بِهِ بَلاَ ءُؤهُ ثَمَانَ عَشَرَةَ سَنَةً , فَرَفَضَهُ اْلقَرِيْبُ وَاْلبَعِيْدُ اِلاَّرَجُلَيْنِ مِنْ اِخوَانِه كَانَايَغْدوَانِه اِلَيْهِ وَيَرُؤحَانِ ,فَقَالَ اَحَدُهُمَا لِصَاحِبِه ذَاتَ يَؤمٍ : تَعْلَمُ وَاللهِ لَقَدْاَذْنَبَ اَيُّؤبُ ذَنْبًامَااَذْنَبَهُ اَحَدٌ مِنَ اْلعَلَمِسْنَ , فَقَالَ لَهُ صَاحِبُهُ :,, وَمَاذَاكَ ؟ ,, مُنْذُ ثَمَانَ عَشَرَةَ سَنَةً لَمْ يَرْحَمْهُ اللّهُ فَسَكْشِفُ مَابِه ,فَلَمَّارَاحَااِلى اَيُّؤبَ لَمْ يَصْبِرِالرَّجُلُ حَتّى ذَكَرَذَلِكَ لَهُ , فَقَالَ اَيُّؤبُ : لاَ اَدْرِىْ مَاتَقُؤلاَنِ غَيْرَ اَنَّ اللهَ تَعَلى يَعْلَمُ اَنِّى اَمُرُ بِاالرَّجُلَيْنِ يَتَنَاذَعَانِ , فَيَذْكُرَانِ اللهَ فَاَرْجِغُ اِلى بَيْتِى فَاُكَفِّرَ عَنْهُمَا كَرَاهِيَتَ اَنْ يَذْكُرَاللهَ اِلاَّ فِى حَقٍٍّ : قَالَ : وَكَانَ يَخْرُجْ اِلى حَاجَتِه فَاذَاقَض حَاجَتَهُ اَمْسَكَتْهُ اَمَرَاتُهُ بِيَدِه حَتّى يَبْلُغَ , فَلَمَّا كَانَ ذَاتَ يَؤمَ ابْطَأّ عَلَيْهَاوَاَؤحَى اِلى اَيُّؤبَ : -( اركض بِرَجُلِك هٰذَا مُغْتَسَلٌ بَارِدٌ وشَرَابٌ ) فَاسْتَبْطَأتَهُ فَتَلَقْتَهُ تَنْظُرُ وَقَدْ أَقْبَلْ عَلَيْهَا قَدْ أَذْهَبَ اللهُ مَا بِهِ مِنَ الْبَلاَءِ وَهُوَ أَحْسَنُ مَا كَانَ فَلَمَّا رَأَتْهُ قَالَتْ أَيْ بَارَكَ اللهُ فَيكَ هَلْ رَأَيْتَ نَِبيَّ اللهِ هٰذَا الْمُبْتَلِى وَاللهِ عَلٰى ذٰلِكَ مَا رَأَيْتُ أَشْبَهُ مَنْكَ إِذَ كَانَ صَحِيْحَا فَقَالَ فَإِنَّي أَنَا هُوَ وَكَانَ لَهُ أَنْدَرَانِ ( أَيْ بَيْدَرَانِ ) أَنْدَرٌ لِلْقُمْحِ وَأَنْدَرٌ للشَّعِيْر فَبَعَثَ الله سَحَابَتَيْنِ فَلَمَّا كَانَتْ إِحْدَاهُمَا عَلٰى أَنْدَرِ الْقُمْحِ أَفرغت فِيهِ الذَّهَبَ حَتىّٰ فَاضَ وَأفرغَتْ اْلأُخْرَى فَي أَنْدَرِ الشَّعِيْرِ الْوَرَقَ حَتىّٰ فَاضَ .

“Nabi Ayyub ‘Alaihissalam terkena cubaa selama lapan belas tahun. Seluruh keluarga dekatnya maupun yang jauh menjauhinya, kecuali dua orang saudaranya. Keduanya selalu mendatangi dan menghiburnya. Suatu ketika salah seorang di antara mereka berkata kepada kawannya: ”Katakanlah kawan demi Allah sungguh Ayyub telah melakukan dosa yang belum pernah diperbuat oleh seorang pun.“ Lalu kawannya bertanya: ”Dosa apa itu?“ Ia menjawab: ”Selama lapan belas tahun, Allah tidak memberi belas kasihan kepadanya, lalu Allah menghilangkan penderitaannya.“ Tatkala keduanya menghadap Nabi Ayyub, salah seorang di antara mereka tidak sabar, dan menceritakan apa yang dikatakan oleh kawannya. Lalu Nabi Ayyub menjelaskan:”Saya tidak mengerti apa yang kalian berdua katakan, hanya Allah mengetahui bahawa saya telah memerintahkan kepada dua orang yang sedang cekcok untuk berbaikan, lalu keduanya menyebut Allah (Mendengar itu) kemudian saya kembali ke rumah dan membenci keduanya, kerana saya tidak suka mereka menyebut Allah, kecuali dalam perkara yang haq (benar).“ Perawi melanjutkan, suatu ketika Ayyub keluar untuk memenuhi hajatnya. Jika ia ingin memenuhi keperluannya, biasanya ia dipapah oleh isterinya hingga sampai di tempat. Suatu hari ia memenuhi hajatnya agak lama (lambat), ternyata ia diberi wahyu (perintah): (Allah berfirman): ”Hentakkanlah kakimu, inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum. (Shaad : 42). Sedang isterinya itupun tetap (sabar) menantinya. Tatkala isterinya itu menyambutnya ia melihat bahwa Ayyub telah pulih dari penyakitnya. Ayyub terlihat lebih baik keadaannya dari sebelumnya. Ketika itu si isteri segera berkata: ’Wahai suamiku, semoga Allah memberi berkah kepadamu. Saya belum pernah melihat (mengetahui) ada seorang nabi yang diuji seperti ini.’ Kemudian Ayyub berseru: ”seperti inilah aku.“ Sementara Ayyub juga mempunyai dua tempat menumbuk biji, satu untuk biji gandum dan yang satunya lagi untuk terigu. Lalu Allah mengutus dua gerombol awan. Tatkala salah satu awan itu berada tepat diatas tempat menumbuk biji gandum, maka ia mengucurkan emas ke dalamnya hingga meluap, sedang awan lainnya mengucurkan perak pada tempat menumbuk biji terigu.“

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Ya’la di dalam Musnad-nya (176/1-177/1) dan Abu Na’om di dalam Al-Hilayah (3/374-375) dari dua jalur yang berasal dari Sa’id bin Abi Maryam yang diperoleh dari Nafi’ bin Zaid dari Uqail dari Ibnu Syihab dan Anas bin Malik secara marfu’. Selanjutnya Abu Ya’la berkata:

”Hadits ini gharib dari hadits Zuhri. Tidak ada yang meriwayatkan darinya kecuali Uqail. Sedang semua perawi disepakati adil (konsisten di dalam menjauhi larangan-larangan syari’at), hanya Nafi’ yang kurang mendapatkan kesepakatan dalam keadilannya.“

Namun saya tetap berpendapat bahwa Nafi’ adalah tsiqah seperti dikatakan oleh Imam Muslim. Dan Imam Muslim juga menyampaikan haditsnya. Adapun perawi-perawi yang lain adalah perawi-perawi yang dipakai oleh Bukhari dan Muslim. Oleh kerana itu hadits ini adalah shahih. Penilaian yang sama juga diberikan oleh Adh-Dhiya’ Al-Maqdisi, sehingga ia juga menyampaikannya di dalam Al-Mukhtarah (220/2-221/1). Sementara itu Ibnu Hibban juga meriwayatkan di dalam kitab shahih-nya (2091), dari Ibnu Wuhaib yang diberi riwayat oleh Nafi’ bin Zaid.

Hadits ini termasuk hadits yang membatalkan (menggugurkan) hadits yang ada di dalam Al-Jami’ush-Shaghir dengan redaksi:

”Allah menolak menjadikan bala’(cubaan/ujian) sebagai penguasa bagi hambaNya yang mukmin.“

Penjelasan mengenai hal ini akan saya (Al-Albani) sampaikan ketika menjelaskan hadist-hadits dha’if, insya Allah.

20120502-060458.jpg

ETIKA NABI SAAT PERPISAHAN

ETIKA NABI SAAT PERPISAHAN
Dari compilation e-Book Silsilah Hadits Shahih Jilid I

Bab ini memuat tiga hadits, yaitu:

Pertama: Dari Ibnu Umar رَضِى اللهُ عَنْهُ yang mempunyai beberapa sanad, diantaranya:

۱
٤ – . اَرْسَلَنِى ابْنُ عُمَرَ فِى حَاجَةٍ فَقَالَ : تَعَالْ حَتّى اَؤدَعَكَ كَمَاوَدَعَنِى رَسُؤلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاَرْسَلَنِىْ فِى حَاجَةٍ لَهُ فَقَالَ : ,, اَسْتَؤدِعُ اللهَ دِيْنَكَ وَاَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيْمَ عَمَلِك ,,

Dari Quza’ah ia berkata: ”Ibnu Umar رَضِى اللهُ عَنْهُ mengutusku untuk suatu keperluan. Lalu ia berkata: ’Kemarilah aku akan mengucapkan selamat jalan kepadamu, sebagaimana ucapan selamat tinggal Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ kepadaku ketika beliau mengutusku untuk suatu keperluan. Kemudian ia mengucapkan:

”Aku menitipkan agamamu, umatmu, dan segala akhir perbuatanmu kepada Allah.“

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud (no : 2600), Imam Hakim (2/97), Imam Ahmad (juz 2/25, 38 dan 136), dan Imam Abu Asakir (14/290/2 dan 15469/1), diperoleh dari Abdulaziz bin Umar bin Abdulaziz yang mendengarnya dari Quza’ah.

Perawi-perawinya tergolong tsiqah (konsisten terhadap ajaran Islam dan kuat ingatannya) tetapi ada yang diperselisihkan, yaitu Abdulaziz. Sebagian Ulama meriwayatkannya dengan sanad seperti itu, tapi sebagian lain ada pula yang memasukkan satu orang perawi antara Abdulaziz dan Quza’ah. Orang yang dimaksud tersebut adalah Ismail bin Jarir, namun sementara Ulama juga ada yang menyebutnya Yahya bin Ismail bin Jarir.
Sedang Al-Hafizh Ibnu Asakir menyebutkan beberapa riwayat yang berbeza- beza. Adapun Al-Hafizh Ibnu Hajar di dalam kitabnya At-Taqrib mengatakan: ”Yang benar adalah Yahya bin Ismail.“

Saya berpendapat bahwa hadits itu adalah dha’if , tetapi kemudian menjadi kuat karena adanya sanad-sanad lain. Di dalam riwayat Ibnu Asakir terdapat matan sebagai berikut:

Sebagaimana Rasulullah رَضِى اللهُ عَنْهُ mengucapkan selamat tinggal kepadaku, lalu ia menjabat tangan saja. Setelah itu ia mengucapkan: (ia mengucapkan seperti kalimat hadits di atas).

Diriwayatkan dari Salim, bahwa Ibnu Umar selalu mengucapkan kepada orang yang hendak bepergian: ”Izinkan aku mengucapkan selamat jalan kepadamu, sebagaimana Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ mengucapkannya kepadaku, lalu ia berucap (seperti kalimat pada hadits yang pertama).“

Hadits ini ditakhrij oleh Imam Tirmidzi (2/255, cet. Bulaq), Imam Ahmad (2/7), dan Abdul Ghani Al-Maqdisy di dalam juz 63 (41/1), dari Sa’id bin Khutsaim dari Hanzalah yang dikutip dari Salim. Imam Tirmidzi berkomentar: ”Hadits ini statusnya adalah hasan shahih gharib (ada di antara ketiga status tersebut), yang dimaksud adalah yang diriwayatkan oleh Salim.“

Saya berpendapat: ”hadits ini sesuai dengan syarat Muslim, hanya saja sanad yang dari Sa’id masih dipertentangkan. Oleh karena itu Imam Hakim meriwayatkannya (1/442 dan 2/97) dari Ishak bin Sulaiman dan Walid bin Muslim yang dikutip dari Handzalah bin Abu Sofyan diperoleh dari Al-Qasim bin Muhammad yang mengisahkan:

”Saya berada di samping Ibnu Umar. Tiba-tiba datanglah seorang laki-laki dan berkata: ”Saya hendak pergi.” Lalu Ibnu Umar berkata: “Tunggulah, aku akan mengucapkan selamat jalan kepadamu: (Kemudian Al-Qasim bin Muhammad menyebutkan kalimat seperti hadits pertama).”

Imam Hakim berkomentar: “Hadits ini statusnya shahih menurut syarat Bukhari-Muslim.” Penilaian ini disetujui oleh Adz-Dzahabi.

Kemungkinan Imam Tirmidzi menganggap gharib (Hadits yang periwayatannya terdapat perawi yang menyendiri, baik di dalam keberadaan sifat maupun keadannya) hadits yang diriwayatkan melalui jalur Salim ini tsiqah, karena dua orang perawi tsiqah, yaitu Ishak bin Sulaiman dan Al-Walid bin Muslim, yang berbeza dengan Ibnu Khatsaim, sebab Ibnu Khatsaim meriwayatkannya dari Handzalah dari Salim, sedangkan kedua perawi tsiqah tersebut mengatakan dari Handzalah yang diperoleh dari Al-Qasim bin Muhammad, dari Salim. Dan inilah nampaknya yang lebih shahih.

Abu Ya’la mentakhrij hadits ini di dalam musnad-nya (2/270), dari jalur Al-Walid bin Muslim saja.

Dari Mujahid, yang menceritakan:

“Saya dan seorang laki-laki pergi ke Irak. Di tengah perjalanan kami bertemu dengan Abdullah Ibnu Umar. Tatkala akan berpisah ia berkata: ”Aku tidak mempunyai sesuatu yang akan aku nasihatkan kepada kalian. Tetapi aku mendengar Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ bersabda: ”Jika ia (musafir) menitipkan sesuatu kepada Allah, maka mudah-mudahan Allah berkenan menjaganya. Dan saya menitipkan agamamu, amanat dan akibat perbuatan kalian kepada Allah Ta’ala.”

Hadits dengan riwayat ini disampaikan oleh Ibnu Hibban di dalam kitab shahihnya (2376) dengan sanad yang shahih.

Dari Nafi’ dikutip dari Mujahid yang menuturkan:

”Apabila Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ menginggalkan seseorang, maka beliau meraih tangannya. Dan beliau tidak akan melepaskan genggamannya kecuali orang itu sendiri yang melepaskannya, dan beliau berkata (kemudian perawi menyebutkan ucapan selamat tinggal seperti hadits yang pertama).”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi (2/255, cet. Balaq) yang menilainya gharib.

Saya berpendapat, bahwa yang dimaksudkan oleh penilaian Imam Tirmidzi itu adalah dha’if dari segi jalur (sanad) ini. Hal itu bisa demikian karena hadits itu diriwayatkan oleh Ibrahim bin Abdurrahman bin Zaid bin Umayyah dari Nafi’. Padahal Ibrahim ini tidak dikenal (majhul).

Tetapi Ibrahim tidak meriwayatkan hadits ini seorang diri, namun ada perawi lain yang juga meriwayatkannya, yaitu Ibnu Mahah (2/943 nomor 2826), yang diperoleh dari Ibnu Abi Laila dari Nafi’. Akan tetapi Ibnu Abi Laila adalah orang yang kurang baik hafalannya. Nama sebenarnya, Muhammad bin Abdurrahman. Ia tidak menyebutkan cerita tentang berjabat tangan.

Hadits kedua dari Abdullah Al-Khathami yang menceritakan:

۱
-. اَلحَدِيْثُ اْلثَّانِىْ : عَنْ عَبْدِاللهِ اْلخَتِمِىِّ قَالَ : ,, كَانَ النَّبِىَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَ السَلَّمَ اِذَااَرَادَ اَنْ يَسْتَؤدِعَ الْجَيْشَ قَالَ : فَذَكَرَهُ.

“Adalah Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ apabila hendak meninggalkan tentaranya, bersabda: (kemudian rawi menyebutkan kalimat yang diucapkan oleh Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ seperti pada hadits pertama).”

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Sina di dalam Amalul-Yaum wal-Lailah (nomor : 498) dengan sanad yang shahih menurut Muslim.

Hadits ketiga dari Abu Hurairah yang memberitakan:

اَنْ النَّبِىَّ صّلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِذَااَؤدَعَ اَحَدَا قَالَ : فَذَمَرَهُ .

“Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ jika meninggalkan seseorang beliau bersabda: (sebagaimana kalimat pada hadits pertama).”

Hadits dengan sanad ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad (2/358); dari Ibnu Labai’ah yang mengutip dari Al-Hasan bin Tsauban dari masa Ibnu Wirdan yang diperolehnya dari Abu Hurairah.

Saya berpendapat, bahawa seluruh perawinya adalah tsiqah. Hanya saja Ibnu Labai’ah agak buruk hafalannya. Matan yang dipakainya pun berbeda dengan yang dipakai oleh Al-Laits bin Sa’ad dan Sa’id bin Abi Ayyub yang diperolehnya dari Hasan bin Tsauban yang menuturkan:
“Aku akan menitipkan kepada Allah yang tidak pernah menyia-nyiakan barang titipan-Nya.”

1) Hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ini lebih shahih dan sanadnya jayyid (shahih). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad (403/1).

Saya juga melihat, bahwa Ibnu Labai’ah meriwayatkan hadits ini dengan redaksi yang sama dengan riwayat yang ditakhrij oleh Ibnu Sina (nomor : 501) dan Ibnu Majah (2/943, nomor: 2825). Sedang saya sendiri merasa yakin kesalahannya ada pada redaksi yang pertama.

Faedah-faedah Hadits

Dari hadits yang shahih ini dapat diambil beberapa faedah:

1. Disyariatkannya ucapan selamat tinggal dengan kalimat yang telah berlaku, yaitu:

أستودع الله دينك وامانتك وخواتيم عملك

Atau

أستودعكم الله الذى لا تضيع ودانعه

2. Bersalaman dengan satu tangan. Hal ini disebutkan pada banyak hadits. Dan jika ditinjau dari segi etimologi, maka kata al-mushafahah artinya al-akhdzu bi-yudi memegang tangan atau memegangnya. Di dalam Lisanul Arab disebutkan: Kata al-mushafahah berarti menggenggam tangan. Begitu juga dengan kata al-tashafuh. Ar-rajul yushafihur-rajul, artinya seseorang menempelkan telapak tangannya pada telapak tangan orang lain dan keduanya saling menempelkan telapak tangan mereka serta saling berhadapan. Arti yang sama dipakai pada hadits mushafahah (ketika bertemu). Kata ini merupakan tindakan menempelkan telapak tangan seseorang dengan telapak tangan orang lain dengan berhadap-hadapan.

Menurut saya ada beberapa hadits yang senada dengan hadits tersebut, seperti hadits marfu’ yang diriwayatkan oleh Hudzaifah:

اِنَّ الْمءْومِنَ اِذَالَقِىَ الْمُءْو مِنَ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ وًاَخَضّ بِيَدِه فَصَافَحَهَ تَنَاثَرَتْ خَطَايَا هُمَا كَمَا تَنَا ثَرَتْ وَرَقُ الشَّجَرِ

“Jika seorang mukmin bertemu dengan orang mukmin lainnya, lalu mengucapkan salam dan berjabatan tangan, maka semua kesalahan kedua orang itu akan rontok, seperti daun-daun yang berguguran.”

Sementara itu Al-Mundziri (3/270) berkomentar: “Imam Thabrani meriwayatkan hadits ini di dalam ‘Al-Ausath’, dan sepengetahuan saya perawi-perawinya tidak ada yang jahr (cacat).

Saya berpendapat, hadits ini mempunyai beberapa syahid (hadits penguat) yang dapat meningkatkan statusnya menjadi shahih. Di antaranya hadist yang diriwayatkan oleh Anas di dalam kitabnya Al-Mukhtarah (nomor : 240/1-2). Al-Mundziri menaikkannya kepada Imam Ahmad dan Imam lainnya.

Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa yang disunnahkan di dalam berjabat tangan adalah dengan satu tangan. Apa yang dilakukan oleh bebetapa Syaikh, yakni berjabat tangan dengan menggunakan dua tangan adalah menyelisihi sunnah. Hal ini perlu kita ketahui secara detail.

3. Berjabatan tangan juga dianjurkan ketika akan berpisah. Hal ini diperkuat oleh sabda Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ

“Merupakan kesempurnaan penghormatan adalah berjabatan tangan.”

Hadits ini dilihat dari segi sanadnya, bagus sekali. Sebenarnya saya bermaksud menampilkan judul tersendiri tentang pembahasan ini dengan disertai penjelasan mengenai sanad-sanadnya. Akan tetapi setelah saya teliti ternyata sanadnya dha’if dan tidak patut dibuat hujjah. Oleh karena itu saya hanya menyebutkannya di dalam As-Silsiasul-Ukhra (Rangkaian hadits yang lain) (1288).

Adapun mengenai pengambilan dalil pembuktian kebenaran tentang disyariatkannya salam ketika berpisah adalah sabda Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ

“Jika salah seorang di antara kalian memasuki masjid, maka ucapkanlah salam. Dan jika ia keluar, maka juga ucapkanlah salam. Salam yang pertama adalah lebih utama dari salam yang kedua.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, Imam Tirmidzi dan lainnya dengan sanad hasan. Melihat hadits ini maka pendapat sebagian ulama yang mengatakan bahwa berjabatan tangan ketika berpisah adalah bid’ah, sama sekali tidak mempunyai dalil. Memang, orang-orang yang berpendapat mengenai adanya hadits-hadits yang mengenai jabat tangan ketika bertemu adalah lebih banyak dan lebih kuat daripada ketika berpisah, tetapi orang yang tajam pemahamannya akan menyimpulkan bahwa intensitas disyari’atkannya berjabatan tangan ketika bertemu dengan ketika berpisah tidak sama. Misalnya berjabatan yanga pertama adalah sunnah, sedangkan yang kedua adalah anjuran (mustahabbah). Sedang bila jabatan tangan yang kedua dikatakan bid’ah, sama sekali tidak mempunyai dasar.

Adapun berjabatan tangan selepas shalat adalah bid’ah. Hal ini tidak diragukan lagi, kecuali antara dua orang yang tidak pernah bertemu sebelumnya, maka dalam kondisi ini berjabatan tangan memang disunnahkan.1)

****

20120501-062236.jpg

__________________________

1) Hal ini telah ditulis oleh Imam Izzuddin Ibnu Abdissalam. Insya Allah saya akan memaparkan pendapatnya pada risalah saya yang keempat, dari Tanfidul Ishabah.

RAKUS TERHADAP HARTA MENYEBABKAN HINA

RAKUS TERHADAP HARTA MENYEBABKAN HINA
Dari kitab compilation e-Book Silsilah Hadits Shahih Jilid I – Al-Albani

Pada bagian yang lalu saya sudah mengemukakan beberapa hadis yang menjelaskan anjuran Islam agar kita memanfaatkan tanah secara produktif, dan memberikan penegasan bahwa Islam benar-benar menganjurkannya kepada kaum Muslimin, bahkan memberikan semangat dan dorongan untuk itu.

Dan sekarang saya akan menyebutkan beberapa hadits yang oleh sementara orang yang lemah pemahamannya serta ada penyakit di hatinya, serasa bertentangan dengan hadits-hadits di atas / yang terdahulu. Padahal kalau kita pahami secara baik, tanpa mengedepankan hawa nafsu sedikit pun, maka hadits-hadits yang akan saya sebutkan ini ternyata tidak berlawanan sama sekali. Hadits-hadits yang saya maksud adalah:

۱
٠. اَ ْلاَوَّلُ : عَنْ اَبِىً اُمَامَةَ اَلبَاهِلِىِّ قَالَ : وَرَاى سِكَّةً وَسَيْءًامِنْ الَةِالحَرْثِ فَقَالَ : سَمِعْتً رَسُؤلُ اللّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ يَقُؤلُ : ,, لاَيَدْخُلُ هذَا بَيْتَ قَؤمٍ الاَّ اَدْخَلَهُ اللهُ الذُّلَّ,,

Pertama, dari Abu Umamah Al-Bahili, ia melihat sangkal bajak dan alat pertanian lainnya, lalu ia berkata: Saya mendengar َRasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ bersabda: ”Bila benda-benda ini masuk ke dalam sebuah rumah, niscaya Allah juga akan memasukkan kebinasaan.“

Hadis tersebut di-takhrij (dikeluarkan) oleh Imam Bukhari di dalam kitab shahihnya (syarah Fathul-Bari, 4/5). Sedangkan Ath Thabrani juga meriwayatkannya di dalam Al-Kabir dari sanad lain, yakni dari Abu Umamah secara marfu’ dengan matan (redaksi) :

مَامِنْ اَهْلِ بَيْتٍ يَغْدُؤعَلَيْهِمْ فَدَانَ اِلاَّذَلُّؤا.

”Para penghuni rumah yang pagi-pagi keluar dengan sepasang lembu untuk membajak, pasti akan ditimpa kebinasaan.“

Hadits ini disebutkan di dalam Al-Mujma’ (6/120).

Para Ulama’ telah mengintegrasikan hadits ini dengan hadits-hadits yang disebutkan terdahulu dengan cara:

1. Yang dimaksud dengan adz-dzal adalah kewajiban (cukai) bumi yang diminta oleh negara. Orang yang melibatkan diri ke dalamnya, berarti telah menceburkan atau menyodorkan dirinya ke dalam kehinaan. Al-Manawi di dalam kitabnya al-Faidh menandakan: ”Hadits ini tidak mencela pekerjaan bercucuk tanam, sebab pekerjaan itu terpuji, kerana banyak yang memerlukannya. Disamping itu, kehinaan (kerana melibatkan diri dalam urusan cukai) tidak menghalangi pahala sebagian orang (yang bercucuk tanam). Dengan kata lain keduanya tidak ada hubungannya (talazum).

Karenanya Ibnu At-Tin mengatakan: ”Hadis ini merupakan salah satu berita Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ tentang hal-hal yang bersifat abstrak, kerana dalam kenyataannya yang kita saksikan sekarang ini adalah, bahawa majoriti orang yang teraniaya adalah para petani.“

2. Hadits itu dimaksudkan bagi mereka yang terbengkalai urusan ibadahnya kerana terlalu sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan itu, lebih-lebih lagi untuk berperang yang saat itu sangat diperlukan. Nampaknya dengan pendapat inilah Imam Bukhari memberi judul hadits tersebut dengan ”Peringatan Keras Terhadap Akibat yang Ditimbulkan kerana Terlalu Sibuk dengan Alat-alat Pertanian, yang Melebihi Batas yang Telah Ditentukan.“

Dan sebagaimana telah kita maklumi, bahwa terlalu banyak menyibukkan diri dengan urusan pekerjaan dapat membuat seseorang lupa dengan kewajibannya, rakus terhadap dunia, mau terus-menerus bergelut dengan usaha pertanian bahkan enggan untuk berjuang. Seperti terlihat pada orang-orang kaya.

Penggabungan semacam ini diperkuat oleh sabda Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ

۱۱.
اَذَا تَبَايَعْتُمْ بِالعَيَْطنَةِ , وَاَخَذْتُمْ اَذْنَابَ اْلبَقَرِ , وَرَضِيْتُمْ بِا لزَّرْعِ , وَتَرَكْتُمُ اْلجِهَادَ , سَلَطَ اللّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّيَنْزِعُهُ حَتّى تَرْجِعُؤ ااِلى دِيْنِكُمْ ,,

“Jika kalian berjual beli dengan cara “Inah (penjualan secara kredit dengan tambahan harga) dan mengambil ekor sapi, dan merasa lega dengan bertanam, dan meninggalkan jihad, maka Allah akan menurunkan kerendahan bagi kalian. Dan sekali-kali tidak akan melepaskannya kecuali jika kalian kembali kepada agama kalian.”

Status hadits ini adalah shahih, kerana sanad-sanadnya telah disepakati. Saya telah mengumpulkan tiga sanad diantaranya, yang semuanya berasal dari Abdullah Ibnu Umar secara marfu’.

1. Diriwayatkan oleh Ishaq Abu Abdurrahman, bahwa Atha Al-Khurasani memberitahukan kepadanya, bahwa Nafi’ telah meriwayatkan hadits kepadanya, dari Ibnu Umar. Nafi berkata (kemudian ia menyebutkan hadits itu).

Hadits ini ditakhrij oleh Abu Dawud (nomor : 3462), Ad-Daulabi di dalam Al-Kuna (2/265), dan Al-Baihaqi di dalam As-Sunan Al-Kubra (5/361).

Hadits tersebut diperkuat oleh riwayat Fadhal bin Hashin dari Ayyub dari Nafi’.

Sedangkan Ibnu Syahin meriwayatkan di dalam Al-Afrad (1/1), dia mengatakan: “Fadhal sendirian saja (tafarrada) dalam meriwayatkan hadits itu.”

Sementara Al-Baihaqi berkomentar: “Hadits itu diriwayatkan dari dua sanad, yaitu dari Atha’ bin Abi Rabah yang dikutipnya dari Ibnu Umar رَضِى اللهُ عَنْهُ ”

Dengan komentarnya itu Al-Baihaqi ingin memperkuat hadits itu. Saya telah meneliti salah satu di antara dua sanad yang dikatakannya itu, yakni:

2. Diriwayatkan dari Abu Bakar bin ‘Iyasy dari A’masy bin Atha’ bin Abi Rabah dari Ibnu Umar.

Hadis dengan sanad kedua ini ditakhrij oleh Imam Ahmad (nombor : 4825), di dalam Az-Zuhd (20/84/1-2), dan Ath-Thabrani dalam Al-Kabir (3/107/1), serta Abu Umayyah Ath-Tharsusi di dalam Musnad (kumpulan hadits lengkap dengan sanadnya) Ibnu Umar (220/1).

Sanad kedua ini juga ditakhrij oleh ATh-Thabrani di dalam Al-Kabir (3/107.1), dari Laits yang mengutipnya dari Abdul Malik bin Sulaiman dari Atha’. Sedangkan Ibnu Abid-Dun-ya mentakhrijnya di dalam Al-‘Uqubat (2/247) dari sanad lain namun juga dari Laits yang diperolehnya dari Atha’. Sementara itu Ibnu Abu Sulaiman mengugurkan salah satu dari dua sanad tersebut. Kemudian Abu Na’im juga meriwayatkannya di dalam Al-Hilyah (1/313-314).

3. Dari Sahr bin Hausyab, yang dikutip dari Ibnu Umar. Hadits dengan sanad ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad (nomor : 5007).

Saya menemukan syahid-nya dari riwayat Basyir bin Zyad Al-Khurasany, ia berkata: “Kami diberi riwayat dari Ibnu Juraij dari Atha’ dari Jabir yang memberitakan: Saya mendengar Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ bersabda: (Kemudian dia menyebutkan hadits di atas).”

Sedangkan Ibnu Addi di dalam kitabnya Al-Kamil mengenai biografi Basyir juga menyampaikan hadits ini. Ia mengomentarinya: “Basyir adalah orang yang tidak dikenal (ghairu ma’ruf). Dalam matan haditsnya ada bagian yang tidak dikenal. Sementara Adz-Dzahabi berkata: “Bagian (yang tidak dikenal) tersebut perlu diperhatikan (lam yutrak).

Renungkanlah bahwa hadits ini menjelaskan kebaikan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Umamah sebelumnya. Kerendahan yang dimaksudkan di dalam hadits itu tidak semata-mata karena bercucuk tanam, tetapi jika hal itu diiringi dengan kesibukan yang melalaikan perjuangan. Sedang bercucuk tanam yang tidak mengganggu kewajiban, justru merupakan maksud hadits yang menganjurkan bercucuk tanam. Dengan demikian antara kedua hadits tersebut, sebenarnya tidak ada pertentangan sama sekali.5)

Kedua : Sabda Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ:

۱٢. لاَتَتَّخِذُ واالضَّيْعَةَ فَتَرْغَبُؤا فِى الدُّنْيَا

“Janganlah kalian membuat pekarangan, yang kemudian membuat kalian cinta kepada dunia.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi (4/264), Abu Al-Syaikh di dalam Ath-Thabaqat (298), Abu Ya’la di dalam Al-Musnad (1/251), Imam Hakim (4/222), Imam Ahmad (nomor: 2598, 4047), dan Al-Khattib (1/18), dari Syamer bin Atiyyah yang mengutip hadits Ghirah bin Sa’ad bin Al-Akram dari ayahnya yang diterima dari Ibnu Mas’ud secara marfu’ dengan redaksi:

نَهى عَنِ التَّبَقُّرِ فِى اْلاَهْلِ وَ اْلمَالِ .

“Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ melarang berlebih-lebihan dalam hal keluarga dan harta benda.”

Hadits itu diperkuat oleh Abu Hamzah dengan penjelasannya: “Saya mendengar seorang laki-laki dari Thayyi’ yang meriwayatkan hadits dari ayahnya yang diperoleh dari Abdullah secara marfu’.”

Imam Baghawi juga meriwayatkannya di dalam Hadits Ali Ibnu Ja’ad (2/6/20). Di dalam sanadnya ia menambahkan kata dari ayahnya, dan yang ini adalah benar, sebab riwayat dari Syamar juga seperti itu.

Hadits ini mempunyai syahid dari riwayat Laits yang diperoleh dari Nafi’ yang mengutip dari Ibnu Umar secara marfu’ dengan redaksi pertama.

Imam Al-Muhamili menyampaikannya di dalam Al-Amali (2/69). Sedangkan semua sanad-sanadnya adalah hasan.

Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar menyebutkannya dengan redaksi pertama, di dalam syarah penjelasan hadits Anas terdahulu, ia menjelaskan:

“Al Qurthubi berkata: “Hadits itu dikompromikan dengan hadits yang ada di dalam bab “Pekerjaan yang Membuat Lalai dari Ibadah dan Kewajiban Lainnya.” Sedangkan hadits yang menganjurkan untuk bekerja (bertani) ditujukan kepada usaha pertanian yang hasilnya memberikan manfaat pada kaum muslimin.”

Saya berpendapat: “Pengkompromian semacam ini diperkuat oleh redaksi kedua yang berasal dari Ibnu Mas’ud, dimana kata tabaqqur diartikan dengan At-Takatsur (berlebih-lebihan) dan at-tausi (memperluas). Wallahu a’lam.

Perlu kita ketahui, bahwa berlebih-lebihan dalam bekerja yang dapat melalaikan kewajiban seperti jihad, itulah yang dimaksud dalam Al-Qur’an dengan at-tahlukah, yang disebutkan di dalam firman Allah صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ :

وَلاَ تَلْقُؤابِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِ . البقرة : 190

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” QS (Al-Baqarah : 190)

Dalam kondisi seperti itu kebanyakan orang salah menafsirkannya. Bahkan mereka mengatkan bahwa Abu Imran telah masuk Islam!

۱۳.
غَزَؤنَا مِنَ الْمَدِيْنَةِ , نُرِيْدُ الْقُسْطَنْطِيْنِيَّةَ ,- وَعَلَى اَهْلِ مِصْرَ عُقْبَةُ بْنُ عَامِرٍ – وَعَلَى الْجَمَاعَةِ عَبْدُ الرَّحمنِ بْنِ خَالِدِ بْنِ الوَلِيْدِ , وَالرُّؤمُ مُلْصِقُؤ ظُهُؤرِهِمْ بِهَاءطِ اْلمَدِيْنَةِ , فَحَمَلَ رَجُلٌ – مِنَّا – عَلَى اْلعَدُوِّ فَقَاللَ النَّاسُ : مَهْ مَهْ ! لاَاِلهَ اِلاَّ اللهُ ! يُلْقِى بيدَيْهِ اِلَى التَّهْلُكَةِ ! لفَقَالَ اَبُؤاَيُّؤبَ – اْلاَنْصَرِىًِ :,, اِنَّمَاتَاءَقَ لُؤنَ هذِهِ اْلاَيَةَ هكَذَا اَنْ حَمَلَ رَجُلٌ يُقًاتِلُ يَلْتَمِسُ الشَّهَادّةَاَؤيَبْلىِ مِنْ نَفْسهِ ,, اِنَّمَا نَزَلَتْ هذِهِ اْلاَيَةُ فِيْنَا مَعْشَرَاْلاَنْصَارِ لَمَّا نَصَرَ اللهُ نَبِيَّهُ وَاَظْهَرَ اْلاِاسْلاَمَ . قَلْنَا ,, بَيْنَنَ خَفِيًّا مِنْ الرَسثؤلِ اللّهِ صَلَى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ : هَلُمَّ نُقِيْمُ فِى اَمْوَالِنَا وَنُصْلِحُهَا فَاَنْزَ اللهُ تََعَالى : وَاَنْفِقُؤا فِى سَبِيْلِ اللهِ وَلاَ تُلْقُؤابِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِ ,,

“Kami keluar dari Madinah menuju Konstantinopel. (Di antara penduduk Mesir terdapat Uqbah bin Amir). Sedang di antara rombongan itu terdapat Abdurrahman bin Khalid bin Walid. Orang-orang menghadang kedatangan mereka di batas kota. Kemudian ada seseorang di antara kami menghadap ke musuh itu. Maka orang-orang berkata: “Celaka, laa ilaaha illallah, ia menjatuhkan dirinya ke dalam kebinasaan!” Lalu Abu Ayyub Al-Anshari berkata: “Kalian menakwilkan ayat ini seperti itu, yakni seseorang yang ingin mati syahid, atau ingin membinasakan dirinya! Padahal ayat ini turun berkenaan dengan kita kaum Anshar, yaitu tatkala Allah memberikan pertolongan kepada Nabi-Nya dan memunculkan Islam ke permukaan, maka kami berkata (pada waktu itu keislaman di antara kami belum jelas bagi Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ ): “Mari kita benahi dan kita perbaiki harta benda kita.” Lalu Allah SWT menurunkan firman-Nya:

“Dan belanjakanlah harta bendamu di jalan Allah dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” QS (Al-Baqarah : 190)

Yang dimaksud dengan menjatuhkan diri sendiri ke dalam kebinasaan adalah, kita memperjuangkan harta benda kita, tetapi melalaikan urusan jihad kita. Selanjutnya Abu Imran berkata: “Abu Ayyub selalu aktif berjuang di jalan Allah hingga meninggal dan dikebumikan di Konstantinopel.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud (1/393), Ibnu Abi Hatim di dalam tafsirnya (1/10/2), dan Imam Hakim (2/275). Abu Dawud mengatakan bahwa hadits itu shahih dan sesuai dengan criteria ke-shahih -an Bukhari-Muslim. Sementara Adz-Dzahabi juga setuju dengan penilaian Abu Dawud tersebut. Namun keduanya baik Abu Dawud maupun Adz-Dzahabi mengasumsikan bahwa Bukhari-Muslim tidak menyampaikan hadits ini. Dengan demikian lebih tepatnya hadits ini dikategorikan sebagai hadits shahih saja (tanpa melibatkan Bukhari-Muslim).

****
_________________________

5) Yang mendorong saya menulis makalah ini adalah dugaan adanya seorang orientalis berkebangsaan Jerman, bahwa Islam mengajurkan agar kaum Muslimin tidak bercocok tanam. Ia memakai landasan hadits yang ada di dalam kitab Bukhari

20120429-104937.jpg

ANJURAN ISLAM UNTUK MEMBUAT TANAH MENJADI PRODUKTIF

ANJURAN ISLAM UNTUK MEMBUAT TANAH MENJADI PRODUKTIF
Dari kitab e book Silsilah Hadits Shahih Jilid I – Al-Albani

Dalam anjuran ini, ada beberapa hadits yang mendukung, namun akan saya sebutkan beberapa diantaranya.

20120429-062122.jpg

Pertama: Dari Anas Radhiyallahu’anhu bahwa Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

٧. اَ ْلاَوَّلُ : هَنْ اَنَسٍ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ ,, مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرُسُ غَرْسًا اَؤيَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرُ اَؤاِنْسَانٌ اَؤبَهِيْةٌ اِلاَّ كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةُ

”Seorang mulim yang menanam atau menabur benih, lalu ada sebahagian yang dimakan oleh burung atau manusia, ataupun oleh binatang, niscaya semua itu akan menjadi sedekah baginya.“

Hadits itu diriwayatkan oleh Imam Bukhari (2/67, cet. Eropa), Imam Muslim (5/28) dan Imam Ahmad (3/147).

Kedua: Dari Jabir Radhiyallahu’anhu secara marfu’ :

٨. اَلشَّانِى عَنْ جَابِرٍ مَرْفُؤعًا مَامِنْ مُسْلِمِ يَغْرُسُ غَرْسًااِلاَّمَااُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَاسُرِقْ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ , وَمَااَكَلَتِ الطَّيْرُ فَهُوَلَهُ صَدَقَةٌ ، وَلاَيَرْزَءُؤهُ – اَى يَنْقُصُهُ وَيَأْخُذُمِنْهُ – اَحدْ اِلاَّ كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ . – اِلى يَؤمِ الْقِيَامَةِ –

”Seorang muslim yang menanam suatu tanaman, niscaya apa yang termakan akan menjadi sedekah, apa yang tercuri akan menjadi sedekah, dan apapun yang diambil oleh seseorang dari tanaman itu akan menjadi sedekah bagi pemiliknya sampai hari kiamat datang.“

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Jabir Radhiyallahu’anhu yang kemudian diriwayatkan secara bersama dengan Imam Ahmad (3/391) dari sanad lain dengan sedikit perbedaan redaksi. Hadits ini mempunyai hadits yang syahid (hadits lain yang senada, yang fungsinya sebagai penguat – penerj.) yaitu hadits Muslim dan Ahmad dari Ummu Mubasyir (6/240, 362). Sedang hadits-hadits lainnya yang juga berfungsi sebagai syahid , disebutkan oleh Al-Mundziri dalam At-Targhib (3/224, 245).

Ketiga: Diceritakan dari Anas Radhiyallahu’anhu dari Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ bersabda:

۹.
اَلثَّالِثُ : عَنْ أَنَسٍ رَضِى اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِي صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَالَ : ,, اِنَّ قَامَتِ لسَّاعَةُ وَفِى يد اَحَدكُمْ فسيلةٌ . فَاِن اسْتَطَاع انْ لاَتَقُؤمُ حَتّى يَغْرُسُهَا .

“Walaupun hari kiamat akan terjadi, sementara di tangan salah seorang di antara kamu masih ada bibit pohon kurma, jika ia ingin hari kiamat tidak akan terjadi sebelum ia menanamnya, maka hendaklah ia menanamnya.”

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Ahmad (3/83,184, 191), Ath Thayalisi (hadits nombor 2078), Imam Bukhari dalam Al Adab Al Mufrad (hadits nombor 479) dan Ibnul Arabi di dalam kitabnya Al Mu’jam (1/21), yang dikutip dari hadits Hisyam bin Yazid dari Anas رَضِى اللهُ عَنْهُ

Inilah sanad yang shahih sesuai dengan syarat yang ditetapkan oleh Imam Muslim, yang diperkuat dengan hadits matabi’ (searti dengan syahid) yang diriwayatkan oleh Yahya bin Sa’ad dari Anas ra. Hadits ini juga ditakhrij oleh Ibnu Addi di dalam Al Kamil (1/316).

Sedangkan Al-Haitsami mentakhrijnya (menyampaikan) dengan meringkas redaksinya di dalam Al Mujma’ (4/63), dan mengatakan: ”Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bazzar. Perawi-perawinya adalah tsiqah.“

Sebagaimana telah saya jelaskan, bahwa hadits ini oleh Imam Ahmad disebutkan dengan redaksi lebih panjang.

Kata al-fusilah searti dengan kata al-wadiyyah, yaitu anak pohon kurma (bibitnya).

Selain hadits-hadits tersebut, tampaknya tidak ada hadits lain yang lebih menunjukkan adanya anjuran untuk menjadikan tanah agar lebih produktif, lebih-lebih hadits yang terakhir di atas di mana menyiratkan pesan yang cukup dalam agar seseorang memanfaatkan hidupnya untuk menanam sesuatu yang dapat dinikmati oleh orang-orang sesudahnya, hingga pahalanya tetap mengalir sampai hari kiamat tiba. Hal itu akan ditulis sebagai amal sedekahnya (sedekah jariyah).

20120429-062330.jpg

Imam Bukhari menerjemahkan hadits ini dengan penjelasannya: Babu Ishthina’il Mal. Kemudian hadits itu diriwayatkan oleh Al-Harits bin Laqith, ia mengatakan: ”Ada seseorang di antara kami yang memiliki kuda yang telah beranak pinak, lalu disembelihnya kuda itu. Setelah itu ada surat dari Umar yang datang kepada kami, yang isinya: ”Peliharalah dengan baik rezki yang telah diberiakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada kalian. Sebab dalam hal yang demikian itu terdapat kemudahan bagi pemiliknya.“ Sanad hadits tersebut adalah shahih.

Sementara itu ada lagi hadits lain yang diriwayatkan oleh Dawud dengan sanad yang shahih, ia mengatakan: ”Abdullah bin Salam berkata kepadaku:

اِنْ سَمِعْتُ بِالدَّجَالِ قَدْخَرَجَ وَاَنْتَ عَلى وَدَّيتٍ تَغْرُسُهَا فًلاَ تَجْعَلْ اَنْتُصْلِحَهُ , فَاِنَّ لِلنَّاسِ بَعْدَ ذلِكَ عَيْشًا

”Jika engkau mendengar bahawa Dajjal telah keluar, padahal engkau masih menanam bibit kurma, maka janganlah engkau tergesa-gesa memperbaikinya, kerana masih ada kehidupan manusia setelah itu.“

Yang dimaksud Dawud di sini adalah Abu Dawud Al-Anshari. Ia dinilai oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar sebagai orang yang diterima haditsnya (al-maqbul).

Ibnu Jarir juga meriwayatkan sebuah hadits yang berasal dari Amarah bin Khuzaimah bin Tsabit yang berkata:

سَمِعْتُ عُمَرَ بْنِ اْلخَطَّابِ يَقُؤلُ لاََِبِىْ : مَايَمْنَعُكَ اَنْ تَغْرُسَ اَرْضَكَ ؟ فَقَالَ لَهُ اَبِىْ : اَنَا شَيْخٌ كَبِيْرٌاَمُؤتُ غَدًا , فَقَالَ لَهُ عُمَلرُ : اِعْزَمْ عَلَيْكَ لِتَعْرُسًهَا ؟ فَلَقَدْ رَاَيْتُ عُمَرَبْنِ الْخطَّابِ يَغْرُسُهَا بِيَدِه مَعَ اَبِىْ . كَذَا فِى ,, الجَامِعِ الكَبِيرِ ,, لِلسُّيُطِىْ .

ُ
”Saya mendengar Umar bin Khattab berkata kepada Ayahku: ’Apa yang menghalangimu untuk menanami tahahmu?’ Ayah saya menjawab: ’Saya sudah tau dan besok akan mati.’ Kemudian Umar berkata: ’Aku benar-benar mengharap agar Engkau mau menanaminya.’ Tak lama kemudian saya benar-benar melihatnya (Umar bin Khattab) menanam sendiri bersama ayah saya.“ Hadis ini bisa dilihat di dalam Al-Jami’ Al-Kabir, karya As Suyuti (3/3372).

Oleh kerana itu ada sebagian sahabat yang menganggap bahwa orang yang bekerja mengolah dan memanfaatkan tanahnya adalah karyawan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Imam Bukhari di dalam kitabnya Al-Adab Al-Mufrad (nomor 448) meriwayatkan sebuah hadis dari Na’im bin Ashim, bahwa ia mendengar Abdullah Ibnu Amir berkata kepada salah seorang anak saudaranya yang keluar ke tanah lapang (kebun): ”Apakah para karyawanmu sedang bekerja?“

“Saya tidak tahu.” Kata anak saudaranya.

Lalu Abdullah Ibnu Amir menyambung: “Seandainya engkau orang yang terdidik, niscaya engkau akan tahu apa yang sedang dikerjakan oleh para karyawanmu.” Kemudian ia (Abdullah Ibnu Amir) menoleh kepada kami, seraya berkata: ”Pada apa yang dimilikinya”) maka ia termasuk karyawan Allah Ta’ala.
Insya Allah sanad hadits ini hasan.

Kata al-wahthu berarti al-butsan (kebun), yaitu tanah lapang yang luas milik Amir bin Ash yang berada di Thaif, kurang lebih tiga mill dari Wajj. Tanah itu telah diwariskan kepada anak-anaknya (termasuk Abdullah).

Ibnu Asakir meriwayatkan di dalam kitabnya At-Tarikh (13/264//12) dengan sanad yang shahih dari Amir bin Dinar, ia mengatakan: ”Amir bin Ash berjalan memasuki sebidang kebun miliknya yang ada di Thaif yang biasa dikenal dengan al-wahthu. Di tanah itu terdapat satu juta kayu yang dipergunakan untuk menegakkan pohon anggur. Satu batangnya dibeli dengan harga satu dirham.

Inilah beberapa perkataan sahabat yang muncul akibat memahami hadits-hadits di atas.

Imam Bukhari memberi judul untuk dua hadits yang pertama dengan judul: ”Keutamaan Tanaman yang Dapat Dimakan.” di dalam kitab shahihnya. Dalam hal ini Ibnul-Munir berkomentar:

Imam Bukhari memberi insyarat tentang kebolehan bertanam. Adapun larangan bertaman seperti dikatakan oleh Umar adalah apabila pekerjaan bertanam itu sampai melalaikan perang atau tugas lain yang lebih mendesak untuk dilaksanakan. Oleh kerana itu, hadits Abi Ummah diletakkan pada bab berikutnya.

Hadits itu akan saya sebutkan pada bab yang akan datang, insya Allah.

****

20120429-062229.jpg

20120429-062251.jpg