11. BAB

11. BAB
Fathul Baari (Syarah Shahih Bukhari) – Ibnu Hajar Asqolani

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو إِدْرِيسَ عَائِذُ اللهِ بْنُ عَبْدِ اللهِ أَنَّ عُبَادَةَ بْنَ الصَّامِتِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَكَانَ شَهِدَ بَدْرًا وَهُوَ أَحَدُ النُّقَبَاءِ لَيْلَةَ الْعَقَبَةِ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَحَوْلَهُ عِصَابَةٌ مِنْ أَصْحَابِهِ بَايِعُونِي عَلَى أَنْ لَا تُشْرِكُوا بِاللهِ شَيْئًا وَلَا تَسْرِقُوا وَلَا تَزْنُوا وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ وَلَا تَأْتُوا بِبُهْتَانٍ تَفْتَرُونَهُ بَيْنَ أَيْدِيكُمْ وَأَرْجُلِكُمْ وَلَا تَعْصُوا فِي مَعْرُوفٍ فَمَنْ وَفَى مِنْكُمْ فَأَجْرُهُ عَلَى اللهِ وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَعُوقِبَ فِي الدُّنْيَا فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا ثُمَّ سَتَرَهُ اللهُ فَهُوَ إِلَى اللهِ إِنْ شَاءَ عَفَا عَنْهُ وَإِنْ شَاءَ عَاقَبَهُ فَبَايَعْنَاهُ عَلَى ذَلِك

18. Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman berkata, telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhri berkata, telah mengabarkan kepada kami Abu Idris ‘Aidzullah bin Abdullah, bahwa ‘Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu -salah seorang yang mengikuti perang Badar dan salah seorang utusan dalam pertemuan ‘Aqabah bahwa Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sedang dikelilingi oleh para sahabatnya dan beliau bersabda, “Berbaiatlah (berjanji) kalian semua kepadaku untuk: 1- Tidak mempersekutukan Allah dengan suatu apapun,
2- Tidak mencuri,
3- Tidak berzina,
4- Tidak membunuh anak-anakmu,
5- Tidak membuat fitnah di antara kalian,
6- Tidak durhaka terhadap perintah kebaikan.
Barang siapa yang menepati perjanjian itu maka ia akan diberi pahala oleh Allah dan barangsiapa yang melanggar salah satu
dari perjanjian itu, maka ia akan dihukum di dunia ini. Hukuman itu menjadi kaffarah (tebusan) baginya, dan barang siapa yang melanggar salah satunya kemudian ditutup oleh Allah, maka perkaranya terserah
kepada Allah. Jika Dia berkehendak untuk mengampuninya, maka akan diampuni dan jika Dia berkehendak untuk menghukumnya, maka Dia akan menghukumnya”

Keterangan Hadits:

Dalam riwayat kita ini, dituliskan kata “Bab” tanpa disertai nama judulnya, sedangkan dalam riwayat Al-Ushaili tidak dituliskan sama sekali baik “Bab” tersebut maupun judulnya kerana -menurutnya- hadits ini termasuk dalam bab sebelumnya. Demikian pula dalam riwayat kita, hadits tersebut berkaitan dengan bab sebelumnya, kerana kata “Bab “jika tidak disertai dengan judulnya, maka menunjukkan bahwa hadits yang terdapat di dalamnya termasuk dalam pembahasan bab sebelumnya, dan metode ini banyak dipakai oleh pengarang kitab fikih.
Adapun korelasi antara hadits ini dengan hadits sebelumnya, bahawa dalam hadits yang lalu telah disebutkan kata “Al-Anshar”, sedangkan dalam hadits ini dijelaskan tentang sebab penamaan mereka (suku Aus dan Khazraj) dengan nama “Al-Anshar”. Hal itu berkaitan erat dengan malam ‘Aqabah dimana mereka mengadakan kesepakatan bersama Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam di ‘Aqabah yang berada di Mina pada saat musim haji sebagaimana yang akan dijelaskan pada bab sirah nabawiyah (sejarah Nabi).

Imam Bukhari juga menyebutkan hadits ini dalam bab lain yaitu bab “man syahida badran (bab orang yang mengikuti perang Badar)” kerana dalam hadits tersebut disebutkan, “salah seorang yang mengikuti perang Badar”, dan juga dalam bab “wufud al-anshar (para utusan kaum Anshar)” kerana dalam hadits tersebut disebutkan, “dan salah seorang utusan dalam pertemuan ‘Aqabah” Sedangkan dalam bab ini. Imam Bukhari menyebutkannya karena berkaitan dengan hadits sebelumnya seperti yang telah kami jelaskan di atas.

Kemudian dari segi matannya, hadits ini berhubungan dengan
pembahasan tentang iman dari dua segi, Pertama, adalah bahawa menghindari larangan termasuk bagian dari iman, seperti halnya melaksanakan perintah, Kedua, adalah bahawa hadits tersebut membantah pendapat yang mengatakan bahawa orang yang melakukan dosa besar adalah termasuk orang kafir dan akan kekal di dalam neraka sebagaimana akan dijelaskan kemudian.

وَكَانَ شَهِدَ بَدْرًا
(salah seorang yang mengikuti perang Badar), yaitu perang yang terjadi di suatu tempat yang bernama “Badar.” Perang ini adalah perang yang pertama kali dilakukan oleh Rasulullah dalam melawan kaum musyrikin, sebagaimana yang akan kita jelaskan dalam bab “Al-Maghazi (peperangan).”

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

(bahawa Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam )

Kata “قَالَ” yang ada sebelumnya merupakan khabar (predikat) dari kata “أَنَّ” yang dihapuskan dalam riwayat asalnya, kerana lafazh “كَانَ” dan yang sebelumnya bertentangan. Memang biasanya para pakar hadits dengar, sengaja menghilangkan kata “qaala” akan tetapi jika kata tersebut disebutkan berulang seperti, “qaala, qaala Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam”, maka mereka harus menyebutkan kata tersebut. Hadits ini juga dapat ditemukan dalam bab “man syahida badran” dengan rangkaian sanad yang sama, oleh kerana itu agaknya penghapusannya di sini akan berlanjut, begitu pula dalam riwayat Ahmad dari Abu Yaman dengan rangkaian sanad yang sama bahawa ‘Ubadah yang mengabarkan kepadanya.

“عِصَابَةٌ” bererti kelompok yang berjumlah antara 10 sampai 40 orang.

“بَايِعُونِي” (Berbaiatlah [berjanji] kalian semua kepadaku). Dalam bab “wufud anshar” (para utusan kaum Anshar) kalimat tersebut ditambah dengan, تَعَالَوْا بَايِعُونِي
(kemarilah dan berjanjilah kepadaku).
Penggunaan kata “مُبَايَعَة” dari kata “البيع” (jual beli) yang bererti perjanjian adalah termasuk bentuk majaz yaitu diqiaskan dengan transaksi barang seperti dalam firman Allah,
إِنَّ اللهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمُنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ

وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ
(tidak membunuh anak-anakmu)
Muhammad bin Al Ismaili dan yang lainnya berkata, “Hadits ini menjelaskan tentang membunuh anak-anak, kerana hal itu mengandung unsur pembunuhan dan memutuskan tali silaturrahim. Hal ini bertujuan untuk menekankan larangan tersebut, kerana mengubur anak perempuan atau membunuh anak laki-laki -kerana takut lapar adalah merupakan kebiasaan kaum Jahiliyah, Atau dapat dikhususkannya penyebutan kata tersebut dengan tujuan agar mereka menghindari perbuatan tersebut.

وَلَا تَأْتُوا بِبُهْتَانٍ
(Tidak membuat fitnah di antara kalian).

Kata “بُهْتَانٍ” bererti kebohongan yang dapat menjadikan pendengarnya tersentak. Kata “افتراء” (bohong) digunakan secara khusus bagi tangan dan kaki, kerana majoriti perbuatan dilakukan dengan menggunakan tangan dan kaki yang merupakan alat untuk melakukan secara langsung.

Oleh kerana itu, perbuatan yang dihasilkan disebut dengan perbuatan tangan. Bahkan ada orang yang dihukum akibat perbuatan mulutnya, tapi dikatakan kepadanya, “Ini yang dihasilkan tanganmu ” Kemungkinan maksud larangan untuk berbohong di sini adalah jangan berusaha membohongi manusia dan saling bersaksi diantara kalian, seperti berkata, “Aku berkata seperti ini di depan (dengan saksi) si fulan.”
Inilah pendapat Al-Khaththabi, namun yang harus diperhatikan dalam pendapat tersebut adalah disebutkannya kata “Arjul” (kaki-kaki).
Al-Karamani mengatakan bahawa disebutkannya kata kaki adalah sebagai penguat, kerana yang dimaksudkan adalah tangan. Ertinya disebutkannya kata “arjur” (kaki) jika tidak dikehendaki, maka tidak dilarang.
Ada kemungkinan bahawa yang dimaksudkan adalah apa yang ada antara kaki dan tangan iaitu hati, kerana apa yang ada dalam hati adalah diterjemahkan oleh lidah. Oleh sebab itu kata ifiira’ (bohong) dinisbatkan kepada lidah, seakan-akan maknanya adalah jangan kalian membohongi seseorang dan menggoncang orang tersebut dengan lidah kalian.
Abu Muhammad bin Abu Hamzah berkata, “Mungkin maksud kalimat “baina aidiikum” adalah seketika, sedangkan kata “arjulikum”
adalah masa yang akan datang, kerana berjalan adalah perbuatan yang dilakukan kaki. Pendapat lain mengatakan, “Asalnya kata ini dipergunakan dalam jual beli wanita. Sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Harawi dalam kitab Al-Gharbiyiin, bahawa yang dijuluki dengan kata tersebut adalah wanita yang melahirkan anak dari hasil zina, lalu
menisbatkan anak tersebut kepada suaminya. Ketika kata ini dipergunakan untuk jual beli laki-laki, maka makna kata tersebut diperluas kepada selain makna pertama.

وَلَا تَعْصُوا
(tidak durhaka)
dalam riwayat Al Ismaili disebutkan

وَلَا تَعْصُونِي
(jangan mendurhakaiku)
dan kalimat tersebut sesuai dengan ayat diatas, sedangkan kata المَعْرُوف maksudnya adalah kebaikan yang berasal dari Allah baik berupa perintah maupun larangan.

فِيْ مَعْرُوفِ
(terhadap perintah kebaikan)

An-Nawawi berkata, “Kemungkinan maksudnya adalah jangan kalian menentangku atau salah seorang pemimpin kalian dalam kebaikan.” Maka kata مَعْرُوفِ terikat dengan sesuatu setelahnya. Ada yang berpendapat dengan kalimat tersebut Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengingatkan, bahawa ketaatan kepada makhluk diwajibkan sebatas kebaikan, bukan dalam berbuat maksiat kepada Allah. Pendapat semacam itu sesuai dengan perintah untuk meninggalkan kemaksiatan kepada Allah.

فَمَنْ وَفَى مِنْكُمْ
(Barangsiapa yang menepati), maksudnya berpegang teguh pada isi perjanjian.

فَأَجْرُهُ عَلَى اللهِ
(maka ia akan diberi pahala oleh Allah)
Kalimat tersebut diucapkan untuk menunjukkan penghormatan, sebab ketika penyebutan “sumpah” memberi sebab kepada keharusan adanya balasan, maka menyebutkan ganjaran kepada salah satu di antara kedua topik tersebut sangat sesuai.
Adapun balasan tersebut, disebutkan dengan menggunakan kata “syurga” dalam riwayat Ash-Shanabahi dari Ubadah yang terdapat dalam kitab Shahih Bukhari Muslim. Kemudian penggunaan kata ‘ala adalah untuk menunjukkan erti ‘penekanan’ bahawa hal tersebut benar-benar akan terwujud. Akan tetapi berdasarkan dalil-dalil yang ada Allah tidak wajib melakukan sesuatu apapun, maka kata tersebul tidak dapat ditafsirkan secara zhahirnya saja. Hal ini akan dijelaskan dalam hadits Muadz yang menjelaskan tentang hak Allah atas hambaNya.

Jika ada pertanyaan, “Mengapa hadits ini hanya menyebutkan tentang larangan saja dan tidak menyebutkan perinmh?” Maka jawabnya; bahawa Rasulullah tidak mengabaikan perintah-perintah tersebut, akan tetapi beliau menyebutkannya secara global dalam sabdanya وَلَا تَعْصُوا
(tidak durhaka) kerana maksud durhaka, adalah tidak melaksanakan perintah. Adapun hikmah tidak disebutkan larangan yang tidak disertai perintah adalah kerana meninggalkan larangan lebih mudah dari melakukan sesuatu perbuatan, atau kerana menghindari kerosakan lebih utama dari mencari kemaslahatan, atau juga meninggalkan kejelekan lebih dianjurkan sebelum melakukan kebaikan.

وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَعُوقِبَ
(barang siapa yang melanggari salah satu dari perjanjian itu maka dia akan dihukum) Imam Ahmad menambahkan dalam riwayatnya dengan dengan lafaz “به”.

كَفَّارَةٌ (menjadi tebusan)
Imam Ahmad menambahkan dengan kata “lahu” (baginya). Imam Bukhari dalam bab “masyi’ah (kehendak)” juga menambahkan kata له dan kata وَطَهُورٌ (pembersih dari dosa).

An-Nawawi berkata, “Hadits ini dikhususkan dengan firman Allah, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni orang yang menyekutukan-Nya”. Oleh sebab itu, orang murtad yang dibunuh dalam kondisi murtad, maka pembunuhan itu bukan merupakan kafarat baginya

Menurut saya, pendapat ini disebabkan kerana kalimat,
مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا (salah satu dari
perjanjian itu) jelas-jelas mencakup seluruh yang disebutkan.

Ada yang berpendapat bahawa yang disebutkan adalah selain perbuatan syirik, kerana hadits tersebut ditujukan kepada kaum muslimin. Dengan demikian, syirik tidak perlu disebutkan di dalamnya. Hal ini diperkuat oleh hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari jalur Abu Asy’asy dari Ubadah, “dan barangsiapa yang melakukan perbuatan yang mengharuskan ia dihukumi dengan hukuman had” kerana hukuman yang dijatuhkan kepada orang yang berbuat syirik tidak dinamakan had. Akan tetapi pendapat tersebut dapat dibantah kerana huruf fa’ dalam kalimat “fa man” berfungsi untuk menunjukkan erti “kemudian”, disamping itu tidak menutup kemungkinan bahawa Nabi melarang kaum muslimin agar tidak berbuat syirik. Sedangkan istilah had hanyalah merupakan istilah moden saja. Maka pendapat yang benar adalah pendapat Imam Nawawi.
Ath-Thibi mengatakan bahawa yang dimaksud dengan syirik adalah syirik kecil, yaitu riya’. Hal ini diperkuat dengan disebutkannya kata “syai’an (sesuatu)” dalam bentuk nakirah (indefinite), sehingga maksudnya adalah syirik dalam bentuk apapun. Pendapat ini dibantah kerana Allah jika menyebut kata “syirik”, maka maksudnya adalah lawan dari tauhid (mengesakan Allah), sebagaimana disebutkan dalam banyak ayat maupun hadits dengan maksud seperti itu.

Al Qadhi lyadh berkata, “Sebagian besar ulama berpendapat bahawa hudud (hukuman-hukuman) adalah sebagai kafarah (tebusan dosa), dan mereka mengambil kesimpulan dari hadits ini. Akan tetapi, ada sebahagian ulama tidak mengatakannya secara pasti bahwa hudud adalah sebagai kafarat. Hal ini didasarkan pada hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Saya tidak mengetahui apakah hudud adalah -sebagai kafarat bagi penderitanya atau tidak”. Dalam hal ini, hadits Ubadah itu memiliki sanad yang lebih kuat dari pada hadits Abu Hurairah. Kedua hadits tersebut juga dapat disatukan sehingga tidak terjadi kontradiksi, iaitu bahwa hadits Abu Hurairah disampaikan oleh Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sebelum Allah memberitahukan tentang hal tersebut, dan kemudian setelah itu Allah mengajarinya. Saya berpendapat, bahwa hadits Abu Hurairah diriwayatkan oleh
Hakim dalam kitabnya Al-Mustadrak dan Al-Bazzar dari riwayat Ma’mar dari Ibnu Ubai Za’bi dari Sa’id Al Maqrabi dari Abu Hurairah, dan hadits tersebut dinyatakan shahih ‘ala syarti syaikhani. Kemudian Ahmad telah meriwayatkan hadits ini dari Abd Razak dari Ma’mar, hanya saja Daruquthni mengatakan bahwa Abd. Razak seorang diri yang menyampaikan hadits tersebut. Hisyam bin Yusuf meriwayatkannya dari Ma’mar yang kemudian meriwayatkannya.

Saya berpendapat hadits tersebut telah dimaushulkan dari Adam bin Abi Iyas dari Abi Dzi’bi yang juga diriwayatkan oleh Hakim, sehingga riwayat Ma’mar menjadi kuat. Jika hadits tersebut shahih, maka penggabungan yang dilakukan oleh Qadhi lyadh baik sekali. Akan tetapi Qadhi lyadh dan para pengikutnya berpendapat, bahawa hadits Ubadah ini disampaikan di Makkah pada malam Aqabah ketika Rasulullah sedang menerima bait yang pertama di Mina, sedangkan Abu Hurairah memeluk Islam setelah 7 tahun dari peristiwa tersebut pada tahun Khaibar, lalu bagaimana mungkin haditsnya lebih dahulu dari pada keislamannya?” Dalam menjawab pertanyaan itu ada yang berpendapat,
“Kemungkinan Abu Hurairah tidak mendengarkan hadits tersebut dari Rasulullah, akan tetapi dari sahabat lainnya yang mendengar dari Rasulullah, dan setelah itu Abu Hurairah tidak pernah mendengar dari Rasulullah bahwa hudud memiliki kafarah (denda) seperti yang didengar oleh Ubadah, hanya saja pendapat ini terdapat kekeliruan.
Saya berpendapat, yang benar adalah hadits Abu Hurairah disampaikan lebih dulu daripada hadits Ubadah. Pembaiatan yang disebutkan dalam hadits Ubadah tidak terjadi pada malam Aqabah, dan sesungguhnya teks yang mengatakan bahwa hal tersebut terjadi pada malam Aqabah adalah riwayat Abu lshaq, yakni bahwa Rasulullah
berkata kepada kaum Anshar yang hadir, “Aku baiat kalian dengan syarat melindungiku sebagaimana kalian melindungi istri dan anak kalian”. Mereka pun membaiat beliau dengan syarat tersebut dan agar Rasul dan para sahabatnya pindah ke negeri mereka. Kita akan menemui kembali hadits Ubadah dalam kitab fitan dan yang lainnya- beliau berkata, “Kami pun membaiat Rasulullah untuk mendengarkan dan taat dalam kesulitan, kemudahan, kerelaan dan paksaan,..”

Lebih jelas lagi maksud hadits di atas adalah apa yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Thabrani dari Ubadah, bahawa ketika terjadi pertemuan antara dia dan Abu Hurairah di hadapan Muawiyah di Syam, dia berkata. “Wahai Abu Hurairah, engkau belum bersama kami ketika kami membaiat Rasulullah urtuk mendengar dan patuh dalam perbuatan dan kemalasan, menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, berkata jujur dan tidak takut kepada celaan dijalan Allah, mendukung Rasulullah jika musuh-musuh mendatangi kami serta
melindungi beliau sebagaimana kami melindungi jiwa, isteri dan anak kami. Dan bagi kami syurga. Inilah baiat yang kami lakukan dengan Rasulullah.” kemudian dia menyebutkan sisa hadits tersebut. Ath-Thabrani memiliki jalur lain dengan lafazh yang mirip dengan riwayat di atas.
Dengan demikian jelaslah bahwa inilah hal-hal yang terjadi pada baiat pertama kemudian muncullah baiat-baiat lainnya yang akan kita kemukakan Insya Allah pada kitab “Ahkam” termasuk di dalamnya hadits tentang baiat ini. Yang menguatkan bahawa pembaiatan tersebut terjadi setelah fathu Makkah (penaklukan kota Makkah) adalah turunnya ayat dalam surah Mumtahanah yaitu firman Allah, “Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia.” Telah disepakati bahawa ayat ini diturunkan setelah ayat perjanjian Hudaibiyah. Adapun yang mendasarinya adalah riwayat Imam Bukhari dalam masalah “Al Hudud” dari jalur Sufyan bin Uyainah dari Zuhri dalam hadits Ubadah, bahwa ketika Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam membaiat mereka, beliau membacakan ayat tersebut secara lengkap. Kemudian Imam Bukhari dalam tafsir Al Mumtahanah menyebutkan riwayat dari jalur yang sama bahawa Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam membaca ayat surah An-Nisaa. Menurut riwayat Muslim dari jalur Ma’mar dari Az-Zuhri, “Kemudian beliau membacakan kepada kami ayat dari surah An-Nisaa’ dan kemudian Nabi bersabda, “janganlah kalian menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun.” Dalam riwayat An-Nasa’i dari jalur Al Harits bin Fudhail dari Az- Zuhri disebutkan bahwa Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Apakah kalian tidak ingin membaiatku dengan apa yang dilakukan oleh para wanita yaitu tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun.” Dan dalam riwayat Thabrani dari jalur lain dari Az-Zuhri dengan sanad yang sama, “Kemudian kami pun membai’at Rasulullah sebagaimana yang dilakukan oleh para wanita pada hari fathu Makkah (penaklukan Makkah).” Imam Muslim meriwayatkan dari jalur Abu Asy’asy dari Ubadah dalam hadits ini, “Rasulullah mengambil (janji) dari kami apa yang diambilnya dari para wanita” Semua ini merupakan dalil yang jelas bahawa baiat tersebut terjadi setelah turunnya ayat di atas, bahkan setelah ditaklukkannya kota Makkah, dan semua itu terjadi tak lama setelah keislaman Abu Hurairah. Pendapat ini diperkuat dengan apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Khaitsamah dalam kitab sejarahnya dari ayahnya dari Muhammad bin Abdurrahman At-Thafawi dari Ayub dari Amru bin Syuaib dari ayahnya dari datuknya yang berkata, Rasulullah bersabda, “Aku baiat kalian untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun” Kemudian dia menyebutkan hadits yang mirip dengan hadits Ubadah dan orang-orang dalam sanadnya termasuk golongan yang tsiqat.
Ishaq bin Rawahah berkata, “jika shahih rangkaian sanad kepada Amru bin Syuaib, maka sanad tersebut seperti Ayub bin Nafi’ dari Ibnu Umar. Jika Abdullah bin Amru salah seorang yang menghadiri baiat ini sedangkan dia bukan termasuk golongan Anshar bahkan keislamannya tak lama setelah keislaman Abu Hurairah, maka jelaslah perbezaan antara kedua bai’at ini, baiat kaum Anshar pada malam Aqabah yang terjadi sebelum Hijrah dan baiat lain yang terjadi setelah fathu Makkah yang disaksikan oleh Abdullah bin Amru yang keislamannya setelah hijrah.
Yang mirip dengan riwayat tersebut adalah hadits Jarir yang diriwayatkan oleh Thabrani, dia berkata, ”kami membaiat Rasulullah seperti para wanita membaiatnya”, kemudian dia menyebutkan hadits tersebut.
Keislaman Jarir telah disepakati terjadi setelah keislaman Abu Hurairah. Kerancuan yang terjadi berasal dari pernyataan bahwa Ubadah bin Shamit menghadiri kedua baiat tersebut. Baiat Aqabah adalah berfungsi untuk dipuji kemudian dia menyebutkan baiat tersebut, -jika benar terjadi- merujuk kepada 2 baiat sebelumnya. Ketika dia menyebutkan baiat ini dengan menyamakannya dengan baiat para wanita, timbullah salah faham bagi orang yang tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya.
Yang sama dengan riwayat tersebut adalah riwayat Ahmad dari jalur Muhammad bin lshaq, dari Ubadah bin Walid, dari Ubadah bin Shamit, dari ayah dari datuknya-yang merupakan salah seorang utusan- dia berkata, “Kami membaiat Rasulullah dengan baiat perang” Ubadah adalah salah seorang dari 12 orang yang melaksanakan baiat Aqabah pertama yaitu, “seperti baiat para wanita itu dan untuk mendengar dan patuh pada saat sulit dan mudah” (Al Hadits). Hal itu jelas dalam penyatuan dua baiat tersebut. Akan tetapi hadits yang terdapat dalam 2 kitab Shahih (Bukhari dan Muslim) yang akan ditemukan dalam kitab ahkam, tidak ditemukan penambahan tersebut.
Hadits tersebut berasal dari jalur Yahya bin Sa’id Al Anshari dari Ubadah bin Walid. Faktanya adalah baiat harb (perang) terjadi setelah baiat Aqabah, kerana peperangan dalam Islam disyariatkan setelah hijrah. Dengan demikian riwayat Ibnu Ishaq dapat ditakwilkan dengan merujuk apa yang disebutkan tadi. Riwayat tersebut mencakup 3 baiat, yaitu baiat Aqabah yang telah disebutkan dengan jelas dalam riwayat Ubadah yang diriwayatkan oleh Ahmad yang terjadi sebelum diwajibkannya peperangan.
Yang kedua adalah baiat harb yang akan dijumpai dalam kitab jihad yaitu berjanji untuk tidak akan lari dari peperangan. Yang ketiga baiat nisa’ (para wanita) atau yang seperti baiat nisa’. Yang benar bahawa penjelasan tentang hal tersebut merupakan kesalahan dari beberapa perawi. Wallahu A ‘lam.
Penjelasan yang terdapat dalam riwayat Ibnu lshaq dari Ubadah bahawa baiat Aqabah seperti baiat nisa’ dapat dibantah, sebab telah disepakati bahawa baiat tersebut terjadi sebelum turunnya ayat (nisa’). Hal yang semisal juga ditemukan dalam Shahihain dari jalur Ash-Shanabahi dari Ubadah yang berkata, “Aku adalah salah seorang utusan yang membaiat Rasulullah.” Kemudian dia berkata, “Kami baiat Rasulullah untuk tidak menyekutukan Allah dengan suatu apapun.”
Jelaslah bahawa hadits ini merupakan penggabungan dari dua baiat di atas, hanya saja maksudnya sebagaimana yang saya sebutkan yaitu,
“Aku adalah salah seorang utusan yang membaiat -pada malam Aqabah- untuk melindungi dan mendukung beliau,” serta yang berkaitan dengan perkataan tersebut. Kemudian dia berkata بَايَعْنَاهُ (kami membaiatnya), maksudnya pada lain waktu. Hal tersebut diisyaratkan oleh penggunaan “waw athifah” dalam kalimatnya,

وَقَالَ بَايَعْنَاهُ
(Dan dia berkata, “kami bai’at beliau…”).
Hendaknya anda mengembalikan riwayat yang mengindikasikan bahawa baiat tersebut terjadi pada malam Aqabah kepada ta’wil ini, kerana kita tidak menemukan adanya pertentangan antara kedua hadits di atas, yaitu hadits Abu Hurairah dan hadits Ubadah bin Shamit. Dengan demikian tidak ada fakta yang menunjukkan bahwa hudud memiliki kafarah. Yang patut untuk diketahui, Ubadah bin Shamit bukan satu-satunya yang meriwayatkan makna tersebut, akan tetapi Ali bin Abi Thalib pun meriwayatkannya dalam riwayat At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Hakim, dalam riwayat tersebut terdapat kalimat, “barangsiapa yang melaksanakan dosa kemudian mendapatkan balasan di dunia, maka Allah Maha Mulia dan Pemurah untuk menjatuhkan hukuman tersebut kedua kalinya di akhirat.”

Kemudian dalam riwayat Ath-Thabrani dengan rangkaian sanad yang hasan dari hadits Abu Hamimah Al Jahimi dan riwayat Ahmad dari hadits Khuzaimah bin Tsabit dengan sanad hasan, “Barangsiapa yang berbuat dosa dan diberi hukuman (di dunia), maka hukuman tersebut merupakan kafarah baginya” Kemudian dari Ath-Thabrani dari Ibnu Amru, “Seseorang yang diberi balasan atas dosanya berarti ia telah diberi oleh Allah kafarah terhadap dosa tersebut”.

فَعُوقِبَ (Maka ia akan dihukum)-
Ibnu Tin berkata, “Maksud hukuman di sini adalah hukuman potong tangan dalam kes pencurian dan hukuman cambuk atau rajam (dilempari batu) dalam kes zina.”
Sedangkan dalam kasus membunuh anak kecil tidak terdapat hukuman yang pasti, akan tetapi dapat dianalogikan dengan membunuh jiwa. Sebagaimana dalam riwayat Shanabahi dari Ubadah yang berkaitan dengan hadits ini, “Janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan yang haq” akan tetapi hukuman dalam hadits “fa ‘uuqiba bihi” bersifat umum dan tidak hanya terbatas pada hukuman had ataupun ta’zir. Ini adalah pendapat Ibnu Tin.
Diriwayatkan dari Al Qadhi Ismail dan yang lainnya bahawa membunuh seorang pembunuh adalah tindakan preventif bagi orang lain. Sedangkan di akhirat nanti, tuntutan dari orang yang terbunuh akan tetap ada, kerana ia belum mendapatkan haknya. Dalam hal ini, saya berpendapat bahawa orang yang terbunuh telah mendapatkan haknya, lalu hak apalagi yang belum terpenuhi? Sebab orang yang terbunuh secara zhahirnya, dosanya telah diampuni dengan pembunuhan tersebut.
Sebagaimana yang terdapat dalam riwayat yang disahihkan oleh Ibnu Hibban dan yang lainnya, “Sesungguhnya pedang adalah penghapus kesalahan”. Diriwayatkan oleh Thabrani dari Ibnu Mas’ud, dia berkata, “jika terjadi pembunuhan maka segala (dosanya) terhapus”. Dalam riwayat Al Bazzar dari Aisyah disebutkan secara marfu’, “seseorang yang terbunuh, maka akan dihapus dosanya.” Jika tidak kerana terbunuh, maka dosanya itu tidak akan terhapus.
Kemudian jika hukuman had diberikan kepada pembunuh hanya untuk tujuan preventif saja, lalu mengapa pengampunan kepada pembunuh juga disyariatkan? Apakah termasuk dalam hukuman tersebut musibah dunia, seperti sakit dan lainnya? Dalam hal ini masih diperselisihkan. Sebab Sabda Rasul, “Barangsiapa yang tertimpa sesuatu darinya kemudian Allah, menghapusnya”, maka musibah tidak menghilangkan apa yang ditutup oleh Allah. Akan tetapi dalam banyak hadits disebutkan bahwa musibah dapat menghapus dosa, sehingga ada kemungkinan bahawa penghapusan di sini berlaku bagi dosa yang tidak memiliki had (hukuman).
Dari hadits tersebut dapat disimpulkan, bahawa pelaksanaan had (hukuman) dapat menghapus dosa walaupun tanpa disertai dengan taubat. Ini adalah pendapat Jumhur (majoriti) ulama. Namun sebagian Tabi’in mengharuskan adanya taubat, demikian pula pendapat Mu’tazilah yang didukung oleh Ibnu Hazm. Mereka berargumen kepada pengecualian terhadap orang yang bertaubat dalam firman Allah,

إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ قَبْلِ أَنْ تَقْدِرُوا عَلَيْهِمْ

maka jawabnya, bahawa yang dimaksud disini adalah hukuman dunia.

فَهُوَ إِلَى اللهِ
(Maka perkaranya terserah kepada Allah).
Al Muzani berpendapat bahawa kalimat ini mengandung bantahan kepada kaum Khawarij yang mengalirkan seseorang kerana telah berbuat dosa dan juga bantahan kepada kaum Mu’tazilah yang berpendapat bahawa orang fasik yang tidak bertaubat sebelum meninggal dunia, maka ia akan disiksa. Sebab Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjelaskan bahawa hal itu di bawah kehendak Allah. At-Thibi berkata, “Kalimat tersebut mengindikasikan larangan untuk memvonis seseorang masuk neraka atau surga, kecuali ada nash khusus yang menunjukkan hal tersebut.”

إِنْ شَاءَ عَفَا عَنْهُ وَإِنْ شَاءَ عَاقَبَهُ
(Jika Allah berhendak untuk mengampuninya maka Dia akan mengampuninya, dan jika berkehendak untuk menyiksanya dosanya maka Dia akan menyiksanya)
Menurut satu pendapat, kalimat tersebut mencakup orang yang bertaubat dan yang tidak. Sedangkan menurut jumhur ulama, kalimat tersebut tidak mencakup orang yang bertaubat. Oleh sebab itu orang yang berbuat makar kepada Allah tidak akan merasa aman, kerana ia tidak dapat mengetahui apakah taubatnya diterima atau tidak.
Ada yang berpendapat bahawa untuk mengetahui hal itu, dibezakan terlebih dahulu antara orang yang wajib diberi hukuman had dan yang tidak wajib. Kemudian mereka juga berbeza pendapat tentang orang yang wajib diberi hukuman had, ada yang berpendapat, bahawa ia dapat saja bertaubat secara sembunyi-sembunyi, dan itu sudah cukup baginya. Sedangkan sebagian orang berpendapat bahawa ia harus menghadap seorang imam dan mengakui kesalahannya serta minta pelaksanaan had atas dirinya seperti yang dilakukan oleh Ma’iz dan Al-Ghamidiah. Selain itu ada juga sebahagian ulama yang merincikannya, yaitu jika ia berbuat dosa secara terang-terangan, maka ia harus bertaubat secara terang-terangan pula, begitu pula sebaliknya.

Catatan:
Dalam riwayat Shanabahi dari Ubadah ditambahkan lafazh, “jangan merampas” dan ini yang menjadi dalil bahwa baiat tersebut tidak dilakukan pada saat itu, kerana jihad belum menjadi suatu kewajiban pada waktu baiat Aqabah. Sedangkan yang dimaksudkan dengan merampas di sini adalah merampas harta setelah perang. Dalam riwayat tersebut juga ditambahkan lafazh, “jika kita melakukan semua itu maka kita akan masuk surga.” Kemudian Imam Bukhari juga meriwayatkan dalam bab wufudul Anshar (urusan Anshar) dari Qutaibah dari Laits dengan lafazh وَلَا يُقْضَى
Sebenarnya penulisan kata tersebut keliru hanya saja beberapa orang telah menjadikannya sebagai sandaran dan
mengatakan, ‘”Secara zhahir riwayat tersebut melarang seseorang untuk menjadi qadhi. Akan tetapi, larangan tersebut dibatalkan dengan diangkatnya Ubadah radhiallahu anhu menjadi Qadhi di Palestina pada masa pemerintahan Umar. Ada yang berpendapat bahwa kata, “bil jannah” (dengan surga) berkaitan dengan keputusan atau pengadilan, ertinya jangan mengadili manusia untuk masuk surga.” Cukuplah riwayat Muslim dari Qutaibah yang membuktikan kekeliruan tersebut, dan juga riwayat Al Ismaili dari Hasan bin Sufyan serta Abi Nu’aim dari Musa bin Harun yang keduanya berasal dari Qutaibah. Demikian pula hadits tersebut menurut Al Bukhari dalam kitab Ad-Diyaat dari Abdullah bin Yusuf dari Al-Laits dalam sebahagian besar riwayat.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s