3. Bab Cara Permulaan Turunnya Wahyu Kepada Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam hadis 3

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أَنَّهَا قَالَتْ أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِي النَّوْمِ فَكَانَ لَا يَرَى رُؤْيَا إِلَّا جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ ثُمَّ حُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلَاءُ وَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءٍ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ وَهُوَ التَّعَبُّدُ اللَّيَالِيَ ذَوَاتِ الْعَدَدِ قَبْلَ أَنْ يَنْزِعَ إِلَى أَهْلِهِ وَيَتَزَوَّدُ لِذَلِكَ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى خَدِيجَةَ فَيَتَزَوَّدُ لِمِثْلِهَا حَتَّى جَاءَهُ الْحَقُّ وَهُوَ فِي غَارِ حِرَاءٍ فَجَاءَهُ الْمَلَكُ فَقَالَ اقْرَأْ قَالَ مَا أَنَا بِقَارِئٍ قَالَ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ اقْرَأْ قُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّانِيَةَ حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ اقْرَأْ فَقُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّالِثَةَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ } اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ { فَرَجَعَ بِهَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْجُفُ فُؤَادُهُ فَدَخَلَ عَلَى خَدِيجَةَ بِنْتِ خُوَيْلِدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا فَقَالَ زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي فَزَمَّلُوهُ حَتَّى ذَهَبَ عَنْهُ الرَّوْعُ فَقَالَ لِخَدِيجَةَ وَأَخْبَرَهَا الْخَبَرَ لَقَدْ خَشِيتُ عَلَى نَفْسِي فَقَالَتْ خَدِيجَةُ كَلَّا وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللهُ أَبَدًا إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ وَتَقْرِي الضَّيْفَ وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ فَانْطَلَقَتْ بِهِ خَدِيجَةُ حَتَّى أَتَتْ بِهِ وَرَقَةَ بْنَ نَوْفَلِ بْنِ أَسَدِ بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى ابْنَ عَمِّ خَدِيجَةَ وَكَانَ امْرَأً قَدْ تَنَصَّرَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ يَكْتُبُ الْكِتَابَ الْعِبْرَانِيَّ فَيَكْتُبُ مِنْ الْإِنْجِيلِ بِالْعِبْرَانِيَّةِ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَكْتُبَ وَكَانَ شَيْخًا كَبِيرًا قَدْ عَمِيَ فَقَالَتْ لَهُ خَدِيجَةُ يَا ابْنَ عَمِّ اسْمَعْ مِنْ ابْنِ أَخِيكَ فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ يَا ابْنَ أَخِي مَاذَا تَرَى فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَبَرَ مَا رَأَى فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ هَذَا النَّامُوسُ الَّذِي نَزَّلَ اللهُ عَلَى مُوسَى يَا لَيْتَنِي فِيهَا جَذَعًا لَيْتَنِي أَكُونُ حَيًّا إِذْ يُخْرِجُكَ قَوْمُكَ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَمُخْرِجِيَّ هُمْ قَالَ نَعَمْ لَمْ يَأْتِ رَجُلٌ قَطُّ بِمِثْلِ مَا جِئْتَ بِهِ إِلَّا عُودِيَ وَإِنْ يُدْرِكْنِي يَوْمُكَ أَنْصُرْكَ نَصْرًا مُؤَزَّرًا ثُمَّ لَمْ يَنْشَبْ وَرَقَةُ أَنْ تُوُفِّيَ وَفَتَرَ الْوَحْيُ

3. Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair berkata, Telah menceritakan kepada kami dari Al Laits dari ‘Uqail dari Ibnu Syihab dari ‘Urwah bin Az Zubair dari Aisyah Ummul Mukminiin bahwa ia berkata, “Pertama turunnya wahyu kepada Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam secara mimpi yang benar waktu beliau tidur. Biasanya mimpi itu terlihat jelas oleh beliau, seperti jelasnya cuaca pagi- Semenjak itu hati beliau tertarik hendak mengasingkan diri ke Gua Hira’. Di situ beliau beribadat beberapa malam, tidak pulang ke rumah isterinyu, Untuk itu beliau membawa perbekalan secukupnya. Setelah perbekalan habis, beliau kembali kepada Khadijah, untuk mengambil lagi perbekalan secukupnya. Kemudian beliau kembali ke Gua Hira, hingga suatu ketika datang kepadanya kebenaran atau wahyu, yaitu sewaktu beliau masih berada di Gua Hira. Malaikat datang kepadanya, lalu katanya, “Bacalah, “jawab Nabi, “Aku tidak bisa membaca. ” Kata Nabi selanjutnya menceritakan, “Aku ditarik dan dipeluknya sehingga aku kepayahan. Kemudian aku dilepaskannya dan disuruhnya pula membaca. “Bacalah, ” Jawabku, “Aku tidak bisa membaca. ”
Aku ditarik dan dipeluknya sampai aku kepayahan. Kemudian aku dilepaskan dan disuruh membaca, “Bacalah, ” katanya. Kujawab, “Aku tidak bisa membaca, ” Aku ditarik dan dipeluk untuk ketiga kalinya, kemudian dilepaskan seraya berkata: “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menjadikan. Yang menjadikan manusia dari segumpal darah.
Bacalah! Demi Tuhanmu Yang Maha Mulia. “Setelah itu Nabi pulang ke rumah Khadijah binti Khuwailid, lalu berkata, “Selimuti aku, selimuti aku!” Khadijah menyelimutinya hingga hilang rasa takutnya. Kata Nabi kepada Khadijah (setelah dikabarkan semua kejadian yang dialaminya itu), “Sesungguhnya aku cemas atas diriku (akan binasa).”
Khadijah menjawab, “Jangan takut, demi Allah, Tuhan tidak akan membinasakan kamu. Kamu selalu menyambung tali persaudaraan, membantu orang yang sengsara, mengusahakan barang keperluan yang belum ada, memuliakan tamu, menolong orang yang kesusahan karena menegakkan kebenaran.” Setelah itu Khadijah pergi bersama Nabi menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza, yaitu anak paman Khadijah, yang telah memeluk agama Nasrani pada masa Jahiliah itu. la pandai menulis buku dalam bahasa Ibrani Maka disalinnya Kitab Injil dari bahasa Ibrani seberapa dikehendaki Allah dapat disalin. Usianya telah lanjut dan matanya telah buta. Khadijah berkata kepada Waraqah, ‘Wahai Anak pamanku! Dengarkan kabar dari anak saudaramu (Muhammad) ini. “Kata Waraqah kepada Nabi, “Wahai Anak Saudaraku! Apa yang telah terjadi atas dirimu? ” Nabi menceritakan kepadanya semua peristiwa yang telah dialaminya. Berkata Waraqah; “Inilah Namus (malaikat) yang pernah diutus Allah kepada Nabi Musa. Duhai, semoga saya masih diberi kehidupan ketika kamu diusir kaummu, “Nabi bertanya, “Apakah mereka akan mengusirku,” Jawab Waraqah, “Ya betul, Belum ada seorang pun yang diberi wahyu seperti mu tidak dimusuhi orang. Apabila saya masih mendapati hari ini niscaya saya akan menolong anda sekuat-kuatnya. ”
Tidak berapa lama kemudian Waraqah meninggal dunia dan wahyu pun terputus untuk sementara.

Keterangan Hadits:
مِنَ الْوَحْيِ
(dari wahyu)
Lafazh مِنَ di sini mengandung arti sebagian (tab’idh), maksudnya adalah sebagian wahyu. Turunnya wahyu dengan cara mimpi yang benar telah diriwayatkan oleh Ma’mar dan Yunus, hikmah turunnya wahyu yang diawali dengan mimpi adalah untuk latihan bagi nabi untuk menerimanya dalam keadaan sadar, kemudian ketika sadar beliau dapat melihat cahaya, mendengar suara dan batu-batu kerikil memberi salam kepadanya.

فِي النَّوْمِ (ketika tidur)
Kalimat ini untuk menekankan bahwa Rasulullah menerima wahyu tidak dalam keadaan sadar.

مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ
(seperti jelasnya cuaca pagi)
Maksudnya, bahwa malaikat nirun (membawa wahyu) bagaikan cahaya di pagi hari.

حُبِّبَ
(tertarik)

Subjek dalam kalimat tersebut tidak disebutkan, karena motivasi yang mendorong (Rasulullah) untuk melakukan hal itu tidak ada, meskipun kita mengetahui bahwa segala sesuatu berasal dari Allah.Disamping itu juga untuk memberi peringatan kepada manusia, bahwa apa yang dilakukan oleh Rasulullah adalah bukan berasal dari motivasi manusia, tetapi dari ilham dan wahyu,

Lafazb الْخَلَاءُ artinya mengosongkan hati dengan mengonsentrasikan diri terhadap apa yang akan dihadapi. Sedangkan gua Hira’ adalah salah satu gua yang ada di Makkah.

فَيَتَحَنَّثُ (mengasingkan diri)
يَتَحَنَّثُ berarti يَتَحَنَّفُ yaitu mengikuti ajaran agama Nabi Ibrahim.

وَهُوَ التَّعَبُّدُ (yaitu beribadah)

Kalimat ini adalah kalimat tambahan dalam hadits. yaitu penafsiran dari Az-Zuhri sebagaimana yang dikatakan Ath-Thibbi.

اللَّيَالِيَ ذَوَاتِ الْعَدَدِ
(beberapa malam)
Dalam hal ini tidak disebutkan jumlah hari secara pasti, karena masih diperselisihkan. Ada yang mengatakan satu bulan, sebagaimana Ibnu lshaq, karena waktu itu adalah bulan Ramadhan.
Sedangkan lafazh يَتَزَوَّدُ artinya membawa bekal. Khadijah adalah Ummul Mukminin anak Khuwailid bin Asad bin Abdul Izzi.

حَتَّى جَاءَهُ الْحَقُّ
(hingga suatu ketika datang kepadanya al haq kebenaran
atau wahyu)
Atau hingga datang kepadanya perkara yang benar. Disebut dengan haq karena wahyu tersebut berasal dari Allah. Dalam riwayat Abu Aswad dari Urwah dari Aisyah disebutkan, bahwa Nabi pertama kali melihat Jibril dalam mimpi, kemudian Nabi melihat Jibril secara sadar pertama kali di Ajyad. Ketika mendengar panggilan Jibril, ”Ya Muhammad,” Nabi melihat ke kanan dan kiri namun tidak menemukan siapa pun, lalu ketika beliau melihat ke atas beliau melihat Jibril di langit. Kemudian Jibril berkata, “Ya Muhammad, ini Jibril,” kemudian Nabi lari menuju tempat keramaian dan beliau tidak melihat lagi. Tapi ketika keluar dari keramaian beliau melihat Jibril kembali sambil memanggil-manggil Nabi dan Nabi pun lari. Kemudian Jibril baru menemui Nabi di Gua Hira’, sebagaimana telah diceritakan dalam kisah tersebut.

Nabi melihat bahwa Jibril memiliki dua sayap yang terbuat dari Yaqut, menurut riwayat Ibnu Lahi’ah, dari Abu Aswad. Telah disebutkan dalam Shahih Muslim riwayat lain dari Aisyah, Nabi berkata, “Aku belum pernah melihat Jibril dalam bentuknya yang asli kecuali hanya dua kali”. Imam Ahmad juga meriwayatkan hadits Ibnu Mas’ud, bahwa pertemuan Nabi dengan Jibril dalam bentuknya yang asli hanya dua kali.
Pertama, ketika bertemu pertama kali, dan kedua ketika peristiwa Isra’ Mi’raj. Begitu juga Tirmidzi meriwayatkan dari jalur Masruq dari Aisyah, bahwa Nabi tidak pernah melihat Jibril dalam bentuk yang asli kecuali dua kali. Pertama di Sidratul Muntaha, dan kedua di Ajyad.
Dalam kitab Sirah yang ditulis oleh Sulaiman At-Taimi, diriwayatkan oleh Muhammad bin Abdul A’la dari anaknya Mu’tamir bin Sulaiman dari bapaknya, bahwa Jibril datang kepada Nabi di Gua Hira, la menyuruh nabi membaca “Iqra bismirabbika..” lalu pergi dan Nabi terdiam kebingungan, kemudian Jibril menampakkan rupanya yang asli di hadapan Nabi.

فَجَاعَهُ (datang kepadanya)
Huruf fa’ di sini sebagai fa’ tafsiriyah (menjelaskan), karena datangnya malaikat bukan setelah turunnya wahyu, akan tetapi malaikat datang ketika wahyu turun.

مَا أَنَا بِقَارِئٍ
(Aku tidak bisa membaca)
Nabi mengatakan kalimat ini sebanyak tiga kali, dan ketika beliau mengucapkan yang ketiga kalinya, maka malaikat berkata. “Bacalah dengan nama Allah.” Yakni janganlah membaca dengan kemampuan dan
pengetahuanmu, akan tetapi bacalah dengan pertolongan Allah, karena Dialah yang akan mengajarkan kepadamu, sebagaimana Dia telah menciptakan kamu dan mengeluarkan segumpal darah tempat bersarangnya syaitan ketika kamu masih kecil. Dia juga yang mengajarkan kepada umatmu cara menulis setelah mereka hidup buta huruf, demikian kata Suhaili.

Atb-Thibi menyebutkan bahwa susunan kalimat (aku tidak bisa membaca) menunjukkan penguat (ta’kid), seakan-akan Nabi berkata,
“Aku sama sekali tidak bisa membaca.” Apabila dikatakan kenapa Nabi mengucapkannya sebanyak tiga kali? Abu Syamah menjawab, dimungkinkan jawaban pertama (aku tidak bisa membaca) mengandung arti menolak (imtina’), adapun ucapan kedua mengandung arti ketidakmampuan, sedangkan ucapan ketiga mengandung arti pertanyaan apa yang harus dibaca.

Abu Aswad dan Zuhri meriwayatkan bahwa ucapan Nabi,
“Bagaimana saya harus membaca?” (kaifa aqra), Ubaid bin Umair menyebutkannya, madza aqra’? “Apa yang harus saya baca?” dimana semua itu menunjukkan pertanyaan

فَغَطَّنِي
(dipeluknya), seakan-akan Jibril memelukku dengan kuat.

لَقَدْ خَشِيتُ عَلَى نَفْسِي
(Aku benar-benar ketakutan), kerana bertemu dengan malaikat.

Ulama berbeda pendapat dalam mengartikan kata al khasyyah. Pertama, gila (al junun), karena yang dilihat oleh Nabi adalah sesuatu yang aneh dan mengejutkan, sebagaimana dikatakan Isma’ili, bahwa hal ini terjadi sedang nabi belum mengetahui hakikat malaikat yang diutus oleh Allah untuk menyampaikan wahyu kepadanya, dan pendapat ini ditentang oleh Abu Bakar bin Arabi. Kedua, kecemasan, dan pendapat ini tidak benar. Ketiga, kematian karena nabi benar-benar ketakutan. Keempat, sakit sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abi Hamzah. Kelima, sakit terus menerus. Keenam, ketidakmampuan untuk memegang amanah kenabian. Ketujuh, ketidakmampuan melihat bentuk malaikat. Kedelapan, tidak memiliki kesabaran atas siksaan dari orang-orang kafir. Kesembilan, mereka akan membunuh Nabi. Kesepuluh, meninggalkan tanah airnya. Kesebelas, kedustaan mereka terhadap nabi. Keduabelas,
cemuhan mereka kepada Nabi. Akan tetapi arti yang paling benar adalah arti yang ketiga (ketakutan), keempat (sakit) dan kelima (sakit terus-menerus).

فَقَالَتْ خَدِيجَةُ كَلَّا
(Khadijah menjawab, “Jangan takut.”)
Khadijah menguatkan keyakinan Nabi dengan perangai mulia yang dimilikinya, baik terhadap saudara-saudaranya atau orang lain, atau dari segi harta dan tenaga, begitu juga terhadap orang yang berbuat baik
atau orang yang berbuat jahat kepadanya, semua sifat ini ada dalam diri Nabi Muhammad.

Maksud kalimat
وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ
adalah memberikan pertolongan kepada orang fakir miskin, Seakan-akan Khadijah berkata kepada beliau, “Orang-orang ingin menikmati dan memanfaatkan hartanya, tapi engkau ingin memanfaatkan orang yang lemah untuk engkau beri pertolongan.”
Memang lafazh “Yaksibu” menurut pendapat para ulama memiliki pengertian yang banyak, tapi yang kuat adalah memberikan pertolongan kepada orang yang tidak memiliki apa-apa.

فَانْطَلَقَتْ بِهِ
(Setelah itu Khadijah pergi bersama Nabi)
Mereka pergi bersama Nabi ke rumah Waraqah, sepupu Khadijah.

تَنَصَّرَ
(yang telah memeluk agama Nasrani)
Beliau dan Zaid bin Amru bin Nufail pergi ke Syam karena benci terhadap praktek peganisme yang ada, untuk mencari agama baru, sehingga Waraqah tertarik dan masuk agama Nasrani. Waraqah bertemu para pendeta yang masih berpegang teguh kepada ajaran agama Nasrani yang benar, maka di sanalah dia mendapat kabar akan kedatangan nabi terakhir, yaitu kabar yang disembunyikan oleh para pendeta pada saat itu.

فَيَكْتُبُ مِنْ الْإِنْجِيلِ بِالْعِبْرَانِيَّةِ
(ia pandai menulis buku dalam bahasa Ibrani. Maka disalinnya Kitab Injil dari bahasa Ibrani)
Yunus bin Ma’mar dan Muslim meriwayatkan, bahwa Waraqah menulis Injil dengan bahasa Arab. Semua pendapat ini benar karena Waraqah juga mengetahui bahasa Ibrani, sehingga dia mampu menulis kitab Injil dengan bahasa Ibrani sebagaimana dia mampu menulisnya dengan bahasa Arab, karena dia menguasai kedua bahasa tersebut. Dalam beberapa kitab disebutkan, Waraqah hanya menulis kitab Injil saja dan tidak menghafalnya, karena untuk menghafal Injil dan Taurat tidak semudah menghafal Al Qur’an. Kalimat

يَا ابْنَ عَمِّ
(Wahai anak pamanku)
adalah panggilan yang benar, karena dalam kitab Muslim lafazhnya berbunyi يَا عَمِّ (Wahai pamanku) dan ini masih diragukan.

Perkataan Khadijah,
اسْمَعْ مِنْ ابْنِ أَخِيكَ
(dengarkan apa yang akan dikatakan oleh keponakanmu)
Ada pertanyaan mengapa Khadijah menjulukinya demikian? Karena silsilah keturunannya bertemu di kakeknya yang bernama Qushai bin Kilab, dengan begitu masih ada hubungan kekeluargaan. Atau juga ucapan Khadijah itu. karena memandang usia Waraqah yang lebih tua dari Nabi Muhammad. Ucapan Khadijah tersebut dimaksudkan untuk menarik perhatian Waraqah agar mendengarkan benar-benar apa yang akan dikatakan oleh nabi.

هَذَا النَّامُوسُ الَّذِي نَزَّلَ اللهُ عَلَى مُوسَى
(Inilah Namus (malaikat) yang pernah diutus Allah kepada Nabi Musa)
Namus adalah pemegang rahasia yang baik, sedang Jasus adalah pemegang rahasia yang buruk. Maksud dari Namus di sini adalah Jibril. Perkataan “datang kepada Nabi Musa” bukan kepada Nabi Isa, adalah karena kitab Nabi Musa “Taurat” lebih banyak mencakup hukum-hukum dibandingkan dengan kitab Injil nabi Isa, sehingga sama dengan Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad. Sebab lain, karena nabi Musa menghadapi cobaan dalam berdakwah menghadapi penguasa Fir’aun, sedang Nabi Isa tidak, sebagaimana akan dihadapi oleh nabi Muhammad dalam menyampaikan dakwah, yaitu Abu Jahal bin Hisyam dan bersama-sama kelompoknya di perang Badar, atau juga karena orang-orang Yahudi telah mengakui bahwa Jibril telah turun kepada nabi Musa, tetapi mereka tidak mengakui bahwa Jibril turun kepada nabi Isa, karena mereka menentang kenabian Isa.

Pada kesempatan lain Waraqah juga menyebutkan “Namus Isa”, sebagaimana diriwayatkan oleh Zubair bin Bakar dari jalur Abdullah bin Muadz dari Zuhri. Tapi pendapat yang benar adalah ucapan pertama, yaitu “Namus Musa”, karena Abdullah bin Muadz termasuk periwayat yang lemah. Akan tetapi dalam riwayat lain dari Abu Na’aim dengan sanad hasan tentang riwayat ini bahwa Khadijah datang kepada Waraqah dan menceritakan apa yang terjadi dengan nabi Muhammad, kemudian Waraqah berkata kepadanya, “Jika kamu mempercayaiku, maka sesungguhnya telah datang kepadanya Namus Isa yang tidak diajarkan oleh Bani
Israil kepada anak-anak mereka.” Dengan demikian terkadang Waraqah mengatakan, “Namus Isa” dan terkadang mengatakan “Namus Musa”.
Ketika Waraqah berbicara kepada Khadijah, ia mengatakan “Namus Isa,” karena Waraqah adalah orang Nasrani, sedang ketika berbicara dengan Nabi dia mengatakan “Namus Musa” karena apa yang akan dihadapi Nabi sama dengan yang dihadapi nabi Musa, dan kedua pendapat ini benar. Wallahu a’lam.

يَا لَيْتَنِي فِيهَا جَذَعًا
(Duhai, semoga saya masih diberi kehidupan)
Jadz adalah binatang kecil, seakan-akan Waraqah berangan-angan jika saja waktu datangnya dakwah Islam, dia masih berusia muda, sehingga dapat membantu perjuangan Nabi, maka kita dapat mengetahui rahasia dijelaskannya bahwa Waraqah adalah orang yang sudah tua dan buta pada saat itu.

إِذْ يُخْرِجُكَ
(ketika kamu diusir)

Ibnu Malik berkata bahwa makna lafazh إِذْ menunjukkan masa yang akan datang seperti makna lafazh إِذْ sebagaimana firman Allah,
“Peringatilah mereka akan hari kebangkitan ketika akan dilaksanakan pengadilan”

Pada saat itu Waraqah mengharapkan agar kembali menjadi muda sehingga dapat membantu perjuangan Nabi, tapi hal itu sangat mustahil.

Pelajaran yang dapat diambil adalah kita boleh mempunyai angan-angan dan cita-cita yang baik. Akan tetapi menurut saya maksud Waraqah mengatakan hal itu bukan mengharapkan agar kembali menjadi muda,
melainkan meyakinkan kepada Nabi akan kebenaran dakwahnya.

أَوَمُخْرِجِيَّ
(Apakah mereka akan mengusirku)
Nabi mempertanyakan apakah mungkin mereka akan mengusirnya, karena tidak ada sebab yang menjadikan mereka melakukan perbuatan itu. apalagi kalau melihat bahwa beliau mempunyai perangai yang sangat mulia.

عُودِيَ
(dimusuhi)
Waraqah mengatakan hal itu, karena melihat sejarah-sejarah terdahulu dari kitab Injil dan Taurat bahwa mereka akan melakukan penyiksaan, penentangan dan permusuhan kepada para nabi.

إِنْ يُدْرِكْنِي يَوْمُكَ
(Apabila saya masih mendapati hari ini) Artinya apabila aku masih hidup di saat kamu diusir, maka aku pasti akan menolongmu.

ثُمَّ لَمْ يَنْشَبْ
(Tidak lama kemudian)
Tidak lama kemudian Waraqah meninggal dunia. Berbeda dengan riwayat Ibnu Ishaq yang mengatakan, bahwa Waraqah menyaksikan ketika Bilal disiksa, hal itu berarti Waraqah masih menyaksikan dakwah Islam. Kita dapat menggabungkan kedua pendapat ini, dengan mengatakan huruf وَ pada kalimat وَفَتَرَ الْوَحْيُ bukan menunjukkan rangkaian kejadian (tartib), karena mungkin saja para perawi tidak menyebutkan kehidupan Waraqah selanjutnya berdasarkan pengetahuan mereka bukan menurut realita kejadian.

Pelajaran yang dapat diambil

Dalam kitab sejarah karangan Ahmad bin Hambal terdapat riwayat dari Sya’bi yang mengatakan, bahwa masa tidak turunnya wahyu adalah 3 tahun, pendapat ini dikuatkan oleh Ibnu Ishaq. Sedangkan menurut Baihaqi adalah 6 bulan, dan Nabi mendapatkan wahyu lewat mimpi pada bulan kelahirannya yaitu Rabi’ul Awal ketika umur beliau 40 tahun, sedangkan turunnya wahyu dalam keadaan sadar pada bulan Ramadhan.

Bukanlah yang dimaksud dengan terputusnya wahyu selama tiga tahun berarti tidak turunnya malaikat Jibril kepada Muhammad setelah turunnya ayat “lqra bismirabbika…” sampai turunnya ayat, “Ya Ayyuhal Muddatstsir,” melainkan hanya diperlambat turunnya Al Qur’an kepada beliau.
Asy-Sya’bi berkata, ‘Turunnya kenabian kepada Muhammad, ketika beliau berusia 40 tahun yang ditemani oleh malaikat Israfil selama 3 tahun yang mengajari beliau, dan pada saat itu belum turun Al Qur’an kepadanya. Setelah tiga tahun selanjutnya Nabi ditemani oleh Malaikat Jibril, dan turunlah Al Quran selama 20 tahun kepadanya.
Ibnu Tin mempunyai pendapat lain, yaitu bahwa yang menemani Nabi adalah malaikat Mikail bukan Israfil, akan tetapi pendapat ini ditolak oleh Waqidi karena riwayatnya mursal, dia mengatakan, “Tidak ada yang menemani Nabi kecuali malaikat Jibril.”

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s