Bahaya Bepergian Ke Negara Kafir

Bahaya Bepergian Ke Negara Kafir

Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang telah memuliakan kita dengan Islam. Dan yang memerintahkan kita semua untuk komitmen dengan Islam hingga kita sampai ke Darussalam ( negeri keselamatan di akherat ). Dan saya bersaksi bahwasannya tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian dan Dialah Dzat yang maha mampu atas segala sesuatu. Dan saya juga bersaksi bahwasannya Muhammad adalah hamba-Nya dan Rosul-Nya. Beliau telah memperingatkan kita selaku ummatnya dari segala sesuatu yang mendatangkan madhorot (bahaya) terhadap agama kita atau yang mengancam kemuliaan agama kita, baik berupa ucapan ataupun perbuatan, agar dengan agama ini, kita menjadi mulia di dunia dan bahagia di akherat. Sholawat serta salam semoga Allah senantiasa limpahkan kepada Nabi yang mulia yang tidak meninggalkan satu kebaikan kecuali beliau telah menunjuki ummatnya pada kebaikan tersebut. Dan tidak ada kejelekan satupun kecuali beliau telah memperingatkan darinya sebagai bukti kasih sayang beliau dan sebagai bentuk nasehat beliau kepada ummat ini. Semoga Alloh membalasi untuk beliau dari Islam dan kaum muslimin berupa sebaik-baik balasan dari balasan para nabi. Amma ba’du :

Wahai segenap manusia bertaqwalah kalian kepada Allah dan jagalah agama kalian. Wahai kaum muslimin sesungguhnya kalian telah mengetahui bahwa pada masa-masa ini terdapat gelombang kekafiran, penyimpangan dan rendahnya akhlak dan jeleknya perilaku yang menimpa Negara-negara luar negeri yang kafir. Adanya kekafiran pada Negara-negara tersebut amatlah nyata dan kerusakan padanya telah merata. Berbagai macam minuman keras, zina dan adanya prinsip bebas serta berbuat sekehendaknya dan seluruh perkara yang haram, kesemuanya itu merupakan menu harian tanpa penghalang dan pembatas. Apabila keadaannya demikian dan bahkan lebih dari sekadar itu maka safar ( bepergian ) ke negara-negara yang demikian adalah sangat berbahaya bagi agama.

Sementara perkara yang paling berharga bagi seorang muslim adalah agamanya, lantas kenapa ia meski menghadapkan dirinya kepada perkara yang sangat berbahaya. Sekiranya seseorang itu memiliki harta dan ia mendengar bahwa hartanya itu terancam suatu bahaya yang bisa melenyapkan hartanya itu, maka kamu akan lihat orang itu akan berusaha dengan sangat berhati-hati untuk menjaga hartanya. Maka bagaimana bisa kalau ia melihat bahwa harta itu lebih besar di pandangan matanya sementara itu ia menganggap sepele dan remeh agamanya ?! berkata sebagian salaf : “ Apabila kamu berhadapan dengan ancaman bahaya maka dahulukan ( korbankan ) hartamu bukan dirimu. Jika masih saja ada ancaman bahaya tersebut maka dahulukan ( korbankan ) dirimu bukan agamamu. … ya, yang wajib saat itu adalah mengorbankan dirinya jangan agamanya. Untuk itulah disyariatkan jihad yang ada padanya bunuh membunuh, hal itu dalam rangka menjaga agama. Karena manusia apabila hilang agamanya maka hilanglah segala-galanya. Dan apabila ia peduli menjaga agamanya maka ia pasti diberi kebahagiaan dan kesuksesan didunia maupun akherat.

Wahai kaum muslimin. Sesungguhnya safar ke negeri kafir terkhusus dizaman ini yang penuh dengan berbagai macam fitnah adalah tidak boleh kecuali pada keadaan tertentu yang sampai pada tingkat terpaksa dengan tetap berupaya menjaga diri dan berhati-hati dan menjauhi tempat-tempat kerusakan. Sehingga sekiranya seorang muslim tinggal disana maka sekadar karena terpaksa dengan tetap ia menampakkan ( menjalankan) agamanya, tetap menjaga sholat pada waktunya dan tidak berbaur dengan masyarakat yang rusak serta pergaulan teman yang jelek. Manakala seorang muslim berupaya menjaga kemuliaan agamanya maka hal itu akan menambah kemulian bagi dirinya dan ketinggian bahkan dihadapan orang-orang kafir sekalipun. Sesungguhnya seorang muslim dalam membawa agamanya yang agung ini adalah mencakup seluruh kandungan maknanya yang baik dan perilaku yang terpuji. Benar dalam aqidah, bersih dalam keinginan, lurus jalan yang ditempuh , jujur dalam muamalah, tinggi diatas semua agama yang lain, sempurna dalam akhlak . Seorang muslim adalah seorang yang membawa agama yang sempurna yang Allah telah pilihkan untuk penduduk bumi semuanya hingga tegaknya yaumul qiyamah. Seorang muslim adalah orang yang menjadi contoh yang benar untuk kesempurnaan manusiawi. Sesungguhnya agama selain Islam adalah kerendahan dan mengembalikan manusia kepada kedudukan yang rendah dan celaka. Maka wajib bagi setiap muslim apabila terpaksa safar ke negeri-negeri kafir untuk membawa agama ini dengan sepenuh kenampuan, dan menampakkannya dengan berani dihadapan musuh-musuhnya yang mereka tidak mengerti hakekat agama ini, dengan tampilan yang sesuai sehingga iapun menjadi contoh yang baik bagi yang lainnya.

Sesungguhnya mayoritas orang yang pergi ke negeri-negeri tersebut (sangat disayangkan) justru menjadikan kesan yang jelek terhadap Islam dengan serbab perbuatan mereka dan polah tingkah mereka. Mereka menjadikan jelek dihadapan orang-orang yang tidak mengerti hakekat islam. Dan mereka menghalangi orang yang ingin mengerti dan mau masuk islam ketika melihat polah tingkah mereka yang membikin orang lari dari islam karena menyangka bahwa berarti islam identik dengan mereka ini.
Wahai kaum muslimin sesungguhnya pada negeri-negeri kafir terdapat fenomena peradaban yang palsu dan mendorong dan menyeru pada fitnah yang menipu orang-orang yang lemah iman hingga hatinya pun terdecak kagum dan menganggap besar negara-negara kafir tersebut beserta penduduknya, dan pandangannyapun menilai rendah negara-negara islam dan kaum muslimin. Karena mereka melihat sebatas penampilan luar dari fenomena yang ada, tidak lagi melihat hakekat permasalahan. Maka negara-negara kafir itu walaupun sekiranya memakai sebuah penampilan gemerlap yang berkilau yang menipu namun penduduknya adalah orang-orang yang kehilangan sesuatu yang paling mulia yaitu agama yang benar, yang dengannya akan tenang dan tentram hati mereka, bersih jiwa mereka, terjaga kehormatan dan darah mereka dan terlindungi harta mereka. Sungguh mereka telah kehilangan itu semua maka apa gunanya fenomena kemajuan peradaban yang imitasi tersebut? aqidah mereka salah dan keliru, kehormatan mereka menjadi hina keluarga-keluarga mereka berantakan lantas apa guna penampilan bangunan yang mentereng seiring dengan rusaknya jati diri mereka selaku manusia ?

Wahai kaum muslimin : sesungguhnya musuh-musuh kalian membikin rencana-rencana untuk merampas harta-harta kalian dan merusak agama kalian dan untuk bisa mengatur kalian. Allah Ta’ala berfirman :
وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ
“ Sebahagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. ( Al Baqarah : 109 )
مَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَلَا الْمُشْرِكِينَ أَنْ يُنَزَّلَ عَلَيْكُمْ مِنْ خَيْرٍ مِنْ رَبِّكُمْ
“ Orang-orang kafir dari ahli kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu. ( Al Baqarah : 105 ) (foot note : 2)
وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّىٰ يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا
“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup”. ( Al Baqarah : 217.)
وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً
“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). ( An Nisa’ : 89 )
Sesungguhnya apabila kalian bepergian kepada mereka di negara-negara mereka maka mereka semakin memiliki peluang untuk menyimpangkan kalian dan menceburkan kalian dengan berbagai cara dan perantara hingga mereka mampu mencabut agama dari diri kalian atau setidaknya melemahkan agama pada diri kalian. Sungguh mereka menyebarkan promosi seruan kepada para pemuda muslimin di berbagai mas media koran dan majalah berupa pemgumuman tentang kemudahan mengadakan tour perjalanan wisata kenegara-negara mereka. Dan mereka menyiapkan bagi para pengunjung dari kaum muslimin berbagai sajian yang menipu mereka…. Yang tujuan mereka adalah merusak para pemuda dan menenggelamkan mereka dalam lautan syahwat selayaknya hewan sehingga nantinya mereka kembali kenegeri muslim dengan membawa oleh-oleh kerusakan dan kehancuran maka orang-orang kafirpun semakin memiliki kesempatan menguasai kaum muslimin melalui tangan-tangan anak-anak muslimin sendiri. ( Na’udzubillah min dzalik)

Wahai segenap kaum muslimin, sungguh termasuk perkara yang sangat menyedihkan dimana bepergian ke Negara-negara kafir telah menjadi kebanggaan sebagian kaum muslimin yang tertipu. Maka seorang diantara mereka bangga bahwa ia akan dikirim ke amerika atau anaknya akan belajar ke amerika atau ke london atau perancis. Ia bangga hal tersebut, tanpa berfikir akibat dibelakangnya. Dan tanpa memperhatikan berbagai bahaya yang mengancamnya yang akan mengoyak agamanya. … sebagian kaum muslimin bepergian bersama keluarganya untuk tinggal disana selama musim panas atau untuk rekreasi. Tanpa memandang lagi kepada hukum syareat tentang hukum bepergian tersebut apakah boleh ataukah tidak ? kemudian apabila mereka telah pergi kesana lantas meleburlah kepribadian mereka dengan orang-orang kafir. Seperti memakai pakaiannya mereka …. kalau sedemikian itu terjadi, sehingga menyebabkan adanya perubahan gaya penampilan luar lalu (apakah merasa aman ) dengan adanya perubahan bathinnya. Sungguh seorang muslim dituntut untuk senantiasa bertaqwa kepada Allah dimana saja berada dan untuk berpegang teguh serta komitmen dengan agamanya dan tidak takut akan celaan orang yang suka mencela dikala ia berjalan diatas jalan agama Allah. Kenapa mesti merasa rendah dengan agamanya ? sementara Islam adalah agama yang penuh kemuliaan dan ketinggian didunia dan akherat.
وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ
” Padahal kemuliaan itu hanyalah milik Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.” ( QS. Al Munafiqun : 8 )
Sesungguhnya perilaku orang-orang kafir itu serta sikap mengikuti mereka adalah kehinaan, kerendahan dan kekurangan. Lantas kenapa seorang muslim mencari pengganti dan menukar suatu yang telah baik dengan sesuatu yang rendah dan jelek. Bagaimana bisa dia berganti posisi dari kemuliaan kepada kehinaan.. .. Termasuk perkara yang mengherankan adalah bahwa orang-orang kafir itu apabila datang ke negara-negara muslim mereka tidak merubah penampilan mereka dan tidak mengganti keadaan mereka, tetap sebagaimana sebelumnya. Sementara kita ( orang islam ) sebaliknya apabila kita pergi kepada mereka maka mayoritas kita berubah dari kebiasaan sebelumnya kepada kebiasaan orang kafir dalam hal berpakaian dan yang lainnya, sebagian orang beralasan bahwa kalau dia tidak demikian dia takutkan dirinya atau hartanya untuk diganggu. Ini merupakan alasan yang tidak bisa diterima. Karena kita lihat orang-orang yang tetap pada penampilan pakaian mereka semula dan menjaga kemulian agamanya merekapun tetap kembali dalam keadaan mereka penuh kemuliaan mereka tidak mendapat gangguan apapun. ( barang siapa yang bertaqwa kepada Allah maka Allah jadikan baginya solusi jalan keluar baginya). Kalau sekiranya diterima alasan tersebut yang ternyata adalah alasan dari sebagian orang tidak diperhitungkan, maka tentu tidak bisa diterima kalau dari orang yang mereka memiliki kedudukan sebagai penanggung jawab dan orang yang keberadaannya sebagai orang yang dihormati oleh negara-negara, kalau seiring dengan itu mereka tetap merubah penampilan pakaian mereka …. Sungguh itu adalah sikap taqlid buta dan sikap tidak mau peduli. Laahaula walaa quwwata illaa billahil ‘aliyyil ‘adzim.

Wahai segenap kaum muslimin : sesungguhnya bahaya bepergian ke negara-negara kafir sangat besar dan kerusakannya adalah amat banyak. Siapa yang bepergian ke negara-negara tersebut tanpa karena keadaan terpaksa hanya sekedar keinginan nafsu, sementara kecondongannya nafsu itu mengajak kepada yang jelek dan mengikuti orang yang tidak pantas untuk diikuti, maka dengan hal itu ia pantas untuk dihukum dan ditimpa musibah pada agamanya. Ada sebahagian orang mengirim anak-anaknya yang masih muda atau sebagian mereka membolehkan untuk mengirim mereka ke negara-negara kafir untuk belajar bahasa atau yang lainnya disana tanpa berfikir akibatnya dan tidak mempertimbangkan dampaknya, tanpa ada rasa takut kepada Alloh yang memberinya tanggung jawab terhadap anak-anaknya tersebut. Apabila anak-anak muda itu tetap berada dalam keadaan rawan dan bahaya disaat mereka masih tinggal di negeri-negeri kita sendiri yaitu ditengah-tengah kaum muslimin, lalu bagaimana lagi kalau mereka dikirim ke negara-negara kafir dan mereka hidup di sarang-sarang kerusakan dan komunitas kekafiran ? sungguh para pemuda dari anak-anak kita yang dikirim yang terbenam ditengah-tengah komunitas kafir untuk hidup tinggal lama bersama mereka disana, maka bisa dibayangkan bagaimana keadaan pemuda asing ditengah-tengah orang kafir ? apa yang akan tinggal dan tersisa pada dirinya dari agama dan akhlaknya ? maka bertaqwalah kalian kepada Allah tentang tanggung jawab terhadap anak-anak kalian janganlah engkau menghancurkan mereka dengan alasan mereka nanti akan belajar disana, padahal sungguh belajar itu bisa dilakukan disini dinegeri sendiri. Maka seperti bahasa bisa dipelajari disini tanpa harus berhadapan dengan bahaya.

Sementara pada bidang tertentu yang khusus maka tidak dikirim kesana kecuali orang-orang yang telah berumur dan orang yang kokoh aqidah mereka dan kuat akal mereka dengan disertai pantaun yang ketat terhadap mereka. Maka agama ini adalah perkara yang lebih pokok dari seluruh harta. maka adakah sesuatu yang tersisa setelah hilangnya agama. Bertaqwalah kepada Allah wahai segenap muslimin dan bersyukurlah atas pemberian Allah kepada kalian berupa nikmat yang paling besar yaitu nikmat Islam maka janganlah kalian menghadapkan pada sesuatu yang bisa menjadi sebab hilangnya nikmat ini. Jagalah agama kalian sehingga menjadikan terjaganya segala urusan kalian “ dan bertaqwalah kepada Allah sesungguhnya Allah maha mengetahui terhadap apa yang kalian amalkan”
Saya berlindung kepada Allah dari syaithon yang terkutuk.
وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ
“ Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim, yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (QS. Hud : 113)

( Diterjemahkan oleh Al-Ustadz Muhammad Rifai dari kumpulan khutbah Asy Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan (Al Huthob Al Mimbariyyah 2/156)
—————————————————————————————————————————————-

1) Allah Ta’ala berfirman tentang kehidupan orang-orang kafir :
وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ
“ dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. dan Jahannam adalah tempat tinggal mereka.” ( QS. Muhammad : 12 )

Dan janganlah kita tertipu dengan segala polah tingkah mereka dinegeri mereka, Allah berfirman :
لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ .مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۚ وَبِئْسَ الْمِهَادُ
Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. ( yakni kelancaran atau kemajuan peradaban dan perdagangan serta dunia mereka ) Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah seburuk-buruknya tempat. ( Ali Imran :196 – 197).

2) Allah Ta’ala berfirman
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ ۚ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. ( Ali Imran :118)

.

__,_._,___

Advertisements

Persinggahan Iyyaka Na’budu di dalam Hati Saat Mengadakan Perjalanan kepada Allah

Dari kitab Madarijussalikin karya Ibnu Qayyim Al-Jawziah

Banyak orang yang mensifati persinggahan ini dan menyebutkan bilangannya. Di antara mereka ada yang menyebutnya seribu, ada pula yang menyebutnya seratus, ada yang kurang dan ada yang lebih. Masing-masing mensifatinya menurut perjalanan yang dilakukannya.

Berikut ini akan saya sebutkan secara ringkas namun tuntas masing-masing di antara persinggahan ini.

Yang pertama adalah al-yaqzhah, artinya kegalauan hati setelah terjaga dari tidur yang lelap. Hal ini sangat penting dan membantu pembenahan perilaku. Siapa yang merasakannya, berarti dia telah merasakan satu keberuntungan. Jika tidak, berarti dia tetap dicengkeram kelalaian.

Jika sudah tersadar, dia diberi bekal hasrat untuk memulai perjalanannya dan menuju persinggahannya yang pertama dan ke tempat dimana dia ditawan.

Jika perjalanan sudah dimulai, maka hati beralih ke persinggahan Al-Azm, yaitu tekad yang bulat untuk melakukan perjalanan, siap menghadapi segala rintangan dan mencari penuntun yang dapat menghantarkan ke tujuan. Seberapa jauh seseorang memiliki kesadaran, maka sejauh itu pula tekadnya, dan seberapa jauh tekad yang dimilikinya, maka sejauh itu pula persiapan yang dilakukannya.

Jika sudah terjaga, maka dia memiliki al-fikrah, yaitu pandangan hati yang hanya tertuju ke sesuatu yang hendak dicari, sekalipun dia belum memiliki gambaran jalan yang menghantarkannya ke sana. Jika fikrah-nya sudah benar, tentu dia memiliki al-bashirah, yaitu cahaya di dalam hati untuk melihat janji dan ancaman, surga dan neraka, apa yang telah dijanjikan Allah terhadap para wali dan musuh-Nya. Dengan semua ini seakan-akan dia bisa melihat apa yang terjadi pada hari akhirat, semua orang dibangkitkan dari kuburnya, para malaikat didatangkan, para nabi, syuhada dan shalihin dihadirkan, jembatan dibentangkan, musuh-musuh dikumpulkan, api neraka dikobarkan. Di dalam hatinya seakan ada mata yang dapat melihat berbagai kejadian akhirat, dan dia juga melihat bagaimana keduniaan ini yang begitu cepat berlalu.

Al-Bashirah merupakan cahaya yang disusupkan Allah ke dalam hati, sehingga seseorang bisa melihat hakikat pengabaran para rasul, seak-anakan dia bisa melihatnya dengan mata kepala sendiri. Dengan begitu dia bisa mengambil manfaat dari seruan para rasul dan melihat adanya bahaya yang mengancamnya jika dia bertentangan dengan mereka.

Al-Bashirah itu didasarkan pada tiga derajat, siapa yang dapat menyempurnakan tiga derajat ini, berarti dia dapat menyempurnakan bashirah-nya, yaitu:

Pertama, bashirah tentang asma’ dan sifat.
Kedua, bashirah tentang perintah dan larangan.
Ketiga, bashirah tentang janji dan ancaman.

Bashirah tentang asma’ dan sifat-sifat Allah, artinya imanmu tidak dipengaruhi syubhat yang bertentangan dengan sifat-sifat yang diberikan Allah kepada Diri-Nya sendiri dan juga yang disifati Rasul-Nya. Sebab syubhat dalam hal ini sama dengan keragu-raguan tentang wujud Allah.

Tingkatan bashirah yang dimiliki masing-masing manusia berbeza-beza, tergantung dari tingkat pengetahuan mereka tentang pengabaran Nabawy dan pemahamannya serta ilmu tentang syubhat yang bertentangan dengan hakikat-hakikatnya. Orang yang paling lemah bashirah-nya adalah
para teolog batil yang biasanya suka mencela orang-orang salaf, karena mereka tidak mengetahui nash dan tidak memahaminya. Syubhat mengendap di dalam hati mereka. Orang-orang awam yang bukan termasuk orang-orang Mukmin yang sesungguhnya, justru lebih sempurna daripada para teolog itu, lebih kuat imannya, lebih mempercayai wahyu dan lebih tunduk kepada kebenaran.

Bashirah tentang perintah dan larangan artinya membebaskan hati dari penentangan karena melakukan ta’wil, taqlid atau mengikuti hawa nafsu, sehingga di dalam hatinya tidak ada syubhat yang bertentangan dengan ilmu tentang perintah dan larangan Allah, tidak pula dikuasai nafsu yang menghalanginya untuk melaksanakan perintah dan larangan itu, tidak pula mengikuti taqlid yang membuatnya merasa tidak perlu berusaha menggali hukum dari nash.

Bashirah tentang janji dan ancaman artinya engkau mempersaksikan penanganan Allah terhadap apa pun yang dilakukan setiap manusia, yang baik maupun yang buruk, di dunia maupun di akhirat. Ini merupakan konsekuensi Ilahiyah dan Rububiyah-Nya, keadilan dan hikmah-Nya.

Keraguan tentang hal ini sama dengan keraguan tentang Uluhiyah dan rububiyah-Nya, bahkan keraguan tentang wujud-Nya.

Orang yang berada di persinggahan bashirah mempunyai alternatif jalan lain, yaitu bashirah yang membebaskannya dari kebingungan.

Jika seseorang sudah sadar dan memiliki bashirah, maka dia akan mengambil maksud dan kehendak yang tulus, menghimpun maksud dan niat untuk melakukan perjalanan kepada Allah. Setelah tahu dan yakin tentang hal ini, maka dia mulai melakukan perjalanan, membawa bekal menuju hari datangnya pembalasan, membebaskan diri dari rintangan yang menghambat perjalanannya. Maksud bisa dibagi menjadi tiga tingkatan:

Pertama, maksud yang membangkitkan keteguhan dan membebaskan diri dari keragu-raguan.
Kedua, maksud yang karenanya semua rintangan akan disingkirkan dan semua penghalang akan dihadapi.
Ketiga, maksud yang mendorongnya mencari pengetahuan dan mau mendengarkan nasihat dari orang yang lebih bijaksana.

Jika maksud sudah kuat, maka ia berubah menjadi tekad yang bulat, lalu mengharuskannya memulai perjalanan sambil disertai tawakal kepada Allah. Firman-Nya, (yang bermaksud)

“Kemudian apabila kamu sudah membulatkan tekad, maka
bertawakallah kepada Allah.” (Ali Imran: 159).

Al-Azm artinya maksud yang bulat dan yang mendorong munculnya aksi. Karena itu ada yang menganggap tekad yang bulat ini merupakan permulaan aksi untuk mencari maksud dan tujuan. Pada hakikatnya tekad ini merupakan kekuatan kehendak yang sudah berhimpun untuk
mengadakan aksi.

Tekad ini ada dua macam:

Pertama, tekad orang yang hendak mengayunkan langkah melakukan perjalanan atau bisa juga disebut permulaan perjalanan.
Kedua, tekad saat berada di dalam perjalanan. Hal ini sifatnya lebih khusus lagi.

Pada etape ini seseorang perlu membedakan antara apa yang menjadi haknya dan kewajibannya, agar dia tahu apa yang memang menjadi bagiannya dan apa yang menjadi kewajibannya, yaitu muhasabah sebelum taubat. Tetapi pengarang Manazilus-Sa’irin menempatkan taubat sebelum muhasabah.
Yang perlu diketahui bahwa persinggahan ini jangan disamakan dengan persinggahan menurut kenyataan, dimana seseorang berada di satu tempat itu lalu meninggalkannya begitu saja untuk berpindah ke tempat berikutnya. Tentunya engkau juga tahu bahwa al-yaqzhah (kesedaran) harus selalu menyertai dan tidak bisa ditinggalkan, di mana pun tempatnya, begitu pula al-bashirah, al-iradah, al-azm maupun at-taubah.

Seperti wajarnya taubat yang ada di akhir, maka ia juga harus ada di permulaannya dan bahkan ia harus ada di mana-mana. Memang Allah menjadikan taubat ini sebagai bagian akhir dari keadaan hamba-hamba-Nya yang khusus, seperti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para
shahabat beliau dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Allah befirman berkaitan dengan perang Tabuk, peperangan terakhir yang mereka lakukan, dan sekaligus merupakan perjalanan yang paling berat bagi mereka,

“SesungguhnyaAllah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin
dan Anshar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati
segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima
taubat mereka itu.” (At-Taubah: 117).

20110326-032031.jpg

Tingkatan-tingkatan Iyyaka Na’budu dan Penopang Ubudiyah

Dari kitab Madarijussalikin karya Ibnu Qayyim Al-Jawziah

Ditilik dari ilmu dan amal, ubudiyah itu mempunyai beberapa tingkatan.

Ubudiyah dari sisi ilmu ada dua tingkatan: Ilmu tentang Allah dan ilmu tentang agama-Nya.

Ilmu tentang Allah ada lima macam: Ilmu tentang Dzat, sifat, perbuatan, asma’ Allah dan membebaskan-Nya dari hal-hal yang tidak sesuai dengan-Nya.

Ilmu tentang agama-Nya ada dua macam: Ilmu yang berkaitan dengan perintah dan syariat, yang sekaligus merupakan jalan lurus yang menghantarkan kepada Allah, dan ilmu yang berkaitan dengan pahala serta siksa.

Ubudiyah berkisar pada beberapa penopang. Siapa yang dapat menyempurnakan penopang-penopang ini, maka dia dapat menyempurnakan tingkatan-tingkatan ubudiyah di atas. Jelasnya, ubudiyah itu terbagi atas hati, lisan dan anggota tubuh.

Masing-masing dari tiga bagian ini mempunyai ubudiyah yang bersifat khusus. Sementara hukum-hukum ubudiyah ada lima macam: Wajib, sunat, haram, makruh dan mubah. Lima hukum ini berlaku untuk hati, lisan dan anggota tubuh.

Yang wajib bagi hati ada yang sudah disepakati kewajibannya dan ada yang diperselisihkan. Yang disepakati kewajibannya adalah: Ikhlas, tawakal, cinta, sabar, pasrah, takut, berharap, pembenaran, niat dalam
ibadah.

Yang diharamkan bagi hati adalah: Takabur, riya’, ujub, dengki, lalai dan kemunafikan. Semua ini dapat dihimpun dalam dua perkara:
Kufur dan kedurhakaan.

Kufur seperti keragu-raguan, kemunafikan, syirik dan segala cabangnya. Kedurhakaan ada dua macam, besar dan kecil.

Kedurhakaan yang besar seperti riya’, takabur, ujub, membanggakan diri, putus asa dari rahmat Allah, merasa aman dari tipu daya Allah, merasa senang melihat penderitaan orang Muslim, suka jika ada kekejian yang
menyebar di tengah orang-orang Muslim, iri terhadap karunia yang mereka terima, berharap agar karunia itu sirna dari mereka dan hal-hal lain yang sejenis. Semua ini jauh lebih diharamkan daripada pengharaman zina dan minum khamr serta dosa-dosa besar yang zhahir. Semua keburukan ini muncul karena ketidaktahuan tentang ubudiyah hati dan tidak memperhatikannya.

Tugas iyyaka na’budu dibebankan kepada hati terlebih dahulu sebelum dibebankan kepada anggota tubuh. Jika tugas ini diabaikan, maka yang muncul adalah kebalikannya.

Dosa-dosa kecil dalam hati seperti menginginkan hal yang haram dan membayangkannya. Perbedaan tingkat keinginan, tergantung pada perbedaan tingkat sesuatu yang diinginkan. Keinginan terhadap kufur dan syirik adalah kufur. Keinginan terhadap bid’ah adalah kefasikan.

Keinginan terhadap dosa besar adalah kedurhakaan. Jika seseorang meninggalkan keinginan ini karena Allah menurut kesanggupannya, maka dia mendapat pahala.

Sedangkan ubudiyah lisan ada lima macam: Yang wajib adalah mengucapkan syahadatain, membaca apa yang harus dibaca dari isi AlQur’an, seperti yang menjaga keabsahan shalat, mengucapkan dzikirdzikir yang wajib dalam shalat seperti yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya, membalas ucapan salam, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, mengajari orang yang bodoh, menunjuki orang yang sesat, memberikan kesaksian yang dibutuhkan, berkata jujur dan lain-lainnya.

Sedangkan yang sunat bagi lisan adalah membaca AlQur’an, terus-menerus menyebut asma Allah, menggali ilmu yang bermanfaat dan lain-lainnya. Sedangkan yang haram bagi lisan ialah mengucapkan perkataan apa pun yang dibenci Allah dan Rasul-Nya, menyampaikan
bid’ah yang bertentangan dengan ketetapan Allah dan Rasul-Nya, menyeru kepada bid’ah, menuduh dan mencaci orang Muslim, dusta, memberikan kesaksian palsu dan mengatakan tentang Allah tanpa didasari pengetahuan.

Sedangkan yang makruh bagi lisan ialah mengatakan sesuatu, padahal andaikata hal itu tidak dikatakan, maka akan lebih baik. Hal ini tidak mengakibatkan siksaan.

Ubudiyah yang harus dilakukan anggota tubuh ada dua puluh lima, karena indera ada lima dan masing-masing indera mempunyai lima kewajiban, yang meliputi wajib, sunat, haram, makruh dan mubah.

20110325-114025.jpg

Bangunan Iyyaka Na’budu dan Keharusan Ibadah Hingga Akhir Hayat

Dari kitab Madarijussalikin karya Ibnu Qayyim Al-Jawziah

Bangunan Iyyaka Na’budu dan Keharusan Ibadah Hingga Akhir Hayat

Iyyaka na’budu didasarkan kepada empat kaidah, yaitu mewujudkan apa yang dicintai Allah dan Rasul-Nya, berupa perkataan hati dan lisan, amal hati dan anggota badan. Ubudiyah merupakan nama yang meliputi empat tingkatan ini.

Perkataan hati merupakan keyakinan terhadap apa yang dikabarkan
Allah, tentang Diri-Nya, sifat, asma’ dan perbuatan-Nya, para malaikat,
perjumpaan dengan-Nya, yang disampaikan para rasul-Nya.

Perkataan lisan adalah pengabaran tentang keyakinan ini.

Amal hati ialah seperti cinta kepada Allah, tawakal, tunduk, takut dan berharap kepada-Nya serta hal-hal lain yang merupakan gerak hati.

Sedangkan amal anggota tubuh seperti shalat, jihad, melangkah ke masjid untuk shalat Jum’at dan jama’ah, membantu orang miskin, berbuat baik kepada sesama manusia dan lain sebagainya.

Sementara itu, keharusan melaksanakan iyyaka na’budu berlaku hingga akhir hayat. Allah befirman,

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Dan, sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (Al-Hijr. 99).

Di dalam Ash-Shahih juga disebutkan tentang kisah kematian Utsman bin Mazh’un, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Telah datang kepada Utsman ajal dari Rabbnya.”

Hamba tidak terbebas dari ibadah selagi dia berada di dunia. Bahkan di alam Barzakh pun dia tetap memiliki bentuk ibadah tersendiri tatkala dua malaikat bertanya kepadanya, “Siapakah yang disembah dan apakah yang dia katakan tentang Rasulullah?” Maka kedua malaikat
menunggu jawaban yang akan keluar dari hamba itu.

Bahkan pada hari kiamat pun masih ada ibadah yang dilakukan, yaitu saat Allah menyeru semua makhluk untuk sujud. Maka orang-orang Mukmin sujud, sedangkan orang-orang kafir dan munafik tidak bisa sujud. Jika sudah masuk surga
atau neraka, maka tidak ada lagi kewajiban, selain dari tasbih yang
dilakukan para penghuni surga.

Siapa yang berpendapat bahwa dia sudah mencapai suaru tingkatan yang membuatnya terbebas dari ibadah adalah orang zindiq yang kafir kepada Allah dan Rasul-Nya.1 Padahal orang yang mencapai sekian banyak tingkatan ibadah, justru ibadahnya semakin besar dan kewajibannya lebih banyak daripada yang lain, seperti kewajiban para rasul yang lebih banyak dan lebih berat.
——-

1 Mereka adalah orang-orang sufi, yang menganggap sesembahannya adalah hakikat alam yang pertama dan inti yang menjadi sumber kejadian segala sesuatu. Para rasul menurut pendapat mereka adalah orang-orang yang tidak mengetahui hakikat ini. Karena itu para rasul tetap bcribadah kepada Allah dan mengajak manusia untuk beribadah, mengikuti syariat dan hukum-hukum-Nya. Sedangkan orang sufi yang sudah mencapai tingkatan ma’rifat adalah yang mengetahui hakikat ini dan juga mengetahui bahwa hamba adalah sesembahan, karena di dalam dirinya ada inti kejadian. Mereka menafsiri “Yang diyakini” (dalam surat Al-Hijr: 99) seperti anggapan mereka ini. Dengan pengertian, sembahlah Allah hingga engkau mencapai hakikat ini. Jika engkau sudah mencapai
tingkatan ma’rifat, maka tiada lagi kewajiban atas dirimu, tidak ada batasan wajib dan haram. Di antara propagandis pendapat ini adalah Ibnu Araby.

Tauhid

Kitab Tauhid 1
oleh: Dr.Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al fauzan
Pertama: Makna Syahadatain

A. Makna Syahadat “La ilaaha illallah”

Yaitu beri’tikad dan berikrar bahwasanya tidak ada yang berhak disembah dan menerima ibadah kecuali Allah Subhannahu wa Ta’ala , menta’ati hal tersebut dan mengamalkannya. La ilaaha menafikan hak penyembahan dari selain Allah, siapa pun orangnya. Illallah adalah penetapan hak Allah semata untuk disembah. Jadi makna kalimat ini secara ijmal (global) adalah, “Tidak ada sesembahan yang hak selain Allah”.

Khabar “َLa” harus ditaqdirkan “al haq” (yang hak), tidak boleh ditaqdirkan dengan “maujud” (ada). Karena ini menyalahi kenyataan yang ada, sebab tuhan yang disembah selain Allah banyak sekali. Hal itu akan berarti bahwa menyembah tuhan-tuhan tersebut adalah ibadah pula untuk Allah. Ini Tentu kebatilan yang nyata.

Kalimat “La ilaaha illallah” telah ditafsiri dengan beberapa penafsiran yang batil, antara lain:
a. “Tidak ada sesembahan kecuali Allah” Ini adalah batil, karena maknanya: Sesungguhnya setiap yang disembah, baik yang hak maupun yang batil, itu adalah Allah.
b. “Tidak ada pencipta selain Allah”
Ini adalah sebagian dari arti kalimat tersebut. Akan tetapi bukan ini yang dimaksud, karena arti ini hanya mengakui tauhid rububiyah saja, dan itu belum cukup.
c. “Tidak ada hakim (penentu hukum) selain Allah”
Ini juga sebagian dari makna tapi bukan itu yang dimaksud, karena makna tersebut belum cukup Semua tafsiran di atas adalah batil atau kurang. Kami peringatkan di sini karena tafsir-tafsir itu ada dalam kitab-kitab yang banyak beredar.

Sedangkan tafsir yang benar menurut salaf dan para muhaqqiq (ulama peneliti) adl “tidak ada sesembahan yang hak selain Allah” seperti tersebut di atas.

20110324-125435.jpg

B. Makna Syahadat “Anna Muhammadarrasulullah”

Yaitu mengakui secara lahir batin bahwa beliau adalah hamba Allah dan RasulNya yang diutus kepada manusia secara keseluruhan, serta mengamalkan konsekuensinya: menta’ati perintahnya, membenarkan ucapannya, menjauhi larangannya, dan tidak menyembah Allah kecuali dengan apa yang disyari’atkan.

Kedua: Rukun Syahadatain

A. Rukun “Laa ilaaha illallah” ada dua:

An-Nafyu (peniadaan):
membatalkan syirik dengan segala bentuknya dan mewajibkan kekafiran terhadap segala apa yang disembah selain Allah.

Al-Itsbat (penetapan):
menetapkan bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah dan mewajibkan pengamalan sesuai dengan konsekuensinya.

Makna dua rukun ini banyak disebut dalam ayat Al-Qur’an, seperti firman Allah Subhannahu wa Ta’ala:

“Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beri-man kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepa-da buhul tali yang amat kuat …” (Al-Baqarah: 256)

Firman Allah, “siapa yang ingkar kepada thaghut” itu adalah makna dari rukun yang pertama. Sedangkan firman Allah, “dan beriman kepada Allah” adalah makna dari rukun kedua.

Begitu pula firman Allah Subhannahu wa Ta’ala kepada Nabi Ibrahim Alaihissalam : “Sesungguhnya aku berlepas diri terhadap apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyembah) Tuhan yang menjadikanku …”. (Az-Zukhruf: 26-27)

Firman Allah Subhannahu wa Ta’ala, “Sesungguhnya aku berlepas diri” ini adalah makna nafyu (peniadaan) dalam rukun pertama. Sedangkan perkataan, “Tetapi (aku menyembah) Tuhan yang menjadikanku”, adalah makna itsbat (penetapan) pada rukun kedua.

B. Rukun Syahadat Muhammadarrasulullah

Syahadat ini juga mempunyai dua rukun, yaitu kalimat hamba dan utusanNya. Dua rukun ini menafikan ifrath (berlebih-lebihan) dan tafrith (meremehkan) pada hak Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam.

Beliau adalah hamba dan rasulNya. Beliau adalah makhluk yang paling sempurna dalam dua sifat yang mulia ini.

“Al-‘abdu” di sini artinya hamba yang menyembah. Maksudnya, beliau adalah manusia yang diciptakan dari bahan yang sama dengan bahan ciptaan manusia lainnya. Juga berlaku atasnya apa yang berlaku atas orang lain. Sebagaimana firman Allah Subhannahu wa Ta’ala:

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, …’.” (Al-Kahfi: 110)

Beliau hanya memberikan hak ubudiyah kepada Allah dengan sebenar-benarnya, dan karenanya Allah Subhannahu wa Ta’ala memujinya:

“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hambaNya.” (Az-Zumar: 36)

“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al-Kitab (Al-Qur’an) …” (Al-Kahfi: 1)

“Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hambaNya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram …” (Al-Isra’: 1)

Sedangkan rasul artinya, orang yang diutus kepada seluruh manusia dengan misi dakwah kepada Allah sebagai basyir (pemberi kabar gembira) dan nadzir (pemberi peringatan). Persaksian untuk Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam dengan dua sifat ini meniadakan ifrath dan tafrith pada hak Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam .

Karena banyak orang yang mengaku umatnya lalu melebihkan haknya atau mengkultuskannya hingga mengangkatnya di atas martabat sebagai hamba hingga kepada martabat ibadah (penyembahan) untuknya selain dari Allah Subhannahu wa Ta’ala.

Mereka ber-istighatsah (minta pertolongan) kepada beliau, dari selain Allah. Juga meminta kepada beliau apa yang tidak sanggup melakukannya selain Allah, seperti memenuhi hajat dan menghilangkan kesulitan.

Tetapi di pihak lain sebagian orang mengingkari kerasulannya atau mengurangi haknya, sehingga ia bergantung kepada pendapat-pendapat yang menyalahi ajarannya, serta memaksakan diri dalam mena’wil-kan hadits-hadits dan hukum-hukumnya.

Ketiga: Syarat-Syarat Syahadatain

A. Syarat-syarat “La ilaa ha illallah”

Bersaksi dengan laa ilaaha illallah harus dengan tujuh syarat. Tanpa syarat-syarat itu syahadat tidak akan bermanfaat bagi yang mengucapkannya. Secara global tujuh syarat itu adalah:
1. ‘Ilmu, yang menafikan jahl (kebodohan). 2. Yaqin (yakin), yang menafikan syak (keraguan).
3. Qabul (menerima), yang menafikan radd (penolakan).
4. Inqiyad (patuh), yang menafikan tark (meninggalkan).
5. Ikhlash, yang menafikan syirik.
6. Shidq (jujur), yang menafikan kadzib (dusta).
7. Mahabbah (kecintaan), yang menafikan baghdha’ (kebencian).

Adapun rinciannya adalah sebagai berikut:

Syarat Pertama: ‘Ilmu (Mengetahui).
Artinya memahami makna dan maksudnya. Mengetahui apa yang ditiadakan dan apa yang ditetapkan, yang menafikan ketidaktahuannya dengan hal tersebut. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:
“… akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa`at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini (nya). (Az-Zukhruf: 86)
Maksudnya orang yang bersaksi dengan laa ilaaha illallah, dan memahami dengan hatinya apa yang diikrarkan oleh lisannya. Seandainya ia mengucapkannya, tetapi tidak mengerti apa maknanya, maka persaksian itu tidak sah dan tidak berguna.

Syarat kedua: Yaqin (yakin).
Orang yang mengikrarkannya harus meyakini kandungan syahadat itu. Manakala ia meragukannya maka sia-sia belaka persaksian itu. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya kemudian mereka tidak ragu-ragu …” (Al-Hujurat: 15)
Kalau ia ragu maka ia menjadi munafik. Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: “Siapa yang engkau temui di balik tembok (kebon) ini, yang menyaksikan bahwa tiada ilah selain Allah dengan hati yang meyakininya, maka berilah kabar gembira dengan (balasan) Surga.” (HR. Al-Bukhari)
Maka siapa yang hatinya tidak meyakininya, ia tidak berhak masuk Surga.

Syarat Ketiga: Qabul (menerima). Menerima kandungan dan konsekuensi dari syahadat; menyembah Allah semata dan meninggalkan ibadah kepada selainNya. Siapa yang mengucapkan, tetapi tidak menerima dan menta’ati, maka ia termasuk orang-orang yang difirmankan Allah:
“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: ‘Laa ilaaha illallah’ (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri. dan mereka berkata: “Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?” (Ash-Shafat: 35-36)

Ini seperti halnya penyembah kuburan dewasa ini. Mereka mengikrarkan laa ilaaha illallah, tetapi tidak mau meninggalkan penyembahan terhadap kuburan. Dengan demikian berarti mereka belum menerima makna laa ilaaha illallah.

Syarat keempat: Inqiyaad (Tunduk dan Patuh dengan kandungan Makna Syahadat). Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh.” (Luqman: 22)

Al-‘Urwatul-wutsqa adalah laa ilaaha illallah. Dan makna yuslim wajhahu adalah yanqadu (patuh, pasrah).

Syarat Kelima: Shidq (jujur).
Yaitu mengucapkan kalimat ini dan hatinya juga membenarkannya. Manakala lisannya mengucapkan, tetapi hatinya mendustakan, maka ia adalah munafik dan pendusta. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Di antara manusia ada yang mengatakan: ‘Kami beriman kepa-da Allah dan Hari kemudian’, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (Al-Baqarah: 8-10)

Syarat keenam: Ikhlas.
Yaitu membersihkan amal dari segala debu-debu syirik, dengan jalan tidak mengucapkannya karena mengingkari isi dunia, riya’ atau sum’ah. Dalam hadits ‘Itban, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah mengharamkan atas Neraka orang yang mengucapkan laa ilaaha illalah karena menginginkan ridha Allah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Syarat ketujuh: Mahabbah (kecintaan). Maksudnya mencintai kalimat ini serta isinya, juga mencintai orang-orang yang mengamalkan konsekuensinya. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaima-na mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165)

Maka ahli tauhid mencintai Allah dengan cinta yang tulus bersih. Sedangkan ahli syirik mencintai Allah dan mencintai yang lainnya. Hal ini sangat bertentangan dengan isi kandungan laa ilaaha illallah.

B. Syarat Syahadat “Muhammadanrasulullah”

Mengakui kerasulannya dan meyakininya di dalam hati. Mengucapkan dan mengikrarkan dengan lisan. Mengikutinya dengan mengamalkan ajaran kebenaran yang telah dibawanya serta meninggalkan kebatilan yang telah dicegahnya.

Membenarkan segala apa yang dikabarkan dari hal-hal yang ghaib, baik yang sudah lewat maupun yang akan datang.

Mencintainya melebihi cintanya kepada dirinya sendiri, harta, anak, orangtua serta seluruh umat manusia.

Mendahulukan sabdanya atas segala pendapat dan ucapan orang lain serta mengamalkan sunnahnya.

Keempat: Konskuensi Syahadatain

A. Konsekuensi “La ilaa ha illallah”

Yaitu meninggalkan ibadah kepada selain Allah dari segala macam yang dipertuhankan sebagai keharusan dari peniadaan laa ilaaha illallah. Dan beribadah kepada Allah semata tanpa syirik sedikit pun, sebagai keharusan dari penetapan illallah.

Banyak orang yang mengikrarkan tetapi melanggar konsekuensinya. Sehingga mereka menetapkan ketuhanan yang sudah dinafikan, baik berupa para makhluk, kuburan, pepohonan, bebatuan serta para thaghut lainnya. Mereka berkeyakinan bahwa tauhid adalah bid’ah.

Mereka menolak para da’i yang mengajak kepada tauhid dan mencela orang yang beribadah hanya kepada Allah semata.

B. Konsekuensi SyahadaT “Muhammadanrasulllah” Yaitu mentaatinya, membenarkannya, meninggalkan apa yang di-larangnya, mencukupkan diri dengan mengamalkan sunnahnya, dan meninggalkan yang lain dari hal-hal bid’ah dan muhdatsat (baru), serta mendahulukan sabdanya di atas segala pendapat orang.

Kelima: Yang Membatalkan Syahadatain

Yaitu hal-hal yang membatalkan Islam, karena dua kalimat syahadat itulah yang membuat seseorang masuk dalam Islam.

Mengucapkan keduanya adalah pengakuan terhadap kandungannya dan konsisten mengamalkan konsekuensinya berupa segala macam syi’ar-syi’ar Islam. Jika ia menyalahi ketentuan ini, berarti ia telah membatalkan perjanjian yang telah diikrarkannya ketika mengucapkan dua kalimat syahadat tersebut. Yang membatalkan Islam itu banyak sekali. Para fuqaha’ dalam kitab-kitab fiqih telah menulis bab khusus yang diberi judul “Bab Riddah (kemurtadan)”. Dan yang terpenting adalah sepuluh hal, yaitu:

1. Syirik dalam beribadah kepada Allah. Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakiNya.” (An-Nisa’: 48) “…

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya Surga, dan tempatnya ialah Neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” (Al-Ma’idah: 72)

Termasuk di dalamnya yaitu menyembelih karena selain Allah, misalnya untuk kuburan yang dikeramatkan atau untuk jin dan lain-lain.

2. Orang yang menjadikan antara dia dan Allah perantara-perantara. Ia berdo’a kepada mereka, meminta syafa’at kepada mereka dan bertawakkal kepada mereka. Orang seperti ini kafir secara ijma’.

3. Orang yang tidak mau mengkafirkan orang-orang musyrik dan orang yang masih ragu terhadap kekufuran mereka atau membenarkan madzhab mereka, dia itu kafir.

4. Orang yang meyakini bahwa selain petunjuk Nabi lebih sempurna dari petunjuk beliau, atau hukum yang lain lebih baik dari hukum beliau. Seperti orang-orang yang mengutamakan hukum para thaghut di atas hukum Rasulullah, mengutamakan hukum atau perundang-undangan manusia di atas hukum Islam, maka dia kafir.

5. Siapa yang membenci sesuatu dari ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam sekali pun ia juga mengamalkannya, maka ia kafir.

6. Siapa yang menghina sesuatu dari agama Rasul Shallallaahu alaihi wa Salam atau pahala maupun siksanya, maka ia kafir. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah Subhannahu wa Ta’ala :

“Katakanlah: ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’ Tidak usah kamu minta ma`af, karena kamu kafir sesudah beriman.” (At-Taubah: 65-66)

7. Sihir, di antaranya sharf dan ‘athf (barangkali yang dimaksud adalah amalan yang bisa membuat suami benci kepada istrinya atau membuat wanita cinta kepadanya/pelet). Barangsiapa melakukan atau meridhainya, maka ia kafir. Dalilnya adalah firman Allah Subhannahu wa Ta’ala

“… sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada se-orangpun sebelum mengatakan: ‘Sesungguhnya kami hanya co-baan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir’.” (Al-Baqarah: 102)

8. Mendukung kaum musyrikin dan menolong mereka dalam memusuhi umat Islam.

Dalilnya adalah firman Allah Subhannahu wa Ta’ala : “Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.” (Al-Ma’idah: 51)

9. Siapa yang meyakini bahwa sebagian manusia ada yang boleh keluar dari syari’at Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam , seperti halnya Nabi Hidhir boleh keluar dari syariat Nabi Musa Alaihissalam , maka ia kafir. Sebagaimana yang diyakini oleh ghulat sufiyah (sufi yang berlebihan/ melampaui batas) bahwa mereka dapat mencapai suatu derajat atau tingkatan yang tidak memerlukan untuk mengikuti ajaran Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam .

10. Berpaling dari agama Allah, tidak mempelajarinya dan tidak pula mengamalkannya. Dalilnya adalah firman Allah Subhannahu wa Ta’ala :

“Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.” (As-Sajadah: 22)

Syaikh Muhammad At-Tamimy berkata: “Tidak ada bedanya dalam hal yang membatalkan syahadat ini antara orang yang bercanda, yang serius (bersungguh-sungguh) maupun yang takut, kecuali orang yang dipaksa. Dan semuanya adalah bahaya yang paling besar serta yang paling sering terjadi. Maka setiap muslim wajib berhati-hati dan mengkhawatirkan dirinya serta mohon perlindungan kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala dari hal-hal yang bisa mendatangkan murka Allah dan siksaNya yang pedih.”[1]
[1] Majmu’ah At-Tauhid An-Najdiyah, hal. 37-39.

20110324-125330.jpg

Pembagian Manusia Berdasarkan Kandungan Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in

Dari kitab Madarijussalikin karya Ibnu Qayyim Al-Jawziah

Pembagian Manusia Berdasarkan Kandungan Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in

Jika sudah mengetahui secara jelas masalah ini, maka berdasarkan dua dasar (Ibadah dan isti’anah) manusia dapat dibagi menjadi empat golongan:

1. Ahli ibadah dan isti’anah kepada Allah. Mereka merupakan golongan yang paling mulia dan paling tinggi.

Ibadah kepada Allah merupakan tujuan mereka, dan mereka pun memohon agar Allah menolong dan memberikan taufik, sehingga mereka dapat melaksanakan ibadah itu.

Karena itu permohonan paling utama yang disampaikan kepada Allah ialah pertolongan menurut keridhaan-Nya, seperti yang diajarkan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada orang yang beliau cintai, Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu Anhu. Beliau bersabda,

“Wahai Mu’adz, demi Allah, aku benar-benar mencintaimu. Maka janganlah engkau lalai untuk mengucapkan selesai setiap shalat, ‘Ya Allah, tolonglah aku untuk menyebut nama-Mu, bersyukur dan beribadah secara baik kepada-Mu’.”

20110322-080646.jpg

2. Orang-orang yang tidak mau beribadah dan tidak mau memohon pertolongan kepada-Nya. Mereka tidak mengenal ibadah dan isti’anah. Ini kebalikan dari golongan yang pertama. Bahkan jika salah seorang di antara mereka memohon kepada-Nya, maka hal itu dimaksudkan untuk memuaskan nafsunya, bukan berdasarkan keridhaan dan hak-Nya.

Semua yang ada di langit dan di bumi memohon kepada-Nya. Bahkan makhluk yang paling dibenci Allah dan musuh-Nya, Iblis, masih sempat memohon kepada Allah dan Allah pun memenuhinya. Tapi karena apa yang dimohon itu bukan untuk mendapatkan keridhaan-Nya, maka ia semakin menambah penderitaan, kesengsaraan dan dia semakin jauh dari Allah. Begitulah keadaan setiap orang yang memohon pertolongan kepada Allah, namun tidak dimaksudkan untuk menambah ketaatan kepada-Nya, sehingga dia menjadi budak dari apa yang dimintanya.

Hendaklah diketahui, bahwa kalaupun Allah memenuhi permintaan orang yang meminta kepada-Nya, bukan karena ada kemuliaan pada diri orang yang meminta itu. Hamba meminta kepada-Nya dan Allah memenuhinya, padahal permintaannya itu boleh jadi menjadi sumber kehancuran dan penderitaannya, sehingga pemenuhan Allah ini justru menjadi kehinaan baginya. Sebaliknya, tidak adanya pemenuhan Allah atas permintaan hamba justru merupakan kemuliaan dan gambaran cinta Allah kepadanya, perlindungan dan penjagaan Allah baginya dan bukan merupakan gambaran kekikiran Allah. Tapi orang yang bodoh akan mengira bahwa Allah tidak mencintai dan tidak pula memuliakannya, sehingga dia berburuk sangka terhadap Allah. Pemberian dan pencegahan Allah merupakan ujian. Firman-Nya, (yang bermaksud)

“Adapun manusia, apabila Rabbnya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberikan-Nya kesenangan, maka dia berkata, ‘Rabbku telah memuliakanku’.
Adapun bila Rabbnya mengujinya lalu membatasi rezkinya, maka dia berkata, ‘Rabbku menghinakanku’. Sekali-kali tidak (demikian).”(Al-Fajr: 15-16).

Allah menyanggah dugaan orang, bahwa keluasan rezki yang dilimpahkan-Nya merupakan kemuliaan dari-Nya, sedangkan kemiskinan merupakan kehinaan dari-Nya, dengan befirman, “Aku tidak menguji hamba-Ku dengan kekayaan karena dia mulia di Mata-Ku. Aku tidak mengujinya dengan kemiskinan karena dia hina di Mata-Ku.”

Dia memberitahukan bahwa kemuliaan dan kehinaan tidak berkisar pada keluasan harta dan pembatasannya. Oleh itu, Allah menghamparkan harta seluas-luasnya kepada orang kafir, bukan karena dia mulia, dan membatasi harta pada orang Mukmin, bukan karena dia hina. Segala puji bagi Allah atas semua ini, dan Dia Mahakaya lagi Maha Terpuji. Jadi kebahagiaan dunia dan akhirat tetap kembali kepada iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in.

3. Golongan orang yang memiliki sebagian ibadah tanpa menghendaki isti’anah.
Mereka ada dua kelompok: Pertama, golongan Qadariyah yang berpendapat bahwa Allah telah melakukan apa yang ditetapkan-Nya pada hamba dan Dia tidak perlu lagi memberikan pertolongan kepada hamba, karena Allah telah menolongnya dengan mencipta-kan alat baginya, memperkenalkan jalan dan mengutus para rasul. Sehingga
setelah adanya pertolongan ini, hamba tidak perlu lagi memo-hon kepada-Nya. Kedua, golongan yang beribadah namun tidak total dalam tawakal dan memohon pertolongan kepada-Nya. Pandangan mereka tidak mengaitkan orang yang bergerak kepada siapa yang menggerakkan, tidak mengaitkan sebab kepada pembuat sebab, tidak mengaitkan alat kepada pelaku.

20110322-081947.jpg

4. Golongan yang mempersaksikan bahwa hanya Allahlah satu-satunya yang memberikan manfaat dan mudharat.
Apa pun yang dikehendaki-Nya pasti akan terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi, namun mereka tidak berbuat apa yang dicintai dan diridhai-Nya.

Seorang hamba tidak bisa mewujudkan iyyaka na’budu kecuali dengan dua dasar: Mengikuti Rasulullah dan ikhlas terhadap Allah yang disembah.

Ditilik dari dua dasar ini, maka manusia bisa dibagi menjadi empat golongan:

1. Orang-orang yang ikhlas karena Allah dan mengikuti Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Merekalah yang benar-benar menghayati iyyaka na’budu. Semua perkataan dan perbuatan mereka karena Allah, memberi karena Allah, menahan karena Allah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah.
Mu’amalah mereka secara lahir dan batin karena mengharap Wajah Allah semata, tidak dimaksudkan untuk mencari imbalan, pujian, pengaruh, kedudukan dan simpati di hati manusia atau pun menghindari celaan manusia. Bahkan mereka menganggap semua manusia tak ubahnya mayat yang sudah mati, tidak bisa memberi Perbuatan yang dimaksudkan untuk mendapatkan kedudukan, mengatur manfaat dan mudharat, sama sekali tidak mereka kenal.

Maka Al-Fadhl bin Iyadh pernah berkata, “Amal yang baik ialah yang paling ikhlas dan paling benar.” Orang-orang bertanya, “Wahai Abu Ali, apa yang dimaksudkan paling ikhlas dan paling benar itu?”
Dia menjawab, “Jika amal itu ikhlas namun tidak benar, maka ia tidak diterima. Jika amal itu benar namun tidak ikhlas, maka ia tidak diterima pula, hingga ia ikhlas dan benar. Ikhlas artinya karena Allah. Benar artinya berdasarkan As-Sunnah. Inilah yang dimaksudkan dalam firman Allah,

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (Al-Kahfi: 110).

2. Orang yang tidak ikhlas dan tidak mengikuti As-Sunnah. Amalnya tidak sejalan dengan syariat dan tidak pula ikhlas terhadap Allah yang disembah, seperti perbuatan orang-orang yang ingin pamer di hadapan manusia. Mereka adalah orang-orang yang paling buruk dan paling dibenci Allah. Mereka inilah yang digambarkan dalam firman Allah,

“Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan, janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka
siksa yang pedih.” (Ali Imran: 188).

3. Ikhlas dalam amalnya namun tidak mengikuti perintah dan As-Sunnah, seperti yang dilakukan para ahli ibadah yang bodoh, mereka yang cenderung kepada zuhud dan hidup miskin, orang-orang yang beribadah kepada Allah dengan cara yang tidak sesuai dengan perintah- Nya.

4. Amalnya sesuai dengan perintah dan As-Sunnah, tetapi untuk tujuan selain Allah, seperti orang yang berjihad karena riya’ dan memamerkan patriotismenya, menunaikan haji agar dia dipuji atau membaca Al-Qur’an agar disanjung. Amal mereka secara zhahir sesuai dengan perintah, tetapi tidak shalih.

20110322-113245.jpg

Orang-orang yang mengamalkan iyyaka na’budu secara konsisten memiliki sisi pandang yang berbeda tentang ibadah yang paling utama, paling bermanfaat, paling layak untuk diprioritaskan. Dalam hal ini mereka ada empat pendapat:

1. Orang-orang yang menganggap ibadah yang paling baik dan utama adalah yang paling sulit dan berat, karena ibadah semacam ini adalah yang paling jauh dari hawa nafsu.

Sementara menurut mereka, pahala juga diukur dari kadar kesulitan ibadah. Mereka berpendapat kepada hadits yang sama sekali tidak ada dasarnya, “Amal yang paling utama adalah yang paling sulit atau berat.”

Mereka adalah orang-orang yang memang rajin beribadah, namun bertindak semena-mena terhadap diri sendiri. Orang-orang yang menganggap ibadah paling utama adalah zuhud di dunia, meminimkan andil dalam keduniaan dan tidak peduli terhadap kehidupan dunia.

2. Orang-orang yang menganggap ibadah paling utama adalah yang manfaatnya merambah secara luas. Menurut mereka, menyantuni orang-orang miskin, memenuhi keperluan orang banyak, membantu mereka dengan tenaga dan harta adalah ibadah yang paling utama. Mereka
beralasan bahwa amal ahli ibadah hanya bagi dirinya sendiri, sedangkan amal orang yang bisa memberi manfaat kepada orang lain bisa dirasakan orang banyak, karena itu kelebihan orang yang berilmu atas ahli ibadah seperti kelebihan rembulan atas seluruh bintang-gemintang.
Mereka juga berhujjah dengan hadits-hadits tentang pahala yang diberikan kepada pelaku kebaikan dan dia juga mendapatkan pahala orang-orang yang mengikuti kebaikan yang dilakukannya itu.

3. Orang-orang yang menganggap ibadah paling utama adalah amal yang dilakukan untuk mendapatkan ridha Allah, sesuai dengan timingnya dan tugas yang memang harus dilaksanakannya. Ibadah yang paling utama pada waktu jihad adalah berjihad, sekalipun harus meninggalkan shalat malam dan puasa, bahkan sekalipun dia harus meninggalkan shalat fardhu karena kondisi perang. Ibadah yang paling utama sewaktu ada tamu yang datang ialah memenuhi hak-hak tamu. Ibadah yang paling utama pada waktu sahur adalah mengerjakan shalat, membaca Al-Qur’an, berdoa dan berdzikir. Begitu pula setiap ibadah yang disesuaikan dengan situasi dan kondisinya, maka itulah ibadah yang paling utama.

20110322-014456.jpg

4. Golongan yang keempat ini adalah ahli ibadah yang tak mengenal batasan, sedangkan tiga golongan lain sebelumnya adalah ahli ibadah yang terbatas. Jika salah seorang di antara tiga golongan ini keluar dari jenis ibadah yang menjadi andalannya, maka dia menganggap ada yang kurang dalam ibadahnya itu atau dia telah meninggalkan ibadahnya sama sekali, karena dia beribadah kepada Allah dengan satu pola. Sementara orang yang ibadahnya tidak mengenal batasan, tidak mementingkan satu ibadah daripada yang lain. Tujuan yang diraihnya adalah keridhaan Allah, di mana dan kapan pun dia berada. Dia selalu berpindah-pindah di berbagai tempat ibadah. Jika engkau melihat para ulama, maka dia tampak bersama mereka. Jika engkau melihat para ahli ibadah, dia tampak bersama mereka. Jika engkau melihat para mujahidin, dia tampak terlihat bersama mereka. Jika engkau melihat orang-orang yang mengeluarkan shadaqah, dia tampak bersama mereka. Inilah hamba yang tidak terikat dan tidak memiliki gambar tertentu. Dialah orang yang mewujudkan makna iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in secara konsekuen.

Cakupan Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in terhadap Makna-makna Al-Qur’an, Ibadah dan Isti’anah

Dari kitab Madarijussalikin karya Ibnu Qayyim Al-Jawziah

Cakupan Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in terhadap Makna-makna Al-Qur’an, Ibadah dan Isti’anah

Rahsia penciptaan, perintah, kitab-kitab, syariat, pahala dan siksa terpusat pada dua penggal kalimat ini, yang sekaligus merupakan inti ubudiyah dan tauhid. Sampai-sampai ada yang mengatakan bahwa Allah menurunkan seratus empat kitab, yang makna-maknanya terhimpun dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an. Makna-makna tiga kitab ini terhimpun di dalam Al-Qur’an. Makna-makna Al-Qur’an terhimpun dalam surat-surat yang pendek. Makna-makna dalam surat-surat yang pendek terhimpun dalam surat Al-Fatihah. Makna-makna Al-Fatihah terhimpun di dalam iyyaka na’budu wa iyya-ka nasta’in.

Dua kalimat ini dibagi antara milik Allah dan milik hamba-Nya. Separoh bagi Allah, yaitu iyyaka na’budu, dan separoh lagi bagi hamba-Nya, yaitu iyyaka nasta’in.

Ibadah mengandung dua dasar:
Cinta dan penyembahan.

Menyembah di sini artinya, merendahkan diri dan tunduk. Siapa yang mengaku cinta namun tidak tunduk, berarti bukan orang yang menyembah. Siapa yang tunduk namun tidak cinta, juga bukan orang yang menyembah. Dia disebut orang yang menyembah jika cinta dan tunduk. Karena itu orang-orang yang mengingkari cinta hamba terhadap Allah adalah orang-orang yang mengingkari hakikat ubudiyah dan sekaligus mengingkari keberadaan Allah sebagai Dzat yang mereka cinta, yang berarti mereka juga mengingkari keberadaan Allah sebagai Ilah (sesembahan), sekalipun mereka mengakui Allah sebagai penguasa semesta alam dan pencipta-nya.

Inilah tauhid mereka yang terbatas pada tauhid Rububiyah, seperti pengakuan bangsa Arab, tapi mereka tidak keluar dari syirik, sebagaimana firman Allah, (yang bermaksud)

“Dan, sungguh jika kamu bertanya kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ niscaya mereka menjawab, ‘Allah’.” (Az-Zumar; 38).

Isti’anah (memohon pertolongan) menghimpun dua dasar:
Kepercayaan terhadap Allah dan penyandaran kepada-Nya.

Adakalanya seorang hamba menaruh kepercayaan terhadap seseorang, tapi dia tidak menyandarkan semua urusan kepadanya, karena dia merasa tidak memerlukan dirinya. Atau adakalanya seseorang menyandarkan berbagai urusan kepada seseorang, padahal sebenarnya dia tidak percaya kepadanya, karena dia merasa memerlukannya dan tidak ada orang lain yang memenuhi keperluannya. Karena itu dia bersandar kepadanya.
Tawakal merupakan makna yang juga cocok dengan dua dasar ini, kepercayaan dan penyandaran, yang sekaligus merupakan hakikat iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in.

Dua dasar ini, tawakal dan ibadah disebutkan di beberapa tempat dalam Al-Qur’an, yang keduanya disebutkan secara berurutan, di antaranya,

“Dan, kepunyaan Allahlah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nyalah dikembalikan semua urusan, maka sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya.” {Hud:123).

“Ibadah” didahulukan daripada “Isti’anah” di dalam Al-Fatihah merupakan gambaran didahulukannya tujuan daripada sarana. Hal ini bisa dilihat dari beberapa sebab:

1. “Ibadah” merupakan tujuan penciptaan hamba, sedangkan “Isti’anah” merupakan sarana untuk dapat melaksanakan “Ibadah” itu.

2. Iyyaka na’budu berkaitan dengan Uluhiyah-Nya dan asma “Allah”. Sedangkan iyyaka nasta’in berkaitan dengan Rububiyah-Nya dan asma “Ar-Rabb”. Karena itu iyyaka na’budu didahulukan daripada iyyaka nasta’in, sebagaimana asma Allah yang didahulukan daripada asma Ar- Rabb di awal Al-Fatihah.

3. Iyyaka na’budu merupakan bagian Allah dan juga merupakan pujian terhadap Allah, karena memang Dia layak menerimanya, sedangkan iyyaka nasta’in merupakan bagian hamba, begitu pula ihdinash-shirath-almustaqim hingga akhir surat.

4. “Ibadah” secara total mencakup “Isti’anah” dan tidak bisa dibalik. Se-tiap orang yang beribadah kepada Allah dengan ibadah yang sempurna adalah orang yang memohon pertolongan kepada-Nya, dan tidak bisa dibalik. Sebab orang yang dikuasai berbagai macam tujuan pribadi dan syahwatnya, juga bisa memohon pertolongan kepada-Nya, hanya karena ingin memuaskan nafsunya. Karena itu ibadah harus lebih sempurna.

Berarti “Isti’anah” merupakan bagian dari “Ibadah” dan tidak bisa dibalik, sebab “Isti’anah” merupakan permohonan dari-Nya, sedang “Ibadah” merupakan permohonan bagi-Nya.

5. “Ibadah” hanya dilakukan orang yang ikhlas, sedangkan “Isti’anah” bisa dilakukan orang yang ikhlas dan yang tidak ikhlas.

6. “Ibadah” merupakan hak Allah yang diwajibkan kepada hamba, sedangkan “Isti’anah” merupakan permohonan pertolongan untuk dapat melaksanakan “Ibadah”.

7. “Ibadah” merupakan gambaran syukur terhadap nikmat yang dilimpahkan kepadamu, dan Allah suka untuk disyukuri. Pemberian pertolongan merupakan taufik Allah yang diberikan kepadamu. Jika engkau komitmen dalam beribadah kepada-Nya dan ibadahmu lebih sempurna, maka pertolongan Allah yang diberikan kepadamu juga lebih besar.

8. Iyyaka na’budu merupakan hak Allah dan iyyaka nasta’in merupakan kewajiban Allah. Hak-Nya harus didahulukan daripada kewajiban-Nya.
Sebab hak Allah berkaitan dengan cinta dan ridha-Nya, sedangkan kewajiban-Nya berkaitan dengan kehendak-Nya. Apa yang bergantung kepada cinta-Nya harus lebih sempurna daripada apa yang bergantung kepada kehendak-Nya. Semua yang ada di alam, para malaikat maupun syetan, orang-orang Mukmin maupun orang-orang kafir, orang yang taat maupun orang yang durhaka, semuanya bergantung kepada kehendak-Nya. Apa yang bergantung kepada cinta-Nya adalah ketaatan dan iman mereka. Orang-orang kafir ada dalam kehendak-Nya dan orang-orang Mukmin ada dalam cinta-Nya.

Dari beberapa rahasia ini dapat diketahui secara jelas hikmah didahulukannya iyyaka na’budu daripada iyyaka nasta’in.

20110321-074915.jpg