Permulaan terciptanya jin

Dikutip dari kitab ” Bersahabat dengan jin ” karya imam Suyuthi

Asal Usul Jin

Allah berfirman
وَالْجَآنَّ خَلَقْنَاهُ مِن قَبْلُ مِن نَّارِ السَّمُومِ

27. Dan jin pula, Kami jadikan dia sebelum itu, dari angin api samum (yang sangat panas). Al-Hijr 27

وَخَلَقَ الْجَانَّ مِن مَّارِجٍ مِّن نَّارٍ

15. Dan Ia telah menciptakan jin dari lidah api yang menjulang-julang; Ar-Rahman 15

Allah berfirman mengisahkan tentang Iblis, dalam ayat yang bermaksud ;
” Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah. ” Al-A’raf 12

Al-Qadi Abdul Jabbar berkata ” dalil tentang asal mula jin adalah api merupakan dalil yang didengar dan bukan akal. ”

[Abdul Jabbar bin Ahmad Al-Hamzani, seorang kadi dan teologi. Dia memiliki beberapa buku karangan dan termasuk golongan Muktazilah yang ekstrem setelah tahun empat ratusan. Lihat biografinya dalam Miizanul Iktidal 2/533]

Abul Wafa bin Aqil berkata dalam Al-Funun, “Ada seseorang bertanya tentang masalah jin. Katanya : Allah mengkhabarkan tentang jin itu, yang diciptakan dari api. Dia juga mengkhabarkan bahawa jilatan api tetap dapat membakar mereka. Kemudian bagaimana mungkin api dapat membakar api ?
Dia menjawab “Allah menisbatkan syaitan dan jin kepada api sebagaimana penisbatan manusia dengan tanah dan juga tanah liat. Yang dimaksudkan di sini ialah kewujudan manusia yang berasal dari tanah liat. Tapi anak keturunan Adam itu sendiri bukan berupa tanah liat menurut hakikatnya, tetapi dahulu dia berasal dari tanah liat. Begitu juga jin yang dahulunya berasal dari api. Dalilnya adalah sabda Nabi

عَرَضَ لِي الشَّيْطَانُ فِي صَلَاتِي فَخَنَقْتُهُ فَرَأَيْتُهُ بَرْدَ رَيْقِهِ فِي يَدَيَّ

” Syaitan nampak di hadapanku ketika aku sedang solat, kemudian aku mencekiknya, hingga tanganku dapat merasakan ludahnya yang dingin. ”

Ditakhrij Ahmad dan Baihaqi. Lafaz hadis ini dari Abu Ubaidah, dari Abdullah. Juga diriwayatkan dalam Bukhari dan Muslim.

Kalau memang jin itu berupa api, bagaimana mungkin ludahnya dingin? Dengan begitu dapat diketahui kebenaran pendapat kami ini.

Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasalam menyerupakan mereka dengan sumber air yang keluar ketika perigi digali. Sekiranya mereka tidak memiliki banyak bentuk yang bukan berupa api, tentunya tidak akan disebutkan beberapa rupa, dan mereka dibiarkan membara dan berbuat jahat.

Wallahua’lam

Taubat Sebagai Persinggahan Pertama dan Terakhir

Dari kitab madarijussalikin karya Ibnu Qayyim

Taubat Sebagai Persinggahan Pertama dan Terakhir

Jika seorang hamba sudah berada di persinggahan muhasabah ini secara benar, maka ada persinggahan lain, yaitu taubat. Dengan muhasabah dia bisa membedakan mana yang menjadi haknya dan mana yang menjadi
kewajibannya. Maka selanjutnya dia harus tetap membulatkan tekad dan ambisi dalam melanjutkan perjalanan menuju Allah sampai akhir hayatnya.

Taubat merupakan awal persinggahan, pertengahan dan akhirnya. Seorang hamba yang sedang mengadakan perjalanan kepada Allah tidak pernah lepas dari taubat, sampai ajal menjemputnya. Sekalipun dia beralih ke persinggahan yang lain dan melanjutkan perjalanannya, taubat selalu menyertainya. Taubat merupakan permulaan langkah hamba dan kesudahannya. Keperluannya terhadap taubat amat penting dan mendesak, tak berbeda dengan permulaannya. Allah befirman,
(yang bermaksud)
“Dan, bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kalian beruntung.” (An-Nur: 31).

Ayat ini turun di Madinah. Di sini Allah mengarahkan firman-Nya kepada orang-orang yang beriman dan orang-orang pilihan-Nya, agar mereka bertaubat, setelah mereka beriman, bersabar, berjihad dan berhijrah. Bahkan Allah mengaitkan keberuntungan dengan satu sebab, dan juga menggunakan kata “supaya”, yang mengindikasikan pengharapan. Dengan kata lain, jika kalian bertaubat, maka diharapkan kalian akan beruntung.
Sementara tidak ada yang mengharap keberuntungan kecuali orang-orang yang bertaubat. Semoga Allah menjadikan kita semua termasuk golongan mereka.

Di samping itu, Allah juga befirman tentang kebalikan dari golongan ini,

……………….
“Dan, barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.” (Al-Hujurat: 11).

Hamba dibagi menjadi orang yang bertaubat dan yang tidak bertaubat atau zhalim. Tidak ada orang ketiga setelah itu. Cap zhalim diberikan kepada orang yang tidak bertaubat dan tidak ada orang yang lebih zhalim dari dirinya, karena dia tidak tahu Allah dan hak-Nya, tidak tahu aib dirinya dan kekurangan amalnya.
Di dalam Ash-Shahih disebutkan dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda,

“Wahai sekalian manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah. Demi Allah, aku benar-benar bertaubat kepada Allah lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.”

Dalam suatu majlis sebelum beliau beranjak pergi, para shahabat pernah menghitung, beliau mengucapkan sebanyak seratus kali ucapan berikut,

“Wahai Rabbi, ampunilah dosaku dan terimalah taubatku, karena Engkaulah Maha Penerima taubat lagi Maha Pengampun.”

Karena taubat itu merupakan langkah kembalinya hamba kepada Allah dan meninggalkan jalan orang-orang yang mendapat murka lagi sesat, maka dia tidak bisa memperolehnya kecuali dengan hidayah Allah agar dia mengikuti ash-shirathul-mustaqim. Sementara hidayah-Nya tidak bisa diperoleh kecuali dengan memohon pertolongan kepada-Nya dan mengesakan-Nya. Urutan-urutan semacam ini sudah terangkum secara baik dan lengkap di dalam Al-Fatihah.

Siapa yang memberikan hak kepada Al-Fatihah sesuai dengan kapasitas ilmu, kesaksian, kondisi dan ma’-
rifahnya, tentu dia akan mengetahui, bahwa pembacaan surat Al-Fatihah ini belum dianggap sah dalam ibadah kecuali disertai taubat yang sebenar-benarnya (taubatan nashuha). Sebab hidayah yang sempurna untuk
mengikuti ash-shirathul-mustaqim tidak akan diperoleh jika tidak tahu terhadap dosa yang telah dilakukan, terlebih lagi jika dosa itu terus-menerus dilakukan. Karena itu taubat dianggap tidak sah kecuali setelah mengetahui
dosa dan mengakuinya, lalu berusaha mencari jalan keselamatan dari akibat yang akan diterima di kemudian hari.

Ada tiga syarat yang harus dipenuhi dalam taubat, yaitu penyesalan, meninggalkan dosa yang dilakukan, dan memperlihatkan kelemahan serta ketidakberdayaan.

Hakikat taubat adalah menyesali dosa-dosa yang telah dilakukan di masa lampau, membebaskan diri seketika itu pula dari dosa tersebut dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi di masa mendatang.

Tiga syarat ini harus berkumpul menjadi satu pada saat bertaubat. Pada saat itulah dia akan kembali kepada ubudiyah, dan inilah yang disebut hakikat taubat.

Menurut Abu Ismail, rahasia hakikat taubat ada tiga macam:
1. Memisahkan ketakutan dari kemuliaan.
2. Melupakan dosa dan kesalahan.
3. Taubat dari taubat.

Memisahkan ketakutan dari kemuliaan, bahwa taubat itu harus dimaksudkan sebagai wujud ketakutan kepada Allah, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya, lalu dia melaksanakan ketaatan kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah dan mengharapkan pahala-Nya. Dia jugaharus meninggalkan kedurhakaan kepada Allah berdasarkan cahaya dari- Nya, takut terhadap siksa-Nya dan tidak dimaksudkan untuk mendapatkan kemuliaan. Karena bagaimana pun juga ketaatan itu mempunyai kemuliaan dalam lahir maupun batin. Siapa yang bertaubat dengan maksud untuk mencari kemuliaan, maka taubatnya itu menjadi sia-sia.

Melupakan dosa dan kesalahan harus dirinci lebih lanjut lagi. Bahkan ada perbedaan pendapat dalam masalah ini di kalangan orang-orang yang meniti jalan kepada Allah. Di antara mereka ada yang berpendapat, sibuk mengingat dosa adalahperbuatan yang sia-sia. Mempergunakan waktu bersama Allah jauh lebih bermanfaat bagi orang yang bertaubat.
Maka ada pepatah, “Mengingat masa kemarau di musim penghujan adalah kemarau.”
Ada pula yang berpendapat, memang yang lebih tepat ialah tidak melupakan dosa itu dan dosa itu seakan-akan harus selalu hadir di depan matanya, sehingga membuat hatinya senantiasa sedih.

Yang benar dalam masalah ini, jika seorang hamba merasakan adanya ujub pada dirinya, melupakan karunia dan tidak merasa membutuhkan Allah atau tidak melihat kekurangan dirinya, maka mengingat dosa lebih
bermanfaat baginya. Namun pada saat dia melihat karunia Allah yang dilimpahkan kepadanya, hatinya dipenuhi rasa cinta kepada Allah, kerinduan untuk bersua dengan-Nya, merasakan kebersamaan dengan-Nya, melihat keluasan rahmat dan ampunan-Nya, maka melupakan dosa
dan kesalahan lebih bermanfaat baginya. Sebab jika seorang hamba terus-menerus mengingat dosa dan kesalahannya, sementara dia dalam keadaan yang kedua ini, maka dia akan turun dari tingkatan yang tinggi ke
tingkatan yang rendah, dan ini termasuk tipu daya syetan. Sebab dua keadaan ini harus dibedakan.

Sedangkan taubat dari taubat, merupakan istilah yang masih rancu, bisa berarti benar dan bisa berarti salah. Taubat termasuk kebaikan yang paling agung. Taubat dari kebaikan merupakan keburukan yang paling besar dan kesalahan yang paling buruk, bahkan bisa disebut kufur. Sebab dengan begitu tidak ada bedanya antara taubat dari taubat dan taubat dari Islam serta iman. Layakkah dikatakan taubat dari iman? Jika seorang hamba senantiasa beserta Allah, senantiasa mengingat karunia, menyebut asma’ dan sifat-sifat-Nya serta senantiasa menghadap kepada-Nya, namun dia juga masih mengingat-ingat dosanya yang telah lampau sebagai perwujudan taubat, maka dia perlu bertaubat dari taubatnya itu.

20110501-035625.jpg

Pesan berharga dari Syeikh Albani

Pesan berharga dari Syeikh Albani -rohimahulloh-
Oleh
Abu Abdillah Addariny

Bismillah, was sholatu was salamu ala rosulillah, wa ala alihi wa shohbihi waman waalaah…
Kadang “mampir” di benak kita rasa lelah, lemah, dan ”setitik” putus asa ketika melihat keadaan umat ini… Belum lagi biasanya hal itu dibumbuhi dengan sabda “Tiada hari kecuali yg setelahnya akan lebih buruk”… Nah, saat keadaan hati seperti ini -semoga tidak demikian-, maka ada baiknya kita menyimak petuah dari Sang Ahli Hadits di abad ini, Syeikh Nashiruddin al-Albani berikut ini:
“Wahai saudaraku seiman… Sungguh diharuskan atasmu untuk:
Bertakwa (takut) kepada Alloh dimanapun kamu berada.
Waspada terhadap sebab-sebab kebinasaan.
Memperingatkan kedua hal itu kepada orang yg hidup di sekitarmu; baik istri, anak, tetangga, ataupun selain mereka.
Membantu kebenaran dimanapun kamu berada.
Membantu meninggalkan kebatilan dimanapun kamu berada.
Tulus dalam menjalankan semua hal di atas, dan ketika di jalan Alloh, janganlah kamu gentar terhadap celaan orang lain.
Bawalah terus senjatamu, dan berjihadlah… Yakni mengingkari kemungkaran, dan mengajak kepada kebenaran.
Teruslah dalam keadaan berjihad, bersabar, dan menguatkan kesabaran untuk meneguhkan sesuatu yg haq dan mendakwahkannya, dengan perkataan anda yg baik dan cara penyampaian yg bagus … bukan dengan cara yg keras dan kasar.
Jadilah mujahid dalam ucapan, (amalan) jihad, dan (amalan) dakwah kepada Alloh, dengan amar ma’ruf nahi mungkar … karena dakwah kepada Alloh adalah jihad, amar ma’ruf nahi mungkar adalah jihad, dan ini merupakan senjata seorang mukmin yg bermanfaat bagi para hamba-Nya … Senjata bukanlah pedang atau senapan saja, tapi dakwah juga merupakan “senjata” yg bermanfaat bagi para hamba-Nya… (Berdakwah) dengan hikmah, perkataan yg baik, cara yg bagus, dan dengan menyertakan dalil, sebagaimana firman Alloh -Jalla wa ’Ala-:
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yg baik, serta debatlah mereka dengan cara yg lebih baik.”
Dia juga berfirman:
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحاً وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Siapakah yg lebih baik ucapannya melebihi orang yg menyeru kepada jalan Alloh dan mengerjakan kebajikan, serta mengatakan: ‘Sungguh aku termasuk orang-orang muslim (yg berserah diri)’.”
Maka janganlah anda putus asa, sungguh tidaklah pantas berputus asa … Seorang mukmin hendaknya selalu berusaha dalam kebenaran, mencarinya, mendakwahkannya, menyenanginya, dan takjub dengannya … Tidak malah mengatakan; orang ini telah teledor, semuanya telah usai (dalam takdir-Nya), dan semua orang telah rusak … Tidak, (jangan mengatakan demikian), karena di dalam masyarakat masih ada benih-benih kebaikan, masih ada orang-orang yg mencintai kebaikan, dan masih ada orang-orang yg menginginkan sesuatu yang haq … Maka seharusnya anda berpartisipasi dalam kebaikan, waspada dari yg batil, dan memperingatkan orang lain dari kebatilan … Janganlah anda putus harapan dalam usaha menegakkan kebenaran dan meruntuhkan kebatilan … (Mulailah) dari dirimu, saudara-saudaramu, negaramu, dan saudara-saudaramu seiman yg lainnya, dengan cara saling membantu dalam kebaikan dan ketakwaan, dan juga saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran.
Karena jika orang-orang (yg baik) itu putus harapan, sehingga tidak ada usaha, maka kemungkaran akan merajalela dan menyebar, sebaliknya kebaikan akan menjadi sedikit, wala haula wala quwwata illa billah … Akan tetapi selama mereka (yg baik) menyadari kewajibannya, selama mereka berusaha melawannya, tentu keburukan akan terus berkurang …
Dan tidak samar lagi apa yg ada sekarang -walhamdulillah-, banyak pergerakan Islam yg bermunculan, baik dari generasi muda maupun dari yg lainnya, dan ini merupakan kabar yg sangat baik … Tapi disana juga ada gerakan-gerakan setan, yg menyeru kepada kebejatan, maka seharusnya hal itu dilawan … Seharusnya kita mendukung yg haq dan mereka yg menegakkannya, serta berusaha untuk menghalau dan mematikan kebatilan dan mereka yg mengadakannya, (tentunya) sesuai kemampuan dan fasilitas (yg ada), dan dengan jalan saling membantu dalam kebaikan dan ketakwaan, dengan jalan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.
Begitu pula dalam masalah menasehati para penguasa, menasehati orang-orang penting negara, dan siapapun orang yg mampu untuk kamu nasehati, karena agama adalah nasehat, janganlah putus asa, dan janganlah kau katakan: perkara ini telah usai (dalam takdir-Nya) … Akan tetapi, seharusnya kamu menasehati dan mengarahkannya kepada yg baik, ingatlah firman Alloh -Jalla wa ’Ala-:
وَلا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ
“Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Alloh.”
Maka, kita wajib menasehati karena Alloh dan untuk para hamba Alloh … Alloh -Subhanahu wa Ta’ala- menerangkan sifat-sifat orang yg beruntung dan selamat dalam firman-Nya:
وَالْعَصْرِ * إِنَّ الْأِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ * إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa… sesungguhnya seluruh manusia itu benar-benar dalam kerugian… kecuali orang-orang yg beriman, beramal saleh, saling menasehati dalam kebenaran, dan saling menasehati dalam kesabaran.”
Inilah sifat-sifat orang yg beruntung … keempat hal ini merupakan pokok-pokok keselamatan … semua ini merupakan sebab-sebab kebahagiaan … dan semua ini merupakan pokok-pokok baiknya suatu masyarakat …
Masyarakat yg bisa menjalankan keempat pokok ini; beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya, beramal sholih, saling menasehati dalam kebaikan, dan saling menasehati dalam kesabaran, maka itulah masyarakat yg baik, bahagia, dan beruntung … Jika suatu masyarakat meninggalkan keempat pokok ini atau sebagiannya, maka akan datang padanya kerugian dari segala arah -wala haula wala quwwata illa billah-.
Kita memohon hidayah dan taufiq kepada Alloh untuk kaum muslimin seluruhnya … Semoga Alloh membalas kebaikan kepada orang-orang yg berjasa kepada kita … Semoga Dia memberikan manfaat kepada kita semua dari apa yg kita ketahui dan kita pelajari … Semoga Dia menganugerahi kita hati dan amal yg baik, serta petunjuk kepada jalan yg terbaik …
Aku juga memohon kepada-Nya agar menuntun para pemimpin kita menuju ridlo-Nya, menolong mereka dalam mematikan kebatilan, menampakkan yg haq, serta memperbaiki keadaan … Semoga Dia memperbaiki orang-orang dalam mereka, menuntun mereka kepada seluruh kebaikan dan menolong mereka di dalamnya, serta melindungi mereka dari segala keburukan … Sungguh Dia itu Maha Mendengar lagi Dekat … Semoga sholawat dan salam terhaturkan kepada Nabi kita Muhammad, para keluarga, dan para sahabatnya”.
[Bagi yg ingin membaca teks aslinya, silahkan merujuk ke Maktabah Syamilah, Durus Syeikh Albani, jilid 19, hal 4]

[Diambil dari http://addariny.wordpress.com/2010/08/27/pesan-berharga-dari-syeikh-albani-rohimahulloh/%5D

__._,_.___

Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Muhasabah dan Pilar-pilarnya

Dari kitab Madarijussalikin karya Ibnu Qayyim Al-Jawziah

Muhasabah dan Pilar-pilarnya

20110404-112917.jpg

Siapa pun yang mengadakan perjalanan kepada Allah tidak lepas dari empat persinggahan, yaitu al-yaqzhah, al-bashirah, al-fikrah dan alazm.

Empat persinggahan ini tak ubahnya pilar bagi suatu bangunan. Perjalanan tidak akan sampai kepada-Nya kecuali dengan melewati empat persinggahan ini, tak ubahnya perjalanan secara nyata yang harus melewati beberapa etape.

Orang yang hanya menetap di kampung halamannya, tidak berpikir untuk mengadakan perjalanan kecuali dia sadar dari kelalaiannya untuk mengadakan perjalanan. Jika sudah memiliki kesadaran, maka dia harus mengetahui segala urusan tentang perjalanannya, bahaya, manfaat dan kemaslahatannya. Kemudian dia berpikir untuk mengadakan persiapan dan mencari bekal. Kemudian dia harus memiliki tekad yang bulat. Jika tekad dan maksudnya sudah bulat, maka dia mulai beralih ke persinggahan muhasabah, atau memilah antara bagiannya dan kewajibannya. Dia boleh mengambil apa yang menjadi bagiannya dan harus melaksanakan kewajibannya. Sebab dia akan mengadakan perjalanan dan tidak akan kembali lagi.

Dari muhasabah dia beralih ke taubah. Sebab jika dia sudah menghisab dirinya, tentu dia akan mengetahui hak yang harus dia penuhi, lalu keluar untuk memberikan hak itu kepada yang berhak menerimanya.
Inilah hakikat taubat. Tetapi dengan mendahulukan muhasabah akan
menjadi lebih baik. Kalaupun mendahulukannya juga tidak apa-apa, karena muhasabah tak bisa dilakukan kecuali setelah ada taubat yang sebenarnya.

Yang pasti, taubat itu ada di antara dua muhasabah, yaitu muhasabah sebelum taubat yang hukumnya wajib dan muhasabah sesudah taubat yang
hukumnya harus tetap dijaga. Taubat akan tetap terjaga jika berada di antara dua muhasabah ini, sebagaimana yang ditunjukkan firman Allah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (Al-Hasyr: 18).

Maksud “Memperhatikan” dalam ayat ini ialah memperhatikan kelengkapan persiapan untuk menyongsong hari akhirat, mendahulukan apa yang bisa menyelamatkannya dari siksa Allah, agar wajahnya menjadi bersih di sisi Allah.

Umar bin Al-Khaththab pernah berkata, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang dan berhiaslah kalian untuk menghadapi hari penampakan yang agung.”

20110404-113139.jpg

Menurut Abu Isma’il, pengarang Manalizus-Sa’irin, ada tiga pilar yang menopang muhasabah, yaitu:

1. Membandingkan antara Nikmat Allah dan Kejahatanmu

Maksudnya, engkau harus membandingkan apa yang berasal dari Allah dan apa yang berasal dari dirimu. Dengan begitu engkau akan mengetahui letak ketimpangannya, dan engkau juga akan mengetahui bahwa di sana hanya ada ampunan dan rahmat Allah di satu sisi, dan di sisi lain adalah kehancuran dan kerusakan.

Dengan membandingkan seperti ini engkau bisa mengetahui bahwa Allah adalah Allah dalam pengertian yang sebenarnya, dan hamba adalah hamba dalam pengertian yang sebenarnya.

Engkau juga akan mengetahui hakikat jiwa dan sifat-sifatnya, keagungan Rububiyah Allah, hanya Allahlah yang memiliki kesempumaan, setiap nikmat berasal dari-Nya sebagai karunia, dan siksaan juga berasal dari-Nya yang ditimpakan secara adil. Jika engkau tidak membuat perbandingan seperti ini, tentu engkau tidak akan bisa mengetahui hakikat dirimu sendiri dan Rububiyah Pencipta jiwamu.

Jika engkau membuat perbandingan seperti ini, maka engkau akan tahu bahwa jiwamu adalah sumber segala kejahatan dan kekurangan. Sedangkan hukum yang dimilikinya adalah kebodohan dan kezhaliman. Andaikan tidak karena karunia Allah dan rahmat-Nya yang mensucikan jiwa itu, tentu ia tidak akan menjadi suci sama sekali.

Kemudian engkau juga bisa membandingkan antara kebaikan dan
keburukan. Sehingga dengan membandingkan ini engkau bisa mengetahui mana yang lebih banyak dan mana yang lebih dominan di antara keduanya. Perbandingan yang kedua ini merupakan perbandingan antara perbuatanmu dan apa yang datang dari dirimu secara khusus.

Seseorang tidak bisa membuat perbandingan ini jika dia tidak memiliki tiga indikator:

a. Cahaya hikmah
b. Buruk sangka terhadap did sendiri
c. Membedakan antara nikmat dan ujian.

Cahaya hikmah merupakan cahaya yang disusupkan Allah ke dalam hati orang-orang yang mengikuti para rasul. Dengan kata lain, cahaya hikmah adalah ilmu yang dimiliki seseorang sehingga dia bisa membedakan antara yang haq dan batil, petunjuk dan kesesatan, mudharat dan manfaat, yang sempurna dan yang kurang, yang baik dan yang buruk.

Dengan cahaya hikmah ini seseorang bisa melihat tingkatan-tingkatan amal, mana yang harus dipentingkan dan mana yang tidak dipentingkan, mana yang harus diterima dan mana yang ditolak. Jika cahaya ini kuat, maka muhasabah juga akan kuat dan sempurna.

Buruk sangka terhadap diri sendiri amat diperlukan, sebab baik sangka terhadap diri sendiri akan menghalangi koreksi dan kerancuan, sehingga dia melihat keburukan sebagai kebaikan, aib sebagai kesempumaan.

Membedakan nikmat dari ujian, artinya membedakan nikmat yang dilihatnya sebagai kebaikan dan kasih sayang Allah serta yang bisa membawanya kepada kenikmatan yang abadi, dan membedakannya dengan nikmat yang hanya sekadar sebagai tipuan. Sebab berapa banyak orang yang tertipu dengan nikmat, sementara dia tidak menyadarinya, tertipu oleh pujian orang-orang bodoh, terpedaya oleh limpahan Allah, dan justru kebanyakan manusia termasuk dalam kelompok yang kedua ini.

Tiga indikator ini merupakan tanda kebahagiaan dan keselamatan.

Jika tiga hal ini dilaksanakan secara sempurna, maka seseorang bisa mengetahui nikmat Allah yang sebenarnya. Selain itu ada ujian yang
berupa nikmat atau cobaan berupa limpahan pemberian. Maka hendaklah
setiap orang mewaspadai hal ini, sebab dia berada di antara anugerah dan hujjah, dan banyak orang yang timpang dalam membedakan dua hal ini.

20110404-113322.jpg

2. Membedakan antara Bagian dan Kewajiban

Harus ada pemilahan antara hak-hak yang harus engkau penuhi, seperti kewajiban-kewajiban ibadah, ketaatan dan menjauhi kedurhakaan, dan hak yang menjadi bagianmu. Apa yang menjadi bagianmu adalah mubah menurut ketetapan syariat, dan apa yang menjadi kewajibanmu harus
engkau penuhi dan engkau harus memberikan hak kepada siapa pun yang berhak menerimanya.

Banyak orang yang mencampur aduk antara kewajiban dan haknya, sehingga dia sendiri menjadi kebingungan antara mengerjakan dan meninggalkan.

Banyak orang yang sebenarnya dia boleh mengerjakan sesuatu namun dia justru meninggalkannya, seperti orang yang rajin beribadah dengan meninggalkan apa yang sebenarnya boleh dia kerjakan, seperti meninggalkan hal-hal yang mubah, karena dia mengira bahwa hal itu tidak boleh dia kerjakan.

Begitu pula sebaliknya, orang yang rajin beribadah dengan mengerjakan sesuatu yang sebenarnya harus dia tinggalkan, karena dia mengira hal itu merupakan haknya.

Yang pertama seperti orang yang rajin beribadah dengan tidak mau menikah, tidak mau memakan daging, buah-buah, makanan yang lezat dan pakaian yang bagus. Karena kebodohannya dia mengira bahwa semua itu merupakan larangan baginya, sehingga dia harus meninggalkannya, atau dia berpendapat bahwa dengan meninggalkannya akan membuat ibadahnya bertambah afdhal. Dalam Ash-Shahih disebutkan pengingkaran Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam terhadap beberapa shahabat yang tidak mau menikahi wanita, terus-menerus berpuasa dan shalat malam.

Yang kedua seperti orang yang rajin beribadah, namun bid’ah. Dia melihat cara ibadahnya itu benar, karena begitulah yang banyak dilakukan orang.

3. Tidak Ridha terhadap Ketaatan Yang Dilakukan

Engkau harus tahu bahwa setiap ketaatan yang engkau ridhai, akan menjadi beban dosa bagimu, dan setiap kedurhakaan yang dituduhkan saudaramu kepadamu, maka terimalah tuduhan itu dan anggaplah bahwa memang itulah yang benar. Sebab keridhaan seorang hamba terhadap ketaatan dirinya merupakan bukti baik sangka terhadap diri sendiri dan kebodohannya terhadap hak-hak ubudiyah serta tidak tahu apa yang dituntut Allah darinya, lalu akhirnya melahirkan takabur dan ujub, yang dosanya lebih besar dari dosa-dosa besar yang nyata, seperti zina, minum khamr, lari dari medan peperangan dan lain-lainnya.

Orang-orang yang memiliki bashirah justru lebih meningkatkan istighfar setelah mengerjakan berbagai macam ketaatan, karena mereka menyadari keterbatasannya dalam melaksanakan ketaatan itu dan merasa belum memenuhi hak-hak Allah sesuai dengan keagungan-Nya. Allah juga memerintahkan agar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam senantiasa memohon ampunan dalam setiap kesempatan dan sehabis melaksanakan tugas-tugas risalah atau setelah melaksanakan suatu ibadah.

Dalam surat terakhir yang diturunkan, Allah juga tetap memerintahkan beliau untuk memohon ampunan,

إِذَا جَاء نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ

وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجاً

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّاباً

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada- Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat.” (An-Nashr: 1-3).

Maka Umar bin Al-Khaththab dan Ibnu Abbas memahami turunnya surat ini sebagai isyarat telah dekatnya ajal beliau. Seakan-akan Allah hendak memberitahukan hal ini kepada beliau, dengan memerintahkan agar beliau memohon ampunan sehabis mengerjakan setiap tugas. Dengan kata lain, surat ini semacam pemberitahuan: Engkau telah rampung mengerjakan kewajibanmu dan tidak ada lagi kewajiban yang menyisa
setelah itu. Maka jadikanlah istighfar sebagai kesudahannya.

20110404-113614.jpg

PROPHET MUHAMMAD (pbuh) IN THE BIBLE

PROPHET MUHAMMAD (pbuh) IN THE BIBLE
by Dr. Zakir Naik

Prophet Muhammad (pbuh) in the Old Testament:

The Qur’an mentions in Surah Al-Araf chapter 7 verse 157:

“Those who follow the Messenger, the unlettered Prophet, whom they find mentioned in their own (scriptures) in the law and the Gospel”.

1.
MUHAMMAD (PBUH) PROPHESISED IN THE BOOK OF DEUTERONOMY:

Almighty God speaks to Moses in Book of Deuteronomy chapter 18 verse 18:

“I will raise them up a Prophet from among their brethren, like unto thee, and I will put my words in his mouth; and he shall speak unto them all that I shall command him.”

The Christians say that this prophecy refers to Jesus (pbuh) because Jesus (pbuh) was like Moses (pbuh). Moses (pbuh) was a Jew, as well as Jesus (pbuh) was a Jew. Moses (pbuh) was a Prophet and Jesus (pbuh) was also a Prophet.

If these two are the only criteria for this prophecy to be fulfilled, then all the Prophets of the Bible who came after
Moses (pbuh) such as Solomon, Isaiah, Ezekiel, Daniel, Hosea, Joel, Malachi, John the Baptist, etc. (pbut) will
fulfill this prophecy since all were Jews as well as prophets.

However, it is Prophet Muhammad (pbuh) who is like Moses (pbuh):

i)

Both had a father and a mother, while Jesus (pbuh) was born miraculously without any male intervention.

[Mathew 1:18 and Luke 1:35 and also Al-Qur’an 3:42-47]

ii)
Both were married and had children. Jesus (pbuh) according to the Bible did not marry nor had children.

iii)
Both died natural deaths. Jesus (pbuh) has been raised up alive. (4:157-158)

Muhammad (pbuh) is from among the brethren of Moses (pbuh). Arabs are brethren of Jews. Abraham (pbuh) had two sons: Ishmail and Isaac (pbut). The Arabs are the descendants of Ishmail (pbuh) and the Jews are the descendants of Isaac (pbuh).

Words in the mouth:

Prophet Muhammad (pbuh) was unlettered and whatever revelations he received from Almighty God he repeated them verbatim.

“I will raise them up a Prophet from among their brethren, like unto thee, and will put my words in his mouth; and he shall speak unto them all that I shall command him.”

[Deuteronomy 18:18]

iv)
Both besides being Prophets were also kings i.e. they could inflict capital punishment. Jesus (pbuh) said, “My kingdom is not of this world.” (John 18:36).

v)
Both were accepted as Prophets by their people in their lifetime but Jesus (pbuh) was rejected by his
people. John chapter 1 verse 11 states, “He came unto his own, but his own received him not.”

iv)
Both brought new laws and new regulations for their people. Jesus (pbuh) according to the Bible did not bring any new laws. (Mathew 5:17-18).

2.
It is Mentioned in the book of Deuteronomy chapter 18:19

“And it shall come to pass, that whosoever will not harken unto my words which he shall speak in my name, I will require it of him.”

3.
Muhammad (pbuh) is prophesised in the book of Isaiah:

It is mentioned in the book of Isaiah chapter 29 verse 12:

“And the book is delivered to him that is not learned, saying, Read this, I pray thee: and he saith, I am not learned.”

When Archangel Gabrail commanded Muhammad (pbuh) by saying Iqra – “Read”, he replied, “I am not learned”.

4.
prophet Muhammad (pbuh) mentioned by name in the old testament:

Prophet Muhammad (pbuh) is mentioned by name in the Song of Solomon chapter 5 verse 16:

“Hikko Mamittakim we kullo Muhammadim Zehdoodeh wa Zehraee Bayna Jerusalem.”

“His mouth is most sweet: yea, he is altogether lovely. This is my beloved, and this is my friend, O daughters
of Jerusalem.”

In the Hebrew language im is added for respect. Similarely im is added after the name of Prophet Muhammad
(pbuh) to make it Muhammadim. In English translation they have even translated the name of Prophet Muhammad (pbuh) as “altogether lovely”, but in the Old Testament in Hebrew, the name of Prophet Muhammad (pbuh) is yet present.

Prophet Muhammad (pbuh) in the New Testament:

Al-Qur’an Chapter 61 Verse 6:

“And remember, Jesus, the son of Mary, said, ‘O Children of Israel! I am the messenger of Allah (sent) to you, confirming the Law (which came) before me and giving glad tidings of a messenger to come after me, whose name shall be Ahmed.’ But when he came to them with clear signs, they said, ‘This is evident sorcery!’ ”

All the prophecies mentioned in the Old Testament regarding Muhammad (pbuh) besides applying to the Jews also hold good for the Christians.

1.
John chapter 14 verse 16:
“And I will pray the Father, and he shall give you another Comforter, that he may abide with you forever.”

2.
Gospel of John chapter 15 verse 26:

“But when the Comforter is come, whom I will send unto you from the Father, even the Spirit of truth, which
proceedeth from the Father, he shall testify of me.”

3.
Gospel of John chapter 16 verse 7:

“Nevertheless I tell you the truth; it is expedient for you that I go away: for if I go not away, the Comforter will not
come unto you; but if I depart, I will send him unto you”.

“Ahmed” or “Muhammad” meaning “the one who praises” or “the praised one” is almost the translation of the
Greek word Periclytos. In the Gospel of John 14:16, 15:26, and 16:7. The word ‘Comforter’ is used in the English translation for the Greek word Paracletos which means advocate or a kind friend rather than a comforter.
Paracletos is the warped reading for Periclytos. Jesus (pbuh) actually prophesised Ahmed by name. Even the
Greek word Paraclete refers to the Prophet (pbuh) who is a mercy for all creatures.

Some Christians say that the Comforter mentioned in these prophecies refers to the Holy Sprit. They fail to realise
that the prophecy clearly says that only if Jesus (pbuh) departs will the Comforter come. The Bible states that the
Holy Spirit was already present on earth before and during the time of Jesus (pbuh), in the womb of Elizabeth, and again when Jesus (pbuh) was being baptised, etc. Hence this prophecy refers to none other than Prophet
Muhammad (pbuh).

4.
Gospel of John chapter 16 verse 12-14:

“I have yet many things to say unto you, but ye cannot bear them now. Howbeit when he, the Spirit of truth is
come, he will guide you unto all truth: for he shall not speak of himself; but whatsoever he shall hear, that shall he speak: and he will shew you things to come. He shall glorify me”.

The Sprit of Truth, spoken about in this prophecy referes to none other than Prophet Muhammad (pbuh)

NOTE: All quotations of the Bible are taken from the King James Version.