9. MANISNYA IMAN

9. MANISNYA IMAN
Dari Fathul Baari (Syarah Shahih Bukhari), Kitab Iman

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ الثَّقَفِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا للهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

16. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna berkata, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab Ats Tsaqafi berkata, telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Abu Qilabah dari Anas bin Malik dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang, ia akan mendapatkan manisnya iman: Dijadikannya Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya. Jika ia mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena Allah. Dan dia benci kembali kepada kekufuran seperti dia benci bila dilempar ke neraka”

Keterangan Hadits :

Sesungguhnya manis adalah buah daripada iman. Untuk itu apabila disebutkan bahawa mencintai Rasulullah adalah sebahagian daripada iman, maka dijelaskan setelah itu bahawa cinta tersebut akan membuahkan sesuatu yang manis.

“حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ” dalam ilmu balaghah, kalimat ini disebut “Isti’arah Takhyiliyyah”, yang menyamakan rasa cinta seseorang mukmin kepada keimanan dengan sesuatu yang manis.

Hadits ini mengisyaratkan tentang orang yang sakit dan orang yang sihat. Orang yang sihat akan merasakan manisnya madu, sedangkan orang yang menderita sakit kuning misalnya, rasa tersebut akan berubah menjadi pahit. Imam Bukhari menggunakan bentuk Isti’arah (pengandaian) untuk menjelaskan naik dan turunnya keimanan seseorang.

Syeikh Abu Muhammad bin Abu Jamrah mengatakan, bahawa penggunaan kata “manisnya iman” adalah disebabkan Allah menyamakan iman dengan sebatang pokok, sebagaimana di dalam firman Nya;

“Perumpamaan kalimah yang baik adalah seperti pohon yang baik”.

Kalimah di dalam ayat diatas adalah kalimah “ikhlas” (makna yang terkandung di dalam surah Al-Ikhlas), sedangkan pohon tersebut adalah dasar keimanan, rantingnya adalah melaksanakan perintah dan menjauhi larangan, daunnya adalah kebaikan yang diperhatikan oleh seseorang mukmin, buahnya adalah perbuatan taat, dan manisnya buah adalah buah yang sudah siap untuk dipetik, kerana buah yang sudah siap untuk dipetik menunjukkan manisnya buah tersebut.

“أَحَبَّ إِلَيْهِ” (lebih cinta kepadanya)

Imam Baidhawi mengatakan, maksud cinta di sini adalah cinta yang menggunakan akal. Ertinya cinta tersebut lebih mengutamakan akal yang sihat, walaupun harus bertentangan dengan hawa nafsu. Seperti orang yang menderita sakit, pada dasarnya enggan meminum ubat, namun kerana akalnya mengatakan bahawa ubat merupakan alat yang dapat menyembuhkan penyakit, akhirnya akal memilih untuk meminum ubat. Pilihan akal inilah yang menyebabkan nafsu – orang yang sakit itu – untuk meminum ubat. Apabila manusia menganggap bahawa larangan dan perintah Allah pasti akan memberi manfaat, dan akal pun cenderung membenarkan hal tersebut, maka orang tersebut akan membiasakan diri untuk melaksanakan semua perintah tersebut. Dengan demikian di dalam masalah ini secara automatis hawa nafsu seseorang akan mengikuti kemahuan akal, ertinya kemahuan akal adalah kesedaran erti sesuatu yang sempurna dan baik.

Rasul menjadikan tiga perkara tersebut sebagai tanda kesempurnaan iman seseorang kerana jika seseorang telah meyakini bahawa sang pemberi nikmat hanya Allah semata-mata dan Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah menjelaskan apa yang diinginkan oleh Allah, maka menjadi keharusan bagi manusia untuk mengorientasikan semua yang dilakukan hanya untuk Allah semata, sehingga ia tidak menyukai dan membenci kecuali apa yang disukai dan dibenci oleh Allah, dan tidak menyukai seseorang kecuali hanya kerana Allah dan RasulNya. Ia yakin kepada semua yang dijanjikan oleh Allah akan menjadi kenyataan, dengan demikian dzikir kepada Allah dan RasulNya adalah syurga dan kembali kepada kekufuran adalah neraka. Hadits ini dibenarkan oleh Allah, firman Allah; “Katakanlah jika bapak-bapak, anak-anak…” sampai firman, “Lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya,” kemudian Allah mengancam akan hal tersebut dengan fatarabbashuu (maka tunggulah).

Makna hadits ini telah mengisyaratkan kepada manusia untuk selalu melaksanakan keutamaan dan meninggalkan kehinaan. Ada pendapat yang mengatakan, bahawa cinta kepada Allah mencakup dua hal;

1. Fardhu – Kecintaan kepada manusia untuk melaksanakan segala macam perintah Nya, meninggalkan segala macam maksiat, dan ridha kepada ketetapan Nya. Barang siapa yang terjerumus dalam kemaksiatan, melaksanakan yang diharamkan, dan meninggalkan yang wajib, maka dia telah lalai dan mengkedepankan hawa nafsunya daripada kecintaan kepada Allah. Orang yang lalai kadangkala lebih menyukai dan memperbanyak perbuatan yang mubah. Perilaku ini akan melahirkan ketidakpedulian, sehingga orang tersebut akan dengan mudah terperosok ke dalam maksiat yang menimbulkan penyesalan.

2. Sunnah – Membiasakan diri untuk melakukan solat sunnah dan berusaha untuk meninggalkan hal-hal yang syubhat. Perilaku orang yang demikian ini amat jarang ditemukan.
Di samping itu, cinta kepada Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, adalah tidak melaksanakan perintah atau tidak menjauhi larangan kecuali ada cahaya penerang dari beliau, dengan demikian orang tersebut akan selalu
berjalan di atas jalan yang sudah digariskan. Orang yang mencintai Rasul pasti akan meridhai syariat yang dibawanya dan berperangai seperti akhlaknya, seperti dermawan, mulia, sabar dan rendah hati. Oleh sebab itu orang yang berupaya untuk melakukan perbuatan seperti di atas, niscaya akan menemukan manisnya iman.

Syaikh Muhyiddin mengatakan, “Hadits ini mengandung makna yang mulia, karena hadits ini merupakan dasar agama. Adapun makna “manisnya iman” adalah kelezatan dalam melaksanakan ketaatan dan kemampuan menghadapi kesulitan dalam agama, serta mengutamakan agama dari pada hal-hal yang berbau keduniaan. Cinta kepada Allah dapat dicapai dengan ketaatan dan meninggalkan segala yang melanggar aturan-Nya. Konsekuensi seperti ini tetap sama, bila kita mencintai Rasul-Nya.
“Begitu pula bila kita mencintai Rasul-Nya, konseksuensinya tetap sama seperti ini.”

Kata yang dipakai dalam hadits tersebut adalah “apa saja” bukan “siapa saja”. Hal ini berfungsi untuk menekankan bahwa makna hadits ini umum mencakup semua benda hidup yang mempunyai akal dan yang tidak mempunyai akal.

وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُلَقَى فِي النَّارِ

Abu Nu’aim menambahkan dalam kitabnya Al Mustahkraj dari jalur Sufyan dari Muhammad bin Al Mutsna -guru Imam Bukhari- dengan kalimat,

بَعْدَ إِذْ أَنْ قَذَهُ اللهُ مِنْهُ

(setelah diselamatkan Allah dari kekufuran).

Redaksi seperti ini juga diriwayatkan oleh ImamBukhari melalui jalur yang lain. Kata Inqaadz (diselamatkan) lebih umum dari pada kata “ishmah” (dijaga) sejak lahir dalam keadaan Islam atau dikeluarkan dari gelapnya kekufuran menuju cahaya iman, sebagaimana yang dialami oleh sebagian para sahabat.

Catatan
Semua sanad hadils ini adalah orang Bashrah. Hadits ini menjadi dalil akan keutamaan membenci kekufuran. Hadits ini dicantumkan pada bab adab dan keutamaan cinta kepada Allah dengan lafazh,

وَحَتَّى أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ

Redaksi hadits ini lebih lugas, karena hadits ini menyamakan dua perkara, yaitu dilemparkan ke dalam api dunia adalah lebih baik dari pada kekufuran. Redaksi hadits seperti inilah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Nasa’i dan Ismail dari Qatadah dari Anas.
Dalam riwayat Imam Nasa’i dari jalur sanad Thalq bin Hubaib dari Anas, ditambahkan kata البغض (benci), dengan demikian redaksi hadits menjadi,

وَأَنْ يُحِبُّ فِي اللهِ وَيُبْغِضُ فِي اللهِ
(Mencintai dan membenci
karena Allah).

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s