12. MENGHINDAR DARI FITNAH MERUPAKAN BAHAGIAN DARI AGAMA

12. MENGHINDAR DARI FITNAH MERUPAKAN BAHAGIAN DARI AGAMA
(Fathul Baari (Syarah Shahih Bukhari), Kitab Iman, Ibnu Hajar Asqolani)

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي صَعْصَعَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوشِكُ أَنْ يَكُونَ خَيْرَ مَالِ الْمُسْلِمِ غَنَمٌ يَتْبَعُ بِهَا شَعَفَ الْجِبَالِ وَمَوَاقِعَ الْقَطْرِ يَفِرُّ بِدِينِهِ مِنْ الْفِتَنِ

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah dari Malik dari Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abu Sha’Sha’ah dari bapaknya dari Abu Sa’id Al Khudri bahwa dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akan datang suatu masa dimana sebaik-baiknya harta orang muslim adalah kambing (biri-biri). Digembalakan di puncak-puncak bukit dan di tempat-tempat air hujan berkumpul (lembah-lembah). Dia menghindarkan agamanya dari bencana. ”

Keterangan Hadits:

يُوشِكُ (akan datang) dalam waktu dekat.

شَعَفَ (puncak bukit) atau puncak gunung.
وَمَوَاقِعَ الْقَطْرِ
(tempat-tempat air hujan berkumpul), maksudnya adalah dasar lembah.

يَفِرُّ بِدِينِهِ
(menghindarkan agamanya)
Imam Nawawi berkata, “Menjadikan hadits ini sebagai dalil pernyataan yang terdapat dalam judul bab akan menimbulkan kritikan, kerana Iafazh tersebut sama sekali tidak menunjukkan bahawa menghindari fitnah adalah termasuk bahagian dari agama, akan tetapi maksud dari hadits tersebut adalah menjaga agama ” Kemudian Imam Nawawi melanjutkan perkataannya, “Ketika Imam Bukhari melihat bahawa menghindar dari fitnah merupakan upaya untuk menjaga agama, maka beliau menyebutnya dengan agama. Ada sebahagian ulama yang berkata, “Jika huruf min (dari) dalam hadits tersebut menunjukkan erti tab’idhiyyah (bahagian), maka kritikan itu dapat diterima. Akan tetapi, jika huruf “min “tersebut adalah hanya sebagai ‘ibtidaiyyah (permulaan kalimat) -sehingga maksudnya, menghindari fitnah adalah bersumber dari agama- maka kritikan itu tidak dapat diterima.” Hadits ini juga disebutkan oleh Imam Bukhari dalam pembahasan tentang Al Fitan (fitnah atau cobaan) dimana sebenarnya hadits tersebut lebih sesuai untuk dibahas di sana, dan pembahasan tersebut -Insya Allah- akan disampaikan kemudian.

11. BAB

11. BAB
Fathul Baari (Syarah Shahih Bukhari) – Ibnu Hajar Asqolani

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو إِدْرِيسَ عَائِذُ اللهِ بْنُ عَبْدِ اللهِ أَنَّ عُبَادَةَ بْنَ الصَّامِتِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَكَانَ شَهِدَ بَدْرًا وَهُوَ أَحَدُ النُّقَبَاءِ لَيْلَةَ الْعَقَبَةِ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَحَوْلَهُ عِصَابَةٌ مِنْ أَصْحَابِهِ بَايِعُونِي عَلَى أَنْ لَا تُشْرِكُوا بِاللهِ شَيْئًا وَلَا تَسْرِقُوا وَلَا تَزْنُوا وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ وَلَا تَأْتُوا بِبُهْتَانٍ تَفْتَرُونَهُ بَيْنَ أَيْدِيكُمْ وَأَرْجُلِكُمْ وَلَا تَعْصُوا فِي مَعْرُوفٍ فَمَنْ وَفَى مِنْكُمْ فَأَجْرُهُ عَلَى اللهِ وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَعُوقِبَ فِي الدُّنْيَا فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا ثُمَّ سَتَرَهُ اللهُ فَهُوَ إِلَى اللهِ إِنْ شَاءَ عَفَا عَنْهُ وَإِنْ شَاءَ عَاقَبَهُ فَبَايَعْنَاهُ عَلَى ذَلِك

18. Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman berkata, telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhri berkata, telah mengabarkan kepada kami Abu Idris ‘Aidzullah bin Abdullah, bahwa ‘Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu -salah seorang yang mengikuti perang Badar dan salah seorang utusan dalam pertemuan ‘Aqabah bahwa Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sedang dikelilingi oleh para sahabatnya dan beliau bersabda, “Berbaiatlah (berjanji) kalian semua kepadaku untuk: 1- Tidak mempersekutukan Allah dengan suatu apapun,
2- Tidak mencuri,
3- Tidak berzina,
4- Tidak membunuh anak-anakmu,
5- Tidak membuat fitnah di antara kalian,
6- Tidak durhaka terhadap perintah kebaikan.
Barang siapa yang menepati perjanjian itu maka ia akan diberi pahala oleh Allah dan barangsiapa yang melanggar salah satu
dari perjanjian itu, maka ia akan dihukum di dunia ini. Hukuman itu menjadi kaffarah (tebusan) baginya, dan barang siapa yang melanggar salah satunya kemudian ditutup oleh Allah, maka perkaranya terserah
kepada Allah. Jika Dia berkehendak untuk mengampuninya, maka akan diampuni dan jika Dia berkehendak untuk menghukumnya, maka Dia akan menghukumnya”

Keterangan Hadits:

Dalam riwayat kita ini, dituliskan kata “Bab” tanpa disertai nama judulnya, sedangkan dalam riwayat Al-Ushaili tidak dituliskan sama sekali baik “Bab” tersebut maupun judulnya kerana -menurutnya- hadits ini termasuk dalam bab sebelumnya. Demikian pula dalam riwayat kita, hadits tersebut berkaitan dengan bab sebelumnya, kerana kata “Bab “jika tidak disertai dengan judulnya, maka menunjukkan bahwa hadits yang terdapat di dalamnya termasuk dalam pembahasan bab sebelumnya, dan metode ini banyak dipakai oleh pengarang kitab fikih.
Adapun korelasi antara hadits ini dengan hadits sebelumnya, bahawa dalam hadits yang lalu telah disebutkan kata “Al-Anshar”, sedangkan dalam hadits ini dijelaskan tentang sebab penamaan mereka (suku Aus dan Khazraj) dengan nama “Al-Anshar”. Hal itu berkaitan erat dengan malam ‘Aqabah dimana mereka mengadakan kesepakatan bersama Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam di ‘Aqabah yang berada di Mina pada saat musim haji sebagaimana yang akan dijelaskan pada bab sirah nabawiyah (sejarah Nabi).

Imam Bukhari juga menyebutkan hadits ini dalam bab lain yaitu bab “man syahida badran (bab orang yang mengikuti perang Badar)” kerana dalam hadits tersebut disebutkan, “salah seorang yang mengikuti perang Badar”, dan juga dalam bab “wufud al-anshar (para utusan kaum Anshar)” kerana dalam hadits tersebut disebutkan, “dan salah seorang utusan dalam pertemuan ‘Aqabah” Sedangkan dalam bab ini. Imam Bukhari menyebutkannya karena berkaitan dengan hadits sebelumnya seperti yang telah kami jelaskan di atas.

Kemudian dari segi matannya, hadits ini berhubungan dengan
pembahasan tentang iman dari dua segi, Pertama, adalah bahawa menghindari larangan termasuk bagian dari iman, seperti halnya melaksanakan perintah, Kedua, adalah bahawa hadits tersebut membantah pendapat yang mengatakan bahawa orang yang melakukan dosa besar adalah termasuk orang kafir dan akan kekal di dalam neraka sebagaimana akan dijelaskan kemudian.

وَكَانَ شَهِدَ بَدْرًا
(salah seorang yang mengikuti perang Badar), yaitu perang yang terjadi di suatu tempat yang bernama “Badar.” Perang ini adalah perang yang pertama kali dilakukan oleh Rasulullah dalam melawan kaum musyrikin, sebagaimana yang akan kita jelaskan dalam bab “Al-Maghazi (peperangan).”

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

(bahawa Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam )

Kata “قَالَ” yang ada sebelumnya merupakan khabar (predikat) dari kata “أَنَّ” yang dihapuskan dalam riwayat asalnya, kerana lafazh “كَانَ” dan yang sebelumnya bertentangan. Memang biasanya para pakar hadits dengar, sengaja menghilangkan kata “qaala” akan tetapi jika kata tersebut disebutkan berulang seperti, “qaala, qaala Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam”, maka mereka harus menyebutkan kata tersebut. Hadits ini juga dapat ditemukan dalam bab “man syahida badran” dengan rangkaian sanad yang sama, oleh kerana itu agaknya penghapusannya di sini akan berlanjut, begitu pula dalam riwayat Ahmad dari Abu Yaman dengan rangkaian sanad yang sama bahawa ‘Ubadah yang mengabarkan kepadanya.

“عِصَابَةٌ” bererti kelompok yang berjumlah antara 10 sampai 40 orang.

“بَايِعُونِي” (Berbaiatlah [berjanji] kalian semua kepadaku). Dalam bab “wufud anshar” (para utusan kaum Anshar) kalimat tersebut ditambah dengan, تَعَالَوْا بَايِعُونِي
(kemarilah dan berjanjilah kepadaku).
Penggunaan kata “مُبَايَعَة” dari kata “البيع” (jual beli) yang bererti perjanjian adalah termasuk bentuk majaz yaitu diqiaskan dengan transaksi barang seperti dalam firman Allah,
إِنَّ اللهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمُنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ

وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ
(tidak membunuh anak-anakmu)
Muhammad bin Al Ismaili dan yang lainnya berkata, “Hadits ini menjelaskan tentang membunuh anak-anak, kerana hal itu mengandung unsur pembunuhan dan memutuskan tali silaturrahim. Hal ini bertujuan untuk menekankan larangan tersebut, kerana mengubur anak perempuan atau membunuh anak laki-laki -kerana takut lapar adalah merupakan kebiasaan kaum Jahiliyah, Atau dapat dikhususkannya penyebutan kata tersebut dengan tujuan agar mereka menghindari perbuatan tersebut.

وَلَا تَأْتُوا بِبُهْتَانٍ
(Tidak membuat fitnah di antara kalian).

Kata “بُهْتَانٍ” bererti kebohongan yang dapat menjadikan pendengarnya tersentak. Kata “افتراء” (bohong) digunakan secara khusus bagi tangan dan kaki, kerana majoriti perbuatan dilakukan dengan menggunakan tangan dan kaki yang merupakan alat untuk melakukan secara langsung.

Oleh kerana itu, perbuatan yang dihasilkan disebut dengan perbuatan tangan. Bahkan ada orang yang dihukum akibat perbuatan mulutnya, tapi dikatakan kepadanya, “Ini yang dihasilkan tanganmu ” Kemungkinan maksud larangan untuk berbohong di sini adalah jangan berusaha membohongi manusia dan saling bersaksi diantara kalian, seperti berkata, “Aku berkata seperti ini di depan (dengan saksi) si fulan.”
Inilah pendapat Al-Khaththabi, namun yang harus diperhatikan dalam pendapat tersebut adalah disebutkannya kata “Arjul” (kaki-kaki).
Al-Karamani mengatakan bahawa disebutkannya kata kaki adalah sebagai penguat, kerana yang dimaksudkan adalah tangan. Ertinya disebutkannya kata “arjur” (kaki) jika tidak dikehendaki, maka tidak dilarang.
Ada kemungkinan bahawa yang dimaksudkan adalah apa yang ada antara kaki dan tangan iaitu hati, kerana apa yang ada dalam hati adalah diterjemahkan oleh lidah. Oleh sebab itu kata ifiira’ (bohong) dinisbatkan kepada lidah, seakan-akan maknanya adalah jangan kalian membohongi seseorang dan menggoncang orang tersebut dengan lidah kalian.
Abu Muhammad bin Abu Hamzah berkata, “Mungkin maksud kalimat “baina aidiikum” adalah seketika, sedangkan kata “arjulikum”
adalah masa yang akan datang, kerana berjalan adalah perbuatan yang dilakukan kaki. Pendapat lain mengatakan, “Asalnya kata ini dipergunakan dalam jual beli wanita. Sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Harawi dalam kitab Al-Gharbiyiin, bahawa yang dijuluki dengan kata tersebut adalah wanita yang melahirkan anak dari hasil zina, lalu
menisbatkan anak tersebut kepada suaminya. Ketika kata ini dipergunakan untuk jual beli laki-laki, maka makna kata tersebut diperluas kepada selain makna pertama.

وَلَا تَعْصُوا
(tidak durhaka)
dalam riwayat Al Ismaili disebutkan

وَلَا تَعْصُونِي
(jangan mendurhakaiku)
dan kalimat tersebut sesuai dengan ayat diatas, sedangkan kata المَعْرُوف maksudnya adalah kebaikan yang berasal dari Allah baik berupa perintah maupun larangan.

فِيْ مَعْرُوفِ
(terhadap perintah kebaikan)

An-Nawawi berkata, “Kemungkinan maksudnya adalah jangan kalian menentangku atau salah seorang pemimpin kalian dalam kebaikan.” Maka kata مَعْرُوفِ terikat dengan sesuatu setelahnya. Ada yang berpendapat dengan kalimat tersebut Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengingatkan, bahawa ketaatan kepada makhluk diwajibkan sebatas kebaikan, bukan dalam berbuat maksiat kepada Allah. Pendapat semacam itu sesuai dengan perintah untuk meninggalkan kemaksiatan kepada Allah.

فَمَنْ وَفَى مِنْكُمْ
(Barangsiapa yang menepati), maksudnya berpegang teguh pada isi perjanjian.

فَأَجْرُهُ عَلَى اللهِ
(maka ia akan diberi pahala oleh Allah)
Kalimat tersebut diucapkan untuk menunjukkan penghormatan, sebab ketika penyebutan “sumpah” memberi sebab kepada keharusan adanya balasan, maka menyebutkan ganjaran kepada salah satu di antara kedua topik tersebut sangat sesuai.
Adapun balasan tersebut, disebutkan dengan menggunakan kata “syurga” dalam riwayat Ash-Shanabahi dari Ubadah yang terdapat dalam kitab Shahih Bukhari Muslim. Kemudian penggunaan kata ‘ala adalah untuk menunjukkan erti ‘penekanan’ bahawa hal tersebut benar-benar akan terwujud. Akan tetapi berdasarkan dalil-dalil yang ada Allah tidak wajib melakukan sesuatu apapun, maka kata tersebul tidak dapat ditafsirkan secara zhahirnya saja. Hal ini akan dijelaskan dalam hadits Muadz yang menjelaskan tentang hak Allah atas hambaNya.

Jika ada pertanyaan, “Mengapa hadits ini hanya menyebutkan tentang larangan saja dan tidak menyebutkan perinmh?” Maka jawabnya; bahawa Rasulullah tidak mengabaikan perintah-perintah tersebut, akan tetapi beliau menyebutkannya secara global dalam sabdanya وَلَا تَعْصُوا
(tidak durhaka) kerana maksud durhaka, adalah tidak melaksanakan perintah. Adapun hikmah tidak disebutkan larangan yang tidak disertai perintah adalah kerana meninggalkan larangan lebih mudah dari melakukan sesuatu perbuatan, atau kerana menghindari kerosakan lebih utama dari mencari kemaslahatan, atau juga meninggalkan kejelekan lebih dianjurkan sebelum melakukan kebaikan.

وَمَنْ أَصَابَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَعُوقِبَ
(barang siapa yang melanggari salah satu dari perjanjian itu maka dia akan dihukum) Imam Ahmad menambahkan dalam riwayatnya dengan dengan lafaz “به”.

كَفَّارَةٌ (menjadi tebusan)
Imam Ahmad menambahkan dengan kata “lahu” (baginya). Imam Bukhari dalam bab “masyi’ah (kehendak)” juga menambahkan kata له dan kata وَطَهُورٌ (pembersih dari dosa).

An-Nawawi berkata, “Hadits ini dikhususkan dengan firman Allah, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni orang yang menyekutukan-Nya”. Oleh sebab itu, orang murtad yang dibunuh dalam kondisi murtad, maka pembunuhan itu bukan merupakan kafarat baginya

Menurut saya, pendapat ini disebabkan kerana kalimat,
مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا (salah satu dari
perjanjian itu) jelas-jelas mencakup seluruh yang disebutkan.

Ada yang berpendapat bahawa yang disebutkan adalah selain perbuatan syirik, kerana hadits tersebut ditujukan kepada kaum muslimin. Dengan demikian, syirik tidak perlu disebutkan di dalamnya. Hal ini diperkuat oleh hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari jalur Abu Asy’asy dari Ubadah, “dan barangsiapa yang melakukan perbuatan yang mengharuskan ia dihukumi dengan hukuman had” kerana hukuman yang dijatuhkan kepada orang yang berbuat syirik tidak dinamakan had. Akan tetapi pendapat tersebut dapat dibantah kerana huruf fa’ dalam kalimat “fa man” berfungsi untuk menunjukkan erti “kemudian”, disamping itu tidak menutup kemungkinan bahawa Nabi melarang kaum muslimin agar tidak berbuat syirik. Sedangkan istilah had hanyalah merupakan istilah moden saja. Maka pendapat yang benar adalah pendapat Imam Nawawi.
Ath-Thibi mengatakan bahawa yang dimaksud dengan syirik adalah syirik kecil, yaitu riya’. Hal ini diperkuat dengan disebutkannya kata “syai’an (sesuatu)” dalam bentuk nakirah (indefinite), sehingga maksudnya adalah syirik dalam bentuk apapun. Pendapat ini dibantah kerana Allah jika menyebut kata “syirik”, maka maksudnya adalah lawan dari tauhid (mengesakan Allah), sebagaimana disebutkan dalam banyak ayat maupun hadits dengan maksud seperti itu.

Al Qadhi lyadh berkata, “Sebagian besar ulama berpendapat bahawa hudud (hukuman-hukuman) adalah sebagai kafarah (tebusan dosa), dan mereka mengambil kesimpulan dari hadits ini. Akan tetapi, ada sebahagian ulama tidak mengatakannya secara pasti bahwa hudud adalah sebagai kafarat. Hal ini didasarkan pada hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Saya tidak mengetahui apakah hudud adalah -sebagai kafarat bagi penderitanya atau tidak”. Dalam hal ini, hadits Ubadah itu memiliki sanad yang lebih kuat dari pada hadits Abu Hurairah. Kedua hadits tersebut juga dapat disatukan sehingga tidak terjadi kontradiksi, iaitu bahwa hadits Abu Hurairah disampaikan oleh Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sebelum Allah memberitahukan tentang hal tersebut, dan kemudian setelah itu Allah mengajarinya. Saya berpendapat, bahwa hadits Abu Hurairah diriwayatkan oleh
Hakim dalam kitabnya Al-Mustadrak dan Al-Bazzar dari riwayat Ma’mar dari Ibnu Ubai Za’bi dari Sa’id Al Maqrabi dari Abu Hurairah, dan hadits tersebut dinyatakan shahih ‘ala syarti syaikhani. Kemudian Ahmad telah meriwayatkan hadits ini dari Abd Razak dari Ma’mar, hanya saja Daruquthni mengatakan bahwa Abd. Razak seorang diri yang menyampaikan hadits tersebut. Hisyam bin Yusuf meriwayatkannya dari Ma’mar yang kemudian meriwayatkannya.

Saya berpendapat hadits tersebut telah dimaushulkan dari Adam bin Abi Iyas dari Abi Dzi’bi yang juga diriwayatkan oleh Hakim, sehingga riwayat Ma’mar menjadi kuat. Jika hadits tersebut shahih, maka penggabungan yang dilakukan oleh Qadhi lyadh baik sekali. Akan tetapi Qadhi lyadh dan para pengikutnya berpendapat, bahawa hadits Ubadah ini disampaikan di Makkah pada malam Aqabah ketika Rasulullah sedang menerima bait yang pertama di Mina, sedangkan Abu Hurairah memeluk Islam setelah 7 tahun dari peristiwa tersebut pada tahun Khaibar, lalu bagaimana mungkin haditsnya lebih dahulu dari pada keislamannya?” Dalam menjawab pertanyaan itu ada yang berpendapat,
“Kemungkinan Abu Hurairah tidak mendengarkan hadits tersebut dari Rasulullah, akan tetapi dari sahabat lainnya yang mendengar dari Rasulullah, dan setelah itu Abu Hurairah tidak pernah mendengar dari Rasulullah bahwa hudud memiliki kafarah (denda) seperti yang didengar oleh Ubadah, hanya saja pendapat ini terdapat kekeliruan.
Saya berpendapat, yang benar adalah hadits Abu Hurairah disampaikan lebih dulu daripada hadits Ubadah. Pembaiatan yang disebutkan dalam hadits Ubadah tidak terjadi pada malam Aqabah, dan sesungguhnya teks yang mengatakan bahwa hal tersebut terjadi pada malam Aqabah adalah riwayat Abu lshaq, yakni bahwa Rasulullah
berkata kepada kaum Anshar yang hadir, “Aku baiat kalian dengan syarat melindungiku sebagaimana kalian melindungi istri dan anak kalian”. Mereka pun membaiat beliau dengan syarat tersebut dan agar Rasul dan para sahabatnya pindah ke negeri mereka. Kita akan menemui kembali hadits Ubadah dalam kitab fitan dan yang lainnya- beliau berkata, “Kami pun membaiat Rasulullah untuk mendengarkan dan taat dalam kesulitan, kemudahan, kerelaan dan paksaan,..”

Lebih jelas lagi maksud hadits di atas adalah apa yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Thabrani dari Ubadah, bahawa ketika terjadi pertemuan antara dia dan Abu Hurairah di hadapan Muawiyah di Syam, dia berkata. “Wahai Abu Hurairah, engkau belum bersama kami ketika kami membaiat Rasulullah urtuk mendengar dan patuh dalam perbuatan dan kemalasan, menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, berkata jujur dan tidak takut kepada celaan dijalan Allah, mendukung Rasulullah jika musuh-musuh mendatangi kami serta
melindungi beliau sebagaimana kami melindungi jiwa, isteri dan anak kami. Dan bagi kami syurga. Inilah baiat yang kami lakukan dengan Rasulullah.” kemudian dia menyebutkan sisa hadits tersebut. Ath-Thabrani memiliki jalur lain dengan lafazh yang mirip dengan riwayat di atas.
Dengan demikian jelaslah bahwa inilah hal-hal yang terjadi pada baiat pertama kemudian muncullah baiat-baiat lainnya yang akan kita kemukakan Insya Allah pada kitab “Ahkam” termasuk di dalamnya hadits tentang baiat ini. Yang menguatkan bahawa pembaiatan tersebut terjadi setelah fathu Makkah (penaklukan kota Makkah) adalah turunnya ayat dalam surah Mumtahanah yaitu firman Allah, “Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia.” Telah disepakati bahawa ayat ini diturunkan setelah ayat perjanjian Hudaibiyah. Adapun yang mendasarinya adalah riwayat Imam Bukhari dalam masalah “Al Hudud” dari jalur Sufyan bin Uyainah dari Zuhri dalam hadits Ubadah, bahwa ketika Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam membaiat mereka, beliau membacakan ayat tersebut secara lengkap. Kemudian Imam Bukhari dalam tafsir Al Mumtahanah menyebutkan riwayat dari jalur yang sama bahawa Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam membaca ayat surah An-Nisaa. Menurut riwayat Muslim dari jalur Ma’mar dari Az-Zuhri, “Kemudian beliau membacakan kepada kami ayat dari surah An-Nisaa’ dan kemudian Nabi bersabda, “janganlah kalian menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun.” Dalam riwayat An-Nasa’i dari jalur Al Harits bin Fudhail dari Az- Zuhri disebutkan bahwa Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Apakah kalian tidak ingin membaiatku dengan apa yang dilakukan oleh para wanita yaitu tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun.” Dan dalam riwayat Thabrani dari jalur lain dari Az-Zuhri dengan sanad yang sama, “Kemudian kami pun membai’at Rasulullah sebagaimana yang dilakukan oleh para wanita pada hari fathu Makkah (penaklukan Makkah).” Imam Muslim meriwayatkan dari jalur Abu Asy’asy dari Ubadah dalam hadits ini, “Rasulullah mengambil (janji) dari kami apa yang diambilnya dari para wanita” Semua ini merupakan dalil yang jelas bahawa baiat tersebut terjadi setelah turunnya ayat di atas, bahkan setelah ditaklukkannya kota Makkah, dan semua itu terjadi tak lama setelah keislaman Abu Hurairah. Pendapat ini diperkuat dengan apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Khaitsamah dalam kitab sejarahnya dari ayahnya dari Muhammad bin Abdurrahman At-Thafawi dari Ayub dari Amru bin Syuaib dari ayahnya dari datuknya yang berkata, Rasulullah bersabda, “Aku baiat kalian untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun” Kemudian dia menyebutkan hadits yang mirip dengan hadits Ubadah dan orang-orang dalam sanadnya termasuk golongan yang tsiqat.
Ishaq bin Rawahah berkata, “jika shahih rangkaian sanad kepada Amru bin Syuaib, maka sanad tersebut seperti Ayub bin Nafi’ dari Ibnu Umar. Jika Abdullah bin Amru salah seorang yang menghadiri baiat ini sedangkan dia bukan termasuk golongan Anshar bahkan keislamannya tak lama setelah keislaman Abu Hurairah, maka jelaslah perbezaan antara kedua bai’at ini, baiat kaum Anshar pada malam Aqabah yang terjadi sebelum Hijrah dan baiat lain yang terjadi setelah fathu Makkah yang disaksikan oleh Abdullah bin Amru yang keislamannya setelah hijrah.
Yang mirip dengan riwayat tersebut adalah hadits Jarir yang diriwayatkan oleh Thabrani, dia berkata, ”kami membaiat Rasulullah seperti para wanita membaiatnya”, kemudian dia menyebutkan hadits tersebut.
Keislaman Jarir telah disepakati terjadi setelah keislaman Abu Hurairah. Kerancuan yang terjadi berasal dari pernyataan bahwa Ubadah bin Shamit menghadiri kedua baiat tersebut. Baiat Aqabah adalah berfungsi untuk dipuji kemudian dia menyebutkan baiat tersebut, -jika benar terjadi- merujuk kepada 2 baiat sebelumnya. Ketika dia menyebutkan baiat ini dengan menyamakannya dengan baiat para wanita, timbullah salah faham bagi orang yang tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya.
Yang sama dengan riwayat tersebut adalah riwayat Ahmad dari jalur Muhammad bin lshaq, dari Ubadah bin Walid, dari Ubadah bin Shamit, dari ayah dari datuknya-yang merupakan salah seorang utusan- dia berkata, “Kami membaiat Rasulullah dengan baiat perang” Ubadah adalah salah seorang dari 12 orang yang melaksanakan baiat Aqabah pertama yaitu, “seperti baiat para wanita itu dan untuk mendengar dan patuh pada saat sulit dan mudah” (Al Hadits). Hal itu jelas dalam penyatuan dua baiat tersebut. Akan tetapi hadits yang terdapat dalam 2 kitab Shahih (Bukhari dan Muslim) yang akan ditemukan dalam kitab ahkam, tidak ditemukan penambahan tersebut.
Hadits tersebut berasal dari jalur Yahya bin Sa’id Al Anshari dari Ubadah bin Walid. Faktanya adalah baiat harb (perang) terjadi setelah baiat Aqabah, kerana peperangan dalam Islam disyariatkan setelah hijrah. Dengan demikian riwayat Ibnu Ishaq dapat ditakwilkan dengan merujuk apa yang disebutkan tadi. Riwayat tersebut mencakup 3 baiat, yaitu baiat Aqabah yang telah disebutkan dengan jelas dalam riwayat Ubadah yang diriwayatkan oleh Ahmad yang terjadi sebelum diwajibkannya peperangan.
Yang kedua adalah baiat harb yang akan dijumpai dalam kitab jihad yaitu berjanji untuk tidak akan lari dari peperangan. Yang ketiga baiat nisa’ (para wanita) atau yang seperti baiat nisa’. Yang benar bahawa penjelasan tentang hal tersebut merupakan kesalahan dari beberapa perawi. Wallahu A ‘lam.
Penjelasan yang terdapat dalam riwayat Ibnu lshaq dari Ubadah bahawa baiat Aqabah seperti baiat nisa’ dapat dibantah, sebab telah disepakati bahawa baiat tersebut terjadi sebelum turunnya ayat (nisa’). Hal yang semisal juga ditemukan dalam Shahihain dari jalur Ash-Shanabahi dari Ubadah yang berkata, “Aku adalah salah seorang utusan yang membaiat Rasulullah.” Kemudian dia berkata, “Kami baiat Rasulullah untuk tidak menyekutukan Allah dengan suatu apapun.”
Jelaslah bahawa hadits ini merupakan penggabungan dari dua baiat di atas, hanya saja maksudnya sebagaimana yang saya sebutkan yaitu,
“Aku adalah salah seorang utusan yang membaiat -pada malam Aqabah- untuk melindungi dan mendukung beliau,” serta yang berkaitan dengan perkataan tersebut. Kemudian dia berkata بَايَعْنَاهُ (kami membaiatnya), maksudnya pada lain waktu. Hal tersebut diisyaratkan oleh penggunaan “waw athifah” dalam kalimatnya,

وَقَالَ بَايَعْنَاهُ
(Dan dia berkata, “kami bai’at beliau…”).
Hendaknya anda mengembalikan riwayat yang mengindikasikan bahawa baiat tersebut terjadi pada malam Aqabah kepada ta’wil ini, kerana kita tidak menemukan adanya pertentangan antara kedua hadits di atas, yaitu hadits Abu Hurairah dan hadits Ubadah bin Shamit. Dengan demikian tidak ada fakta yang menunjukkan bahwa hudud memiliki kafarah. Yang patut untuk diketahui, Ubadah bin Shamit bukan satu-satunya yang meriwayatkan makna tersebut, akan tetapi Ali bin Abi Thalib pun meriwayatkannya dalam riwayat At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Hakim, dalam riwayat tersebut terdapat kalimat, “barangsiapa yang melaksanakan dosa kemudian mendapatkan balasan di dunia, maka Allah Maha Mulia dan Pemurah untuk menjatuhkan hukuman tersebut kedua kalinya di akhirat.”

Kemudian dalam riwayat Ath-Thabrani dengan rangkaian sanad yang hasan dari hadits Abu Hamimah Al Jahimi dan riwayat Ahmad dari hadits Khuzaimah bin Tsabit dengan sanad hasan, “Barangsiapa yang berbuat dosa dan diberi hukuman (di dunia), maka hukuman tersebut merupakan kafarah baginya” Kemudian dari Ath-Thabrani dari Ibnu Amru, “Seseorang yang diberi balasan atas dosanya berarti ia telah diberi oleh Allah kafarah terhadap dosa tersebut”.

فَعُوقِبَ (Maka ia akan dihukum)-
Ibnu Tin berkata, “Maksud hukuman di sini adalah hukuman potong tangan dalam kes pencurian dan hukuman cambuk atau rajam (dilempari batu) dalam kes zina.”
Sedangkan dalam kasus membunuh anak kecil tidak terdapat hukuman yang pasti, akan tetapi dapat dianalogikan dengan membunuh jiwa. Sebagaimana dalam riwayat Shanabahi dari Ubadah yang berkaitan dengan hadits ini, “Janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan yang haq” akan tetapi hukuman dalam hadits “fa ‘uuqiba bihi” bersifat umum dan tidak hanya terbatas pada hukuman had ataupun ta’zir. Ini adalah pendapat Ibnu Tin.
Diriwayatkan dari Al Qadhi Ismail dan yang lainnya bahawa membunuh seorang pembunuh adalah tindakan preventif bagi orang lain. Sedangkan di akhirat nanti, tuntutan dari orang yang terbunuh akan tetap ada, kerana ia belum mendapatkan haknya. Dalam hal ini, saya berpendapat bahawa orang yang terbunuh telah mendapatkan haknya, lalu hak apalagi yang belum terpenuhi? Sebab orang yang terbunuh secara zhahirnya, dosanya telah diampuni dengan pembunuhan tersebut.
Sebagaimana yang terdapat dalam riwayat yang disahihkan oleh Ibnu Hibban dan yang lainnya, “Sesungguhnya pedang adalah penghapus kesalahan”. Diriwayatkan oleh Thabrani dari Ibnu Mas’ud, dia berkata, “jika terjadi pembunuhan maka segala (dosanya) terhapus”. Dalam riwayat Al Bazzar dari Aisyah disebutkan secara marfu’, “seseorang yang terbunuh, maka akan dihapus dosanya.” Jika tidak kerana terbunuh, maka dosanya itu tidak akan terhapus.
Kemudian jika hukuman had diberikan kepada pembunuh hanya untuk tujuan preventif saja, lalu mengapa pengampunan kepada pembunuh juga disyariatkan? Apakah termasuk dalam hukuman tersebut musibah dunia, seperti sakit dan lainnya? Dalam hal ini masih diperselisihkan. Sebab Sabda Rasul, “Barangsiapa yang tertimpa sesuatu darinya kemudian Allah, menghapusnya”, maka musibah tidak menghilangkan apa yang ditutup oleh Allah. Akan tetapi dalam banyak hadits disebutkan bahwa musibah dapat menghapus dosa, sehingga ada kemungkinan bahawa penghapusan di sini berlaku bagi dosa yang tidak memiliki had (hukuman).
Dari hadits tersebut dapat disimpulkan, bahawa pelaksanaan had (hukuman) dapat menghapus dosa walaupun tanpa disertai dengan taubat. Ini adalah pendapat Jumhur (majoriti) ulama. Namun sebagian Tabi’in mengharuskan adanya taubat, demikian pula pendapat Mu’tazilah yang didukung oleh Ibnu Hazm. Mereka berargumen kepada pengecualian terhadap orang yang bertaubat dalam firman Allah,

إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ قَبْلِ أَنْ تَقْدِرُوا عَلَيْهِمْ

maka jawabnya, bahawa yang dimaksud disini adalah hukuman dunia.

فَهُوَ إِلَى اللهِ
(Maka perkaranya terserah kepada Allah).
Al Muzani berpendapat bahawa kalimat ini mengandung bantahan kepada kaum Khawarij yang mengalirkan seseorang kerana telah berbuat dosa dan juga bantahan kepada kaum Mu’tazilah yang berpendapat bahawa orang fasik yang tidak bertaubat sebelum meninggal dunia, maka ia akan disiksa. Sebab Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjelaskan bahawa hal itu di bawah kehendak Allah. At-Thibi berkata, “Kalimat tersebut mengindikasikan larangan untuk memvonis seseorang masuk neraka atau surga, kecuali ada nash khusus yang menunjukkan hal tersebut.”

إِنْ شَاءَ عَفَا عَنْهُ وَإِنْ شَاءَ عَاقَبَهُ
(Jika Allah berhendak untuk mengampuninya maka Dia akan mengampuninya, dan jika berkehendak untuk menyiksanya dosanya maka Dia akan menyiksanya)
Menurut satu pendapat, kalimat tersebut mencakup orang yang bertaubat dan yang tidak. Sedangkan menurut jumhur ulama, kalimat tersebut tidak mencakup orang yang bertaubat. Oleh sebab itu orang yang berbuat makar kepada Allah tidak akan merasa aman, kerana ia tidak dapat mengetahui apakah taubatnya diterima atau tidak.
Ada yang berpendapat bahawa untuk mengetahui hal itu, dibezakan terlebih dahulu antara orang yang wajib diberi hukuman had dan yang tidak wajib. Kemudian mereka juga berbeza pendapat tentang orang yang wajib diberi hukuman had, ada yang berpendapat, bahawa ia dapat saja bertaubat secara sembunyi-sembunyi, dan itu sudah cukup baginya. Sedangkan sebagian orang berpendapat bahawa ia harus menghadap seorang imam dan mengakui kesalahannya serta minta pelaksanaan had atas dirinya seperti yang dilakukan oleh Ma’iz dan Al-Ghamidiah. Selain itu ada juga sebahagian ulama yang merincikannya, yaitu jika ia berbuat dosa secara terang-terangan, maka ia harus bertaubat secara terang-terangan pula, begitu pula sebaliknya.

Catatan:
Dalam riwayat Shanabahi dari Ubadah ditambahkan lafazh, “jangan merampas” dan ini yang menjadi dalil bahwa baiat tersebut tidak dilakukan pada saat itu, kerana jihad belum menjadi suatu kewajiban pada waktu baiat Aqabah. Sedangkan yang dimaksudkan dengan merampas di sini adalah merampas harta setelah perang. Dalam riwayat tersebut juga ditambahkan lafazh, “jika kita melakukan semua itu maka kita akan masuk surga.” Kemudian Imam Bukhari juga meriwayatkan dalam bab wufudul Anshar (urusan Anshar) dari Qutaibah dari Laits dengan lafazh وَلَا يُقْضَى
Sebenarnya penulisan kata tersebut keliru hanya saja beberapa orang telah menjadikannya sebagai sandaran dan
mengatakan, ‘”Secara zhahir riwayat tersebut melarang seseorang untuk menjadi qadhi. Akan tetapi, larangan tersebut dibatalkan dengan diangkatnya Ubadah radhiallahu anhu menjadi Qadhi di Palestina pada masa pemerintahan Umar. Ada yang berpendapat bahwa kata, “bil jannah” (dengan surga) berkaitan dengan keputusan atau pengadilan, ertinya jangan mengadili manusia untuk masuk surga.” Cukuplah riwayat Muslim dari Qutaibah yang membuktikan kekeliruan tersebut, dan juga riwayat Al Ismaili dari Hasan bin Sufyan serta Abi Nu’aim dari Musa bin Harun yang keduanya berasal dari Qutaibah. Demikian pula hadits tersebut menurut Al Bukhari dalam kitab Ad-Diyaat dari Abdullah bin Yusuf dari Al-Laits dalam sebahagian besar riwayat.

10. MENCINTAI KAUM ANSHAR ADALAH TANDA KEIMANAN

10. MENCINTAI KAUM ANSHAR ADALAH TANDA KEIMANAN
Kitab Fathul Baari (Syarah Shahih Bukhari), Kitab Iman

حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ أَخْبَرَنِي عَبْدُ اللهِ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ جَبْرٍ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسًا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ آيَةُ الْإِيمَانِ حُبُّ الْأَنْصَارِ وَآيَةُ النِّفَاقِ بُغْضُ الْأَنْصَارِ

17. Telah menceritakan kepada kami Abu Al Walid berkata, telah menceritakan kepada kami Syu’bah telah mengabarkan kepadaku Abdullah bin Abdullah bin Jabar, berkata; aku mendengar Anas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tanda iman adalah mencintai (kaum) Anshar dan tanda nifaq adalah membenci (kaum) Anshar”.

Dalam bab yang dulu telah dijelaskan, bahawa di antara tanda-tanda iman adalah mencintai sesamanya kerana Allah. sedangkan di sini Imam Bukhari menyebutkan hadits yang menunjukkan bahawa mencintai kaum Anshar juga termasuk salah satu tanda iman, sebab mencintai mereka -kerana mereka telah menolong Rasulullah- adalah termasuk mencintai seseorang kerana Allah. Sebenarnya mereka sudah termasuk dalam sabda Nabi, “Mencintai seseorang kerana Allah.” akan tetapi disebutkannya mereka secara khusus dalam hadits ini menunjukkan adanya perhatian terhadap mereka.

آيَةُ الْإِيمَانِ (tanda-tanda iman), Demikianlah penulisan kata tersebut yang terdapat dalam semua riwayat baik dalam shahih Bukhari dan Muslim, kitab-kitab sunan, mustakhraj maupun musnad. Kata آيَةُ bererti “tanda” seperti yang disebutkan oleh Imam Bukhari. Dalam kitab “I’rab Al Hadist” karya Abu Al Baqa‘ Al Akbari disebutkan dengan lafazh “Innahul iman” yaitu dengan menggunakan kata “innahu” dan “al-iman” dalam keadaan marfu’.

Kemudian Abu Al-Baqa‘ Al-Akbar:
meng’irabnya dengan mengatakan bahawa kata “Inna” berfungsi sebagai
Ta‘kid (penguat), kata ganti “hu” adalah sebagai kata ganti keadaan “dhamir asy-sya’ni”, sedangkan kata iman adalah sebagai mubtada (subjek) dan kata setelahnya adalah sebagai khabar (predikat). Dengan
demikian, hadits tersebut mengandungi pengertian bahawa yang dinamakan iman adalah mencintai kaum Anshar.

Hal ini adalah merupakan kesalahan dalam penulisan kerana – dari segi maknanya- menimbulkan kesan bahawa iman hanya terbatas pada mencintai kaum Anshar saja, padahal sebenarnya tidak demikian.

Ada yang berpendapat bahawa Iafazh yang masyhur dari hadits tersebut juga mengindikasi bahawa iman hanya terbatas pads mencintai kaum Anshar saja, demikian pula dengan hadits yang disebutkan oleh Imam Bukhari dalam bab “Fadha’i1ul Anshar (keutamaan kaum Anshar)” dari Al-Barra bin ‘Azib yang berbunyi, “Tidak ada yang mencintai golongan Anshar kecuali orang yang beriman.”
Mengenai hadits pertama, dapat dijawab bahawa tanda-tanda (‘alamah) adalah seperti khashah (istilah dalam ilmu manthiq yang bererti ciri khusus) yang berdapat dalam beberapa benda dan tidak dapat diterapkan sebaliknya. Kita juga dapat menerima dakwaan adanya pembatasan tersebut, akan tetapi bukan secara hakiki melainkan hanya sehagai penekanan pada maknanya saja. Akan bisa jadi pembatasan itu bersifat hakiki, akan tetapi dikhususkan bagi orang yang membenci kaum Anshar kerana mereka telah memberikan pertolongan kepada Rasuiullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.
Sedangkan mengenai hadits kedua, dapat dijawab bahawa maksud dari hadits tersebut adalah mencintai kaum Anshar hanya terdapat dalam diri orang mukmin. Hal ini sama sekali tidak menunjukkan bahawa orang yang tidak mencintai kaum Anshar tidak termasuk orang mukmin, akan tetapi, maksudnya adalah bahawa orang yang tidak beriman tidak akan mencintai mereka.
Apabila ada sebuah pertanyaan, “Apakah orang yang membcncinya termasuk dalam golongan munafik, meskipun ia telah berikrar dan percaya kepada Allah? “ Maka jawabannya adalah bahawa berdasarkan zhahirnya kalimat tersebut memang mengandungi pemahaman seperti itu.
Akan tetapi maksud sebenarnya tidak demikian, kerana kata “bughdhun (benci) ” dalam hadits tersebut memiliki batasan yaitu jika seseorang membenci mereka hanya kerana mereka telah memberikan pertolongan kepada Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam , maka ia termasuk orang munafik. Penafsiran semacam ini sesuai dengan hadits yang dikeluarkan oleh Abu Naim dari Barra’ bin ‘Azib. “barang siapa yang mencintai kaum Anshar, maka aku akan mencintainya dengan sepenuh hati. dan barang siapa yang membenci kaum Anshar, maka aku akan membencinya dengan sepenuh hati” Tambahan seperti ini juga terdapat dalam bab “Al-Hub (cinta)” seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Imam Muslim juga telah meriwayatkan dari Abu Sa’id secara marfu’ (dinisbatkan kepada Rasul) dengan lafazh, “Tak ada seorang mukmin pun yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya yang membenci kaum Anshar” dan dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan, “mencintai kaum Anshar adalah keimanan dan membenci mereka adalah kemunafikan”. Ada kemungkinan kata tersebut disebutkan dengan fungsi sebagai peringatan (tahzir), sehingga yang dimaksudkan bukanlah makna zhahirya dan oleh kerana itu iman yang ada tidak digantikan dengan kekafiran yang merupakan kebalikan, tapi dengan kemunafikan yang mengisyaratkan bahawa janji dan ancaman tersebut ditujukan kepada orang yang menampakkan keimanannya. Sedangkan yang menampakkan kekafiran tidak termasuk dalam apa yang dimaksudkan, kerana yang dilakukannya lebih keras dari itu.

الأنصار merupakan bentuk jamak (plural) dari kata ناصر atau نصير yang berarti “penolong.” Huruf lam dalam kata tersebut berfungsi untuk menunjukkan erti yang telah diketahui, maksudnya adalah para penolong Rasulullah. Mereka adalah suku Aus dan Khazraj yang sebelumnya dikenal dengan Ibnay Qailah atau dua anak Qailah yang merupakan nenek moyang mereka. Kemudian Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menamakannya dengan “Anshar”, sehingga kata tersebut menjadi sebutan bagi mereka. Nama ini juga digunakan untuk menyebut keturunan, sekutu dan pengikut mereka. Pemberian gelaran agung tersebut disebabkan mereka telah memberikan pertolongan yang lebih besar kepada Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan para pengikutnya (Muhajirin) daripada kepada kabilah-kabilah lainnya. Mereka menolongnya dengan jiwa, harta dan bahkan mereka mendahulukan kepentingan kaum Muhajirin daripada kepentingan mereka sendiri. Perbuatan mereka ini menyebabkan mereka dimusuhi oleh kabilah-kabilah Arab maupun non-Arab dan juga menimbulkan kedengkian dalam diri kabilah-kabilah tersebut. Permusuhan dan kedengkian ini sebenarnya disebabkan kerana kebencian kepada mereka. Oleh kerana itu. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memperingatkan kepada manusia agar tidak membenci kaum Anshar akan tetapi harus mencintainya, bahkan Rasulullah menjadikan hal itu sebagai tanda keimanan atau kemunafikan dengan maksud untuk mengingatkan akan keutamaan dan kemuliaan kaum Anshar. Bahkan orang yang ikut serta dalam apa yang mereka perbuat, juga masuk dalam keutamaan mereka yang disebutkan di atas. Ditemukan dalam shahih Muslim dari Ali, bahawa Nabi berkata kepadanya, “Tidak ada yang mencintaimu kecuali orang mukmin dan tak ada yang membencimu kecuali orang munafik” Hadits ini disampaikan di depan para sahabat yang menunjukkan kesetaraan mereka dalam kemuliaan kerana kontribusi yang mereka berikan kepada agama. Pengarang Al-Mafhum berkata, “Perang yang terjadi di antara mereka bukan kerana hal ini, akan tetapi disebabkan suatu perkara yang menyebabkan perselisihan, oleh karena itu kedua belah pihak tidak dapat divonis munafik, kerana kondisi mereka pada saat itu adalah seperti hukum 2 orang mujtahid dalam berijtihad, yaitu bagi yang benar akan mendapatkan dua pahala, sedangkan yang salah mendapatkan satu pahala.

9. MANISNYA IMAN

9. MANISNYA IMAN
Dari Fathul Baari (Syarah Shahih Bukhari), Kitab Iman

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ الثَّقَفِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا للهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

16. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna berkata, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab Ats Tsaqafi berkata, telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Abu Qilabah dari Anas bin Malik dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang, ia akan mendapatkan manisnya iman: Dijadikannya Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya. Jika ia mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena Allah. Dan dia benci kembali kepada kekufuran seperti dia benci bila dilempar ke neraka”

Keterangan Hadits :

Sesungguhnya manis adalah buah daripada iman. Untuk itu apabila disebutkan bahawa mencintai Rasulullah adalah sebahagian daripada iman, maka dijelaskan setelah itu bahawa cinta tersebut akan membuahkan sesuatu yang manis.

“حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ” dalam ilmu balaghah, kalimat ini disebut “Isti’arah Takhyiliyyah”, yang menyamakan rasa cinta seseorang mukmin kepada keimanan dengan sesuatu yang manis.

Hadits ini mengisyaratkan tentang orang yang sakit dan orang yang sihat. Orang yang sihat akan merasakan manisnya madu, sedangkan orang yang menderita sakit kuning misalnya, rasa tersebut akan berubah menjadi pahit. Imam Bukhari menggunakan bentuk Isti’arah (pengandaian) untuk menjelaskan naik dan turunnya keimanan seseorang.

Syeikh Abu Muhammad bin Abu Jamrah mengatakan, bahawa penggunaan kata “manisnya iman” adalah disebabkan Allah menyamakan iman dengan sebatang pokok, sebagaimana di dalam firman Nya;

“Perumpamaan kalimah yang baik adalah seperti pohon yang baik”.

Kalimah di dalam ayat diatas adalah kalimah “ikhlas” (makna yang terkandung di dalam surah Al-Ikhlas), sedangkan pohon tersebut adalah dasar keimanan, rantingnya adalah melaksanakan perintah dan menjauhi larangan, daunnya adalah kebaikan yang diperhatikan oleh seseorang mukmin, buahnya adalah perbuatan taat, dan manisnya buah adalah buah yang sudah siap untuk dipetik, kerana buah yang sudah siap untuk dipetik menunjukkan manisnya buah tersebut.

“أَحَبَّ إِلَيْهِ” (lebih cinta kepadanya)

Imam Baidhawi mengatakan, maksud cinta di sini adalah cinta yang menggunakan akal. Ertinya cinta tersebut lebih mengutamakan akal yang sihat, walaupun harus bertentangan dengan hawa nafsu. Seperti orang yang menderita sakit, pada dasarnya enggan meminum ubat, namun kerana akalnya mengatakan bahawa ubat merupakan alat yang dapat menyembuhkan penyakit, akhirnya akal memilih untuk meminum ubat. Pilihan akal inilah yang menyebabkan nafsu – orang yang sakit itu – untuk meminum ubat. Apabila manusia menganggap bahawa larangan dan perintah Allah pasti akan memberi manfaat, dan akal pun cenderung membenarkan hal tersebut, maka orang tersebut akan membiasakan diri untuk melaksanakan semua perintah tersebut. Dengan demikian di dalam masalah ini secara automatis hawa nafsu seseorang akan mengikuti kemahuan akal, ertinya kemahuan akal adalah kesedaran erti sesuatu yang sempurna dan baik.

Rasul menjadikan tiga perkara tersebut sebagai tanda kesempurnaan iman seseorang kerana jika seseorang telah meyakini bahawa sang pemberi nikmat hanya Allah semata-mata dan Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah menjelaskan apa yang diinginkan oleh Allah, maka menjadi keharusan bagi manusia untuk mengorientasikan semua yang dilakukan hanya untuk Allah semata, sehingga ia tidak menyukai dan membenci kecuali apa yang disukai dan dibenci oleh Allah, dan tidak menyukai seseorang kecuali hanya kerana Allah dan RasulNya. Ia yakin kepada semua yang dijanjikan oleh Allah akan menjadi kenyataan, dengan demikian dzikir kepada Allah dan RasulNya adalah syurga dan kembali kepada kekufuran adalah neraka. Hadits ini dibenarkan oleh Allah, firman Allah; “Katakanlah jika bapak-bapak, anak-anak…” sampai firman, “Lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya,” kemudian Allah mengancam akan hal tersebut dengan fatarabbashuu (maka tunggulah).

Makna hadits ini telah mengisyaratkan kepada manusia untuk selalu melaksanakan keutamaan dan meninggalkan kehinaan. Ada pendapat yang mengatakan, bahawa cinta kepada Allah mencakup dua hal;

1. Fardhu – Kecintaan kepada manusia untuk melaksanakan segala macam perintah Nya, meninggalkan segala macam maksiat, dan ridha kepada ketetapan Nya. Barang siapa yang terjerumus dalam kemaksiatan, melaksanakan yang diharamkan, dan meninggalkan yang wajib, maka dia telah lalai dan mengkedepankan hawa nafsunya daripada kecintaan kepada Allah. Orang yang lalai kadangkala lebih menyukai dan memperbanyak perbuatan yang mubah. Perilaku ini akan melahirkan ketidakpedulian, sehingga orang tersebut akan dengan mudah terperosok ke dalam maksiat yang menimbulkan penyesalan.

2. Sunnah – Membiasakan diri untuk melakukan solat sunnah dan berusaha untuk meninggalkan hal-hal yang syubhat. Perilaku orang yang demikian ini amat jarang ditemukan.
Di samping itu, cinta kepada Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, adalah tidak melaksanakan perintah atau tidak menjauhi larangan kecuali ada cahaya penerang dari beliau, dengan demikian orang tersebut akan selalu
berjalan di atas jalan yang sudah digariskan. Orang yang mencintai Rasul pasti akan meridhai syariat yang dibawanya dan berperangai seperti akhlaknya, seperti dermawan, mulia, sabar dan rendah hati. Oleh sebab itu orang yang berupaya untuk melakukan perbuatan seperti di atas, niscaya akan menemukan manisnya iman.

Syaikh Muhyiddin mengatakan, “Hadits ini mengandung makna yang mulia, karena hadits ini merupakan dasar agama. Adapun makna “manisnya iman” adalah kelezatan dalam melaksanakan ketaatan dan kemampuan menghadapi kesulitan dalam agama, serta mengutamakan agama dari pada hal-hal yang berbau keduniaan. Cinta kepada Allah dapat dicapai dengan ketaatan dan meninggalkan segala yang melanggar aturan-Nya. Konsekuensi seperti ini tetap sama, bila kita mencintai Rasul-Nya.
“Begitu pula bila kita mencintai Rasul-Nya, konseksuensinya tetap sama seperti ini.”

Kata yang dipakai dalam hadits tersebut adalah “apa saja” bukan “siapa saja”. Hal ini berfungsi untuk menekankan bahwa makna hadits ini umum mencakup semua benda hidup yang mempunyai akal dan yang tidak mempunyai akal.

وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُلَقَى فِي النَّارِ

Abu Nu’aim menambahkan dalam kitabnya Al Mustahkraj dari jalur Sufyan dari Muhammad bin Al Mutsna -guru Imam Bukhari- dengan kalimat,

بَعْدَ إِذْ أَنْ قَذَهُ اللهُ مِنْهُ

(setelah diselamatkan Allah dari kekufuran).

Redaksi seperti ini juga diriwayatkan oleh ImamBukhari melalui jalur yang lain. Kata Inqaadz (diselamatkan) lebih umum dari pada kata “ishmah” (dijaga) sejak lahir dalam keadaan Islam atau dikeluarkan dari gelapnya kekufuran menuju cahaya iman, sebagaimana yang dialami oleh sebagian para sahabat.

Catatan
Semua sanad hadils ini adalah orang Bashrah. Hadits ini menjadi dalil akan keutamaan membenci kekufuran. Hadits ini dicantumkan pada bab adab dan keutamaan cinta kepada Allah dengan lafazh,

وَحَتَّى أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ

Redaksi hadits ini lebih lugas, karena hadits ini menyamakan dua perkara, yaitu dilemparkan ke dalam api dunia adalah lebih baik dari pada kekufuran. Redaksi hadits seperti inilah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Nasa’i dan Ismail dari Qatadah dari Anas.
Dalam riwayat Imam Nasa’i dari jalur sanad Thalq bin Hubaib dari Anas, ditambahkan kata البغض (benci), dengan demikian redaksi hadits menjadi,

وَأَنْ يُحِبُّ فِي اللهِ وَيُبْغِضُ فِي اللهِ
(Mencintai dan membenci
karena Allah).