1. KITAB IMAN. BAB SABDA NABI, “DASAR ISLAM ADA LIMA PERKARA” (Fathul Bari – Syarah Shahih Bukhari oleh Imam Ibnu Hajar)

KITAB IMAN. BAB SABDA NABI, “DASAR ISLAM ADA LIMA PERKARA” (Fathul Bari – Syarah Shahih Bukhari oleh Imam Ibnu Hajar)

Iman ini adalah perkataan dan perbuatan, dapat bertambah ataupun berkurang sebagaimana firman Allah,

لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا
“Supaya keimanan mereka bertambah,”
(Qs. Al Fath (48); 4)

وَزِدْنَاهُمْ هُدًى
“Dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk. ”
(Qs. Al Kahfi (18): 13).

وَيَزِيدُ اللَهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى
“Dan Allah akan menambahkan petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk, ”
(Qs. Maryam (19): 76)

وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ
“Dan orang-orang yang telah mendapat petunjuk Allah menambahkan petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaan,” (Qs. Muhammad (47): 17)

وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَانًا
“Dan supaya orang yang beriman bertambah imannya, “(Qs. Al Mudalstsir (74): 31)

أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيمَانًا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا
“Siapakah diantara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini? Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah iman-nya,” (Qs. At-Taubah (9); 124)

فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا
“Karena itu takutlah kepada mereka, maka perkataan itu menambah keimanan mereka, ”
(Qs. Ali Imraan (3): 173)

وَمَا زَادَهُمْ إِلا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا
“Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan kedudukan. ”
(Qs. Al Ahzaab (33): 22)

Mencintai dan membenci seseorang karena Allah adalah termasuk tanda-tanda iman. Umar bin Abdul Aziz menulis surat kepada Adi bin Adi yang berbunyi, “Sesungguhnya iman itu terdiri dari kewajiban-kewajiban, syariat-syariat, hukum-hukum dan sunah-sunah. Barangsiapa yang menyempurnakan semua hal tersebut maka telah sempurna imannya, dan barangsiapa yang tidak menyempurnakannya maka belum sempurna imannya. Jika aku panjang umur, sungguh aku akan menjelaskannya kepada kalian hingga kalian semua mengetahuinya, akan tetapi jika aku meninggal maka aku tidak dapat menjelaskannya kepadamu.

Nabi Ibrahim berkata, “Akan tetapi agar hatiku tetap mantap dengan imanku-, ” (Qs. Al Baqarah (2): 260)

Mu’adz berkata, “Duduklah bersama kami, mari kita memperbarui iman kita dengari berdzikir sejenak.”

Ibnu Mas’ud berkata, “Keyakinan adalah sumber keimanan.”

Ibnu Umar berkata, “Seorang hamba tidak akan mencapai ketakwaan yang hakiki hingga ia meninggalkan keraguan di dalam hatinya.”

Dan Mujahid menafsirkan ayat, “Disyariatkan kepada kalian, ” (Qs. Asy-Syuura (26); 13) bahwa maksudnya adalah “Kami telah mewasiatkan kepadamu wahai Muhammad dan kepadanya satu agama. ”

Ibnu Abbas mengatakan bahwa maksud dari “Aturan dan jalan yang terang, ” (Qs. Al-Maa’idah (5): 48) adalah jalan dan sunnah. ”

Iman menurut bahasa adalah tashdiiq (mempercayai), sedangkan menurut istilah adalah mempercayai Rasulullah dan berita yang dibawanya dari Allah. Perbedaan pendapat di kalangan ulama adalah mengenai mengenai, apakah disyaratkan mengucapkan iman dengan lisan, atau harus diwujudkan dalam bentuk perbuatan seperti mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan? Permasalahan ini akan kami jelaskan Insya Allah.

Ungkapan “Iman adalah perkataan dan perbuatan, dapat bertambah dan berkurang” terdiri dari dua kalimat, yaitu; pertama iman adalah perkataan dan perbuatan, dan yang kedua iman adalah dapat bertambah dan berkurang.

Yang dimaksud dengan “perkataan” adalah mengucapkan dua kalimat syahadat, sedangkan yang dimaksud dengan ‘”perbuatan” adalah mencakup perbuatan hati (keyakinan) dan perbuatan anggota badan (ibadah).

Dalam hal ini, ada perbedaan sudut pandang di antara para ulama, sehingga sebagian mereka memasukkan “perbuatan” dalam definisi “iman ” dan sebagian yang lain tidak memasukkannya. Ulama terdahulu mengatakan bahwa iman adalah mempercayai dengan
hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan anggota badan. Menurut mereka, mengamalkan dengan anggota badan adalah merupakan syarat kesempurnaan iman, sehingga muncullah pernyataan bahwa iman dapat bertambah dan berkurang seperti yang akan dijelaskan kemudian.

Golongan Murji’ah berpendapat, bahwa iman adalah mempercayai dengan hati dan mengucapkan dengan lisan. Sedangkan golongan Karramiyah mengatakan, bahwa iman cukup diucapkan dengan lisan saja. Adapun gologan Mu’tazilah berpendapat, bahwa iman adalah perbuatan, ucapan dan keyakinan. Letak perbedaan mereka dengan ulama terdahulu adalah karena mereka menjadikan amal (perbuatan) sebagai syarat sahnya iman, sedangkan para ulama terdahulu menjadikan “perbuatan” sebagai syarat kesempurnaan iman. Hal ini disebabkan perbedaan sudut pandang mereka berdasarkan hukum Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tetapi jika berdasarkan hukum manusia, maka iman hanya cukup dengan pengakuan saja. Oleh karena itu, barangsiapa yang sudah berikrar (percaya kepada Allah) maka ia dianggap sebagai mukmin, kecuali ia terbukti melakukan perbuatan yang menyebabkan kekufuran seperti menyembah berhala.

Jika perbuatan yang dilakukannya dapat menyebabkan kefasikan, maka ia dianggap sebagai orang yang beriman berdasarkan pengakuan yang diucapkan mulutnya, tetapi ia dianggap tidak beriman berdasarkan kesempurnaan imannya. Untuk itu ia dianggap sebagai orang kafir jika
terbukti melakukan perbuatan kufur dan dianggap sebagai orang yang beriman berdasarkan hakikat keimanan itu sendiri. Dalam hal ini kelompok moderat mu’tazilah mengatakan, bahwa orang fasik tidak beriman
dan tidak pula kafir.

Sedangkan masalah kedua, ulama salaf berpendapat bahwa iman dapat bertambah dan berkurang. Pendapat ini ditentang oleh ahli kalam, karena menurut mereka hal itu berarti ketika iman belum bertambah dan berkurang, maka masih ada keraguan di dalamnya. Syaikh Muhyiddin mengatakan yang benar adalah bahwa keyakinan dapat bertambah dan berkurang sesuai dengan banyaknya melihat dan mengkaji serta adanya
dalil-dalil yang jelas. Oleh karena keimanan Abu Bakar lebih kuat dari pada keimanan orang lain karena keimanan beliau tidak bercampur keraguan sedikit pun. Dia menguatkan pendapat ini dengan mengatakan,
bahwa setiap orang mengetahui bahwa apa yang ada dalam hatinya selalu pasang surut, dimana pada suatu saat ia merasa imannya lebih kuat dan ikhlas serta lebih bertawakkal.

Begitu juga yang diriwayatkan Abul Qasim dalam Kitab Sunnah dari imam Syafi ‘i dan Ahmad bin Hambal serta Ishaq bin Rahawaih dan Abu Ubaid dan ulama lainnya. Dia meriwayatkan dari Iman Bukhari dengan sanad shahih, bahwa Imam Bukhari mengatakan, “Saya sudah
menemui lebih dari seribu ulama di berbagai penjuru, namun saya tidak menemukan satu pun dari mereka yang berbeda pendapat bahwa Iman adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang.”

Ibnu Abi Hatim menjelaskan tentang periwayatan hal tersebut dengan sanad-sanad dari para shahabat dan Tabiin dan semua Ulama yang mengadakan ijma’ (konsensus) dalam masalah ini. Fudhail bin
Iyadh dan Imam Waki’ meriwayatkan juga dari Ahlu Sunnah wal Jama’ah, dan Hakim mengatakan di dalam manaqib Syafi ‘i, “Abu Al-Abbas Al Asham menceritakan kepada kami, bahwa Rabi’ mengatakan,
“Saya mendengar Imam Syafi ‘i mengatakan, bahwa iman adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang,” Abu Nua’im menambahkan bahwa iman akan bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan Kemudian beliau membacakan firman Allah, “Dan supaya orang yang beriman bertambah imannya, ” Kemudian Imam Bukhari membuktikan dengan Ayat-ayat Al Qur’an yang menerangkan bahwa iman itu bisa bertambah, yang dengan sendirinya dia dapat membuktikan sebaliknya, yaitu iman bisa berkurang.

“Cinta dan benci karena mencari keridhaan Allah adalah
sebagian dari iman. Ini adalah hadits yang dikeluarkan Abu Daud dari hadits Abu Umamah dan hadits Abu Dzarr. Adapun hadits Abu Dzarr adalah, “Perbuatan paling baik adalah cinta dan benci karena Allah. ”
Sedangkan hadits Abu Umamah, “Barangsiapa cinta, benci, memberi dan menolak karena Allah, maka sesungguhnya imannya telah sempurna”

Tirmidzi meriwayatkan dari hadits Mu’adz bin Anas seperti hadits Abu Umamah namun Ahmad menambahkan, “Dan memberi nasehat karena Allah.”

Dalam hadits lain dia menambahkan,
“Dan menggerakkan lisannya untuk menyebut nama Allah”

Imam Ahmad juga meriwayatkan hadits dari Amru bin Al Jumuh,
“Seorang hamba tidak akan mendapatkan realitas iman hingga dia mencintai sesuatu karena Allah dan membenci sesuatu karena Allah.”

Sedangkan Al Bazar meriwayatkan,
“Ciri-ciri iman paling kuat adalah cinta dan benci karena
Allah.”

Dalam haditsnya. Imam Bukhari menyebutkan,
“Tanda-tanda iman adalah mencintai kaum Anshar.” Hadits ini dijadikan dalil oleh Imam Bukhari untuk mengatakan, bahwa iman dapat bertambah dan
berkurang, karena cinta dan benci mempunyai tingkatan yang berbeda.

Adi bin Adi atau Ibnu Umairah Al Kindi adalah seorang tabi’in dan putra salah seorang sahabat, dia adalah pegawai Umar bin Abdul Aziz di kawasan jazirah, oleh karena Umar bin Abdul Aziz menulis surat kepadanya yang isinya, (Amma ba’du, sesungguhnya Iman itu mempunyai kewajiban-kewajiban dan syariat-syariat) sampai akhir.

Maksud kewajiban adalah perbuatan yang diwajibkan, sedangkan syariat adalah ajaran atau akidah agama. Adapun Hudud (hukum) adalah larangan-larangan yang diharamkan, dan sunah adalah hal-hal yang disunnahkan.
Tujuan riwayat ini untuk menyatakan bahwa Umar bin Abdul Aziz adalah termasuk orang yang mengatakan bahwa iman itu bertambah dan berkurang, hal ini berdasarkan perkataannya, “Iman bisa mencapai
titik kesempurnaan dan bisa juga tidak.”

“Nabi Ibrahim berkata, “Akan tetapi agar hatiku tetap mantap dengan imanku-” (Qs. Al Baqarah (2): 260) Penafsiran Said bin Jubair, Mujahid dan lainnya telah mengacu kepada ayal ini. Ibnu Jarir meriwayatkan kepada Said dengan sanadnya yang shahih, dia mengatakan,
“‘Perkataan Ibrahim “agar hatiku tetap mantap” mempunyai arti agar keyakinanku bertambah. Sedangkan riwayat dari Mujahid, dia mengatakan, “Supaya aku menambah keimanan disamping keimananku yang
sudah ada.”
Apabila hal tersebut benar-benar perkataan Nabi Ibrahim sedangkan Nabi Muhammad telah diperintahkan oleh Allah untuk mengikuti ajaran Nabi Ibrahim maka seakan-akan hal tersebut juga berasal dari Nabi Muhammad. Tetapi Imam Bukhari memisahkan ayat “Akan tetapi
agar hatiku tetap mantap dengan imanku “dengan ayat-ayat sebelumnya yang menjelaskan tentang iman dapat bertambah dan berkurang, hal itu karena Imam Bukhari mengambil dalil dari ayat-ayat sebelumnya secara
tekstual, sedangkan beliau mengambil dalil dari ayat ini secara kontekstual.

Perkataan Mu’adz bin Jabal kepada Al Aswad bin Hilal, “Duduklah bersama kami untuk beriman sejenak.” Kemudian keduanya duduk berdzikir dan memuji Allah. Dari perkataan ini jelas bahwa maksud Mu’adz adalah untuk menambah keimanan dengan berdzikir kepada
Allah bukan untuk mulai beriman, karena Mu’adz adalah orang yang sudah beriman. Qadhi Abu Bakar bin Arabi mengatakan, “Hal itu tidak ada hubungannya dengan usaha untuk menambah keimanan, karena maksud Mu’adz adalah ingin memperbaharui keimanannya. Sebab seorang hamba diwajibkan untuk beriman pada awalnya saja, selanjutnya ia hanya memperbaharui dan memperbaikinya setiap kali melihat dan berfikir.”

Ibnu Mas’ud berkata, “Keyakinan keseluruhannya adalah iman”
Ini adalah potongan hadits yang disampaikan oleh Thabrani dengan sanad shahih, dimana potongan berikutnya adalah “Dan kesabaran adalah setengah dari iman” Imam Ahmad meriwayatkan dari jalur Abdullah bin Hakim dari Ibnu Mas’ud, bahwa dia berkata, “Ya Allah, tambahlah keimanan, keyakinan dan pemahaman kami.”

Catatan;
Hadits ini berkaitan erat dengan pendapat yang mengatakan, bahwa iman hanya sekedar keyakinan. Untuk itu saya katakan, bahwa maksud Ibnu Mas’ud adalah, keyakinan merupakan dasar daripada iman.
Jika keyakinan itu telah tertanam dalam hati. maka semua anggota tubuh termotivasi untuk melakukan perbuatan yang baik. Untuk itu Sufyan Ats-Tsauri mengatakan, ”Seandainya keyakinan benar-benar bersemayam dalam hati, maka ia akan terbang ke surga dan menjauhi api neraka.”

Yang dimaksud dengan takwa dalam hadits Ibnu Umar “Seorang hamba tidak akan mencapai ketakwaan yang hakiki hingga ia meninggalkan keraguan di dalam hatinya.” adalah menjaga diri dari kesyirikan dan
menekuni perbuatan-perbuatan yang baik. Kalimat “keraguan” dalam hadits ini mengindikasikan bahwa sebagian kaum muslimin telah mencapai hakikat keimanan dan sebagian yang lain belum mencapai tingkatan tersebut. Makna perkataan Ibnu Umar tersebut dapat ditemukan dalam hadits Athiyah, bahwa Rasulullah bersabda, ‘”Seseorang tidak termasuk diantara orang-orang yang bertakwa sehingga dia meninggalkan
apa yang tidak meragukan karena berhati-hati terhadap apa yang menimbulkan keraguan”

Ibnu Abi Dunya telah meriwayatkan dari Abu Darda, dia berkata,
”Kesempurnaan takwa, yaitu hendaknya kamu bertakwa kepada Allah hingga meninggalkan apa yang kamu lihat halal karena takut akan menjadi haram. ”

Imam Syafii, Imam Ahmad dan lainnya berpendapat, bahwa perbuatan adalah termasuk iman. Pendapat ini berdasarkan firman Allah,
“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali agar mereka menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan)agama yang lurus.”
(Qs. Al Bayyinah (98): 5)

One thought on “1. KITAB IMAN. BAB SABDA NABI, “DASAR ISLAM ADA LIMA PERKARA” (Fathul Bari – Syarah Shahih Bukhari oleh Imam Ibnu Hajar)

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s