Kg kirokot Ranau

Advertisements

Dimana Allah? | Abu Abdurrohman Manado

Sumber:-
http://abuabdurrohmanmanado.wordpress.com/2012/10/12/dimana-allah/

Dimana Allah?

Dimana Allah?

Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Ustadz setelah membaca di beberapa tulisan tentang dimana Allah,tolong jelaskan kepada kami tentang itu berdasarkan dalil yang jelas agar umat ini kembali kepada aqidah yang benar sesuai dengan pemahaman Ahlussunnah wal jama’ah..

jazakallah khoiron

Agus [bustomi.agus]

Jawab:

Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

Berikut potongan tulisan dari ust. Luqman Jamal hafizhahullah dalam majalah An-Nashihah edisi I, dengan judul ‘Dimana Allah’:

Allah Jalla fii ‘Ulahu yang menciptakan kita mewajibkan kepada kita untuk mengenal dan mengetahui di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala berada sehingga hati-hati kita menghadap/mengarah kepada-Nya, demikian pula ketika berdo’a dan beribadah khususnya ketika sholat. Siapa yang tidak mengenal Rabbnya maka dia berada dalam keadaan tersesat, karena tidak tahu dimana beradanya yang dia sembah, dan dia juga tidak akan bisa menegakkan ibadah dengan sebaik-baiknya, bahkan dia tidak tahu siapa Ilah yang dia sembah.

Salah satu cara untuk mengenal dimana Allah adalah dengan mengenal sifat-sifat-Nya, khususnya yang berkaitan dengan masalah dimana Allah. Kemudian menetapkan dan meyakininya dengan sebenar-benarnya. Keyakinan dimana Allah termasuk masalah besar yang berkaitan dengan sifat-sifat-Nya yaitu penetapan sifat Al-’Uluw (sifat ketinggian Allah Azza wa Jalla dan bahwa Dia di atas seluruh makhluk), ketinggian yang mutlak dari segala sisi dan penetapan Istiwa`-Nya di atas Al-Arsy[1], berpisah dan tidak menyatu dengan makhluk-Nya. Namun perlu diketahui bahwa penetapan sifat Al-‘Uluw dan sifat Al-Istiwa` sama dengan penetapan seluruh sifat Allah yang lainnya, yaitu harus berjalan di atas dasar penetapan sifat Allah sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya tanpa ada penyerupaan sedikitpun dengan makhluk-Nya. Sebagaimana dalam Firman-Nya :

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS. Asy-Syura : 11)

Dan dalam ucapan Imam Malik yang sangat masyhur ketika beliau ditanya tentang sifat Al-Istiwa`, maka beliau menjawab :

الْإِسْتِوَاءُ غَيْرُ مَجْهُوْلٍ وَالْكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُوْلٍ وَالْإِيْمَانُ بِهِ وَاجِبٌ وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ

“Al-Istiwa` bukan tidak diketahui (baca : telah dimaklumi), kaifiyatnya (gambaran bentuk/caranya) tidak bisa digapai dengan akal, mengimaninya adalah wajib dan bertanya tentangnya adalah bid’ah”. [2]

Maka tidak ada yang mengetahui kaifiat ketinggian-Nya kecuali Allah Al-‘Aliyyu Al-‘Azhim sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya.

Dan dalil-dalil yang menunjukkan penetapan sifat ini sangatlah banyak, sangat lengkap dan jelas, baik dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah, ijma’, akal dan fitrah sehingga para ulama menganggapnya sebagai perkara yang harus diketahui secara darurat dalam agama yang agung ini.

Disyari’atkan Bertanya Dimana Allah

عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ الْحَكَمِ السُّلَمِيِّ قَالَ : كَانَتْ لِيْ جَارِيَةٌ تَرْعَى غَنَمًا لِيْ قِبَلَ أُحُدٍ وَالْجَوَّانِيَّةِ فَاطَّلَعْتُ ذَاتَ يَوْمٍ فَإِذَا الذِّيْبُ قَدْ ذَهَبَ بِشَاةٍِ مِنْ غَنَمِهَا وَأَنَا رَجُلٌ مِنْ بَنِيْ آدَمَ آسِفُ كَمَا يَأْسَفُوْنَ لَكِنِّيْ صَكَكْتُهَا صَكَّةً فَأَتَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ فَعَظَّمَ ذَلِكَ عَلَيَّ قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَفَلَا أُعْتِقُهَا قَالَ ائْتِنِيْ بِهَا فَأَتَيْتُهُ بِهَا فَقَالَ لَهَا أَيْنَ اللهُ قَالَتْ فِي السَّمَاءِ قَالَ مَنْ أَنَا قَالَتْ أَنْتَ رَسُوْلُ اللهِ قَالَ أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ

“Dari Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulamy radiyallahu ‘anhu, beliau berkata : “Saya mempunyai seorang budak perempuan yang mengembalakan kambing-kambingku di arah gunung Uhud dan Al-Jawwaniyyah (sebelah utara Madinah). Maka suatu hari (ketika) saya mengontrol ternyata seekor serigala telah membawa (memangsa) seekor kambingku -dan saya adalah seorang lelaki dari anak Adam- sayapun marah sebagaimana (umumnya) anak Adam. Tetapi saya memukulnya dengan sekali pukulan. Lalu saya mendatangi Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam. Maka beliau menganggap besar hal tersebut atasku, saya berkata : Wahai Rasulullah, bolehkah saya memerdekan dia ?. Rasulullah menjawab : “Datangkanlah dia”, maka saya mendatangkannya. Kemudian Rasulullah bertanya kepadanya : “Dimana Allah?”. Dia menjawab : “Di atas langit”. Dan beliau bertanya (lagi) : “Siapakah aku?”. Dia menjawab : “Engkau adalah Rasulullah”. Kemudian beliau bersabda : “Merdekakanlah dia karena sesungguhnya dia adalah seorang yang mukminah”. ( HR. Muslim no. 537)

Beberapa hukum dan faidah berkaitan dengan hadits.

Imam Al-Hafidz Ad-Darimy (wafat 280 H) menyebutkan beberapa faedah dari hadits diatas, diantaranya :

@ Dalam hadits ini ada dalil yang menunjukkan bahwa seseorang jika dia tidak tahu bahwasanya Allah ‘Azza wa Jalla ada di atas langit bukan di bumi maka tidaklah ia dikatakan beriman. Tidakkah kamu perhatikan bahwasanya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam menjadikan tanda keimanan budak tersebut dengan pengetahuannya bahwasannya Allah berada di atas langit.

@ Dan sabda beliau : “’Dimana Allah?”, membongkar kebodohan orang yang berkata bahwa Allah ada di mana-mana. Karena sesuatu yang ada pada semua tempat mustahil untuk dikatakan “di mana dia ?”. Dan tidak dikatakan “dimana” kecuali pada sesuatu yang berada di tempat tertentu.

@ Seandainya Allah ada dimana-mana sebagaimana yang disangka oleh orang-orang yang menyimpang tersebut maka pasti Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam akan mengingkari ucapan budak perempuan tersebut, Tapi Rasulullah justru membenarkannya dan mempersaksikan keimanannya.

@ Dan seandainya Allah ada di bumi sebagaimana Allah berada di atas langit, maka tidaklah sempurna keimanan budak perempuan tersebut sampai dia mengetahui bahwa Allah berada di bumi sebagaimana dia mengetahui bahwa Allah berada di atas langit.

@ Ketika ‘Abdullah ibnul Mubarak ditanya : “Bagaimana kita mengenal Robb kita?”, beliau menjawab : “Bahwasanya Allah berada di atas langit yang ketujuh di atas Arsy berpisah dari makhluk-Nya”.

@ Dan ini sangat sesuai dengan pertanyaan Rasulullahshollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam kepada budak wanita tersebut : “Dimana Allah?”, Nabi menguji keimanannya dengan pertanyaan tersebut. Maka tatkala dia menjawab : “Di atas langit”, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :“Merdekakanlah dia karena sesungguhnya dia adalah seorang yang mukminah”.

(Lihat Ar-Radd ‘alal Jahmiyah hal. 64-67, tahqiq Badr Al-Badr)

@ Berkata Imam Abu Muhammad Al-Juweiny Asy-Syafi’iy (wafat th. 438 H.) : Sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dalam hadits yang shohih (hadits di atas -pent.) kepada budak perempuan : “Dimana Allah ?”, dia menjawab : “Di atas langit”. Dan beliau tidak mengingkari budak tersebut dihadapan para shahabatnya supaya tidak timbul anggapan yang menyelisihi jawaban tersebut, bahkan Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam menetapkannya dan bersabda : “Merdekakanlah dia karena sesungguhnya dia adalah seorang yang mukminah”. (Lihat :Majmu’atur Rosa`il Al-Muniriyah 1/176).

@ Berkata Imam Adz-Dzahaby (wafat th. 748 H.) : Hadits ini adalah hadits yang shohih dikeluarkan oleh Imam Muslim, Abu Daud, An-Nasa`i dan Imam-Imam lainnya dalam karya-karya mereka. Mereka memahami apa adanya tanpa ta`wil (memalingkan dari makna sebenarnya tanpa dalil,-pent.) dan tidak pula merubah-rubah. Dan demikianlah kami melihat, semua orang yang ditanya“Dimana Allah ?” maka akan menjawab dengan tepat sesuai dengan fitrahnya bahwasanya Allah berada di atas langit.

Dalam hadits ini ada dua perkara yang penting :

  1. Disyari’atkannya ucapan seorang muslim untuk bertanya :“Dimana Allah ?”.
  2. Disyari’atkan jawaban yang ditanya : “Di atas langit”.

Maka siapa yang mengingkari kedua perkara ini maka sesungguhnya dia mengingkari Al-Musthofa shollallahu ‘alaihi wa sallam.

(Lihat Mukhtashor Al-’Uluw hal. 81).

Makna Al-’Uluw Dan Al-Istiwa` Serta Perbedaan Antara Keduanya

Pengertian Al-’Uluw secara bahasa adalah bermakna As-Samuw(diatas) dan Irtifa‘ (ketinggian).

(lihat : Mu’jam Maqayis Al-Lughoh 4/122 karya Ibnu Faris).

Kata Al-‘Uluw menurut para ulama dalam nash Al-Qur`an dan Sunnah tidak keluar dari tiga makna :

1. ‘Uluwudz Dzat (Ketinggian Dzat)

Di katakan : Fulan ‘Uluw di atas gunung, yaitu apabila ia berada diatasnya.

2. ‘Uluwul Qahr (Ketinggian kekuasaan dan keperkasaan).

‘Uluw jenis ini menunjukkan makna keagungan dan kesombongan sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin ‘Uluw (menyombongkan diri) dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al-Qoshosh : 83)

3. ‘Uluwul Qadr (Ketinggian derajat/kekuatan).

Dan kata Al-‘Uluw secara umum di mutlakkan pada ketinggian yang merupakan lawan dari kerendahan atau di bawah.

Adapun Al-Istiwa` secara bahasa, ada beberapa penggunaan :

  1. Apabila Al-Istiwa` tidak Muta’addi maka ia bermakna lengkapdan sempurna. Sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala :

وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَاسْتَوَى ءَاتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا

“Dan setelah Musa cukup umur dan telah Istiwa` (sempurna akalnya), Kami berikan kepadanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan”.” (QS. Al-Qoshosh : 14)

  1. Dan apabila Al-Istiwa` Muta’addi maka Al-Istiwa` tidak lepas dari empat makna :

@ Al-‘Uluw : Tinggi.

@ Al-Irtifa’ : Tinggi.

@ Al-Istiqrar : Menetap (di atas ketinggian).

@ Al-Sho’ud : Naik (di atas).

Perbedaan antara sifat Al-‘Uluw dan Al-Istiwa`:

Para ulama menyebutkan beberapa perbedaan antara keduanya :

  1. Al-Istiwa` termasuk sifat-sifat yang ditetapkan hanya dengan perantara nash baik Al-Qur`an maupun As-Sunnah dalam artian kalau Allah tidak mengabarkan tentang Istiwa`-Nya maka kaum musliminpun tidak mengetahuinya, berbeda dengan Al-‘Uluw yang dapat ditetapkan secara nash, akal maupun fitroh. Lihat Al-Fatawa 5/122, 152 dan 523.
  2. Al-Istiwa` termasuk sifat Fi’liyah (perbuatan) yang Allah bersifat dengannya sesuai dengan kehendaknya. AdapunAl-‘Uluw adalah sifat Dzatiyah yang terus-menerus Allah bersifat dengannya.
  3. Al-Istiwa` adalah bagian dari Al-‘Uluw namun Al-Istiwa` lebih khusus darinya atau dengan kata lain Al-Istiwa` adalahAl-‘Uluw yang khusus.

Dalil – Dalil Tentang Ketinggian Allah

Dan sungguh telah mutawatir dalil-dalil kitab dan sunnah secara lafadz dan makna tentang tetapnya sifat ini bagi Allah. Dan dalil-dalil itu mencapai seribu dalil sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dari sebahagian pengikut As-Syafi’iyah (lihat Al-Fatawa 5/121 dan Ash-Showa’iqul mursalah 4/1279) dan berkata Ibnul Qoyyim : “Dan seandainya kami ingin maka kami akan datangkan seribu dalil tentang masalah ini (‘Al-‘Uluw,-pent). (Lihat Ijtima’ul Juyusy hal. 331)

Dalil-dalil dari Al-Qur`an.

Adapun dalil-dalil dari Al-Qur`an sangatlah banyak, bahkan Imam Ibnul qoyyim telah membagi dalil-dalil naqliyah yang menunjukkan akan ketinggian Allah menjadi dua puluh satu bagian, diantaranya : penyebutan secara shorih (jelas) dengan kata Istiwa` dan ketinggian Allah dari apa-apa yang ada dibawahnya, penyebutan naiknya sesuatu kepadanya, diangkatnya sebagian makhluk padanya diturunkannya kitab darinya, pengkhususan sebagian makhluk-Nya bahwa mereka disisi-Nya diatas langit, diangkatnya tangan-tangan kepada-Nya, turunnya Allah setiap malam ke langit dunia dan yang semisalnya. (lihat Mukhtasar Ash-Showa’iq 2/205 dan sesudahnya, An-Nuniyah dengan syarah Syaikh Al-Harras 1/184-251 dan Syarh Al-Aqidah At-Thohawiyah hal. 380-386).

Diantara ayat-ayat tersebut:

[ 1 ]الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“(Rabb) Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy.”(QS. Thoha : 5)

Dan pada enam tempat dalam Al-Qur`an, Allah berfirman :

ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

“Kemudian Dia Istiwa` (bersemayam) di atas ‘Arsy.” (QS. Al-A‘raf : 54, Yunus : 3, Ar-Ra’d : 2, Al-Furqan : 59, As-Sajadah : 4, dan Al-Hadid : 4)

Berkata Abul ‘Aliyah : اِسْتَوَى عَلَى السَّمَاءِartinya اِرْتِفَاعٌ (di atas) dan berkata Mujahid اِسْتَوَىartinya عَلاَ(di atas). Lihat : Fathul Bary13/403-406.

Kata Imam Al-Qurthuby dalam Tafsirnya : “Dan para salaf terdahulu tidak mengatakan atau melafadzkan bahwa tidak ada arah (sisi) bahkan mereka sepakat mengatakan dengan lisan-lisan mereka untuk menetapkannya bagi Allah sebagaimana Al-Qur`an dan Rasul-Nya berbicara dan tidak ada seorangpun dari salaf yang mengingkari bahwa Allah berada di atas ‘Arsy-Nya secara hakiki dan mengkhususkan ‘Arsy-Nya karena dia sudah merupakan makhluk-Nya yang paling besar dan mereka tidak mengetahui kaifiat istiwa`karena tidak diketahui hakikatnya”. (Lihat : Tafsir Qurthuby7/219).

Kata Ibnu Katsir : “Manusia dalam menafsirkan ayat ini sangat banyak pendapatnya dan bukan tempatnya untuk menjelaskannya tetapi kita mengikuti pada masalah ini madzhabnya As-Salafus Sholih ; Malik, Al-‘Auza’iy, Ats-Tsaury, Al-Laitsy bin Sa’ad, Asy-Syafi’iy, Ahmad, Ishaq bin Rahawaih dan selainnya dari Imam-Imam kaum muslimin baik dahulu maupun sekarang, yaitu mentafsirkannya sebagaimana adanya (zhohirnya) tanpa takyif(membagaimanakannya), tasybih (menyerupakannya) dan ta’thil(menolaknya)”.

[ 2 ]أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاء أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ

“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di atas langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?”. (QS. Al-Mulk : 16)

Ayat ini jelas sekali menunjukkan ketinggian dan keberadaan AllahSubhanahu wa Ta’ala di atas langit serta menutup jalan untuk meniadakan atau menghilangkan sifat ketinggian-Nya atau mentakwilkannya.

Kata Imam Ahmad : Ini adalah berita dari Allah yang memberitahukan pada kita bahwasanya Dia berada diatas langit dan kami mendapati segala sesuatu dibawah-Nya adalah tercela. AllahJalla Tsana`uhu berfirman :

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka”. (QS. An-Nisa` : 145)

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا رَبَّنَا أَرِنَا الَّذَيْنِ أَضَلَّانَا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ نَجْعَلْهُمَا تَحْتَ أَقْدَامِنَا لِيَكُونَا مِنَ الْأَسْفَلِينَ

“Dan orang-orang kafir berkata : “Ya Tuhan kami perlihatkanlah kami dua jenis orang yang telah menyesatkan kami (yaitu) sebagian dari jin dan manusia agar kami letakkan keduanya di bawah telapak kaki kami supaya kedua jenis itu menjadi orang-orang yang hina”.” (QS. Fushshilat : 29)

(Baca : Ar-Raddu ‘Alal Jahmiyah karya Imam Ahmad hal 136.)

Kata Imam Al-Baihaqy, berkata Syaikh Abu Bakr Ahmad bin Ishaq bin Ayyub Al-Faqih : “Kadang-kadang orang-orang Arab meletakkan (في) di tempat (على) sebagaimana dalam firman Allah :

وَلَأُصَلِّبَنَّكُمْ فِي جُذُوعِ النَّخْلِ

“Dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma”. (QS. Thoha : 29)

Maksudnya adalah di atas pangkal pohon korma.

Dan Allah berfirman :

فَسِيحُواْ فِي الأَرْضِ

“Maka berjalanlah kamu (kaum musyrikin) di permukaan bumi”.(QS. At-Taubah : 2).

Maknanya di atas permukaan bumi. Demikian pula firman-Nya (في السماء) maknanya di atas ‘Arsy di atas langit”. (Lihat : Al-Asma` wa Ash-Shifat 2/330)

[ 3 ]سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى

“Sucikanlah nama Rabbmu Yang Maha Tinggi”. (QS. Al-A’la : 1)

Ayat ini merupakan dalil yang jelas bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berada di atas semua makhluk-Nya. Dan Rasulullahshollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam memerintah untuk mengucapkan di waktu sujud :

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى

“Maha Suci Robbku yang Maha Tinggi”.

Dengan pernyataan ini berarti kita tunduk dan merendahkan diri pada-Nya dengan hati dan anggota badan. Hal ini menunjukkan bahwa kita di bawah dan rendah serta pengakuan akan ketinggian Allah dengan lisan-lisan kita yang menunjukkan Allah berada di atas dan Maha Tinggi.

[ 4 ]يَخَافُونَ رَبَّهُم مِّن فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka)”. (QS. An-Nahl : 50)

Ayat ini menetapkan ketinggian Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dalam ayat ini para malaikat yang takut kepada Rabb mereka yang berada diatas mereka. Dan merupakan hal yang telah diketahui bahwa para malaikat itu berada di langit dan di atas kita, sedangkan di atas mereka adalah Rabbul ‘Izzah.

[ 5 ] وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَاهَامَانُ ابْنِ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَبْلُغُ الْأَسْبَابَ , أَسْبَابَ السَّمَوَاتِ فَأَطَّلِعَ إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ كَاذِبًا وَكَذَلِكَ زُيِّنَ لِفِرْعَوْنَ سُوءُ عَمَلِهِ وَصُدَّ عَنِ السَّبِيلِ وَمَا كَيْدُ فِرْعَوْنَ إِلَّا فِي تَبَابٍ

“Dan berkatalah Fir`aun : “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Rabb Musa dan sesungguhnya aku menganggapnya sebagai seorang pendusta”. Demikianlah dijadikan Fir’aun memandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar); dan tipu daya Fir’aun itutidak lain hanyalah membawa kerugian”. (QS. Al-Mukmin : 36-37)

Dalam ayat ini ada dalil yang sangat jelas bahwasanya Musa mendakwahi Fir’aun untuk mengenal Allah yang berada di atas langit. Oleh karena itu Fir’aun memerintahkan Haman untuk membangunkan untuknya bangunan yang tinggi untuk melihat Rabb Musa. Dengan mengatakan : “sesungguhnya aku menganggapnya sebagai seorang pendusta”. Lalu bagaimana kedudukan orang-orang yang mengingkari Allah berada diatas langit, manakah yang lebih baik mereka daripada Fir’aun dalam masalah ini?.

(lihat Ar-Raddu ‘Alal Jahmiyah hal 45)

Dalil-dalil dari As-Sunnah yang shahih:

Adapun dalil-dalil dari As-Sunnah juga sangat banyak bahkan digolongkannya sebagai hadits yang mutawatir oleh Imam Adz-Dzahabi dalam Mukhtashor Al-‘Uluw dan yang lainnya. Dan dalil-dalil tersebut kadang dari ucapan beliau, kadang dari perbuatannya dan kadang dari taqrir (penetapan) dari beliau terhadap perbuatan shohabat, diantara dalil-dalil tersebut adalah :

1. Dari Abi Sa’id Al-Khudry radhiyallahu ‘anhu, Rasulullahshollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :

أَلآ تَأْمَنُوْنِيْ وَأَنَا أَمِيْنٌ مَنْ فِيْ السَّمَاءِ, يَأْتِيْنِي خَبَرٌ مِنَ السَّمَاءِ فِي الصَّبَاحِ وَالْمَسَاءِ

Tidakkah kalian percaya padaku sedangkan aku adalah kepercayaan Yang berada di langit. Datang kepadaku wahyu dari langit di waktu pagi dan petang”. (HR. Al-Bukhary dan Muslim)

2. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullahshollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :

اَلرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنِ, اِرْحَمُوْا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمُكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

“Orang-orang yang penyayang akan di sayangi oleh Yang Maha Rahman, sayangilah siapa saja yang ada di bumi niscaya kalian akan di sayangi oleh Yang berada di atas langit”. (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albany dalam As-Shahihahno : 922).

3. Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata :

إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ قاَلَ فِيْ خُطْبَتِهِ يَوْمَ عَرَفَةَ : (( أَلآ هَلْ بَلَغْتُ ؟ )) فَقَالُوْا : نَعَمْ. فَجَعَلَ يَرْفَعُ أُصْبُعَهُ إِلَى السَّمَاءِ وَيُنْكِتُهَا إِلَيْهِمْ وَيَقُوْلُ : (( اَللَّهُمَّ اشْهَدْ !))

“Sesungguhnya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda pada khutbah ‘Arafah : “Apakah aku sudah menyampaikan (risalah)?”, para shahabat menjawab : “Ya”, kemudian Rasulullah mengangkat telunjuknya ke langit kemudian beliau menunjuk ke arah para shahabat sambil bersabda : “Ya Allah, saksikanlah !”.” (HR. Muslim)

Isyarat Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dengan telunjuk beliau yang mulia ke langit dan meminta persaksian Rabbnya atas ummatnya adalah isyarat yang pasti atas ketinggian Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘alaalihi wa sallam mengetahui dimana Rabbnya dengan wahyu dari Allah Jalla fii ‘Ulahu.

4. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata :

أَنَّ رَجُلاً دَخَلَ الْمَسْجِدَ يَوْمَ الْجُمْعَةِ وَالنبيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ قَائِمٌ يَخْطُبُ, فَقَالَ : يَا رسولَ اللهِ, هَلَكَتِ الْأَمْوَالُ وَانْقَطَعَتِ السُّبُلُ فاَدْعُ اللهَ يُغِيْثُنَا. فَرَفَعَ يَدَيْهِ ثُمَّ قَالَ : (( اَللَّهُمَّ اَغِثْنَا, اَللَّهُمَّ اَغِثْنَا ))

‘Sesungguhnya seorang laki-laki masuk ke mesjid pada hari Jum’at sedangkan Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam sedang berdiri berkhutbah, kemudian laki-laki tersebut berkata : “Wahai Rasulullah, telah hancur harta benda, telah putus jalan-jalan, maka berdo’alah kepada Allah agar menurunkan hujan kepada kami”. Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya dan berdo’a : “Ya Allah, hujanilah kami, ya Allah, hujanilah kami”.” (HR. Al-Bukhary-Muslim)

Nabi shollallahu “alaihi wa ‘ala alihi wa sallam mengangkat kedua tangannya adalah isyarat bahwa Allah Azzat ‘Azhomatuhu berada di atas langit.

Dalil-dalil dari Ijma’:

Telah dinukil kesepakatan para ulama tentang ketinggian Allah diatas makhluk-Nya, diantaranya dari :

1. Al-Imam Ad-Darimy di dalam kitabnya Ar-Radd ‘Alal Jahmiyah hal. 44 berkata : “Kemudian kesepakatan dari orang-orang terdahulu dan belakangan, orang alimnya dan jahilnya bahwa jika salah seorang di antara mereka ber-istighotsah, berdo’a atau meminta kepada Allah, dia menengadahkan kedua tangannya dan mengangkat pandangannya ke langit kemudian berdo’a. Dan tidak seorangpun dari mereka berdo’a mengarah ke bawah, ke depan, ke belakang, ke kanan dan ke kiri tetapi ke arah langit karena pengetahuan mereka bahwa Allah berada di atas …”.

Dan beliau berkata di hal. 66 : “Celaka kalian !, kesepakatan para shahabat, tabi’in dan seluruh umat terhadap tafsir Al-Qur`an,Fara`idh, hudud dan hukum-hukum tentang turunnya ayat ini, begini bunyinya dan sebabnya begini dan begini, dan turunnya surat ini pada keadaan begini dan begini. Kami tidak mendengar seorangpun yang mengatakan bahwa ayat ini bersumber dari bawah bumi, dari depan atau dari belakang, akan tetapi turun dari atas langit”.

2. Berkata Ishaq bin Rahawaih : “Merupakan kesepakatan di kalangan ahlul ‘ilmi bahwasanya Allah istiwa` di atas Arsy-Nya, Dia mengetahui segala sesuatu yang ada di lapis bumi yang tujuh, di dasar lautan, di puncak gunung, di perut bumi dan di seluruh tempat sebagaimana Dia mengetahui apa yang ada di langit yang tujuh dan apa yang ada di bawah Arsy, Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu”.

(Lihat : Ijtima‘ul Juyusy hal. 171 dan Mukhtashor Al-’Uluw hal. 194)

3. Berkata Ibnu ‘Abdil Barr : “Sepakat para ulama dari kalangan shahabat dan tabi’in –yang ilmu ta`wil (tafsir) diambil dari mereka- mereka menta`wilkan (mentafsirkan) firman Allah : “Tidaklah tiga orang berbisik-bisik kecuali Allah yang keempat”, yaitu Dia (Allah) berada di atas Arsy dan Ilmu-Nya di semua tempat dan tidak ada seorangpun -yang menyelisihi mereka- diambil perkataannya sebagai hujjah”. Lihat Mukhtashor Al-’Uluw hal. 268

4. Berkata Imam Muhammad bin ‘Utsman bin Abi Syaibah : “Semua makhluk sepakat bahwa apabila mereka berdo’a seluruhnya mengangkat tangannya ke langit. Kalaulah seandainya Allah ‘Azza wa Jalla berada di bawah yaitu bumi, maka tidak mungkin mereka mengangkat tangan ke langit (ketika berdo’a) sedangkan Allah bersama mereka di bumi. Kemudian riwayatnyapun datang secaramutawatir bahwasanya Allah menciptakan Arsy kemudian istiwa`diatasnya dengan Dzat-Nya. Kemudian Allah ciptakan bumi dan langit maka menjadilah doa mereka dari bumi ke langit dan dari langit ke Arsy dan Allah berada di atas langit, di atas Arsy dengan Dzat-Nya, tidak bercampur, (melainkan) berpisah dari makhluk-Nya, Ilmu-Nya bersama mereka dan tidak ada sesuatupun yang keluar dari Ilmu-Nya”. (Lihat Kitabul ‘Arsy hal. 58)

5. Berkata Abu Nashr As-Sijzy : “Dan para imam kami –seperti : Ats-Tsaury, Malik, Ibnu ‘Uyyainah, Hammad bin Zaid, Al-Fudhoil, Ahmad dan Ishaq- semuanya sepakat bahwa Allah berada di atas Arsy dengan Dzat-Nya dan sesungguhnya Ilmu-Nya ada di seluruh tempat”. (Lihat : Ijtima‘ul Juyusy hal. 97)

6. Berkata Abu ‘Umar Ath-Thalmanky di dalam kitabnya yang berjudul Al-Ushul : “Sepakat kaum muslimin dari kalangan Ahlussunnah bahwasanya Allah istiwa` di atas Arsy dengan Dzat-Nya”.

(Lihat : Ijtima‘ul Juyusy hal. 101 dan Syarh Haditsun Nuzul hal. 142).

Dalil-dalil secara akal:

1. Dari dulu Allah itu ada dan tidak ada sesuatu apapun bersama-Nya kemudian Allah menciptakan makhluk maka tatkala Allah menciptakan mereka maka hanya ada dua kemungkinan, Allah menciptakan makhluk-Nya berada dalam diri-Nya atau menciptakannya diluar diri-Nya, yang pertama adalah bathil secara pasti dengan kesepakatan. Sebab Allah di sucikan dari hal-hal yang bertentangan dan disucikan merasuk di kotoran-kotoran, Maha Tinggi Allah dari hal tersebut.

Hal itu mengharuskan Allah berpisah dari makhluk-Nya dan makhluk tidak mungkin bersatu dengan Allah.

2. Dan dikatakan : kemungkinan Allah masuk (berada) di alam atau berpisah dengan Alam dan sungguh telah pasti dan harus Allah itu berpisah dengan alam, dan kalau berpisah maka mengharuskan Allah berada diatasnya, hal ini diperjelas dengan perkara berikut :

3. Bahwasanya arah diatas adalah arah yang paling mulia dan itu menunjukkan sifat kesempurnaan, tidak ada kekurangan dari sisi manapun juga, maka dengan hal itu mengharuskan akan kekhususan Allah dengan hal tsb dan ini adalahi kelaziman Dzat-Nya maka tidak ada wujud selain Dzat-Nya kecuali Allah tinggi berada diatasnya.

4. Sesungguhnya diketahui dengan akal yang sehat tidak mungkinnya ada dua wujud salah satunya tidak sederetan pada yang lain dan tidak berpisah darinya dari satu sisipun.

(Lihat : Syarah Aqidah Thohawiyah hal 389-390, Dar`ut Ta’arudh Baina Al-Aql wan Naql 6/143-146 dan 7/3-10, Ar-Radd ‘Alal Jahmiyah karya Imam Ahmad hal 139 dan Al-Fatawa 5/152 dan yang lainnya.)

Dalil-dalil secara fitroh:

  1. Bahwasanya seorang hamba yang masih berada dalam fitrohnya, ia akan mendapatkan suatu perkara yang dhorury (pasti) yaitu tatkala dia berdoa kepada Allah dalam keadaan gawat maka dia akan tujukan/arahkan hatinya kepada Allah yang Maha Tinggi dan berada diatas.
  2. Di mendapatkan gerakan mata dan tangannya dengan isyarat keatas mengikuti isyarat hatinya keatas dan ia mendapatkan hal itu secara dhorury (spontan dan pasti).
  3. Bahwasanya barbagai macam umat telah bersepakat akan hal itu tanpa disengaja.
  4. Mereka mengatakan dengan lisan-lisan mereka : “Bahwa kami mengangkat tangan-tangan kami kepada Allah dan mereka mengabarkan tentang diri-diri mereka bahwa hal itu mereka dapatkan pada hati-hati mereka secara dhorury (spontan dan pasti) mengarah keatas.

(lihat : Naqdhut Ta`sis 2/447, At-Tahmid karya Ibnu Abdil Baar 7/137, Ar-Raddu ‘Alalal Jahmiyyah karya Ad-Darimy hal 37 dan lain-lain).

Dalam masalah ini kebanyakan ulama menyebutkan kisah Abul Ma’aly Al-Juwainy bersama Abu Ja’far Al-Hamadzany.

Secara global kisahnya adalah sebagai berikut :

Pada suatu ketika Al-Hamadzany datang dan ustadz Al-Juwainy berkata di atas mimbar : “Dari dulu Allah ada dan Arsy belum ada”, di mana beliau berusaha menafikan Istiwa`, maka Abu Ja’far Al-Hamadzany membantahnya dan berkata kepadanya : “Tinggalkan kami dari hal ini dan kabarkan kepada kami tentang perkara yang darurat ini yang kami dapatkan di hati-hati kami tidaklah seorang yang ‘Arif berkata “Ya Allah…” sama sekali kecuali ia mendapatkan dari hatinya suatu makna yang menuntut ketinggian, ia tidak akan menoleh kekanan dan tidak pula kekiri maka bagaimana kita menolak suatu perkara yang dhorury (spontan dan pasti) ini dari hati-hati kami”.

Maka Abul Ma’aly berteriak dan meletakkan tangannya diatas kepalanya dan berkata : “Al-Hamadzany telah membuat saya bingung, Al-Hamadzany telah membuat saya bingung lalu iapun turun dari mimbar”.”

(lihat Al-Fatawa 3/220 dan 4/44,61, Al-Istiqomah 1/167, As-Siyar 18/474-475, Al-‘Uluw karya Adz-Dzahaby hal 177, Thobaqot As-Syafi’iyyah karya As-Subky 3/262-263 dan lainnya dan Syaikh Al-Albany membawakan Atsar dalam Mukhtashor Al-‘Uluw hal 277 bahwa sanad kisah ini shohih musalsal dengan Al-Huffadz.

Dan Syaikhul Islam memberikan catatan kaki terhadap kisah ini dan berkata : “Maka Syaikh ini mengabarkan dari setiap orang yang mengetahui Allah bahwasannya ia mendapatkan di dalam hatinya gerakan yang dhorury (spontan dan pasti) menuju keatas apabila berkata : “Ya Allah…”, dan hal ini mengharuskan bahwa didalam fitroh-fitroh dan perbuatan-perbuatan mereka ada ilmu bahwa Allah itu diatas dan mengarahkannya bahwa arah menghadap kepada-Nya keatas”.

(lihat Naqdhut Ta`sis dengan perantara tahqiq Hamd bin Abdul Hasan At-Tuwaijiry terhadap Al-Fatawa Al-Hamawiyah hal 114.)

Dan termasuk kisah yang sangat baik untuk diangkat dan disebutkan disini adalah peristiwa yang terjadi antara Syaikhul Islam dengan salah seorang Syaikh yang menafikan Al-‘Uluw, berkata Syaikhul Islam mengabarkan hal itu “Sesungguhnya telah terjadi pada diriku dengan mereka yang menafikan hal ini yakni sifatAl-‘Uluw, dengan salah seorang masya`ikh mereka dan dia meminta dariku suatu keperluan maka sayapun mengajaknya bicara tentang masalah ini seakan-akan saya tidak mengingkarinya. Kemudian saya mengakhirkan untuk memenuhi keperluannya sehingga dadanya menjadi sempit maka iapun mengangkat matanya dan kepalanya kearah langit dan berkata : “Ya Allah…”, maka saya pun berkata kepadanya, kamu menguatkan dan membenarkan orang yang mengangkat mata dan kepalanya !? apakah di atasmu ada seseorang ? maka ia berkata Astghfirullah dan ia pun rujuk kembali dari hal itu takkala telah jelas bahwa keyakinannya menyelisihi fitrohnya, kemudian saya menjelaskan rusaknya perkataan ini maka iapun bertaubat dari hal ini itu dan rujuk pada perkataan kaum muslimin yang telah tetap pada fitroh-fitroh mereka”. (Dar`ut-Ta’arudh Al-’Aql wan Naql 6/343-344).

Sumber : al-atsariyyah.com

Innamal A’malu Bin Niyat — Muslim.Or.Id

http://muslim.or.id/hadits/innamal-amalu-bin-niyat.html

Innamal A’malu Bin Niyat

Diriwayatkan dari Amir al-Mukminin (pemimpin kaum beriman) Abu Hafsh Umar bin al-Khattab radhiyallahu’anhu beliau mengatakan : Aku mendengar Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setiap amalan harus disertai dengan niat. Setiap orang hanya akan mendapatkan balasan tergantung pada niatnya. Barangsiapa yang hijrah karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya akan sampai kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena menginginkan perkara dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya (hanya) mendapatkan apa yang dia inginkan.” (HR. Bukhari [Kitab Bad’i al-Wahyi, hadits no. 1, Kitab al-Aiman wa an-Nudzur, hadits no. 6689] dan Muslim [Kitab al-Imarah, hadits no. 1907]).

Faedah hadits
Hadits yang mulia ini menunjukkan bahwa niat merupakan timbangan penentu kesahihan amal. Apabila niatnya baik, maka amal menjadi baik. Apabila niatnya jelek, amalnya pun menjadi jelek (Syarh Arba’in li an-Nawawi, sebagaimana tercantum dalam ad-Durrah as-Salafiyah, hal. 26).

Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah mengatakan, “Bukhari mengawali kitab Sahihnya [Sahih Bukhari] dengan hadits ini dan dia menempatkannya laiknya sebuah khutbah [pembuka] untuk kitab itu. Dengan hal itu seolah-olah dia ingin menyatakan bahwa segala amal yang dilakukan tidak ikhlas karena ingin mencari wajah Allah maka amal itu akan sia-sia, tidak ada hasilnya baik di dunia maupun di akhirat.” (Jami’ al-’Ulum, hal. 13)

Ibnu as-Sam’ani rahimahullah mengatakan, “Hadits tersebut memberikan faedah bahwa amal-amal non ibadat tidak akan bisa membuahkan pahala kecuali apabila pelakunya meniatkan hal itu dalam rangka mendekatkan diri [kepada Allah]. Seperti contohnya; makan -bisa mendatangkan pahala- apabila diniatkan untuk memperkuat tubuh dalam melaksanakan ketaatan.” (Sebagaimana dinukil oleh al-Hafizh Ibnu Hajar di dalam Fath al-Bari [1/17]. Lihat penjelasan serupa dalam al-Wajiz fi Idhah Qawa’id al-Fiqh al-Kulliyah, hal. 129, ad-Durrah as-Salafiyah, hal. 39-40)

Ibnu Hajar rahimahullah menerangkan, hadits ini juga merupakan dalil yang menunjukkantidak bolehnya melakukan suatu amalan sebelum mengetahui hukumnya. Sebab di dalamnya ditegaskan bahwa amalan tidak akan dinilai jika tidak disertai niat [yang benar].Sementara niat [yang benar] untuk melakukan sesuatu tidak akan benar kecuali setelah mengetahui hukumnya (Fath al-Bari [1/22]).

Macam-macam niat
Istilah niat meliputi dua hal; menyengaja melakukan suatu amalan [niyat al-‘amal] dan memaksudkan amal itu untuk tujuan tertentu [niyat al-ma’mul lahu].

Yang dimaksud niyatu al-’amal adalah hendaknya ketika melakukan suatu amal, seseorang menentukan niatnya terlebih dulu untuk membedakan antara satu jenis perbuatan dengan perbuatan yang lain. Misalnya mandi, harus dipertegas di dalam hatinya apakah niatnya untuk mandi biasa ataukah mandi besar. Dengan niat semacam ini akan terbedakan antara perbuatan ibadat dan non-ibadat/adat. Demikian juga, akan terbedakan antara jenis ibadah yang satu dengan jenis ibadah lainnya. Misalnya, ketika mengerjakan shalat [2 raka’at] harus dibedakan di dalam hati antara shalat wajib dengan yang sunnah. Inilah makna niat yang sering disebut dalam kitab-kitab fikih.

Sedangkan niyat al-ma’mul lahu maksudnya adalah hendaknya ketika beramal tidak memiliki tujuan lain kecuali dalam rangka mencari keridhaan Allah, mengharap pahala, dan terdorong oleh kekhawatiran akan hukuman-Nya. Dengan kata lain, amal itu harus ikhlas. Inilah maksud kata niat yang sering disebut dalam kitab aqidah atau penyucian jiwa yang ditulis oleh banyak ulama salaf dan disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di dalam al-Qur’an, niat semacam ini diungkapkan dengan kata-kata iradah (menghendaki) atau ibtigha’ (mencari). (Diringkas dari keterangan Syaikh as-Sa’di dalam Bahjat al-Qulub al-Abrar, sebagaimana tercantum dalam ad-Durrah as-Salafiyah, hal. 36-37 dengan sedikit penambahan dari Jami’ al-’Ulum oleh Ibnu Rajab hal. 16-17)

Pentingnya Ikhlas
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Allah yang menciptakan kematian dan kehidupan dalam rangka menguji kalian; siapakah di antara kalian orang yang terbaik amalnya.” (QS. al-Mulk : 2).

al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah menafsirkan makna ‘yang terbaik amalnya’ yaitu ‘yang paling ikhlas dan paling benar’. Apabila amal itu ikhlas namun tidak benar, maka tidak akan diterima. Begitu pula apabila benar tapi tidak ikhlas, maka juga tidak diterima. Ikhlas yaitu apabila dikerjakan karena Allah. Benar yaitu apabila di atas sunnah/tuntunan (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyat al-Auliya’ [8/95] sebagaimana dinukil dalam Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 50. Lihat pula Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 19)

Pada suatu saat sampai berita kepada Abu Bakar tentang pujian orang-orang terhadap dirinya. Maka beliau pun berdoa kepada Allah, ”Ya Allah. Engkau lah yang lebih mengetahui diriku daripada aku sendiri. Dan aku lebih mengetahui diriku daripada mereka. Oleh sebab itu ya Allah, jadikanlah aku lebih baik daripada yang mereka kira. Dan janganlah Kau siksa aku karena akibat ucapan mereka. Dan ampunilah aku dengan kasih sayang-Mu atas segala sesuatu yang tidak mereka ketahui.” (Kitab Az Zuhd Nu’aim bin Hamad, dinukil dari Ma’alim fi Thariq Thalabil ‘Ilmi, hal. 119)

Mutharrif bin Abdullah rahimahullah mengatakan, “Baiknya hati dengan baiknya amalan, sedangkan baiknya amalan dengan baiknya niat.” (Sebagaimana dinukil oleh Ibnu Rajab dalam Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 19). Ibnu al-Mubarak rahimahullah mengatakan,“Betapa banyak amal kecil menjadi besar karena niat. Dan betapa banyak pula amal besar menjadi kecil gara-gara niat.” (Sebagaimana dinukil oleh Ibnu Rajab dalam Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 19)

Seorang ulama yang mulia dan sangat wara’ (berhati-hati) Sufyan Ats Tsauri rahimahullahberkata, ”Tidaklah aku menyembuhkan sesuatu yang lebih sulit daripada niatku.” (Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim, dinukil dari Ma’alim fii Thariq Thalabil ‘Ilmi, hal. 19)

Pada suatu ketika sampai berita kepada Imam Ahmad bahwa orang-orang mendoakan kebaikan untuknya, maka beliau berkata, ”Semoga saja, ini bukanlah bentuk istidraj (yang membuatku lupa diri).” (Siyar A’lamin Nubala’, dinukil dari Ma’alim fii Thariq Thalabil ‘Ilmi, hal. 22)

Begitu pula ketika salah seorang muridnya mengabarkan pujian orang-orang kepada beliau, maka Imam Ahmad mengatakan kepada si murid, ”Wahai Abu Bakar. Apabila seseorang telah mengenali hakikat dirinya sendiri maka ucapan orang tidak akan berguna baginya.” (Siyar A’lamin Nubala’, dinukil dari Ma’alim fii Thariq Thalabil ‘Ilmi, hal. 22)

Ad Daruquthni rahimahullah mengatakan, ”Pada awalnya kami menuntut ilmu bukan semata-mata karena Allah, akan tetapi ternyata ilmu enggan sehingga menyeret kami untuk ikhlas dalam belajar karena Allah.” (Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim, dinukil dari Ma’alim fii Thariq Thalabil ‘Ilmi, hal. 20)

Asy Syathibi rahimahullah mengatakan, ”Penyakit hati yang paling terakhir menghinggapi hati orang-orang salih adalah suka mendapat kekuasaan dan gemar menonjolkan diri.” (Al I’tisham, dinukil dari Ma’alim fii Thariq Thalabil ‘Ilmi, hal. 20)

Di dalam biografi Ayyub As Sikhtiyani disebutkan oleh Syu’bah bahwa Ayyub mengatakan,”Aku sering disebut orang, namun aku tidak senang disebut-sebut.” (Siyar A’lamin Nubala’, dinukil dari Ma’alim fii Thariq Thalabil ‘Ilmi, hal. 22)

Seorang ulama mengatakan, ”Orang yang benar-benar berakal adalah yang mengenali hakikat dirinya sendiri serta tidak terpedaya oleh pujian orang-orang yang tidak mengerti hakikat dirinya” (Dzail Thabaqat Hanabilah, dinukil dari Ma’alim fi Thariq Thalabil ‘Ilmi, hal. 118)

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, ”Tahun ibarat sebatang pohon sedangkan bulan-bulan adalah cabang-cabangnya, jam-jam adalah daun-daunnya dan hembusan nafas adalah buah-buahannya. Barang siapa yang pohonnya tumbuh di atas kemaksiatan maka buah yang dihasilkannya adalah hanzhal (buah yang pahit dan tidak enak dipandang, pent) sedangkan masa untuk memanen itu semua adalah ketika datangnya Yaumul Ma’aad (kari kiamat). Ketika dipanen barulah akan tampak dengan jelas buah yang manis dengan buah yang pahit. Ikhlas dan tauhid adalah ‘sebatang pohon’ di dalam hati yang cabang-cabangnya adalah amal-amal sedangkan buah-buahannya adalah baiknya kehidupan dunia dan surga yang penuh dengan kenikmatan di akherat. Sebagaimana buah-buahan di surga tidak akan akan habis dan tidak terlarang untuk dipetik maka buah dari tauhid dan keikhlasan di dunia pun seperti itu. Adapun syirik, kedustaan, dan riya’ adalah pohon yang tertanam di dalam hati yang buahnya di dunia adalah berupa rasa takut, kesedihan, gundah gulana, rasa sempit di dalam dada, dan gelapnya hati, dan buahnya di akherat nanti adalah berupa buah Zaqqum dan siksaan yang terus menerus. Allah telah menceritakan kedua macam pohon ini di dalam surat Ibrahim.” (Al Fawa’id, hal. 158).

Syaikh Prof. Dr. Ibrahim ar-Ruhaili hafizhahullah mengatakan, “Ikhlas dalam beramal karena Allah ta’ala merupakan rukun paling mendasar bagi setiap amal salih. Ia merupakan pondasi yang melandasi keabsahan dan diterimanya amal di sisi Allah ta’ala, sebagaimana halnya mutaba’ah (mengikuti tuntunan) dalam melakukan amal merupakan rukun kedua untuk semua amal salih yang diterima di sisi Allah.” (Tajrid al-Ittiba’ fi Bayan Asbab Tafadhul al-A’mal, hal. 49)

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi, SSi.
Artikel Muslim.Or.Id