Al-Fatihah yg mencakup semua urusan (2)

Dari kitab “Madarijussalikin”
Ibnu Qayyim Al-Jawziyah
Sambungan dari
Al-Fatihah yg mencakup semua urusan

Sedangkan pelaku kemungkaran disamarkan. Hal ini dapat dilihat daripada beberapa timbangan iaitu :-

1. Nikmat itu merupakan gambaran kebaikan dan kurnia , sedangkan kemurkaan berasal dari pembalasan dan pengadilan. Sementara rahmat mengalahkan kemurkaan. Tentang pengkhususan nikmat bagi orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, maka itu adalah nikmat yang mutlak yang mendatangkan keberuntungan yang abadi. Sedangkan nikmat itu secara tidak terbatas diberikan kepada orang mukmin dan orang kafir. Jadi setiap makhluk berada di dalam Nikmat Nya.

Disinilah letaknya rincian perselisihan tentang soalan ” Apakah Allah memberikannya kepada orang kafir atau tidak ? ”
Nikmat yang tidak terbatas hanya untuk orang Mukmin, manakala nikmat yang terbatas untuk orang Mukmin dan orang-orang kafir. Ini yang dimaksudkan dengan firman Allah ; (yang bermaksud)

” Dan, jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak dapat menghinggakannya. Sesungguhnya, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari ( nikmat Allah ) ” Surah Ibrahim ayat 34.

2. Allahlah satu-satunya yang memberikan nikmat, sebagaimana firman Nya ; ( yang bermaksud )

“Dan, apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka dari Allahlah (datangnya).”
(An-Nahl: 53).

Sedangkan kemurkaan kepada musuh-musuh-Nya, maka bukan Allah
saja yang murka, tapi para malaikat, nabi, rasul dan para wali-Nya juga
murka kepada musuh-musuh Allah.

3. Ditiadakannya pelaku kemurkaan menunjukkan keremehan orang yang
mendapat murka dan kehinaan keadaannya. Hal ini berbeda dengan
disebutkannya pemberi nikmat, yang menunjukkan kemuliaan orang
yang mendapat nikmat.

Perhatikanlah secara saksama rahsia penyebutan sebab dan balasan bagi
tiga golongan ini dengan lafazh yang ringkas. Pemberian nikmat kepada
mereka mencakup nikmat hidayah, berupa ilmu yang bermanfa-at dan
amal yang shalih atau petunjuk dan agama yang benar, di samping
kesempurnaan nikmat pahala. Lafazh “an’amta ‘alaihim” mencakup dua
perkara ini.
Penyebutan murka Allah terhadap orang-orang yang dimurkai, juga
mencakup dua perkara:
– Pembalasan dengan disertai kemurkaan, yang berarti ada siksa
dan pelecehan.
– Sebab yang membuat mereka mendapat murka-Nya.

Allah terlalu pengasih untuk murka tanpa ada ke jahatan dan kesesatan
yang dilakukan manusia. Seakan-akan murka Allah itu memang layak
diberikan kepada mereka karena kesesatan mereka. Penyebutan orang-orang yang sesat juga mengharuskan murka Allah dan siksa-Nya terhadap
mereka. Dengan kata lain, siapa yang sesat layak mendapat siksa, sebagai
konsekuensi dari kesesatannya.

Perhatikanlah kontradiksi antara hidayah dan nikmat dengan murka dan
kesesatan. Allah menyebutkan orang-orang yang mendapat murka dan
yang sesat pada sisi yang berseberangan dengan orang-orang yang mendapat petunjuk dan mendapat nikmat. Yang pertama seperti firman Allah (yang bermaksud )

“Dan, barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya
baginya penghidupan yang sempit”. (Thaha: 124).

Yang kedua seperti firman Allah, yang bermaksud ;

“Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Rabbnya dan
merekalah orang-orang yang beruntung.” (Al-Baqarah: 5).

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s