Makna Uluhiyyah Dan Rubbubiyyah Allah

Dari kitab Mawaridul Aman karya Ibnu Qayyim Al-Jawziah

Makna Uluhiyah Allah

Sesungguhnya Illah adalah yang disembah oleh segenap hati, dicintai, dijadikan tempat kembali, yang ditinggikan, dimuliakan, diagungkan, tempat tempat merendahkan diri, menghinakan diri, yang ditakuti, tempat berharap dan bertawakal.

Adapun Rabb yaitu yang mengurus hamba-Nya, yang memberikan penciptaannya, lalu memberinya petunjuk pada apa yang merupakan maslahat baginya. Maka tidak ada Ilah selain daripadaNya, juga tidak ada Rabb selain daripada-Nya.

Dan sebagaimana Rububiyah untuk selain-Nya adalah batil, maka batil pula Uluhiyah untuk selain-Nya.

Allah telah mengumpulkan dua prinsip ini di banyak tempat dalam Kitab Suci-Nya. Allah befirman,

“Maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepada-Nya.” (Huud: 123).

Firman Allah tentang Nabi-Nya Syu’aib,

“Dan tidak ada taufiq bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nyalah aku kembali.” (Huud: 88).

“Dan bertawakallah kepada Allah Yang Hidup (Kekal) yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya.” (Al-Furqaan: 58).

“Dan beribadahlah kepada Nya dengan penuh ketekunan. (Dialah) Tuhan masyrik dan maghrib, tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung.” (Al-Muzzammil: 8-9).

“Katakanlah, ‘Dialah Tuhanku, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; hanya kepada Nya aku bertawakal dan hanya kepada-Nya aku bertaubat.” (Ar-Ra’d: 30).

Dan firman Allah tentang orang-orang yang lurus dari para pengikut Ibrahim AlaihisSalam, “Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.” (Al-Mumtahanah: 4).

Di atas itulah tujuh ayat Al-Qur’an yang merangkaikan dua pokok (prinsip) yang menghimpun makna tauhid, yang tak ada kebahagiaan hidup seorang hamba tanpa keduanya.

Makna Rububiyah Allah

Allah menciptakan makhluk agar mereka menyembah kepada-Nya, yangyang di dalamnya mengandung pengetahuan tentang-Nya, kembali, cinta dan ikhlas kepada-Nya.

Dengan mengingat Allah maka menjadi tenanglah hati, menjadi tentramlah jiwa, dan dengan melihat-Nya kelak di akhirat maka menjadi sejuklah pandangan mereka dan menjadi sempurnalah nikmat yang mereka terima.

Allah tidak memberikan sesuatu kepada hamba di akhirat yang lebih mereka cintai, yang lebih menyejukkan pandangan dan yang lebih nikmat bagi segenap hati mereka selain dari melihat kepada-Nya, mendengarkan firman-Nya tanpa perantara. Dan tidaklah Allah memberi sesuatu kepada manusia di dunia yang lebih baik bagi mereka, yang lebih mereka cintai, yang lebih menyejukkan pandangan mereka, selain dari beriman kepada-Nya, mencintai-Nya, rindu untuk bertemu dengan-Nya, senang dengan kedekatan dengan-Nya dan menikmati dengan dzikir kepada-Nya.

Nabi ShallallahuAlaihi wa Sallam telah mengumpulkan dua perkara di atas dalam sebuah doa yang diriwayatkan Nasa’i, Imam Ahmad dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya, juga diriwayatkan oleh selain mereka,** dari hadits Ammar bin Yasir bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berdoa,

“Ya Allah dengan ilmu gaib-Mu, dan kekuasaan-Mu atas makhluk, hidupkanlah aku selama Engkau ketahui hidup itu lebih baik bagiku, dan matikanlah aku selama kematian itu lebih baik bagiku. Aku mohon pada-Mukhasyyah (rasa takut) kepada-Mu dalam keadaan sunyi maupun terang-terangan, aku mohon pada-Mu perkataan yang benar baik di waktu marah atau di waktu ridha, aku mohon pada-Mu tujuan permohonan baik di waktu miskin atau kaya, aku mohon pada-Mu kenikmatan yang tiada habisnya, aku mohon pada-Mu kesayangan yang tiada terputus, aku mohon pada-Mu kerelaan setelah (menerima) qadha’ (ketentuan-Mu), aku mohon pada-Mu kemudahan hidup setelah kematian, aku mohon pada-Mu kelezatan melihat Wajah-Mu, aku mohon pada-Mu kerinduan bertemu dengan-Mu, dengan tanpa kesengsaraan yang membahayakan dan fitnah yang menyesatkan. Ya Allah hiasilah kami dengan hiasan iman, dan jadikanlah kami pemberi petunjuk orang-orang yang mendapat petunjuk.”

[Dikeluarkan Nasa’i (3/54), Ibnu Hibban (1971), Ibnu Khuzaimah (hal. 12), Al-Hakim (1/524-525) dari jalur Hammad bin Yazid dari Atha’ bin Sa’ib dari ayahnya dari Amar dan sanad-nya shahih, karena riwayat Hammad dari Atha’ adalah sebelum ia mengalami kerancuan. Hadits ini memiliki jalan lain, seperti ada dalam Al-Musnad, pembahasan lebih lanjut bisa dilihat dalam Al-Itmam (18351). ]

Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam menghimpun dalam doa yang agung ini antara sesuatu yang terbaik di dunia, yaitu kerinduan bertemu dengan Allah, dengan sesuatu yang terbaik di akhirat yaitu melihat kepada Wajah Allah Yang Mahamulia. Dan tatkala kesempurnaan dan kelengkapan hal tersebut terletak pada ketiadaan sesuatu yang membahayakan di dunia dan yang mengakibatkan fitnah dalam agama maka beliau berdoa,

“… kesengsaraan yang membahayakan dan fitnah yang menyesatkan.”

Ketika kesempurnaan hamba terletak pada pengetahuannya terhadap kebenaran, lalu ia mengikutinya dan mengajarkannya dan menunjukkan-nya kepada orang lain maka beliau berdoa, “…den jadikanlah kami orang-orang yang memberi petunjuk yang mendapat petunjuk.”

Ketika ridha yang bermanfaat dan menghasilkan maksud adalah ridha setelah terjadinya qadha’ bukan sebelumnya; dan itu berarti keinginan hati untuk ridha sehingga tatkala qadha’ telah terjadi maka lapanglah hatinya dan terwujudlah keinginan itu, maka beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam memohon ridha setelah terjadinya qadha’.

Dan sesungguhnya yang ditakdirkan itu dilindungi karena dua perkara: Memohon kepada Allah agar memilihkan yang sesuai untuknya dan ridha setelah terjadinya qadha’.

Dan sungguh termasuk kebahagiaan hamba yaitu bila bisa mengumpulkan dua hal tersebut.

Ketika takut kepada Allah baik di waktu sunyi maupun di waktu terang-terangan adalah puncak dari segala kebaikan maka beliau memohon agar diberi rasa takut, baik di waktu sunyi maupun terang-terangan.

Ketika kebanyakan manusia bicara soalkebenaran hanya di waktu ridha, tetapi saat dia marah, kemarahannya mengeluarkan kebenaran itu dari dirinya sehingga berbicara kebatilan, bahkan terkadang waktu ridhanya masih menyeretnya pada kebatilan maka beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam memohon kepada Allah agar memberinya taufiq terhadap kebenaran, baik di waktu marah maupun ridha.

Karena itu sebagian orang berkata, “Janganlah kamu termasuk orang yang waktu ridhanya, keridhaannya menyeretnya pada kebatilan dan waktu marahnya, kemarahannya memisahkannya dari kebenaran.”

Ketika kefakiran dan kekayaan merupakan cobaan dan ujian, yang dengan keduanya Allah menguji hamba-Nya, sehingga di antara manusia ketika dalam keadaan kaya menghamburkan hartanya dan ketika jatuh miskin begitu kikir, maka beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam memohon kepada Allah kesederhanaan di antara dua keadaan, yaitu jalan tengah; tidak terlalu boros dan tidak terlalu kikir.

Ketika kenikmatan ada dua macam: Kenikmatan fisik dan kenikmatan hati (jiwa), dan ia merupakan kesayangan sedangkan kesempurnaannya adalah dengan kelangsungan dan kesinambungannya maka beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam menghimpun keduanya dalam doa, “Aku mohon pada-Mu kenikmatan yang tiada habisnya, dan kesayangan yang tiada terputus.”

Ketika perhiasan ada dua macam: Perhiasan fisik dan perhiasan jiwa (hati), dan bahwa perhiasan hati adalah yang lebih agung dan lebih berbahaya, dan jika memperoleh perhiasan hati maka pada akhirnya diperoleh pula perhiasan fisik secara sempurna maka beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam memohon kepada Tuhannya perhiasan batin, beliau pun berdoa, “Hiasilah kami dengan perhiasan iman.”

Ketika hidup di dunia ini tidaklah mudah bagi siapa pun, bahkan ia dipenuhi dengan kehausan dan keletihan, dikelilingi dengan kesakitan baik lahir maupun batin, maka beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam memohon agar diberi kemudahan hidup setelah kematian.

Maksudnya, beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam doa tersebut menghimpun antara sesuatu yang terbaik di dunia dengan sesuatu yang terbaik di akhirat.

Sesungguhnya hajat segenap hamba kepada Tuhannya dalam ketundukan dan menyembah kepada-Nya adalah sama dengan hajat mereka kepada-Nya dalam hal penciptaan, pemberian rezki, kesehatan tubuh, penutupan aurat, pengamanan dari ketakutan, bahkan hajat mereka pada penyembahan, cinta dan penghambaan lebih besar, karena hal itulah sesungguhnya maksud dan tujuan mereka (diciptakan). Dan sama sekali tidak ada kebaikan, kenikmatan, kemenangan, kelezatan dan kebahagiaan bagi mereka tanpa penyembahan, penghambaan dan cinta kepada Allah.

Karena itu laa ilaaha illallaah (tiada yang berhak disembah kecuali Allah) adalah sebaik-baik kebaikan dan bahwa tauhid Uluhiyah adalah puncak segala perkara.

Adapun tauhid Rububiyah yang diakui oleh orang Muslim dan kafir, bahkan diakui pula oleh orang-orang Ahlul Kalam (ahli filsafat) dalam karya-karya mereka, maka ia tidak cukup dengan pengakuan itu saja, bahkan ia malah menjadi bumerang bagi mereka, sebagaimana yang banyak ditegaskan Allah dalam Kitab Suci-Nya. Karena itu hak Allah atas segenap hamba-Nya yaitu hendaknya mereka menyembah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Hal itu berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan oleh Mu’adz bin Jabal Radhiyalla.hu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bertanya,

“Tahukah kamu, apakah hak Allah atas para hamba-Nya?” Saya menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. “Beliau bersabda, “Hak Allah atas segenap hamba-Nya yaitu hendaknya mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan tahu-kah kamu apakah hak segenap hamba jika melakukan hal tersebut?”

Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau Beliau bersabda, “Hak mereka terhadap Allah adalah Dia tidak menyiksa mereka dengan neraka.” (Diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim dari Mu’adz).

Karena itu Allah mencintai hamba-hamba-Nya dari orang-orang Mukmin yang mengesakan penyembahan Diri-Nya dan bahwa Ia juga gembira dengan taubat mereka, sebagaimana hal tersebut merupakan sesuatu yang paling besar kelezatan, kenikmatan dan kebahagiaannya bagi setlap hamba. Tidak ada sesuatu pun di alam semesta raya ini selain Allah yang bisa menentramkan hati, menenangkan, membahagiakan dan memberikan kenikmatan dengan menghadap kepada-Nya. Dan siapa yang menyembah kepada selain Allah, lalu mendapatkan semacam manfaat dan kenikmatan maka sungguh kemadharatan dan bahayanya lebih berlipat-lipat daripadanya, ia bahkan seperti makan-makanan yang lezat tapi beracun. Sebagaimana langit dan bumi, manakala pada keduanya terdapat tuhan lain selain Allah maka akan terjadi kerusakan, sebagaimana difirmankan Allah,

“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa.” (Al-Anbiyaa’: 22).

Maka demikian pula hati, jika di dalamnya terdapat sembahan selain Allah maka rusaklah hati itu dengan kerusakan yang tidak bakal bisa diharapkan kebaikannya, kecuali dengan mengeluarkan sembahan itu dari dalam hatinya, dan dan hanya Allah saja sebagai Tuhan dan sembahannya semata, yang ia cintai dan ia harapkan, yang ia takuti, yang kepada-Nya ia bertawakal dan kembali.

20110519-085626.jpg

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s