3- KITAB IMAN BAB MASALAH IMAN DAN FIRMAN ALLAH

(Fathul Bari – Syarah Shahih Bukhari oleh Imam Ibnu Hajar)

3- KITAB IMAN BAB MASALAH IMAN DAN FIRMAN ALLAH

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

”Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. ” (Qs. Al Baqarah (2): 177)
dalam firman yang lainnya,

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُينَ
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman “. (Qs. Al Mu’minuun (23): 1)

Pengambilan ayat ini sebagai dalil dan korelasinya dengan hadits pada bab ini tampak dari hadits yang diriwayatkan Abdurrazaq melalui Mujahid, “Sesungguhnya Abu Dzarr bertanya kepada Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tentang iman, maka Rasulullah membaca ayat di atas. ”

Hadits ini diriwayatkan oleh para perawi yang tcrpcrcaya, namun Imam Bukhari tidak menyebutkan hadits tersebut karena tidak sesuai dengan syarat-syarat hadits beliau. Adapun alasan pengambilan dalil dari ayat di atas, karena ayat tersebut membatasi pengertian takwa kepada orang-orang yang memenuhi sifat-sifat yang terkandung dalam ayat.

Maksudnya adalah orang-orang yang menjaga dirinya dari kesyirikan dan perbuatan yang buruk. Apabila mereka melaksanakan semua bentuk prilaku yang disebutkan dalam ayat, kemudian meninggalkan perbuatan syirik dan dosa, maka mereka adalah orang-orang yang sempurna imannya. Untuk itu kita dapat menggabungkan antara makna ayat dan hadits, bahwa semua prilaku yang diiringi dengan tashdiq (keimanan) termasuk dalam kategori perbuatan yang baik dan iman.
Apabila dikatakan, bahwa dalam matan (isi) hadits ini tidak disebutkan kata Tashdiq, maka Jawabnya kata tersebut telah disebutkan dalam hadits yang asli, seperti hadits yang dikeluarkan oleh Imam Muslim, sedangkan Imam Bukhari hanya mengemukakan sebagian besar atau inti dari isi haditsnya saja dan tidak mencantumkan keseluruhannya.

Dimungkinkan ayat “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman?” merupakan penafsiran tentang orang-orang yang bertakwa yang dijelaskan pada ayat sebelumnya. Artinya bahwa orang yang bertakwa adalah orang yang disifati dalam ayat di atas, yaitu orang yang beriman, berbahagia dan seterusnya sampai akhir ayat.

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ مُحَمَّدٍ الْجُعْفِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ الْعَقَدِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ

9. Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad Al Ju’fi dia berkata, Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Amir Al ‘Aqadi yang berkata, bahwa Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilal dari Abdullah bin Dinar dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Iman memiliki lebih dari enam puluh cabang, dan malu adalah bagian dari iman”.

Keterangan Hadits:

Menurut Al Qazzaz بِضْعٌ berarti bilangan antara tiga sampai sembilan. Menurut Ibnu Saidah berarti bilangan dari tiga sampai sepuluh. Sedangkan pendapat yang lain mengartikan, angka antara satu sampai sembilan, atau dua sampai sepuluh, atau juga empat sampai sembilan.

Menurut Al-Khalil berarti tujuh, tetapi pendapat Al-Qazzaz banyak disepakati oleh para ahli tafsir berdasarkan firman Allah,

فَلَبِثَ فِي السِّجْنِ بِضْعَ سِنِينَ
“karena itu tetaplah dia (yusuf dalam penjara selama beberapa tahun”; sebagaimana diriwayatkan At -Tirmidzi dengan sanad shahih, “Sesugguhnya kaum Quraisy pernah mengucapkan kata tersebut kepada Abu Bakar” dan juga riwayat dari Ath-Thabari dengan sanad marfu’.

سِتُّونَ
(enam puluh)
Tidak terjadi perbedaan kata سِتُّونَ pada sanad dari Abu Amir syaikh Imam Bukhari. Lain halnya dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Awanah melalui sanad Bisyr bin Amru dari Sulaiman bin Bilal, yaitu;

بِضْعٌ وَسِتُّونَ أَوْ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ
(enam puluh atau tujuh puluh),
Demikian pula terjadi keraguan dalam riwayat Imam Muslim dari jalur sanad Suhail bin Abi Shalih dari Abdullah bin Dinar. Adapun hadits riwayat Ashhab sunan Ats-Tsalats dari jalur Suhail menyebutkan
بِضْعٌ وَسَبْعُونَ
tanpa ada keraguan. Abu Awanah dalam salah satu riwayatnya menyebutkan سِتٌّ وَسِتُّونَ (enam puluh enam) atau سَبْعٌ وَسَبْعُونَ (tujuh puluh tujuh).

Imam Baihaqi lebih menguatkan riwayat Bukhari, karena menurutnya Sulaiman bin Bilal tidak ragu dalam mengucapkan angka tersebut, pendapat ini masih dapat dikritik mengingat Bisyr bin Amru dalam riwayatnya sempat mengalami keraguan, namun kemudian beliau
meyakinkan kembali angka tersebut. Sedang riwayat Tirmidzi yang menyebutkan angka enam puluh empat adalah riwayat yang cacat, tapi sebenarnya riwayat ini tidak bertentangan dengan riwayat Bukhari.
Adapun upaya untuk menguatkan pendapat yang menyatakan “tujuh puluh”, sebagaimana disebutkan Hulaimi dan Iyad adalah berdasarkan banyaknya perawi yang dapat dipercaya, tetapi Ibnu Shalah menguatkan pendapat yang menyebutkan bilangan (angka) yang lebih sedikit, karena yang lebih sedikit adalah yang diyakini.

Arti kata شُعْبَةٌ adalah potongan, tapi maksud kata tersebut adalah cabang, bagian, atau perangai.

Secara etimologi الحَيَاء berarti perubahan yang ada pada diri seseorang karena takut melakukan perbuatan yang dapat menimbulkan aib. Kata tersebut juga berarti meninggalkan sesuatu dengan alasan tertentu, atau adanya sebab yang memaksa kita harus meninggalkan sesuatu. Sedangkan secara terminologi, berarti perangai yang mendorong untuk menjauhi sesuatu yang buruk dan mencegah untuk tidak memberikan suatu hak kepada pemiliknya, sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits, “Malu itu baik keseluruhannya.”
Apabila dikatakan, bahwa sesungguhnya sifat malu merupakan insting manusia, lalu bagaimana bisa dikategorikan sebagai cabang dari iman? Jawabnya, bahwa malu bisa menjadi insting dan bisa menjadi sebuah prilaku moral, akan tetapi penggunaan rasa malu agar sesuai dengan jalur syariat membutuhkan usaha, pengetahuan dan niat, maka dari sinilah dikatakan bahwa malu adalah bagian dari iman, karena malu dapat menjadi faktor stimulus yang melahirkan perbuatan taat dan membentengi diri dari perbuatan maksiat. Dengan demikain tidak dibenarkan kita mengatakan, “Ya tuhan aku malu untuk mengucapkan kata kebenaran atau malu untuk melakukan berbuatan baik, ” karena yang seperti ini tidak sesuai dengan syariat.
Apabila ada pendapat yang mengatakan, “Kenapa hanya malu yang disebutkan?” Jawabnya, karena sifat malu adalah motivator yang akan memunculkan cabang iman yang lain, sebab dengan malu seseorang merasa takut melakukan perbuatan yang buruk di dunia dan akhirat, sehingga malu dapat berfungsi untuk memerintah dan menghindari atau mencegah.

Pelajaran Yang dapat diambil

Ibnu Iyad berpendapat, “Semua orang telah berusaha untuk menentukan cabang atau bagian iman dengan ijtihad. Karena menentukan hukumnya secara pasti sangat sulit untuk dilakukan. Tetapi tidak berani keimanan seseorang akan cacat bila tidak mampu menentukan batasan tersebut secara terperinci.”

Orang-orang yang mencoba menghitung semua cabang tersebut tidak menemukan suatu kesepakatan, tetapi yang mendekati kebenaran adalah metode yang dikemukakan oleh Ibnu Hibban. Namun hal itu tidak menjelaskannya secara rinci, hanya saja saya telah meringkas apa yang mereka paparkan dan apa yang saya sebutkan, bahwa iman terbagi menjadi beberapa cabang, yaitu:

1. Perbuatan hati, termasuk keyakinan dan niat. Prilaku hati ini mencakup 24 cabang, yaitu: iman kepada dzat, sifat, keesaan dan kekekalan Allah, iman kepada malaikat, kitab-kitab. Rasul. qadha dan qadar, hari Akhir, termasuk juga alam kubur, hari kebangkitan, dikumpulkannya semua orang di padang mahsyar, hari perhitungan, perhitungan pahala dan dosa, surga dan neraka. Kemudian kecintaan kepada Allah, kecintaan kepada sesama, kecintaan kepada nabi dan keyakinan akan kebesarannya, shalawat kepada Nabi dan melaksanakan sunnah. Selanjutnya keikhlasan yang mencakup meninggalkan riba, kemunafikan, taubat, rasa takut, harapan, syukur, amanah, sabar, ridha terhadap qadha, tawakkal, rahmah, kerendahan hati, meninggalkan kesombongan, iri, dengki dan amarah.

2. Perbuatan lisan yang mencakup tujuh cabang keimanan, yaitu melafazkan tauhid (mengesakan Allah), membaca Al Qur’an, mempelajari ilmu, mengajarkan ilmu, doa. dzikir dan istighfar (mohon ampunan) dan menjauhi perkataan-perkataan yang tidak bermanfaat.

3. Perbuatan jasmani yang mencakup tiga puluh delapan cabang iman dengan rincian sebagai berikut:

a) . Berkenaan dengan badan, ada lima belas cabang, yaitu: bersuci dan menjauhi segala hal yang najis, menutup aurat, shalat wajib dan sunnah, zakat, membebaskan budak, dermawan (termasuk memberi makan dan menghormati tamu), puasa wajib dan sunnah, haji dan umrah, thawaf, I’tikaf, mengupayakan malam qadar (lailatul qadar), mempertahankan agama seperti hijrah dari daerah syirik, melaksanakan nadzar dan melaksanakan kafarat.

b) . Berkenaan dengan orang lain, ada enam cabang, yaitu iffah (menjaga kesucian diri) dengan melaksanakan nikah, menunaikan hak anak dan keluarga, berbakti kepada orang tua, mendidik anak, silalurrahim, taat kepada pemimpin dan berlemah lembut kepada pembantu.

c). Berkenaan dengan kemaslahatan umum, ada tujuh belas cabang, yaitu berlaku adil dalam memimpin, mengikuti kelompok mayoritas, taat kepada pemimpin, mengadakan ishlah (perbaikan) seperti memerangi para pembangkang agama, membantu dalam kebaikan seperti amar ma’ruf dan nahi munkar, melaksanakan hukum Allah, jihad, amanah dalam denda dan hutang serta melaksanakan kewajiban hidup bertetangga. Kemudian menjaga perangai dan budi pekerti yang baik dalam berinteraksi dengan sesama seperti mengumpulkan harta dijalan yang halal, menginfakkan sebagian hartanya, menjauhi toya-foya dan menghambur-hamburkan harta, menjawab salam, mendoakan orang yang bersin, tidak menyakiti orang lain, serius dan tidak suka main-main, serta menyingkirkan duri di jalanan.

Demikianlah semua cabang keimanan tersebut yang jumlahnya kurang lebih menjadi enam puluh sembilan cabang. Pembagian ini dapat dijumlahkan menjadi tujuh puluh sembilan cabang bila sebagian cabang di atas diperincikan kembali secara mendetail.

Dalam riwayat Muslim ditemukan tambahan kalimat,

(yang tertinggi adalah kalimat Laailaahaillallah, dan yang terendah adalah menyingkirkan duri dari jalanan).

Hal ini menunjukkan adanya perbedaan tingkatan antara satu cabang iman dengan cabang lainnya.

One thought on “3- KITAB IMAN BAB MASALAH IMAN DAN FIRMAN ALLAH

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s